Pesona Dokter Steven

Pesona Dokter Steven
45 - Because of take a bath


__ADS_3

Hujan mengguyur lumayan deras saat keduanya tadi sampai di rumah. Rimba menyandarkan punggungnya di sofa empuk yang ada diruang tengah. Rasanya lelah sekali hari ini, ia pun terlihat bersin-bersin beberapa kali dan mulai merasakan pening dipelipis matanya. Capek luar biasa hari ini, ditambah masalah Ellena yang tadi sempat membebani pikirannya. Tapi setidaknya sekarang ia merasa tenang, karena Ellena sudah aman dirumah Bunda.


"Mau makan lagi?" tawar Steven.


"Enggak ah, masih kenyang," sahut Rimba seraya memejamkan kedua matanya dengan posisi punggung masih duduk bersandar di sofa.


"Ya udah, mending kamu mandi dulu trus ganti baju! itu baju yang kamu pake udah kemana-mana lho seharian penuh," kata Steven yang memang baru beberapa menit lalu selesai mandi dan sudah berganti pakaian.


"Males kalo mandi, dingin" sahut Rimba langsung melipat kedua tangannya didepan dada.


"Kok males sih? mau saya mandiin?" tawar Steven berniat menggodanya.


"Nggak gitu, tapi kok rasanya dingin aja," sahut Rimba semakin memeluk tubuhnya sendiri.


"Seenggaknya cuci muka, tangan, dan kaki. Abis itu pakaiannya diganti," saran Steven seperti mengajari anak kecil saja.


"Males juga Kak," sahut Rimba.


"Mau saya gantiin?" ujar Steven masih sabar menghadapi bocah satu ini.


Tak disangka Rimba malah menyodorkan dirinya dengan mengangkat kedua lengannya ke atas. "Nih!" ucapnya pasrah.


Steven terbelalak, "Beneran saya yang gantiin baju kamu? jangan salahin kalo agak lama ya Rim," gumamnya menyeringai, lalu segera mendekati Rimba. Dengan semangat ia langsung mendekat, tangannya sudah siap mempreteli kancing-kancing kemeja yang masih melekat ditubuh sang istri.


"Hah?" Rimba terpaksa membuka matanya mendengar kalimat Steven barusan. "Agak lama? emang kita mau ngapain?" tanya Rimba mengernyit, seraya mencekal tangan Steven yang hendak membuka kancing kemejanya.


"Gantiin baju kamu kan," jawab Steven. "Dipikiranmu emang ngapain?" ucapnya kali ini terdengar sengaja menggoda Rimba.


"Ya?" Rimba malah mengerjap beberapa kali. "Eng-- enggak! nggak apa-apa," sangkal Rimba gengsi.


"Dengan posisi kamu duduk bersandar gitu bikin lama ngeganti bajunya," tukas Steven meluruskan. "Jangan-jangan kamu pikir kita akan melakukannya disini?" terka Steven kemudian.

__ADS_1


"Ih, apaan? itu pikiran kamu aja Steve, bukannya kamu yang tadi pagi bilang mau?" sindir Rimba enggan mengakui kalau dirinya pun menginginkannya.


"Enggak tuh!" sangkal Steven sama-sama enggan mengakui. Keduanya memang terkadang sama-sama jaim dan gengsi meski aslinya mau.


"Bilang enggak, tapi hatinya nyangkal tuh pasti. Lagu lama," gumam Rimba, kembali melipat kedua tangan didepan dadanya, cemberut.


"Kamu bilang apa?" tanya Steven yang mendengar gumaman Rimba meski kurang jelas.


"Enggak!" kali ini Rimba memalingkan wajahnya ke samping.


Steven menghela napasnya. "Mending kamu mandi deh, biar nggak gampang bete dan wangi. Bau gini saya jadi males deketin kamunya," ucapnya tidak serius tapi berhasil memancing emosi Rimba.


"Seriously?" Rimba kembali menatap suaminya, kali ini tatapannya begitu tajam. "Beneran kamu nggak mau deket-deket kalo aku nggak mandi? okey, nggak masalah. Dari dulu kalo abis ujan gini aku emang suka males mandi, jadi kamu jauh-jauh ya!" ucap Rimba berlagak acuh. Perempuan itu pun lantas berdiri pergi menuju kamar meninggalkan Steven yang masih duduk di ruang tengah, memutuskan untuk menonton tv.


.


Setelah satu jam merasa bosan menonton, Steven memilih mematikan televisinya lalu menyusul Rimba ke kamar. Disana Rimba tengah berselonjor diatas ranjang dengan posisi duduk, dan punggungnya bersandar dileher ranjang, sambil memainkan ponselnya. Perempuan itu sudah terlihat segar serta berganti pakaiannya dengan gaun tidur warna maroon seksi dengan bagian atas bertali spaghetti, serta renda yang membentuk huruf v dibagian dadanya, memperlihatkan sebagian besar dada Rimba yang entah sejak kapan Steven merasa ukuran milik istrinya itu kini naik ke 36A bukan 34B lagi. Juga terlihat paha mulusnya yang terpampang nyata dihadapan lelaki normal seperti dirinya yang saat ini ternganga.


