
Malam itu sepulang mereka dari rumah Bunda Vania, Rimba langsung membuka laptopnya untuk mengerjakan tugas kuliah yang harus dikumpulkan besok siang. Ia baru diingatkan Ellena barusan ditelepon bahwa ada tugas dari dosen untuk mata kuliah metabolisme dan energi.
"Nggak mandi dulu?" tanya Steven.
"Udah kok tadi di bunda," sahut Rimba sambil membuka beberapa folder di laptopnya dari flashdisk yang baru saja ia tancapkan di USB.
"Kapan?"
"Sebelum kamu datang jemput, aku sempat mandi dulu dirumah bunda," ucap Rimba sambil melirik suaminya itu sebentar, lalu kembali fokus ke benda persegi besar dihadapannya.
"Ooh," gumam Steven menanggapi. Lelaki itu lantas membuka kemejanya dan bertelanjang dada.
Rimba melirik sebentar dan bertanya, "Mandi? katanya nggak enak badan."
"Lengket," jawab lelaki itu beranjak masuk ke kamar mandi.
"Pake air hangat mandinya!" teriak Rimba karena Steven sudah menutup pintu kamar mandi.
"Siap Nyonya," balas teriak Steven dari dalam sana.
Rimba tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Lalu kembali fokus ke tugas kuliahnya didalam laptop.
Beberapa lama kemudian, suara ponsel Steven diatas meja tiba-tiba saja berbunyi. Rimba sengaja mengabaikannya karena suaminya itu tengah dikamar mandi. Namun suara telepon itu terus saja berbunyi. Sepertinya penting. Rimba terpaksa mengambilnya, disana terlihat nama Sean memanggil.
"Kak Steve!" teriak Rimba mendekati pintu kamar mandi sambil membawa ponsel Steven yang masih berbunyi. "Telpon interlokal nih dari Sean" ucapnya lagi.
"Angkat saja dulu Rim. Nanggung sebentar lagi juga beres," balas Steven teriak dari dalam kamar mandi.
"Oke, aku angkat ya," ucap Rimba lalu mengangkat panggilan telepon dari adik suaminya yang berada di luar negeri itu. "Ha---" belum sempat Rimba menyapanya suara Sean disana sudah menyambar.
'You should know that Rimiko adalah malaikat kecil yang selama ini kau cari. Aku sudah selidiki asal usulnya. You know Steve? sepertinya Rimiko dan Rimba saudara kembar,' ucap Sean diseberang sana begitu antusias tapi berhasil menikam pedang tepat di jantung Rimba.
Rimba langsung menutup mulut dengan telapak tangannya, reflek ia menjatuhkan ponsel Steven ke lantai berkarpet meski panggilan teleponnya masih tersambung. Ia mundur selangkah menjauhkan diri dari ponsel tersebut. Paru-parunya seakan menciut, air matanya menitik tanpa bisa ditahannya. Jadi, malaikat kecil yang Steven cari selama ini bernama Rimiko? dan Sean sudah menemukannya? Rimba hancur mendengar kenyataan pahit ini. Hatinya tak bisa tertolong, suaranya tertelan di tenggorokan.
Bersamaan dengan itu Steven datang, ia baru saja keluar dari kamar mandi. "Siapa yang telpon?" tanyanya.
Rimba masih berdiri di tempatnya, termangu dan masih bercucuran air mata.
"Sayang," panggil Steven lembut. Dilihatnya ponsel miliknya tergeletak dilantai. Ia memungutnya, dan melihat ada panggilan dari Sean yang masih tersambung.
"Ada apa Sean?" Sapa Steven to the poin.
Diseberang sana Sean kembali menjelaskan kepada Steve bahwa dirinya sudah menemukan fakta baru tentang Rimiko dan Rimba.
"What?" Steven membulatkan matanya sempurna saat mendengar kabar terbaru dari adiknya itu. "Rimiko? jadi betul dia orangnya?" antusias Steven keceplosan, tak sadar ada Rimba disampingnya yang tengah syok. "Hm, kita bicara lagi nanti Sean, waktunya sedang tepat," kata Steven akhirnya menutup teleponnya dengan Sean dan langsung menghampiri Rimba.
Bibir Rimba bergetar, buru-buru ia menyusut air matanya, sekuat tenaga menahannya agar tidak lagi tumpah.
"Kak," Rimba menoleh Steven. Air matanya tak tertahankan. Pelupuk matanya mendung, siap menumpahkan hujan.
