Pernikahan Rahasia Murid Dan Guru

Pernikahan Rahasia Murid Dan Guru
Tidak bisa tidur


__ADS_3

"Om, Rama aku boleh bertanya tidak." Kata Erika.


"Iya Boleh." Kata Rama.


"Perusahaan Om masih butuh karyawan lagi atau tidak?" Tanya Erika.


"Untuk apa, Kak? Kakak kan sudah bekerja." Tanya Alea heran.


"Aku ingin bekerja di sini, soalnya disana ada yang julit." Jawab Erika.


"Masih ada kok, jika kamu memang serius ingin bekerja di perusahaanku." Kata Rama.


"Iya, Om. Terima kasih." Ucap Erika senang.


"Bagus sekali, dengan begitu aku bisa lebih mudah untuk mempermainkan Alea. Kamu pikir aku akan membiarkanmu hidup bahagia, tidak Alea." Batin Erika.


"Kenapa ayah mengizinkan, apa yang sebenarnya kakak inginkan? Aku sangat yakin dia punya tujuan." Batin Alea.


"Apa yang ingin di lakukan Erika? Semoga saja dia tidak mengganggu Alea." Batin Yuli.


Setelah acara makan siang itu selesai seperti biasa Alea banyak bercerita kepada ibunya, sedangkan Erika berkeliling rumah untuk melihat-lihat rumah tersebut. Dan Ardi sedang mengobrol bersama ayahnya si ruang kerja.


"Ayah, kenapa ayah mengizinkan kak Erika bekerja di perusahaan?" Tanya Ardi.


"Kenapa memangnya?" Kata Rama bertanya kembali.


"Ya tidak apa-apa sebenarnya, hanya saja aku hawatir jika dia berniat jahat pada Alea." Jawab Ardi.


"Hah, kenapa begitu?" Tanya Rama heran.


"Karena kak Erika membenci Alea, mungkin saja dia berniat membongkar pernikahanku dengan Alea. Ya aku sendiri sih tidak apa-apa, tapi Alea sangat takut jika semua orang tahu kalau dia sebenarnya adalah istriku bukan keponakannku." Jawab Ardi panjang lebar.


"Tidak menutup kemungkinan memang pernikahan kalian pasti akan terbongkar, ya semoga saja setelah Alea ujian. Setidaknya dia mendapatkan ijazah dan bisa melanjutkan pendidikannya, yang terpenting kamu harus terus di dekatnya, menjaganya dan memberiakan dukungan padanya." Kata Rama panjang lebar.


"Iya, Ayah." Kata Ardi.


"Oo jadi begitu rupanya, Alea mengaku sebagai keponakannya Ardi untuk tetap sekolah, ya cocoknya sih memang begitu dan aku lebih cocok jadi istrinya. Hmm bagaimana jika aku membongkarnya sebelum Alea ujian, pasti seru." Batin Erika sambil tersenyum setelah menguping pembicaraan Ardi dan Ayahnya. Erika pun segera pergi dari sana sebelum ada yang melihatnya.


"Kakak!" Kata Alea memanggil Erika.


"Ada apa?" Tanya Erika ketus.


"Sebenarnya Kakak mau apa datang kemari?" Tanya Alea.


"Sudahku bilang untuk bertanya pada om Rama, apa masih ada lowongan pekerjaan, memangnya aku mau apa?" Jawab Erika.


"Awas aja ya kalau macam-macam." Kata Alea sambil mengepalkan tangannya ke arah Erika, kemudian pergi meninggalkan kakaknya.


"Iya-iya." Kata Erika.


"Sok ngancem-ngancem segala, lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan padamu." Batin Erika kesal.

__ADS_1


Setelah beberapa jam di sana, Yuli dan Erika pulang kerumahnya kembali naik taxi online yang sudah di pesan sebelumnya. Erika begitu senang karena mendapatkan jalan untuk membalas Alea, di sepanjang perjalanan ia tersenyum sambil menikmati pemandangan sore hari.


"Erika, kamu tidak berniat jahatkan kepada Alea." Kata Yuli.


"Hah, kenapa Ibu berkata begitu? Aku hanya ingin bekerja, lagi pula untuk apa mengurusi anak Ibu itu buang-buang waktu saja." Kata Erika.


"Segitu sayangnya sama anak haram itu. Awas saja nanti aku pasti akan menyingkirkan anak itu." Batin Erika kesal.


.....


Ardi sedang menemani Alea mengerjakan prnya, sesekali ia membantunya jika Alea merasa kesulitan. Setelah kurang lebih dua jam lamanya, akhirnya semua pr Alea selesai juga.


"Akhirnya selesai juga." Kata Alea sambil menyandarkan punggungnya di sofa.


"Capek ya." Kata Ardi.


"Iya, capek banget." Kata Alea.


