Pesona Dokter Steven

Pesona Dokter Steven
56 - Never mind


__ADS_3

"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Steven kala melihat Rimba tak fokus pada makanannya. "Makan dulu! nanti kamu bisa sakit," titahnya.


Rimba hanya balas mengangguk. Ia menuruti omongan suaminya. Satu suapan nasi sudah masuk lagi ke dalam mulutnya.


"Rim, apa bunda perlu menemanimu besok?" tanya Vania tiba-tiba, dan membuat Rimba kembali berhenti menyinduk nasi diatas piringnya.


"Bun, biarkan Rimba makan dulu. Jangan bahas masalah itu lagi!" tegur Galang yang sama-sama tengah menyantap makan malam di meja makan. Ia merasa iba dengan adiknya itu.


Bagaimana Rimba bisa syok saat mengetahui dirinya bukanlah anak kandung dari wanita yang selama ini dipanggil Bunda. Terlebih lagi dengan kenyataan bahwa dirinya dan Rimiko adalah saudara kembar.


"Oke-oke, bunda minta maaf," gumam Vania menyadarinya. "Ayo Steve, tambah lagi lauknya!" ucapnya langsung mengalihkan topik pembicaraan.


Mereka pun kini melanjutkan makan malamnya dengan keheningan. Meski Rimba nyatanya tidak selera makan, tapi Steven tetap memaksanya untuk makan, dan Rimba bisa apa.


.


Malam ini Steven terpaksa menuruti keinginan Rimba untuk menginap dirumah Vania. Dan malam ini juga Rimba minta tidur bersama bundanya. Steven lagi-lagi mengalah, ia bisa mengerti dengan kondisi sang istri saat ini. ia akhirnya tidur sendiri dikamar Rimba, sementara Rimba tidur dikamar Vania.


"Ibu Akiyo besok akan kembali ke Jepang, kalau kamu mau menemuinya dulu mending pagi saja. Kita kan tidak tau pesawatnya berangkat jam berapa," kata Vania sambil menyisir rambut Rimba yang kini tengah duduk depan cermin meja rias.


Tatapan Rimba yang kosong menatap pantulan dirinya di cermin mengundang seribu tanya bagi Vania. Apa yang tengah dipikirkan Rimba? Kenapa Rimba tidak menangis saat mengetahui kisah dirinya yang sebenarnya? padahal kebiasaan menangis merupakan cara terbaik bagi setiap perempuan pada umumnya, untuk mengekspresikan perasaan saat dirinya tidak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata. Bukankah semua perempuan memiliki perasaan yang lembut dan lebih sensitif?


"Sejak kamu udah nikah, bunda udah jarang nyisirin rambut kamu lagi kaya gini Rim," gumam Vania tersenyum dibalik cermin. Jemarinya masih sibuk merapikan rambut Rimba yang hitam.


Rimba masih terdiam. Itulah yang dikhawatirkan Vania sekarang. Ia lebih menyukai Rimba yang pembangkang dan cerewet ditengah situasi seperti ini. Tapi kenapa sejak dimeja makan tadi suara Rimba seakan hilang ditelan kesedihannya sendiri?

__ADS_1


"Rim!" panggil lembut Vania.


Rimba terlihat mengerjap, lalu menatap mata Vania dibalik cermin tanpa berkata.


Vania kurang puas, ia lalu memutar kursi rias yang tengah diduduki Rimba. Kini ibu dan anak itu saling berhadapan.


"Rim, kamu kecewa sama bunda?" tanya Vania, memegang kedua pundak Rimba. "Kalo kamu kecewa, utarakan semuanya. Jangan dipendam sendiri oke?" katanya.


Rimba hanya balas menggeleng.


"Maafin bunda kalau selama ini Bunda tutup-tutupi semuanya dari kamu. Bunda cuma takut, bunda takut kalau akhirnya kamu bakalan benci dan pergi ninggalin bunda," ucap Vania lirih. "Bunda udah sayang banget sama kamu Rim. Kamu dan Galang segalanya buat bunda," tetes air mata Vania pun kini tak bisa ia bendung lagi.


