
"Malam ini kamu tidur disini, biar aku tidur dikamar yang lain," ujar Steven paham akan apa yang ada dipikiran Rimba, karena dia pun sebenarnya belum siap untuk menyentuh istrinya. Lelaki itu hanya ingin melakukannya jika Rimba sudah benar-benar siap dari hati.
Rimba mengangguk, ia merasa lega karena Steven ternyata sangat pengertian. "Itu tatoo-nya gambar apa sih?" tanyanya yang sedari tadi bikin penasaran sejak Steven membuka baju dan memperlihatkan tatoo dipunggungnya.
"Ini?" tunjuk Steven pada punggungnya sendiri. "Kamu lupa ini bentuk apa?" ucapnya.
"Ya?" Rimba mengernyit bingung. Lantas ia berjalan mendekati suaminya untuk melihat tatoo itu lebih dekat. "emang bentuk apa? kaya huruf Jepang apa China gitu," gumamnya terlihat mikir-mikir.
Steven membalikkan tubuhnya jadi menghadap Rimba. Sontak gadis itu menahan napasnya sejenak melihat tubuh setengah telanjang Steven kini berada sangat dekat dengannya, begitu mempesona. Rimba segera membuang pandangannya ke arah samping karena hidungnya yang nyaris menempel dengan dada bidang milik Steven.
"Ini inisial nama kita dalam huruf Katakana, S and R"
"Kamu baru bikin tatoo ini?" tanya Rimba.
"15 tahun yang lalu."
"Apa??" Rimba tercengang.
"Ya, aku bikin tatoo ini setelah bertemu kamu dulu," sahut Steven sangat yakin.
Lagi-lagi Rimba mengerutkan keningnya. Ia sungguh tak mengerti apa yang dibicarakan Steven. 15 tahun yang lalu? Apa maksud semua ini? Apa mereka sebelumnya pernah bertemu? Mustahil, Rimba ingat betul bagaimana masa lalunya. Apalagi memori 15 tahun lalu di kala usianya 7 tahun itu. Sungguh, selama hidup dia belum pernah bertemu Steven sebelumnya. Tapi bagaimana dengan inisial S dan R yang terukir dipunggung suaminya itu? tidak mungkin kebetulan kan?
"Seingatku, kita belum pernah bertemu sebelumnya," gumam Rimba merasa ragu, tapi itulah yang ia yakini.
Steven tersenyum, "Sebagian kecil orang dewasa ada yang mampu mengingat apa yang pernah dialaminya sejak usia 3,5 tahun, atau lebih muda dari itu. Bahkan ada pula beberapa orang yang secara menakjubkan bisa mengingat masa kecilnya sejak ia berusia 18 bulan. Kendati demikian, sebagian besar orang dewasa hanya bisa mengingat masa kecilnya sebatas sejak usia 8 tahun atau lebih muda beberapa tahun dari itu,” papar Steven panjang lebar. Ia paham kalau Rimba belum mampu mengingat semua kenangan masa kecilnya.
__ADS_1
Rimba menggigit ibu jarinya sambil terus mencoba mengingat-ingat kenangan masa kecilnya dulu. Sayang, dari deretan demi deretan masa lalu itu, Rimba tak mampu mengingat setitik kenangan bersama Steven sedikit pun. Aneh.
"Jangan banyak berpikir," ucap Steven menurunkan ibu jari tangan kanan Rimba dari mulutnya. "Sekarang mending kamu bersih-bersih dulu! Abis itu baru istirahat!" Pintanya.
"Tapi Saya masih penasaran lho Pak,"
"Pak? kamu masih manggil saya Pak? Saya suami kamu lho sekarang, bukan dosen kamu," protes Steven saat sadar Rimba masih memanggil 'Bapak' padanya.
"Terus saya musti panggil Bapak apa? Mas? Kak? Om?"
"Panggil Steve aja nggak apa-apa," sahut lelaki itu merasa gemas melihat mimik wajah istri kecilnya yang cemberut.
"Ya? Steve? ini bukan Amerika Om. kita di Indonesia yang memiliki adab memanggil orang yang lebih tua dari kita."
"Oke, kalo gitu terserah kamu. Asal jangan panggil saya Bapak apalagi Om!" ucap Steven dengan menekan kata 'Om'.
"Awas, jangan kepeleset sabun lagi!" ucap Steven kembali mengingatkan Rimba akan kekonyolannya waktu itu yang membuat mereka menikah hari ini.
"Itu nggak akan terjadi!" jawab Rimba lalu menutup kamar mandi dari dalam.
"Kalau mandi jangan bikin kamar mandi berantakan! Pakai sabun punya kamu yang berwarna pink, jangan pakai sabun saya dan jangan ninggalin sehelai rambut pun di sana," Seru lelaki itu memberi peringatan.
"Siyap Kakak! Bawell!" sahut Rimba dari dalam kamar mandi dan terdengar samar oleh Steven.
"Kakak?" gumam Steven lantas tersenyum sendiri.
__ADS_1
*Flashback
Tokyo, December 2006
'Kakak sudah sembuh? sekarang kakak mau pulang? apa kita bisa bertemu lagi? atau kakak akan melupakan aku?'
"Syukurlah kamu baik-baik saja. Tenang, Kita pasti akan bertemu lagi, kamu malaikat kecil yang sudah menolongku. Aku tidak akan melupakan kamu sampai kapan pun. Ayo kita berfoto bersama!"
"Jika aku dewasa nanti, mau kah kakak menikahi ku?"
"Menikahimu? tapi saya tinggal di Indonesia, saya ke Tokyo hanya liburan beberapa pekan bersama Papa."
"Saya juga dari Indonesia, tapi ayah kerja disini dan bawa aku kesini. Aku akan tunggu Kakak disini ya. Sampai jumpa lagi kak!"
"Tunggu! kamu jangan pergi dulu! namamu siapa?"
"Namaku R...i...m"
*Flashback end.
.
.
__ADS_1
.
Jika boleh aku meminta, antarkan aku pada masa kecil dulu, saat aku hanya mengenal seorang kawan, dan mengajari indahnya berteman.