"Ya," jawab Steven lembut.
__ADS_1
"Apa maksudnya kalo kemungkinan aku dan dia kembar?" tanya Rimba tersendat.
Steven terdiam, ia benar-benar bingung saat ini harus menjelaskan bagaimana. Ucapan Sean belum diyakini kebenarannya 100 persen karena itu baru via omongan, bukan by data. "Semuanya belum pasti Rim, tapi aku akan cari tau lagi nanti," gumamnya.
"Benar juga, tidak mungkin aku kembar. Bunda pernah bilang hanya melahirkan satu bayi perempuan yakni aku," lirih Rimba. "Jadi gadis kecil yang selama ini kamu cari itu bernama Rimiko? selamat Kak, akhirnya kamu temukan dia," ucapnya dengan bibir bergetar.
"Tidak penting lagi bagi ku apakah dia ditemukan atau tidak," sahut Steven hendak memeluk Rimba, namun Rimba malah menghindar.
"Oya? bener tidak penting? itu dari ucapan mu aja Kak, tapi dari matamu nggak begitu. Aku bisa liat dari binar mata kamu yang tegas mengatakan, kalo kamu bahagia mendengar kabar tersebut," ujar Rimba meyakini bahasa tubuh yang Steven tunjukan tadi saat mendengar kabar dari Sean.
"Maksudmu apa Rim?"
"Apa sebaiknya kita berpisah saja?" gumam Rimba tersendat, impulsif.
Mata Steven membulat. Lalu matanya berkedip-kedip bingung, babak baru hubungan mereka seperti tak lepas dari coba.
"Kalimat macam apa itu?" geram Steven meraup wajahnya.
Rimba menunduk, air matanya masih terus menetes, hatinya tercabik. Pertanyaan yang sama terus berputar di otaknya bagai kaset rusak. Apa dulu setuju untuk menikah dengan Steven adalah keputusan yang tepat? karena Rimiko adalah gadis yang dicari Steven selama ini, apakah Steven menyesal menikahinya? haruskah Rimba bertahan dalam hubungan yang ia sendiri sekarang jadi ragu pada cinta suaminya?
"Jangan ke kanak-kanakan gitu dong! Kamu mau balikan lagi sama Marvin? iya?" tuduh Steven menohok, membalikkan ucapan Rimba.
Rimba menggeleng cepat. "Enggak!"
"Terus?" kedua telapak tangan Steven menangkup Pipi Rimba, membuat istrinya itu terpaksa menatapnya. "Kasih aku kesempatan buat buktiin apa yang kamu pikirkan itu nggak bener," gumam Steven sebenarnya ia paham apa yang ada dipikiran istrinya saat ini.
Rimba menggigit bibir bawahnya. Dengan berani ditatapnya mata indah suaminya. Steven tidak pernah berdusta soal perasaannya. Rimba tahu betul itu. Namun, mengetahui bahwa Steven telah menemukan gadis kecilnya itu, Rimba merasa bagai disengat jutaan lebah ditubuhnya. Hatinya seakan mati rasa, ia takut kehilangan lelaki terbaik yang belum lama utuh dimilikinya.
"Siapa cinta pertama di hati kamu Kak?" celetuk Rimba masih sesenggukan, lagi-lagi mengejutkan Steven.
"Kenapa tiba-tiba bahas itu lagi?" tanya Steven.
"Cinta pertama kak Steve sudah ditemukan, dia Rimiko kan?" lirih Rimba.
"Tapi kamu cinta terakhirku, Rimba. Enggak penting siapa pun yang jadi cinta pertamaku," jelas Steven. "Semoga itu bisa jadi jawaban yang bisa nenangin kamu," lirihnya.
Rimba terdiam beberapa saat. Benarkah begitu? jujur hatinya merasa lega sekarang. "Seandainya benar kami saudara kembar, kamu akan pilih sispa?" tiba-tiba pertanyaan konyol itu terlontar dari pikiran Rimba.
"Pertanyaan bodoh. Jelas aku pilih kamu lah. Kita udah nikah Rim, bukan pacaran yang bisa seenaknya bisa putus nyambung," ujar Steven.
"Oh, jadi kalau kita masih pacaran ada kemungkinan kita putus, trus kamu balik sama cinta pertama kamu itu?"
"Salah ngomong deh," gumam Steven menepuk jidatnya sendiri, merasa konyol.
