Pesona Dokter Steven

Pesona Dokter Steven
13 - Kedua kalinya


__ADS_3

Kemarin, setelah mengantar Rimba kembali ke rumahnya, Steven menghubungi kaki tangan Marco, adik iparnya. Lelaki itu meminta tolong Sony untuk mencari tas ransel gadisnya yang hilang. Berbekal dari rekaman CCTV toko, dengan mudah Sony dan komplotannya bisa menemukan si pencuri itu kurang dari 24 jam.


"Coba di cek dulu, apa isinya ada yang hilang!" ujar Sony menyerahkan ras ransel berwarna hitam itu pada Rimba.


Rimba segera meraihnya, mengeluarkan semua isinya. Buku-buku kuliah dan laptopnya ada, tapi---.


"Kok pakaian gue semua nggak ada?" Rimba tercengang. Bagaimana bisa orang yang mencuri tasnya itu hanya mengambil pakaian murahan no branded milik Rimba, sementara laptop yang harganya belasan juta malah diabaikannya.


"Yang ngambil tas anda seorang bapak tua. Dan dia memang hanya membutuhkan pakaian untuk cucunya yang beranjak remaja. Makanya saya nggak tega melaporkannya pada polisi," ujar Sony menjelaskan.


"Seriously?" gumam Steven ikut tercengang.


"Nggak usah dilaporin, Om! saya ikhlas kok, yang penting laptop saya udah balik itu udah cukup," kata Rimba sambil memeluk laptopnya, "Terimakasih banyak," tambahnya.


Lelaki bernama Sony itu mengangguk sebagai responnya. Tak lama kemudian ia berpamit pergi karena ada pekerjaan lain yang sudah menantinya.


"Kalau gitu saya juga mau pulang Pak," giliran Rimba bersiap pergi.


"Tunggu! minum dulu sebentar, bibir kamu terlihat kering gitu," ucap Steven sambil menunjuk bibir polos tanpa gincu milik Rimba.


"Hah?" Rimba spontan memegangi bibirnya yang memang kering. Sebetulnya ia sedari tadi merasa kehausan, tapi ia tahan karena gengsi. Lagipula rasanya tidak sopan juga langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih pada Steven, walau bagaimanapun ia sudah membantu menemukan tasnya yang hilang karena kecerobohannya kemarin.


Steven lalu beranjak menuju dapur rumahnya, ia akan mengambilkan minuman untuk gadisnya itu.


Rimba kembali duduk, wajahnya terlihat bahagia. Tak henti-hentinya Rimba bersyukur karena tidak menyangka laptopnya bisa ditemukan kembali. Tak tau lagi apa yang harus ia katakan nanti pada Galang jika barang tersebut benar-benar hilang.


"Minum dulu!" tiba-tiba Steven menyodorkan segelas orange juice tepat ke hadapan Rimba.


"Aaachh!!" Rimba tersentak kaget, bukannya menerima gelas itu malah menumpahkan dan mengenai kemejanya sendiri. "Bapak sih, bukannya di taroh aja jusnya di meja. Untung cuma jus, gimana kalo kopi panas? bisa meleleh dada saya Pak," sewotnya seraya mengibas-ngibaskan kemeja broken white yang sudah basah itu.


"Kamu nyalahin saya? suruh siapa nggak fokus," sahut Steven sambil memberikan satu kotak tissue pada Rimba, lalu menaruh gelas yang untungnya tadi tidak jatuh karena keburu ditangkapnya.


"Ah, jadi lengket kan!" keluh Rimba menyesali pakaiannya yang tertumpahi orange juice.


Steven segera berlalu masuk ke dalam sebuah kamar, saat Rimba tengah sibuk mengelap tumpahan juice di bajunya.


"Nih! kamu bisa pake baju saya," ucap Steven sekembalinya dari kamar tersebut. Diserahkannya kemeja biru muda miliknya yang beraroma wangi pada Rimba.