"Ya sudah istirahat sana, biar aku yang bereskan buku-bukunya." Kata Ardi.


"Terima kasih." Ucap Alea sambil tersenyum.


"Sama-sama." Ucap Ardi sambil tersenyum juga.


Alea pun segera berebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memejamkan mata karena memang sangat lelah, tidak lama kemudian ia sudah tertidur pulas. Sedangkan Ardi masih membereskan buku-buku yang berserakan, setelah selesai ia pun menghampiri istrinya yang sudah tidur tanpa memakai selimut.


"Sepertinya dia memang kelelahan hingga lupa tidak memakai selimut." Kata Ardi sambil menyelimuti Alea. Setelah itu ia menyusul istrinya tidur, ia berbaring di sampingnya sambil memeluknya dan memejamkan matanya.


.....


Drttt drttt drttt


Ponsel Rama bergetar, ia pun segera melihat siapa yang meneleppnnya tertera nama sahabatku Arif di ponselnya.


"Halo, Assalamualaikum." Ucap Rama setelah mengangkat teleponnya.


"Waalaikumsalam, gimana kabarnya sobat?" Ucap Arif dari sebrang sana.


"Alhamdulilah baik, bagaimana dengan kabarmu?" Tanya Rama.


"Alhamdulilah baik juga." Jawab Arif.


"Kamu sibuk aja nih, kita makan bareng yuk di cafe biasa kita nongrong dulu, sekalian aja ajak keluarga biar rame sambil menyambung silaturahim." Kata Arif.


"Wah boleh juga tuh, kita juga udah lama gak ketemu." Kata Rama.


"Kira-kira kapan nih kamu bisanya?" Tanya Arif.


"Besok malam saja, kebetulan aku tidak sibuk besok." Jawab Rama.


"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa besok. Assalamualaikum." Ucap Arif.

__ADS_1


"Waalaikumsalam." Ucap Rama kemudian menutup telponnya.


"Mas, masih sibuk aja apa belum selesai?" Tanya Tantri sambil berjalan menghampiri suaminya.


"Iya ini sudah selesai, ada apa?" Tanya Rama.


"Tidak ada, aku hanya ingin mengingatkanmu saja jangan malam-malam tidurnya. Kerjaan memang penting tapi kesehatan lebih penting." Jawab Tantri.


"Iya, lagi pula ini baru jam sepuluh. Oh iya, tadi Arif nelpon mau ngajak kita makan malam di cafe sama anak-anak juga biar rame." Kata Rama.


"Wah, bagus kalau begitu, sudah lama juga kita tidak makan di luar. Lalu kapan kita akan pergi?" Tanya Tantri.


"Besok." Jawab Rama.


"Iya, anak-anak juga pasti senang apa lagi Alea." Kata Tantri.


"Iya, selama di sini sepertinya Ardi belum pernah mengajaknya makan di luar." Kata Rama.


"Iya benar, ya sudah ayo kita tidur!" Kata Tantri.


"Iya, sebentar aku bereskan ini dulu." Kata Rama sambil membereskan berkas-berkas yang berserakan.


.....


Indah masih saja uring-uringan di atas kasur seperti cacing kepanasan, ia tidak sabar menunggu waktu yang ia nanti-nantikan saat makan malam di cafe nanti bersama keluarga Ardi. Bahkan dia juga sudah membayangkan bagaimana dirinya nanti menikah dengan Ardi, senyuman yang indah terukir dari bibirnya betapa bahagianya dia hingga tidak bisa tidur.


"Jam berapa sekarang?" Katanya sambil meraih ponselnya.


"Hah sudah jam sebelas, aku belum bisa tidur." Kata Indah setelah melihat jam di ponselnya.


"Bahkan aku tidak mengantuk sama sekali, aku jadi lapar." Kata Indah sambil memegang perutnya, kemudian ia turun dari tempat tidur dan pergi ke dapur.


"Indah, sedang apa kamu?" Tanya Arif sambil melihat Indah menyalakan kompor.


"Aku lapar, Yah. Kenapa Ayah belum tidur?" Jawab Indah sambil mengambil mi instan di lemari, kemudian kembali bertanya.


"Baru selesai menonton pertandingan bola." Jawab Arif sambil menuangkan air dari dispenser.


"Ooh."


"Oh iya, aku sudah bicara dengan Rama, dia bilang besok malam kita bisa bertemu dengannya." Kata Arif setelah selesai minum.


"Hoam." Arif menguap.


"Ya sudah aku tidur dulu, ngantuk." Kata Arif kemudian pergi meninggalkan Indah sendiri di dapur.


"Iya."


"Besok, wah cepat sekali. Aku sudah tidak sabar menantikan itu." Batin Indah sambil tersenyum senang.


"Aduh panas." Kata indah mencicipi mi instan yang baru saja ia buat, tidak menyadari jika minya masih panas karena kebanyakan melamun.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2