
Ardi dengan langkah santay berjalan menuju ruang guru, ia tidak menyadari jika Alea sedang di keroyok dengan banyak pertanyaan yang menyudutkannya dari para siswi. Sesampainya di ruang guru, sama dengan Alea para guru tersebut juga menghujani Ardi banyak pertanyaan termasuk kepala sekolah.
"Ardi, apa benar kamu akan bertunangan dengan Alea?" Tanya Rehan.
"Apa Alea itu sebenarnya bukan keponakan, Pak Ardi?"
"Alea itu sebenarnya siapa, Pak?"
"Bukankah kalian tinggal dalam satu atap."
"Apa kalian di jodohkan, Pak?"
"Ardi, apa kamu akan bertunangan dengan muridmu sendiri yang masih sekolah?" Tanya kepala sekolah.
"Iya Pak Ardi, kenapa mau tunangan sama muridnya sendiri? Mending sama aku aja." Kata Anik sambil tersenyum genit.
"Kenapa? Apa pertanyaanku salah?" Tanya Anik kepada semua orang yang menatapnya.
"Kalian ini bicara apa, siapa yang mau tunangan?" Tanya Ardi heran.
"Ini lihat." Kata Rehan sambil menyerahkan ponselnya kepada Ardi.
"Hah, jadi kemarin ada yang mengikuti kami. Siapa orang yang menyebarkan foto-foto ini." Batin Ardi sambil mengamati foto-foto tersebut.
"Kalian ini kenapa percaya dengan berita palsu seperti ini?" Tanya Ardi sambil mengembalikan ponsel Rehan.
"Aku masih waras, mana mungkin bertunangan dengan keponakanku sendiri." Jelas Ardi.
"Aku akan mancari tahu siapa yang menyebarkan foto-foto itu, orang ini ingin merusak nama baikku saja." Kata Ardi kesal kemudian pergi keluar ruangan.
"Eh, Ardi tunggu!" Kata Rehan sambil berjalan menyusul Ardi.
"Ar, kamu mau kemana?" Tanya Rehan.
"Mencari Alea, dia pasti di tekan oleh teman-temannya." Jawab Ardi sambil terus berjalan.
"Di mana Alea, dia pasti sangat tertekan." Batin Ardi.
"Sepertinya Alea ada di kerumunan itu." Kata Rehan sambil menunjuk beberapa siswi sedang berkumpul.
.....
Alea masih bertahan berusaha tetap tenang dan menyembunyikan perasaan tertekannya.
"Tenang Alea tenang." Batin Alea menenangkan dirinya.
"Kenapa masih diam saja, tidak sanggup untuk menjawabnya?"
"Hah, kenapa? Memangnya pertanyaan kalian itu sangat berat sehingga aku tidak sanggup menjawabnya." Kata Alea membuka suaranya.
"Jadi begini, akan aku jelaskab. Ya kemarin aku memang pergi ke mall bersama pak Ardi dan foto-foto itu memang benar, tapi kalian salah paham. Aku dan pak Ardi tidak membeli cincin tunangan, iya benar aku memang beli cincin sekaligus kalung, gelang dan anting. Karena aku tidak pernah memakai benda itu jadi, aku sangat tertarik untuk memakainya." Jelas Alea.
"Oh ya, lalu bagaimana dengan kalian bergandengan tangan sambil tersenyum bahagia dan memakai baju cauple?" Tanya Natasya.
__ADS_1
"Aku membeli baju itu karena suka warna dan modelnya, tidak tahu jika warnanya sama dengan Pak Ardi. Dan soal bergandengan tangan memang apa salahnya?" Jawab Alea dan bertanya kembali.
"Tentu saja salah, jika usiamu masih delapan tahun itu wajar, sedangkan usiamu sekarang sudah delapan belas tahun." Jawab Natasya.
"Pak Ardi memang menyayangiku seperti adiknya sendiri, dia dulu ingin punya adik perempuan tapi sayangnya ibunya tidak bisa punya anak lagi, karena itu aku sangat di manja olehnya dan menganggapku seperti adik kecilnya." Jelas Alea lagi.
"Penter banget kamu, ngarang cerita." Kata Natasya.
"Aku gak ngarang, memang begitu kenyataannya. Jika tidak percaya tanya sendiri pada ayah dan ibunya pak Ardi." Kata Alea lagi.
"Sudahlah, apa kamu belum puas menyudutkan Alea terus. Kalian dengar sendirikan penjelasan Alea bagaimana." Kata Fani.
"Dia bisa sajakan berbohong, apa buktinya jika pak Ardi menganggap Alea sebagai adiknya?" Tanya Natasya.
"Sudahlah, Sya. Kamu hanya salah paham saja jangan menyebar fitnah, ingat ya orang yang kamu fitnah itu guru kita sendiri." Kata Mico.
"Iya benar, kamu bisa masuk penjara karena terkena kasus mencemarkan nama baik." Kata Fani.
"Heh, jangan sok-sokan ngancem ya." Kata Natasya.
"Memang benar begitu." Kata Fani.
"Jadi siapa yang salah nih?" Tanya salah satu siswi yang ikut mencecar Alea.
"Ya jelas Natasyalah, dia udah nyebar berita palsu tentang guru kita." Kata Fani.
"Sudahlah, kita laporkan saja dia ke kepala sekolah." Kata Toni.
