Pesona Dokter Steven

Pesona Dokter Steven
49 - At Jogyakarta part III (For you I give in)


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷


Di Bab sebelumnya ternyata banyak readers yang kebingungan ya 😁 maafkan 🙏


Tapi sebetulnya di bab-bab sebelumnya sudah dijelaskan. Hanya saja memang kurang detail. Seperti di bab 16-memori masa kecil dan di bab 38-samar, itu adalah orang yang berbeda. Pas kejadian dan pasca kejadian.


Steven juga sudah menyadari hal ini di bab 44-Ellena yang malang. Dia sudah curiga dan sadar kalau ternyata dia memang sudah bertemu dengan Rimba maupun Rimiko dimasa lalu.


Lebih jelasnya nanti akan dibongkar dibab selanjutnya ya. Semuanya akan dibongkar sama ibu kandung si kembar.


Terimakasih sudah mengikuti novel ini. Love you all 💙💙🤗


🌷🌷🌷🌷


 


Akhirnya Steven terbangun, matanya nampak lelah dan merah, tapi ia mulai mendapatkan kembali kesadarannya secara utuh.


Semalam Steven langsung terlelap setelah Pak Wiro membawanya kembali ke hotel. Ia pun sempat mewanti-wanti Pak Wiro untuk tidak mengatakan apa-apa kepada Rimba tentang sosok perempuan yang ditemuinya di bar.


Wajah pertama yang ditemui Steven saat membuka matanya, adalah raut sembab Rimba yang muram tengah duduk bersandar dileher ranjang. Perlahan Steven bangkit, dan istrinya itu malah memalingkan wajahnya, menyembunyikan luka.


"Wife, kamu sudah bangun apa emang belum tidur?" tanya Steven lembut. Ia lalu melihat jam diponselnya yang tergeletak diatas nakas. Masih jam 4 pagi.


Bibir Rimba bergetar, sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak menetes lagi. Ya, semalaman Rimba memang tidak bisa tidur. Pikirannya sedang kacau, ditambah Steven yang tiba-tiba pulang tengah malam dalam keadaan mabuk diantar Pak Wiro. Sefatal itukah kesalahannya? cuma gara-gara pil KB membuat seorang Steven bisa sampai mabuk-mabukan. Apalagi kalau Rimba sampai berselingkuh, bisa-bisa suaminya itu nekat bunuh diri. 'Tidak-tidak! amit-amit deh,' batin Rimba menepis pikiran negatifnya.


"Kamu jangan sedih lagi ya. Soal pil KB itu, aku sudah ijinkan kamu untuk mengkonsumsinya. Jika emang kamu belum siap hamil, aku mengerti dan paham," ucap Steven akhirnya mengalah. Setelah berpikir masak-masak, mungkin ia harus lebih bersabar dan menunggu beberapa tahun lagi sampai Rimba siap untuk hamil.

__ADS_1


"Aku sudah buang pil-pil itu ke kloset," gumam Rimba kini menatap suaminya.


"Hah? Kenapa?" Steven mengerutkan keningnya heran.


"Nggak apa-apa," sahut Rimba lalu beranjak turun dari ranjang. Ia berjalan menuju jendela kamar hotel, menyibak tirai tipis yang menghalangi pemandangan kota Jogya dipagi-pagi buta.


Steven yang kurang puas akan jawaban Rimba, akhirnya turut mengekor langkah sang istri yang kini tengah mengitarkan pandangannya sebentar dibalik kaca jendela yang cukup lebar. Lelaki itu ikut berdiri disampingnya, menatap keluar.


Malam sudah mulai menjelang pagi, kota Jogya mulai hidup lagi. Lalu-lalang orang bersepeda, ibu-ibu dengan kendaraan bermotor dengan barang bawaan yang berkarung-karung untuk dijual ke pasar. Tawa mereka renyah, seakan tiada beban yang mereka tanggung meski harus berjibaku dengan dingin yang menusuk tulang sepanjang mengais rejeki di jalanan.


"Kurasa punya anak di usia muda menyenangkan juga. Jadinya kalo udah gede nanti bisa kaya adek-kakak," kekeh Rimba memberi jawaban sebenarnya, kenapa pil-pil KB itu semalam ia hanyutkan di kloset.


