
Sorot matahari pagi menyeruak ringan, menembus tirai tipis yang melindungi jendela kamar. Rimba beringsut kecil dari posisinya di atas ranjang yang sangat asing ditengah ruangan.
"Eheem", Rimba berdehem menjernihkan tenggorokannya yang kering seiring dengan matanya yang terbuka secara perlahan. Tangannya meraih wajah dan mengusapnya ringan, lalu ia mengucek matanya sepintas.
Gadis itu kini terduduk dengan pandangan menyapu setiap sudut diruangan tersebut. "Kok gue disini?" gumamnya berusaha menggali ingatan yang seolah samar. Ingatan akan peristiwa sakral kemarin membuat Rimba jadi sedikit panik. "Oh my God, gue beneran udah nikah sekarang?" ucapnya seolah masih tak percaya dengan status barunya.
Tak lama kemudian Rimba langsung beranjak turun dari tempat tidurnya, buru-buru ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Setelah itu ia bergegas keluar dari kamar menuju ke arah dapur. Gadis itu ingat pesan sang Bunda kalau tugas pertama seorang istri dipagi hari yaitu menyiapkan sarapan untuk suami. Rimba pun terpaksa menjalankan tugas itu karena karena kini memang sudah kewajibannya.
"Kamu udah bangun, Rim?" sapa Steven saat Rimba nongol begitu saja dihadapannya. Rimba merasa tidak enak ternyata malah Steven yang udah sibuk didapur membuatkan sarapan.
"Kak Steve masak apa?" Rimba malah balik bertanya seraya matanya melihat ke arah panci kecil diatas kompor yang menyala dengan api biru kecil.
Steven tidak buru-buru menjawab. Lelaki itu masih sibuk mengaduk-aduk isi dalam panci itu menggunakan sendok. Setelah dirasa sudah matang barulah ia mematikan kompor dan mengambil 2 mangkuk yang sudah disiapkan, lalu menuangkannya
"Sup krim ayam jamur. Ayo sarapan dulu!" ujar Steven sambil membawa dua mangkuk sup krim itu ke atas meja makan.
Tanpa sungkan Rimba langsung mencicipi masakan suaminya itu. "Lumayan, tapi--" ucapnya nggak sampai hati melanjutkan kalimatnya.
"Lumayan nggak enak ya?" terka Steven lantang melihat ekspresi Rimba.
"Lumayan keasinan," Rimba bergidik, "Tapi nggak apa-apa, kebetulan saya lagi laper. Jadi makanan dengan rasa apapun akan terasa enak", sahut Rimba kembali menyeruput sup krim buatan Steven yang nyatanya memang enak. Namun Rimba enggan mengakuinya.
"Masa sih? perasaan tadi udah saya coba pas kok rasanya," ujar Steven langsung mencobanya dari mangkuk miliknya sendiri. "Minum dulu deh! jangan sampai dehidrasi," pintanya seraya menyodorkan gelas yang baru saja isi isikan Air mineral.
"Saya baru bangun tidur Pak, bukan habis olahraga," protes Rimba tapi tetap meneguk gelas yang diberikan Suaminya.
"Lidah kamu terasa asin kan? Dehidrasi salah satu penyebabnya. Saat tubuh kekurangan cairan, kadar garam dan air dalam tubuh jadi nggak seimbang hingga menyebabkan liur terasa lebih asin, makanya makanan yang rasanya pas gini kamu bilang asin," jelas Steven sambil kembali menyeruput sup krim buatannya dari sendoknya.
"Tapi saya nggak dehidrasi kok,"
"Oh berarti kamu kurang gizi. Kurang gizi yang parah bisa mengakibatkan lidah asin secara tiba-tiba," Steven semakin gencar balas mengerjai istrinya itu. Salah sendiri Rimba yang lebih dulu cari masalah.
"Hish, sembarangan!" Rimba mendengus kesal.
__ADS_1
"Udah cepet makan! nanti agak siangan kita ke rumah bunda."
"Beneran? kita ke rumah bunda?" reflek Rimba langsung kegirangan setelah mendapat anggukan kepala dari Steven. Wajah Rimba yang imut-imut begitu sumringah, lantas untuk pertama kalinya menghadiahi senyuman manis kepada Steven yang duduk dihadapannya. Senyuman yang sama dan tak berubah sejak 15 tahun yang lalu.
"Sebelumnya kita mampir ke rumah adikku bentar ya! hari ini kakek mau pulang ke Pangandaran."
"Oh, aku kira kakek beberapa hari lagi pulangnya," sahut Rimba.
