
Rimba terbangun dalam tidurnya, ia mengambil ponsel diatas nakas untuk melihat jam. Pukul 02.15 dini hari. Diliriknya sang bunda tengah terlelap disamping. Rimba beranjak bangun lalu turun dari tempat tidur. Tenggorokannya yang kering membuat dirinya harus menyeret kaki menuju dapur.
Namun saat melewati kamar Galang, langkah Rimba terhenti sejenak. Ia mengernyit saat pintu kamar kakaknya sedikit terbuka dengan lampu yang masih menyala. Apa Galang belum tidur?
Rimba mendekat, perlahan ia mendorong pintu kamar Galang agar terbuka lebar. "Kak!" panggil Rimba sangat pelan.
Kamar Galang ternyata kosong, kemana Galang? apa dia dikamar mandi? pikir Rimba. Ia pun tak mau ambil pusing. Rimba kembali menuju dapur untuk mengambil minum.
Didapur, saat Rimba tengah menenggak minumnya digelas, samar-samar Rimba mendengar seseorang tengah bergumam dihalaman belakang. Suara itu milik Galang, Rimba pun penasaran lalu membuka pintu ke arah halaman belakang yang ada disebelah dapur.
"Kak Galang ngapain?"
Rimba terkejut melihat Galang yang tengah membakar sesuatu didalam kaleng Khong Guan.
Galang terkejut dengan kedatangan Rimba yang tiba-tiba. Ia tidak menyangka akan ada seseorang dirumah itu yang terbangun dan memergokinya.
"Itu yang dibakar apaan?" tanya Rimba mendekat. Saking penasarannya Rimba melihat ke dalam kaleng biskuit yang kini mengeluarkan api kecil tapi asapnya cukup mengepul pekat. "Foto Kak Priya?" gumam Rimba kaget saat ada gambar Priyanka yang sisa separuh, belum terbakar semua.
Galang tak menjawab ataupun merespon ucapan Rimba. Ia malah menyulut kembali pamantik api pada sebatang rokok yang kini terselip diantara jemarinya.
"Semua foto Kak Priyanka kok dibakar sih? Kakak udahan sama dia?" pancing Rimba lagi seraya menatap wajah frustasi Galang yang sedang mengesap rokoknya.
"Jangan sebut lagi nama dia didepan gue!" ucap Galang.
"Fix, itu artinya kalian putus ya?" kata Rimba.
Galang lalu duduk dikursi rotan sambil menyaksikan foto-foto itu kini terbakar ludes didalam kaleng. Mulutnya terus mengesap kuat rokok yang kini tinggal setengahnya.
"Apa bikin kalian putus?" tanya Rimba lalu ikut duduk disamping Galang.
"Ternyata kamu bener Rim."
"Maksudnya?" kening Rimba mengernyit bingung.
"Dia selingkuh sama laki-laki yang jauh lebih bisa muasin dia daripada gue," gumam Galang dengan nada kesal.
"Hah? serius Kak?" kaget Rimba. "Berarti cowok ganteng yang aku liat sama Ellena waktu itu beneran selingkuhannya?" kata Rimba yang terlalu jujur kalau lelaki yang dilihatnya bersama Priyanka di Mall itu, memiliki paras super ganteng versi Rimba.
"Lo sebenarnya dipihak mana sih?" ujar Galang melotot. "Jadi maksudnya gue kalah ganteng sama dia?" sewotnya tak terima.
"Nggak gitu juga Kak. Ini nggak ada hubungannya dengan perselingkuhan mereka," kata Rimba mencoba meluruskan.
__ADS_1
"Jelas ada lah, itu artinya dia selingkuh karena gue kalah ganteng sama dia."
"Kata siapa?"
"Pan Lo yang bilang tadi kalo cowok yang Lo liat bareng dia itu ganteng," sahut Galang nyolot.
"Salah ngomong gue," gumam Rimba menepuk jidatnya sendiri.
"Udah pergi sana! tinggalin gue sendiri!" pinta Galang mengusir adiknya.
"Tapi ini udah malem banget kak, masa nggak tidur sih? besok dikantor ngantuk lho, di omelin bos Marco tau rasa," ucap Rimba.
"Gue nggak akan kerja!"
"Wah, stress nih," umpat Rimba menggeleng. "Putus cinta nggak kaya gitu juga kali kak. Ambil baiknya aja napa, itu artinya Priyanka bukan yang terbaik buat kak Galang. Coba kalo selingkuhnya pas kalian udah nikah? apa nggak lebih sakit tuh?" ujar Rimba sampai-sampai ia lupa akan masalahnya sendiri karena menasehati sang kakak. "Move on dong, ayo move on!" tambahnya.
"Ngomong move on sih gampang Rim, tapi prakteknya yang susah," sanggah Galang.