"Maksudmu?" tanya Steven menatap istrinya, tak paham.


"Aku udah nggak mau minum pil KB lagi," ucap Rimba tersenyum samar. "Maaf, karena udah nggak jujur selama ini sama kamu," ucapnya lirih.


"Rim," Steven memegang kedua pundak istrinya seraya menatap manik matanya yang masih nampak sembab. Sepertinya Rimba semalaman menangis sendirian. "Aku juga minta maaf udah bentak kamu semalam. Tapi Jika kamu masih ingin menunda hamil dengan meminum pil KB juga tidak apa-apa, aku ijinkan," ujarnya.


"Mungkin kamu lupa kalau air hanya mengalir ke tempat yang rendah. Jadi menurutku jangan selalu memilih jalan yang mudah, seperti air yang selalu mengalir ke tempat rendah, tiba-tiba kita sudah berada ditempat paling dasar. Aku nggak mau hal itu terjadi," balas Steven.


Rimba mendongak, ditatapnya wajah suaminya intens. "Jadi kita harus gimana?" tanyanya.


"Mantapkan hati kamu dulu. Sudah siap hamil atau menundanya? karena menurutku kehamilan bukanlah suatu hal yang mudah untuk dijalani Rim, itu sebabnya merencanakan kehamilan penting untuk dilakukan," ujar Steven.


Rimba terdiam sejenak. Ia berusaha mencerna kata-kata suaminya barusan. Ternyata lelaki itu memiliki pola pikir yang berbeda dengan kebanyakan orang yang rata-rata berprinsip 'Ah, gimana nanti.'


"Ya, aku sudah siap," kata Rimba akhirnya memberi jawaban.

__ADS_1


"Secepat itu kamu ngasih jawaban?" tanya Steven.


Rimba mengangguk pasti. "Semalaman aku sudah berfikir. Mengingat usia kamu yang sudah lebih dari seperempat abad, kayanya emang udah seharusnya buru-buru punya anak," ujar Rimba terkekeh dan mendapat cubitan gemas dipipi kirinya.


Keputusan yang Rimba ambil itu tidak main-main. Tadi malam ia terus berfikir, melawan ego dan ambisinya sendiri hingga bernangis-nangis sedih tak karuan. Sampai akhirnya ia pun harus mengalah, dan kembali ke kodratnya sebagai istri yang seharusnya membahagiakan sang suami tercinta, salah satunya memberinya keturunan.


"Terima kasih, sayang" gumam Steven merasa lega, lalu mengecup puncak kepala istrinya penuh cinta.


Mereka kembali mengeratkan pelukan, saling menghangatkan.


"Aku nggak suka ya liat kamu mabuk-mabukan kaya tadi," gumam Rimba tiba-tiba mencubit dada Steven.


"Aww, sakit ini" Steven meringis kesakitan, pasalnya Rimba mencubit tepat diputing dada suaminya.


"Makanya jangan diulangi! awas kalo gitu lagi!" ancam Rimba mengurai pelukannya.


Steven nyengir, ia baru tahu kalau Rimba ternyata sangat tidak menyukai laki-laki pemabuk. "Iya aku janji nggak akan kaya gitu lagi. Tapi kamu juga harus janji, nggak ada yang disembunyikan lagi dariku," ujarnya timbal balik.


Rimba pun mengangguk tanda menyetujuinya. Ia menguap, rasa kantuk mulai menyerangnya. "Kita lari pagi yuk, enak nih udaranya masih seger," ajaknya.


Steven malah meringis, "Duuhh, ini masih gelap Rim, mending kamu tidur deh. Liat tuh mata panda kamu mulai keliatan gitu!" pintanya seraya menggiring tubuh sang istri dengan menggandeng pinggangnya menuju tempat tidur lagi.


Tanpa protes Rimba pun kali ini menurut. Terlebih kedua matanya sudah mulai terasa panas dan lelah. Ia butuh memejamkan matanya sejenak.


.


.

__ADS_1


.


Jika aku sudah membuatmu marah dan merasa tak dihargai - Maaf, aku hanya belajar bagaimana menjadi pasangan yang baik. Tetapi aku akan melakukan yang terbaik untuk menjadi layak untukmu.


__ADS_2