"Beneran kayak setan deh!" dengus Rimba kesal karena kembali kaget dengan kedatangan Steven yang selalu tiba-tiba.


"Kamu harus ngucapin selamat tinggal sama nilai mu di kuliah saya," ujar Steven sangat enteng, mengancam sangat halus.


"Kita lagi diluar kampus kan Om, jadi nggak berlaku hukum hormat-menghormati!" balas Rimba sengit.


"Tapi kamu punya utang 4 juta sama saya ya, dek mahasiswi!" sambat Steven tak kalah sengit. "Selain itu kamu juga calon istri saya, lupa?" tambahnya mengingatkan.


"Jadi mau gimana pun, saya nggak berhak protes begitu?"


"Nah itu tau," ucap Steven datar.


Rimba berdecak, mendebat Steven tidak akan pernah ada habisnya. ia hanya akan menghabiskan banyak tenaga. Apalagi dengan ekspresi dingin dan nada datarnya itu. Sosok Steven sangat dominan dan mengintimidasi.

__ADS_1


Rimba pun akhirnya memilih mengambil pakaian Steven yang ditawarkannya tadi. "Ijin pinjem kamar mandinya bisa?" pintanya.


"Sure, kamu bisa pake kamar mandi di kamar saya kalo ingin bersih-bersih atau mandi mungkin?"


"Dikamar Bapak? rumah sebesar ini kamar mandinya cuma satu doang?" kata Rimba tak habis pikir.


"Ada 3 kamar mandi termasuk yang didalam kamar saya. Boleh saja kalau mau pake kamar mandi yang dua lagi di sana. Tapi mungkin kurang nyaman aja karena jarang dipake," sahut Steven.


Waduh, jarang dipakai? Rimba jadi ingat kalau kamar mandi yang jarang dipakai, biasanya suka ada kecoanya karena lembab. Dia pun langsung bergidik takut membayangkan mahluk menjijikan itu. "Pinjem kamar mandi di kamar Bapak aja deh," ucapnya spontan.


"Oke, mari saya antar," Steven mengantar Rimba ke kamarnya. "Disana kamar mandinya, kalo butuh handuk kamu ambil aja handuk baru di rak didalam sana. Jangan pakai handuk saya yang tergantung!" katanya.


"Yes, Sir!" seru Rimba sambil berlalu menuju kamar mandi dengan baju wangi Steven dalam pelukannya.


Ukuran kamar mandi Steven yang luas itu mengubah mood Rimba. Rasa kesalnya pada Steve mereda. Ia jadi tahu karakter Steven, semua tercermin dari kamar mandi sang dokter yang bersih dan wangi juga rapi.


"Berasa jadi ratu gue bisa mandi di bath tub gini," cengir Rimba sambil melirik Bathtub berbentuk oval yang masih kosong itu. "Ah tapi bakal lama kalo gue berendam disitu, pake shower aja deh," gumamnya bermonolog sendiri.


Rimba mulai menyalakan air shower. Dalam hati ia iri bukan main, Steven terlalu beruntung. Jadi dokter, dosen, kaya pula.


.


"Aaachh!!"


Steven yang tengah fokus memainkan ponselnya diruang tengah tersentak mendengar teriakan Rimba dari dalam kamar mandi. Di simpannya ponsel ke atas meja, lantas ia berlari ke kamar mandi.


"Kenapa?" tanya Steven masuk begitu saja karena Rimba kelupaan tidak menguncinya.


Tersadar, Steven segera mematikan shower air. Ia berjongkok di samping Rimba yang merintih kesakitan. Melihat Rimba yang berantakan, ia lalu mengambil satu handuk lagi dari rak sebelah wastafel. lantas dibalutkannya ke tubuh mungil Rimba.


"Baju kamu semakin tembus pandang," gumam Steven lirih, menjaga pandangannya.


"Ya?" reflek Rimba menyilangkan kedua tangannya didepan dada.