"Hei, sedang apa kalian masih berkumpul di sini? Bel sudah berbunyi, cepat masuk sekarang!" Kata Rehan sambil berteriak.
"Kali ini kamu lolos, tapi aku pasti akan membongkar rahasiamu." Kata Natasya mengancam Alea, kemudian pergi.
"Emangnya aku punya rahasia apa? Sok tahu deh." Kata Alea.
"Hei kalian berdua, tunggu sebentar!" Kata Rehan sambil menunjuk Natasya dan Cantika.
"Iya, Pak. Ada apa?" Tanya Natasya.
"Ikut saya untuk menemui kepala sekolah." Jawab Rehan.
"Untuk apa, Pak?" Tanya Cantika heran.
"Peke nanya lagi, kaliankan yang sudah menyebarkan foto-foto tadi." Jawab Rehan.
"Iya, Pak. Mereka pelakunya, periksa saja hpnya." Kata Fani sambil menunjuk Natasya dan Cantika.
"Tunggu dulu, bukan begitu, Pak. Ternyata kami hanya salah paham, kami pikir mereka memang akan bertunangan." Jelas Natasya.
"Apa pun alasannya, kalian sudah melanggar peraturan dan akan tetap mendapatkan hukuman." Kata Rehan.
Natasya dan Cantika akhirnya menunduk pasrah menerima hukumannya yang akan di berikan kepala sekolah nanti.
"Hah, syukurlah mereka semua percaya dengan alasan yang aku buat." Batin Alea bernapas lega.
__ADS_1
"Adik kecil! Kenapa masih di sini? Ayo cepat masuk kelas, nanti gak akan aku kasih permen!" Teriak Ardi.
"Sudahku bilang jika di sekolah jangan memanggilku seperti itu, aku bukan anak kecil." Kata Alea kesal kemudian pergi dari sana dan di ikuti teman-temannya. Sedangkan Ardi terkekeh melihat Alea kesal.
"Alea tunggu!" Teriak Fani sambil berlari mengejar Alea.
"Apa pak Ardi selalu memanggilmu begitu?" Tanya Fani penasaran.
"Iya, dia masih menganggapku seperti anak kecil berusia delapan tahun. Bahkan dia kadang bermain dengan rambutku, di kucir dua, di pakaikan jepitan hello kitti warna pink lagi." Kata Alea.
"Hahahaha." Suara tawa teman-teman Alea.
"Kayanya emang cocok kamu di dandani begitu, Al. Terus sambil ngemut lolipop." Kata Toni mengejek.
"Emangnya aku balita apa." Kata Alea kesal.
Apa yang di katakan Alea itu memang benar apa adanya, Ardi memang ingin sekali punya adik perempuan namun ibunya tidak bisa punya anak lagi jadi hadirnya Alea jadi penggantinya. Tak heran jika Ardi sangat perhatian dan memanjakannya, karena Alea adalah istri yang ia cintai sekaligus adik kecilnya yang ia sayangi.
......
Di ruang kepala sekolah Natasya dan Cantika sedang di introgasi, kenapa mereka menyebar foto-foto tersebut.
"Kenapa kalian menyebar berita palsu seperti itu tentang guru kalian sendiri?" Tanya kepala sekolah.
"Maaf, Pak. Ternyata kami salah paham, kami pikir memang begitu. Mereka begitu dekat dan kami tidak sengaja melihatnya di mall kemarin." Jelas Natasya sambil menunduk.
"Iya, benar Pak kami tidak bohong. Kami memang melihat mereka." Kata Cantika.
"Bener, Ar. Kamu pergi ke mall bersama Alea kemarin." Kata Rehan.
"Iya benar. Ya memang mungkin sikapku terlalu berlebihan, tapi bukan tanpa alasan. Aku sudah menganggap Alea itu seperti adik kandungku sendiri, karena aku dulu ingin sekali punya adik perempuan, hanya saja ibu tidak bisa punya anak lagi jadi, Alea sebagai penggantinya. Bapak kepala sekolah juga tahu itu." Jelas Ardi.
"Iya, itu benar. Aku bisa memaklumi itu." Kata Kepala sekolah.
"Jadi untuk kalian berdua, jika belum tahu pasti itu jangan langsung menyebar berita." Kata Kepala sekolah kepada Natasya dan Cantika.
"Maaf, Pak. Kami hanya ingin memberitahu jika ada yang melanggar peraturan." Jelas Cantika.
"Iya, tapi caranya salah." Kata kepala sekolah.
"Iya, Pak. Kami minta maaf." Ucap Natasya dan Cantika sambil menunduk.
"Ya sudah, sebagai hukumannya kalian bersihkan halaman sekolah." Kata Kepala sekolah.
"Baik, Pak." Kata Natasya dan Cantika, kemudian pergi melaksanakan hukuman yang di berikan kepada mereka.
"Huh, menyebalkan sekali. Kenapa mereka lebih percaya pada Alea dari pada aku, padahal bukti itu sangat jelas." Gerutu Natasya sambil menyapu halaman.
"Jangan lupa, yang kita lawan itu adalah pak Ardi." Kata Cantika.
"Kita perlu bukti yang kuat untuk membongkar rahasia mereka." Kata Natasya.
"Kalau begitu kita harus memantaunya terus." Kata Cantika.
__ADS_1
"Ya, tentu saja." Kata Natasya.
Bersambung......