Pesona Dokter Steven

Pesona Dokter Steven
47 - At Jogyakarta part I


__ADS_3

Sesuatu sudah menunggu mereka di Jogya. Tiba di kota yang konon penuh kenangan nan syahdu itu, Rimba juga Steven disambut ramah oleh Pak Wiro, sopir sewaan yang akan mengantar kemana pun mereka pergi. Marco lah yang menyiapkan segala sesuatunya mengingat Steven juga Rimba tidak begitu hapal daerah-daerah yang ada di jogjakarta. Hanya saja mereka tak tahu bahwa takdir akan membawanya bertemu dengan sosok Rimiko.


"Kita langsung ke hotel aja Pak," kata Steven kepada Pak Wiro yang menjemputnya di bandara.


"Kok ke hotel? aku mau langsung ke Malioboro," kata Rimba saat keduanya sudah berada didalam mobil.


"Ini masih sore, Ke Malioboro itu enaknya pas malam hari Rim, sambil kuliner." ujar Steven, lalu melirik ke tempat sopir didepan. "Betul kan Pak Wiro?" tanyanya mencari dukungan.


"Betul Mbak, bagusnya ke Malioboro itu pas malem. Suasanane lebih romantis," sahut Pak Wiro.


"Tuh bener kan? kita istirahat dulu sebentar dihotel, oke?" kata Steven, berharap Rimba tak lagi ngeyel.


Rimba menggeleng cepat. "Aku maunya sekarang, toh ini udah jam 5, bentar lagi juga malem. Lagipula biar di hotel nanti kita nggak keluar-keluar lagi," ucapnya mulai merajuk.


Steven menghela napas sejenak, ia tak bisa menolak keinginan sang istri kesayangan. "Oke fine, kita ke Malioboro sekarang. Kamu mau belanja apa sih disana?" tanyanya.


"Enggak, cuma mau foto-foto aja."


"Hah?"


Akhirnya Pak Wiro pun mulai menancap gas mobilnya menuju ke kawasan Malioboro yang selalu ramai pengunjung.


.


Jam sudah menunjukan pukul 8.30 malam.


"Kita ambil foto di spot titik nol Jogja yuk!" ajak Rimba kembali menarik tangan Steven yang baru saja 5 menit duduk dikursi taman.


"Kamu nggak cape Rim? aku cape lho dari tadi jalan-jalan terus ngikutin kamu yang batrenya nggak abis-abis," keluh Steven seraya meregangkan kakinya.


"Barusan kan udah dicas batrenya pake gudeg Jogja," sahut Rimba. "Ayo Steve!" ajaknya lagi.


"Tapi janji ya, abis ini kita balik ke hotel," ujar Steven kali ini agak sedikit keras.


"Iya, iya, bawel ih," sahut Rimba dengan semangat menarik tangan Steven agar laki-laki itu berdiri.


Setelah menuruti maunya Rimba yang terakhir ini, akhirnya mereka dijemput kembali oleh Pak Wiro ditepi jalan.


"Sudah Mas, Mbak jalan-jalannya?" sapa Pak Wiro saat keduanya sudah masuk kembali ke dalam mobil.


"Sudah Pak," sahut Rimba ramah. "Eh, tadi kenapa nggak sekalian beli oleh-oleh buat keluarga di Jakarta ya?" tanyanya kini menatap Steven.


"Trus?"


"Kita beli sekalian yu!" ucap Rimba hendak keluar lagi dari mobil, namun Steven segera mencekal lengan Rimba untuk mencegahnya.


"Besok lagi kan bisa Rim. Kamu harus inget tujuan kita kemari mau ngapain. Marco sama Kakek udah bela-belain mensponsori honeymoon singkat ini buat kita. Kalau jalan-jalan terus kapan kita rilexnya?" keluh Steven pada Rimba.


"Oya? jadi semuanya dibiayain Kak Marco? termasuk makan tadi? kita nggak ngeluarin duit sama sekali nih?" kata Rimba membelalakkan matanya.


"Itu maunya kamu, ya nggak semuanya juga. Fasilitas jet pribadi dan hotel aja yang dari dia. Selebihnya bayar masing-masing ya," sahut Steven.


"Dasar pelit!" gumam Rimba mendengus.

__ADS_1


Steven tertawa, lalu mengacak rambut istrinya gemas. " kamu tau? pas nikah waktu itu Marco sempet nawarin kita juga buat bulan madu keliling Eropa, tapi saya tolak" gumamnya.