"Iya aku pikir juga gitu, tapi entahlah kakek emang suka dadakan gitu orangnya."
"Oh, ya udah nggak apa-apa, nanti abis sarapan kita siap-siap aja," sahut Rimba semangat. "By the way kita nginep kan ya dirumah bunda?" pintanya.
"Semalam tapi ya. Soalnya besok kita harus kembali ke rutinitas biasa. Kamu Senin mulai ujian kan?" kata Steven, dan mendapat anggukan mengiyakan dari Rimba. "Abisin dulu supnya!" perintah lelaki itu perhatian.
Mereka pun kembali melanjutkan sarapannya lagi. Rimba yang awalnya tadi bilang sup krimnya keasinan, tapi dia sendiri yang paling lahap, bahkan sampai nambah dua kali.
Steven yang melihatnya langsung mengerutkan dahi, "Bilangnya keasinan, tapi doyan" sindirnya.
Rimba tak langsung menyahutinya. Dia menghabiskan sisa supnya yang tinggal beberapa sendok itu. "Aku laper Pak, eh Kak" ralat Rimba setelah mangkuk supnya benar-benar habis.
***
Mereka tiba dirumah Vania sore harinya, karena sebelumnya Rimba dan Steven singgah dulu ke rumah Mitha.
"Jangan bilang Rimba yang maksa kemari," ujar Vania langsung curiga. Mengingat Rimba yang kemarin ngotot minta pulang kerumah usai acara pernikahannya.
"Enggak Bun, Tadi kebetulan habis ngantar kakek ke bandara," sahut Steven melindungi istrinya.
"lho, emang Kakek Hermawan mau kemana?" tanya Vania.
"Pulang ke Pangandaran," sahut Steven.
"Ada gitu pesawat dari Jakarta langsung ke Pangandaran?"
__ADS_1
"Ada lah Bun, buktinya kakek bisa pulang ke Pangandaran pake pesawat," sahut Rimba ikut menyahuti.
"Ooh," Vania mengangguk-angguk paham. Lalu meminta anak dan menantunya itu masuk saat adzan Maghrib berkumandang di mesjid Al hidayah dekat rumahnya.
.
"Jadi ini kamar kamu?" kata Steven sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar milik rimba yang ukurannya lebih kecil dari dari kamar dirumah Steven.
"Kenapa? jelek ya?"
"Bukan saya yang ngomong lho ya," sahut Steven lalu pandangannya teralihkan pada satu bingkai foto yang terpajang diatas meja belajar. "Ini kamu waktu kecil?" tanyanya sambil mengangkat bingkai foto ukuran 5R itu ke udara.
"Nggak mungkin dong saya pajang foto orang lain disini," sahut Rimba seperti biasanya ketus. "Itu foto saya saat masih SD," katanya.
"Nggak salah lagi, kamu gadis kecil itu," gumam Steven tersenyum samar.
"Kenapa?" tanya Rimba yang mendengar gumaman dari suaminya meski tidak jelas.
"Kamu dulu pernah tinggal di Tokyo kan?" tanya Steven lalu menyimpan kembali bingkai foto itu ke tempat semula.
"Hah?" Rimba malah terbahak. "pertanyaan anda itu sebuah penghinaan buat saya," ucapnya kemudian, merasa tersinggung. Rimba dari dulu memang benci dengan orang yang selalu membanding-bandingkan masalah finansial. Dan pertanyaan Steven barusan ia anggap sebagai sindiran halus kepadanya juga keluarganya.
Steven mengerutkan keningnya, tak paham maksud kalimat istrinya barusan. Sungguh, sumpah demi apapun Steven tidak ada maksud apa pun. Ia murni hanya ingin memastikan apa yang sudah ia yakini.
"Saya ini berasal dari keluarga pas-pasan, jangankan melancong ke Tokyo, ke luar pulau Jawa aja saya nggak pernah. Paling jauh ke Jatim Park di Malang, itupun saat study tour pas jaman SMA dulu" ujar Rimba jujur.
'Benarkah?' Steven tertegun. Dia tidak percaya dengan ucapan Rimba. Apa sependek itu ingatan masa kecil gadisnya ini? atau mungkin telah terjadi sesuatu dengannya yang membuat ia kehilangan sebagian memori masa kecil? Entahlah, mungkin ada baiknya Steven menanyakan langsung pada Vania untuk memastikan semuanya.
.
.
.
__ADS_1
Biarkan yang lalu menjadi kenangan dan pengalaman, karena masa depan masih menanti perjuangan dan kemantapan diri kita.