Rimba akhirnya tertawa, lupa pada luka yang ditorehkan lewat nama Rimiko dalam pendengarannya. Lagipula apa Rimba bisa hidup tanpa Steven? hatinya sudah diikat oleh cintanya pada lelaki itu. Jika Steven sudah bilang bahwa dirinyalah cinta terakhir, Rimba wajib percaya.
"Sekarang kamu udah tenang?" tanya Steven hati-hati.
Rimba hanya mengangguk.
"Oke, kita tidur aja yuk!" ajak Steven tak ingin memperpanjang bahasan. Yang penting, Rimba sudah kembali lagi seperti sebelumnya.
__ADS_1
Setelah mematikan laptopnya Rimba ikut naik ke ranjang. Tugas kuliahnya bisa ia kerjakan besok pagi sebelum berangkat, karena sekarang sudah tidak bisa diajak konsentrasi belajar.
Rimba menarik sebelah lengan Steven untuk ia jadikan bantal. Demi rumah tangga mereka yang baru seumur jagung, Rimba berdamai dengan hatinya. Tidak penting cinta pertama, yang terpenting adalah cinta terakhir. Ia pun langsung terlelap.
Seperti kebiasaannya, Steven pun tertidur sambil memeluk Rimba. Namun tiba-tiba hal lain datang di alam bawah sadarnya.
***
(Terjemahan dari bahasa Jepang)
"Om mau?" tawar gadis kecil ini, mata bulat indahnya nampak berkaca-kaca menatap Steven yang tampak wajahnya lebih muda 15 tahun dari sekarang.
Mata Steven mengitar, ia lalu melihat pada tubuhnya sendiri. Bajunya yang penuh noda darah dan debu. Ia dan gadis kecil ini ada dalam satu ruangan tertutup dan gelap, kotor juga pengap.
Steven meringis menahan sakit dari tangannya yang berdarah-darah luka akibat tertindih puing-puing bangunan.
"Kamu saja," kata Steven setelah tatapannya hinggap pada satu wajah mungil yang belepotan debu, tapi masih mau tersenyum ke arahnya.
"Aku udah," katanya, "Om pasti laper dan kesakitan ya?" tebaknya polos. "Aku suapin ya?" tawar gadis itu pengertian,
Steven akhirnya mengangguk. Ia makan dalam diam, rakus karena lapar sebab sudah berjam-jam terjebak didalam ruangan ini. Tawa kecil gadis itu membuat Steven menghentikan kunyahannya. "Kenapa kamu bisa ada disini? dimana orangtuamu?"
"Ibuku sedang berbelanja, aku menunggunya disini," ucap gadis itu sangat polos. Tidak terlihat tidak ketakutan sedikit pun meski berada didalam puing-puing bangunan yang bisa saja tiba-tiba rubuh kembali.
"Hey, kepalamu terluka!" panik Steven saat menyadari di kepala bagian samping gadis kecil itu mengeluarkan darah segar.
"Ini?" anak ini malah menyentuhnya lukanya sendiri dengan tangannya. "Nggak sakit kok. Aku kan dokter, jadi nggak boleh sakit," ucapnya polos dan begitu menggemaskan.
"Cita-cita mu ingin jadi dokter?" tanya Steven iseng, berusaha menenangkan jiwanya yang masih terguncang akibat tragedi itu, yang membuatnya masih terjebak disini bersama gadis kecil ini. Ia menunggu dan berharap tim penyelamat segera datang.
"Iya, jika besar nanti aku akan jadi dokter. Dan aku pasti akan obatin Om kalo sakit."
"Janji kamu bakal mengobati saya?" tanya Steven.
"Iya, kita lihat saja nanti," ucap anak itu sambil tertawa riang.
"Yang ada saya duluan yang ngobatin kamu, gadis kecil!" gumam Steven yang saat itu tercatat sebagai mahasiswa kedokteran tersenyum lirih.
***
Steven langsung mengerjap bangun. Mimpi itu hadir kembali dalam tidurnya. Ia lalu menatap kesamping, disana ada istrinya yang juga sudah terlelap dalam tidurnya.
"Seandainya dia itu kamu Rim," gumam Steven lirih seraya mengusap kepala Rimba lembut. 'Eh apa ini?' Steven perlahan menguar rambut Rimba dengan jemarinya. Ternyata Rimba memiliki bekas luka dikepala yang tidak diketahui Steven sebelumnya. Luka bekas jahitan lama yang cukup panjang tapi masih meninggalkan bekas.
.
.
.
Denganmu, hatiku telah menemukan ritmenya.
__ADS_1