"Hah, kenapa di tolak?" Rimba reflek mendongak menatap suaminya.


"Lha harusnya tanya sama diri kamu sendiri. Pas nikah aja muka kamu cemberut gitu kaya nggak ikhlas, gimana mau diajak bulan madu," sahut Steven.


"Iih, nyebelin" gumam Rimba kali ini mencubit lengan Steven hingga lelaki itu meringis. Rimba sadar, dulu pas awal nikah dirinya emang benci banget sama suaminya ini. Saat itu jangankan di ajak ke Eropa, diajak ke bulan pun Rimba tidak akan mau. Tapi lain dulu lain sekarang, kemana Steven pergi, kini Rimba akan selalu ada disampingnya.


"Ini jadinya ke hotel saja, Mas?" tanya Pak Wiro mengakhiri perdebatan sepasang suami istri yang duduk dikursi penumpang belakang.


"Oh, iya Pak. Kita ke hotel saja. Sudah reservasi kan?"


"Sudah Mas. Semuanya sudah saya siapkan," sahut Pak Wiro mulai menjalankan mobilnya menuju ke hotel.


.


Sesampainya di kamar hotel, keduanya dibuat tercengang dengan pelayanan yang disiapkan dari pihak hotel kelas bintang lima ini.


"Wow, beneran kita nginep disini?" tanya Rimba dengan ekspresi yang sulit diutarakan. Antara senang, terharu, dan kikuk menjadi satu.


Steven hanya balas mengangguk. "Ini pasti kerjaannya Marco dan Mitha," gumamnya.


"Niat banget ya mereka nge-endorse bulan madu kita yang udah telat 3 bulan," sahut Rimba seraya memandang takjub dihadapannya.


Pasalnya ranjang di kamar itu dihias sedemikian rupa seperti ranjang pengantin baru. Ranjang yang terlihat begitu manis dan klasik bernuansa warna putih. Dan yang membuat menarik perhatian Rimba adalah ranjang besar berkelambu transparan yang diikat ke setiap tiang tempat tidur. Sungguh, Rimba begitu menyukai dekorasi kamar suite room plus-plus ini. Memberi kesan sangat romantis.


Tiba-tiba Perempuan itu merasakan tubuhnya melayang ketika Steven tanpa aba-aba menggendong Rimba ala bridal style.


"Eh, turunin Steve!" protes Rimba kaget.


"Maaf, saya baru ngajak kamu honeymoon sekarang. Ini pun hanya ke Jogya dan hanya 2 hari. Kapan-kapan kalo kamu libur panjang aku mau ajak kamu ke Polandia, sekalian mau ngenalin kamu ke keluarga besar dari pihak Daddy-ku disana," ucap Steven kemudian tersenyum dengan kedua mata menatap Rimba disampingnya.


"Iya aku mau," gumam Rimba seraya mengusap lembut rahang tegas milik suaminya.


Steven mengecup kening Rimba, "I love you."


"Love you too, Steve" balas Rimba membelai lembut wajah tampan suaminya.


Steven tersenyum. Ditatapnya wajah cantik Rimba yang juga balas menatapnya. Dorongan itu semakin kuat mendera. Hasratnya seakan sudah mencapai puncaknya saat ini. Tak bisa ditunda dan semoga tidak ada yang mengganggu kegiatan mereka lagi malam ini.


Keduanya saling merangkum bibir terbawa suasana. Mereka memutuskan untuk melakukannya saat ini juga. Meski sebenarnya Steven berusaha menahan diri agar tidak membuat Rimba terlalu kelelahan, tapi godaan hasrat yang menggebu membuat Steven tak bisa menahan lagi.


"Steve, please!" desah Rimba kepayahan saat cumbuan Steven begitu dalam dan lebih agresif dari biasanya.


Kali ini memang berbeda. Karena desakan dari sang kakek yang ingin segera memiliki cicit, itu membuat Steven bekerja lebih keras dan lupa pada rasa lelahnya sendiri. Rimba sampai harus meminta ampun berkali-kali agar Steven segera berhenti.


"Pelan-pelan Steve," erang Rimba tak kuasa lagi mengeraskan suaranya yang sudah timbul tenggelam.


"Aku sampe!" balas Steven yang kemudian ambruk terkulai disebelah Rimba dengan peluh yang memenuhi sekujur tubuhnya.


"Sampe mana?" goda Rimba seraya mengangkat kedua alisnya.