"Lain kali pake kemeja yang bahannya lebih tebal, biar kalo kena air, bra kamu nggak tercetak jelas," lanjut Steven.


"Ih, Bapak kok mesum sih!" pekik Rimba salah tingkah tapi tak kuasa bangun dari posisinya.


"Kamu lihat sendiri, ngelirik aja udah jelas kentara gitu! pake bra itu yang polos aja, jangan yang polkadot, norak!" sungut Steven.


"Bapak jangan kurang ajar ya sama saya!" ucap Rimba geram.


"Saya nggak akan kurang ajar sama kamu, Rim. lagipula dilihat dari luar pun saya sudah tau nggak ada yang menarik dari tubuh kamu!" ujar Steven jujur, meski begitu lelaki itu berusaha membantu Rimba berdiri. 'Tapi aku cinta sama kamu, Rimba' batinnya.


Rimba mendengus, 'Kalo nggak ada yang menarik dari tubuh gue trus ngapain Lo mau nikahin gue?' batinnya tak terima.


"Ayo!"


"Eh, Bapak mau ngapain?" tahan Rimba saat tangan Steven terulur ke bawah pahanya.


"Kamu mau tidur di kamar mandi?"

__ADS_1


Rimba menggeleng.


"Bisa bangun dan jalan sendiri?"


Gelengan muncul lagi dari Rimba, dirasakannya kakinya masih gemetaran.


"Berarti kamu butuh bantuan saya kan?" ucap Steve menghembuskan napas kasar.


"Bapak mau gendong saya?" tanya Rimba malu.


"Iya lah," balas Steven siap berdiri tapi Rimba menahan lengannya.


"Dingin," keluh Rimba.


Steven urung beranjak, Dibantunya Rimba membenahi handuknya lebih dulu, baru digendongnya keluar dari kamar mandi.


.


"Lain kali kalo kamu gini lagi saya nggak akan bantuin kamu. Merangkak aja sendiri kamu dari kamar mandi," gumam Steven bercanda. Hampir saja ia tak tahan mengacak rambut Rimba karena gemas dengan ekspresi gadis di gendongannya. Beruntung Steven masih bisa menahan diri.


"Saya kepeleset sabun punya Bapak tadi," jelas Rimba.


"Itu akibatnya kalau kamu terlalu aktif dan nggak bisa diem," omel Steven seraya membaringkan Rimba diranjangnya.


"Nggak kok," sangkal Rimba tak acuh. Matanya sibuk mengamati seisi kamar yang didesain sangat minimalis itu. Tak ada pajangan apa pun di dindingnya. hanya ada ranjang dengan satu almari kecil tempat buku-buku tersusun rapi. Juga satu pigura besar berhias wajah sang pemilik kamar yang luar biasa tampan. Sementara Steven kembali ke kamar mandi untuk mengambil baju ganti milik Rimba.


"Kamu ganti dulu, bajumu basah gitu," ujar Steve sekembalinya dari kamar mandi.


"Saya belum sempat mandi, tadi keburu terpeleset,"


"Terus kamu mau saya mandiin?"


"Enak aja!" tolak Rimba cepat.


Steven tersenyum datar. Dalam hatinya ia merasa senang melihat Rimba. Gadis inilah yang selama ini ditunggunya selama kurang lebih 15 tahun lamanya.


"Stip, nanaonan ini teh?"


"Kak Steve?"


Kedatangan dua orang tiba-tiba muncul didepan pintu kamar yang memang terbuka lebar. Dia adalah Kakek Hermawan dan Mitha yang tak lain adalah adiknya Steven. Mereka sangat terkejut melihat Steven yang tengah berduaan dengan Rimba didalam kamar.


"Shit!!"


.


.


.


Dan perlahan-lahan aku sadar bahwa kamu adalah salah satu alasan mengapa aku rela tetap menunggu dan bertahan.

__ADS_1



__ADS_2