
Selesai membersihkan diri dari kamar mandi, Rimba langsung menuju dapur hendak membuatkan sarapan. Sementara Steven bergantian menggunakan kamar mandi setelahnya.
Alangkah terkejutnya Rimba saat sampai ditempat itu, ada seorang lelaki asing bertelanjang dada dan hanya memakai celana boxer tengah menenggak minuman didepan kulkas yang terbuka.
"Heh, maling Lo ya!" pekik Rimba spontan meraih gagang sapu yang tergantung didinding sebelahnya.
Lelaki yang ternyata Sean itu terkejut bukan main. Dia pun terbatuk-batuk karena tersedak minuman sendiri.
"Lo, berani-beraninya maling disiang bolong gini!" hajar Rimba tanpa ba bi bu hendak memukul lelaki asing itu menggunakan sapu yang kebetulan nampak didekatnya.
"Wait!! kamu salah paham Nona!" Sean berusaha menghindar dengan mengitari meja makan. Sementara Rimba terus mengejarnya seraya mengangkat sapu itu ke udara.
"Salah paham apaan? udah jelas Lo maling kesiangan kan?" Rimba tak gentar terus mengejarnya.
"Listen to me, please! I am Sean, I am your husband's brother!" ujar Sean berusaha menjelaskan sambil terus berlari mengitari meja untuk menghindari pukulan Rimba.
"Brother-brother apaan? dia nggak punya brother, punyanya sister, you know?!" sahut Rimba makin geram karena ada yang mengaku-ngaku saudara suaminya. Padahal jelas-jelas Rimba tau kalau Steven hanya memiliki satu saudara yakni Mitha.
"Wait, please!" pinta Sean terus memohon sambil ngos-ngosan, "Steve! Steven!" teriaknya kali ini memanggil Steven untuk meminta tolong.
Steven yang baru saja mengalungkan handuknya hendak mandi pun urung. Ia segera keluar setelah mendengar suara keributan.
"Hey! kalian apa-apaan?!"
Mendengar suara Steven, Rimba berhenti mengejarnya. Sean lalu berlari ke arah Steve dengan napas ngos-ngosan.
"Dia istri mu?" tanya Sean terengah-engah. "Kau jelaskan padanya kalau aku ini benar-benar saudaramu, bukan maling kesiangan yang dia tuduhkan!" ucapnya.
Steven bukannya menuruti malah terbahak. Sean belum tahu aja siapa Rimba yang sebenarnya.
"Jangan ngaku-ngaku Lo!" ujar Rimba masih berdiri ditempatnya.
__ADS_1
"See?" Sean menunjuk Rimba. "she not believe me," gumamnya.
Steven lantas menghampiri Rimba, merangkulnya dan membawanya mendekat ke tempat Sean berdiri.
"Rimba, kenalkan ini Sean. Dia adik saja juga selain Mitha. Selama ini Sean tinggal di Paris," ujar Steven mengenalkan Rimba pada lelaki yang hampir seusia dengan Mitha.
"Opps, sorry" kata Rimba merasa tidak enak karena telah menuduh adik iparnya itu yang tidak-tidak.
"Santai aja," sahut Sean irit seraya menatap lekat Rimba, sang kakak ipar. Benar-benar mirip. Lelaki itu melihat Rimba takjub. 'two beans in a pot' batinnya kagum. (Setara dengan bagai pinang dibelah dua)
Rimba mengangguk sebagai balasan, lalu menundukkan pandangannya. Pasalnya lelaki bertelanjang dada itu terus memperhatikan Rimba dari ujung kaki sampai ujung rambutnya, dan membuatnya tampak risih.
Melihat sikap Rimba yang canggung, Steven lalu melemparkan handuk kecil yang melingkar di lehernya kepada Sean. "Pakai bajumu, Sean!" perintahnya.
Lelaki itu segera membalikkan badannya dan pergi begitu saja menuju kamar tamu untuk memakai bajunya.
"Jadi dia benar-benar adikmu, Kak?" tanya Rimba kembali memastikan.
"Lalu Kak Mitha?"
"Dia juga adik saya. Kami satu ibu, dan ibu kami asli dari Jawa barat, Pangandaran."
"Oh, jadi kakek Hermawan itu ayah dari ibunya Kak Steve sama Kak Mitha?" Rimba semakin antusias.
"Yup," sahut Steven. "By the way, kamu mau dibikinin sarapan apa?" tanyanya lalu mengalihkan perhatiannya ke meja dapur. Lelaki itu berjalan ke arah kulkas untuk melihat isi didalamnya.