"Sampe jauh," kekeh Steven puas.

__ADS_1


Rimba malah tertawa.


"Semoga membuahkan hasil, pulang dari sini kamu positif," gumam Steven seraya mengecup kening Rimba.


Rimba langsung menghentikan tawanya. Susah payah perempuan itu menelan salivanya karena kaget. "Aku ke kamar mandi duluan ya," ucapnya tanpa menanggapi ucapan Steven barusan. Lantas ia bangkit dari ranjangnya didalam gulungan selimut. Perempuan itu segera masuk ke dalam kamar mandi tanpa bicara lagi. Ia tahu tidak butuh waktu lama untuk membersihkan diri, berbeda dengan Steven.


Setelah keduanya sama-sama mandi, Rimba duduk diranjang. Steven baru keluar dari kamar mandi dengan handuk terbelit di pinggang, dada telanjang yang penuh godaan, juga rambut basah bermuatan pesona.


Sudah menjadi istrinya saja tak cukup membuat Rimba merasa puas. Kupu-kupu masih berterbangan diperut Rimba ketika melihat sosok seperti itu dihadapannya.


"Akhirnya lengkap," desis Rimba menyambut Steven yang tanpa malu-malu melepas handuknya dan mengenakan pakaiannya didepan Rimba.


"Lengkap gimana?" tanya Steven seusai tubuhnya terbalut celana pendeknya, masih bertelanjang dada.


"Jogya dan kamu," ucap Rimba berjenggit, sok romantis.


"Kamu suka berada disini?" tanya Steven.


Rimba mengangguk, "Iya aku suka banget. Makasih udah wujudin keinginan aku," ucapnya lirih, lalu memeluk suaminya spontan. Dihirupnya aroma manis dada Steven yang masih telanjang. Ada candu di sana yang tak pernah bisa Rimba temu penawarnya.


"Cuma itu yang mau kamu bilang? nggak ada yang lain?" tanya Steven seolah bisa membaca ribuan beban di mata bening istrinya.


Rimba kali ini menggeleng. Meski hatinya sebetulnya bimbang. Ia merasa bersalah kepada suaminya yang selama ini diam-diam mengkonsumsi pil KB.


"Mungkin saya yang terlalu sibuk atau kita yang kurang usaha makanya kamu belum hamil-hamil juga. Mulai sekarang saya harus lebih mengatur pola hidup yang lebih sehat lagi agar bisa menghasilkan kualitas sel yang bagus," ujar Steven blak-blakan malah seolah sisi kesalahan ada pada dirinya.


"Gimana kalo yang bermasalah itu ternyata dari akunya?" tanya Rimba.


"Nggak mungkin. Kamu itu masih muda dan sehat Rim. Masa menstruasi kamu aja teratur dan normal," ujar Steven yang selalu memperhatikan kesehatan istrinya itu.


"Kalau sudah waktunya nanti juga aku bakalan hamil kok," gumam Rimba masih menatap suaminya. 'Maaf, untuk sekarang aku belum siap Steve,' batinnya lirih.


"Iya, yang penting kita usaha dulu," sahut Steven seraya mengusap kepala Rimba sayang, dibawanya istrinya itu dalam pelukan.


Rimba semakin diliputi rasa bersalah, tapi ia belum siap untuk mengakuinya. "Aku butuh angin segar," lirih Rimba sambil mendongakkan kepalanya. Sekuat tenaga mengumpulkan keberanian malah membuat paru-parunya seakan mengecil dan mengurangi pasokan oksigen ke tubuhnya.


Steven mengangguk. Ia menyambar kaosnya lalu mengenakannya. Dibimbingnya Rimba menuju balkon, menikmati suasana Jogya di malam hari yang mulai berangsur sepi.


"Jogya udah mulai istirahat," gumam Steven saat matanya tertuju pada jalanan yang sudah mulai lengang.


"Steve," panggil Rimba lembut. Ia duduk di kursi kayu menghadap ke pagar balkon.


Steven yang tengah memunggungi Rimba melihat suasana, akhirnya berbalik. Ditemaninya sang istri duduk di kursi, dipeluknya pundak dia mesra.


"Aku mau jujur sama kamu," ucap Rimba lirih.


.


.


.


Ketika kita berkomitmen pada kejujuran, kita membantu mengurangi tingkat kesalahpahaman, keraguan, dan ketakutan didalam sebuah hubungan.

__ADS_1




__ADS_2