"Sejak kapan sih kakak putus dari dia?" tanya Rimba jadi kepo.
"Kemarin, aku datang ke rumahnya ternyata pas banget lagi acara lamaran," ucap Galang getir, lalu mengesap kembali rokok ditangannya.
"Bukan tragis lagi, tapi kemaren rasanya dunia mau kiamat aja," sahut Galang lalu mematikan rokoknya ke dalam asbak diatas meja disampingnya.
"Aneh ya, dia kok langsung lamaran gitu aja sama cowok yang baru dikenalnya. Sementara sama kamu yang udah jadi pacarnya bertahun-tahun, kok kagak mau diajak ke arah situ?" ujar Rimba sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil berpikir. "Apa jangan-jangan dia hamil?" tuduh Rimba malah jadi meng-ghibah.
"Hush! kagak baik berprasangka jelek gitu," sahut Galang menoyor kepala Rimba pelan. "Tapi kayanya kita sepemikiran deh," tambahnya lagi.
"Yaah, sama aja dong," ucap Rimba terkekeh. "Saran aku sih, Kak Galang harus cepet-cepet lupain dia. Aku tau itu susah, kalian udah lama banget pacarannya. Tapi buat apa terus-terusan mikirin dia yang jelas-jelas udah nyakitin hati Kak Galang."
"Tapi rasanya kok sakit banget Rim. Sakitnya lebih-lebih daripada jatuh ke dasar jurang," ujar Galang berlebihan.
"Iyuuhh... lebay banget bang, emang udah ngerasain jatoh ke dasar jurang itu kaya apa?" tanya Rimba.
"Ya enggak, tapi aku masih nggak nerima aja saat dia lebih milih laki-laki itu. Sakit banget, sakitnya tuh disini Rim," ucap Galang sambil menunjuk dada sebelah kirinya.
"Aku paham kak, otak manusia emang merekam rasa sakit emosional akibat putus cinta dengan cara yang sama seperti rasa sakit fisik. Itulah sebabnya seseorang mungkin ngerasa kalo putus cinta dapat menyebabkan munculnya luka fisik yang sesungguhnya," ujar Rimba menurut apa yang pernah dia baca sebelumnya.
Galang kali ini terdiam, tidak membalas omongan Rimba yang dirasa memang benar adanya.
Dengan segala label yang melekat bahwa sosok laki-laki sangat kuat dan tangguh, sebenarnya bukan itu yang terjadi ketika mereka patah hati. Perasaan laki-laki setelah memutuskan hubungan bahkan bisa jadi lebih parah jika dibandingkan dengan kaum perempuan. Laki-laki menunjukkan bahwa dirinya seakan-akan tidak terbelenggu patah hati adalah cara agar tidak tampak lemah. Mereka tidak menunjukkan kesedihan pada orang lain, bahkan mungkin pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Hey, ada apa ini? kalian tau ini jam berapa?"
tiba-tiba Steven datang. Ia terbangun lantaran mendengar suara gumaman-gumaman mereka yang samar terdengar sampai ke kamarnya.
"Nih bawa istrimu masuk, kelonin dia!" ujar Galang jadi sewot lagi.
"Iih, apaan sih Kak?!" balas Rimba menyikut perut Galang.
"Ini udah mau jam 3 subuh lho, kalian bahas apa sih?" tanya Steven heran. Padahal awalnya ia sempat mengira itu suara maling.
"Bahas dia yang lagi putus cinta," sahut Rimba.
"Apa?" Steven cukup kaget.
"Udah sana pergi ah, makin runyam nanti kalo bunda ikutan bangun," kata Galang mengusir pasangan suami-istri itu.
"Kita pergi aja!" ajak Rimba menarik tangan Steven kembali masuk ke dalam rumah. Ia hanya tidak ingin mengganggu jam istirahat suaminya itu gara-gara ulah dirinya dan Galang.
Steven pun menurut dan mengikuti langkah Rimba. "Beneran Galang putus dari pacarnya?" tanyanya jadi penasaran.
"Jangan kepo deh, nggak pantes dokter macam kamu jadi tukang gosip," sahut Rimba yang hendak masuk kembali ke kamar Vania.
"Eh, kamu mau kemana?" cegah Steven menahan tangan Rimba.
"Ke kamar Bunda," sahut Rimba polos.
"Dosa lho ngebiarin suaminya tidur sendirian," bisik Steven mendekati telinga Rimba.
"Lha, nanti pas bunda bangun nyariin gimana?"
"Ya biarin aja, paling bunda udah tau kamu dimana," jawab Steven lantas mengajak Rimba kembali ke kamarnya.
"Oke," sahut Rimba akhirnya menurut.
.
.
.
Ingatlah, kepedihan kita hari ini akan terasa indah dan manis saat kita mengingatnya kelak.
__ADS_1