"Eh biar aku aja Kak!" Rimba menghentikan langkahnya suaminya, "Kalian mau dibuatin apa? nasi goreng apa mie goreng?" tanyanya.
"Ya? Segitu aja pilihannya?" Steven mengerjapkan matanya dua kali.
"Oh banyak, ada mie goreng ayam geprek, sambal matah, Aceh, seblak hot jeletot, rasa rendang juga ada. Tinggal pilih aja maunya yang mana," sahut Rimba.
__ADS_1
"Intinya Mie juga kan? inget kamu punya maag lho, Rim. Kamu harus tau kalo Mie i----"
"Kalo mie instan mengandung berbagai komponen yang sebenarnya sulit dicerna oleh tubuh kita. Oleh sebab itu, kalo terlalu sering mengonsumsinya dalam jumlah banyak, bisa merugikan organ pencernaan, khususnya lambung. Begitu kan?" potong Rimba seolah sudah tahu kalimat apa yang selanjutnya akan diutarakan Suaminya.
"Nah itu tau. Masih mau makan mie instan?" sindir Steven.
"Kan saya bilang bila terlalu sering mengkonsumsinya, Om dokter" keles Rimba tak mau kalah.
"Iya saya tau. Saya bukannya ngelarang kamu makan mie instan, boleh aja. Tapi masalahnya kamu masih dalam kondisi pemulihan, Sayang" ujar Steven yang sontak membuat kedua pipi Rimba menghangat saat kata sayang terlontar begitu merdu ditelinga Rimba. "Kamu tau kan kandungan yang ada didalamnya? makanan itu mengandung banyak natrium. Selain itu, di bumbunya juga mengandung monosodium glutamate. Melihat adanya fakta itu, sebaiknya kita nggak menjadikan mi instan sebagai makanan untuk sarapan. Konsumsilah makanan yang jauh lebih sehat dengan kadar gizi yang seimbang, paham?" sarannya lagi, mengingatkan Rimba yang penyuka semua jenis mie goreng instan.
"Kalo itu sih udah jadi rahasia umum kale. Oke deh aku nurut, trus sekarang kita jadinya sarapan apa dong? aku laper ini," ucap Rimba seraya mengelus perutnya yang keroncongan.
Bukannya menjawab, Steven malah menggiring Rimba untuk duduk dikursi menghadap ke meja dapur. "Kamu tunggu sini," ucapnya.
Rimba kini sudah duduk sambil menopang dagunya diatas meja kithen set. Ia menatap Steven dan mengangkat alisnya. "Mau bikin apa sih? sup ayam lagi? dikulkas masih ada ayamnya kok,” ujarnya.
Steven malah tersenyum, lalu membuka laci tempat ditaruhnya apron bersih berwarna hitam polos. Lelaki itu memakai apron tersebut, menarik talinya ke belakang dan mencoba mengikatnya.
"Butuh bantuan?" tawar Rimba.
Steven menggeleng dan melanjutkan aktifitasnya. "Saya bisa kok. Tugas kamu duduk saja disitu, oke!"
"Hhmm. oke" Rimba membengkokkan bibirnya sambil mengangguk dan cukup penasaran. Pasalnya baru kali ini Rimba melihat lelaki yang begitu sempurna dihadapannya. Seorang Dokter, ganteng, baik, Dosen pengampu, kaya, rendah hati dan jago masak pula. Apalagi yang Rimba mau? Tatapannya kini tak lepas dari pergerakan seorang Steven.
Lelaki itu pun mulai menunjukkan kembali keahlian memasaknya. Ia membuka kulkas, mencuci sayuran dan buah. Dengan lincah Steven lalu memotong-motong bahan makanan diatas talenan. Wajahnya nampak serius dengan aktivitasnya. Sementara Rimba terus menatap suaminya itu dari tempat duduknya. Aktifitas Steven sekarang seperti sebuah film yang menarik bagi Rimba. Mondar mandir ke kiri dan ke kanan. Sesekali mengangkat tangannya yang kekar untuk mengambil sesuatu dari dalam lemari kitchen set, dan sesekali juga membungkuk mengerjakan sesuatu. Meski fokus dengan apa yang dikerjakannya, namun Steven terus tergoda untuk melirik ke arah Rimba. Ia selalu terusik dengan tatapan istrinya yang menggemaskan itu hingga membuat dirinya ingin segera menyelesaikan aksi memasaknya tersebut.
.
.
.
__ADS_1
Aku melihatmu begitu sempurna, jadi aku mencintaimu. Bisakah kita bisa sedekat ini selamanya? aku tidak akan ingin melewatinya dengan orang lain selain kamu.