Rimba mendongak, lalu ia berdiri dari posisi duduknya. jemarinya menjulur mengusap air mata Vania yang telah sampai di kedua pipinya. "Sampai kapanpun bunda tetap bundanya aku," gumamnya lirih.


"Ada yang mau aku tanyain sedikit ke bunda. Kenapa dulu kami harus bertukar identitas? aku jadi dia, dan dia jadi aku," tanya Rimba.


Pertanyaan Rimba membuat Vania menghela napasnya, terasa berat dan cukup menyesakkan. Tapi kali ini tidak boleh ada lagi yang Vania harus tutup-tutupi. Rimba memang sudah harus mengetahui semuanya.


"Seharusnya yang bisa jelasin ini semua adalah ibu Akiyo. Dia yang lebih mengetahuinya. Bunda hanya tau apa kata ayahmu," kata Vania.


Vania lalu berjalan ke arah jendela kamarnya. Ia menutup tirainya yang masih terbuka. Sementara Rimba berpindah duduk ke atas ranjang.


"Memangnya apa kata ayah?" tanya Rimba.


Sebelum bercerita Vania pun lalu duduk ditepi ranjang menghadap Rimba. "Sejak kamu mengalami koma akibat kecelakaan itu, ibu Akiyo begitu depresi. Apalagi setelah kamu sadar ternyata kamu amnesia dan mengalami patah tulang. Segala cara udah ia lakukan demi kesembuhan kamu. Ia lalu membawamu ke orang pintar semacam biksu gitu. Biksu itu tidak tau kalau kamu itu kembar, tapi dia mengatakan kalau ada jiwa lain dalam diri kamu. Dan jiwa lain itulah yang akan mengembalikanmu ke kehidupan yang lebih baik. Akhirnya Ibu Akiyo mengaku kalau kamu punya kembaran. Lalu Biksu itu meminta kalian di tukar. Karena Biksu itu percaya jika kalian bertukar jiwa niscaya kalian akan berumur panjang dan selamat."

__ADS_1


"Jadi semua ini karena omongan biksu itu?" tanya Rimba menyela cerita Vania. "Dan menganggap bahwa Rimiko itu menyelamat hidupku yang sial?" tambahnya.


"Entahlah Rim, itu kan menurut kepercayaan orang-orang disana. Tapi buat Bunda tidak ada yang namanya anak sial. Semua anak itu berkah. Dan waktu itu biaya pengobatan kamu cukup mahal disana, makanya ayahmu akhirnya membawa kamu ke Indonesia," ujar Vania.


"Lalu menjadikan aku sebagai sosok dia? sosok Rimba yang sebenarnya milik dia?" tanya Rimba.


"Ayah dan bunda minta maaf karena menuruti apa maunya ibu Akiyo. Waktu itu kami hanya fokus untuk kesembuhan kamu," jawab Vania lirih.


Rimba terdiam, ia malah merebahkan tubuhnya lalu membelakangi Vania seraya memeluk guling. Vania mengira Rimba marah dan kecewa, tapi ternyata tidak. Rimba hanya tengah menyembunyikan air matanya sendiri. Rimba perlu waktu sedikit saja untuk menerima segalanya di kehidupan esok hari.


"Rim, apa yang sudah terjadi biarlah terjadi. Yang lalu biarlah berlalu. Kita tidak bisa mengubahnya. Kita tidak memiliki mesin waktu untuk kembali ke masa lalu. Hanya satu yang bisa kita lakukan saat ini berkaitan dengan masa lalu, yaitu mengambil hikmah untuk masa depan yang lebih baik," ucap Vania.


Tak ada respon dari Rimba, Vania pun lalu menarik selimutnya menutupi kaki hingga perut Rimba. "Tidurlah, bunda disini menemanimu," gumamnya seraya mengusap lembut rambut Rimba.


.


.


.


Dalam kesederhanaan seseorang tersimpan kemuliaan hati. Tak peduli orang lain menganggapnya tidak ada, ia tetap berlalu dalam kesederhanaannya.


-------------------------------


Maaf ya slow UP, soalnya ada masalah yang harus diselesaikan si othornya dulu di dunia nyata 🙏😁🥰

__ADS_1


__ADS_2