'Shit! Kenapa dia berpakaian seperti itu? sengaja mancing?' umpat Steven tak bisa menjaga matanya.


Sementara itu, dengan susah payah Steven menelan saliva, serta memperhatikan wajah Rimba lekat-lekat. Tak tahan, lelaki itu mulai mendekat, duduk disisi ranjang dengan tangannya terjulur mengelus lembut pipi halus selembut sutra milik Rimba. "Kamu marah? maaf, tadi aku nggak serius," gumamnya lirih.


"Aku nggak mandi lho," sahut Rimba mengabaikan ucapan maaf suaminya. Perempuan itu bermaksud mengerjai Steven, padahal nyatanya tadi dia mandi juga pakai air hangat, meski tak sampai mencuci rambutnya. "Masih mau deket-deket?" tanya Rimba seraya jemarinya naik meraba dada Steven. Kini perempuan itu sengaja menggigit bibir bawahnya agar memberi kesan sensual dan menggemaskan.


Entah dari mana Rimba belajar menggoda suaminya. Pasti gara-gara Ellena yang kapan hari mengajak Rimba nonton film Call me by your name demi melihat aksinya Timothee Chalamet yang beradegan panas difilm tersebut.


"Ya?" Steven mengerjap saat jemari Rimba bergerilya di dadanya. Lelaki itu mengumpat dalam hati, menyesali ucapannya tadi yang mungkin menyinggung perasaan Rimba. Tapi dia tahu caranya mengendalikan keadaan. "Katanya dingin, nggak mau mandi, tapi kok pake baju buka-bukaan gini?" ucapnya berusaha mengedarkan pandangan keseluruh ruangan, dia berusaha menghindari sosok tubuh sang istri dihadapan yang selalu membangunkan hasratnya. Tapi sia-sia, Steven tak mampu melawan godaan syaiton cantik dihadapannya ini.


Rimba mendengus. "Kamu nggak suka aku pake baju tidur ini?" tanyanya.


"Suka banget malah. Tapi kok bertolak belakang banget sama alasan kamu yang malas mandi karena dingin?" ucap Steven masih membahas masalah itu.

__ADS_1


Rimba memukul dada suaminya tiba-tiba, tapi tak membuat lelaki itu kesakitan. "Ya, aku mandi akhirnya. Demi kamu, Puas!" ujarnya mengakui.


Senyum Steven menyeringai, "I think you can't stay away from me, wife" sahutnya seraya memiringkan wajahnya hendak mencium bibir ranum Istrinya.


"Wait Steve! menurutmu bagus nggak gaun tidurnya? ini aku beli pas jalan ke mall bareng Ellena beberapa hari yang lalu. Iseng aja sih," ujar Rimba mencoba mengalihkan.


"Bagus. Itu artinya kamu udah mulai memikirkan cara untuk bahagiain aku," jawab Steven tak jadi menciumnya.


"Oya? jadi kamu seneng liat aku pake baju ini?" tanya Rimba dengan polosnya.


"Laki-laki mana yang nolak istrinya pake pakaian gini dikamarnya," sahut Steven seraya mengacak rambut istrinya, sayang. "tapi kamu nyaman kan pakenya?" tanyanya dan langsung mendapat anggukan kepala dari perempuan yang selalu membuatnya 'Gumush' itu. Steven tersenyum lagi, lantas ia mengangkat dagu lancip milik Rimba, beberapa saat mata mereka bertemu. Steven mencium lembut bibir istrinya. Mereka pun kini bersatu saling berpagutan.


Rimba sejenak menutup kedua matanya saat Steven mulai mencumbu lehernya. Bahkan tangan lelaki itu mulai menyelusup masuk ke dalam gaun tidur seksi yang Rimba kenakan. Meraba ke bagian punggung untuk melepaskan pengait bra yang sekarang sudah menjadi keahlian lain sang dokter selain beraksi dimeja operasi. Kini tangan Steven lebih leluasa, dengan lincah bermain-main didalam sana.


TING TONG! TING TONG!


Terdengar suara bell pintu rumah berbunyi dengan begitu tidak sabarannya. Membuat adegan panas mereka terhenti sejenak.


"Ada yang dateng," gumam Rimba.


"Siapa malam-malam gini bertamu?" Steven mengerang frustasi, menjambak rambutnya sendiri karena kesal. "Kamu tunggu disini ya," ujarnya mengecup kening Rimba, sebelum akhirnya segera turun dari ranjang. Tak lupa mengancingkan piyama tidurnya yang tadi sudah dilepas Rimba saat mereka saling merangkum bibir.


Kedua mata Steven membulat sempurna saat pintu rumahnya terbuka dengan lebar.


"Stip!"


.


.


.

__ADS_1


Bahkan jika aku marah padamu, aku akhirnya akan memaafkanmu. Aku akan selalu kembali kepadamu.



__ADS_2