
Rimba hanya memejamkan matanya sebentar, ia terbangun lagi saat matahari pagi mulai muncul dari peraduannya. Terlihat pula suaminya yang sudah mandi tengah menonton televisi.
"Kok udah bangun? tidurmu baru sejam lho," kata Steven saat melihat Rimba yang beranjak turun dari tempat tidur.
"Aku laper," sahut Rimba mendekat, "Abis ini kita jalan aja keluar cari sarapan ya" ajaknya. Lantas perempuan itu masuk ke kamar mandi tanpa menunggu respon dari suaminya.
Tak perlu waktu berjam-jam bagi Rimba melakukan ritual mandi paginya. Dia tidak begitu menyukai acara berendam di bathtub dengan aroma-aroma bunga yang memang sudah disiapkan pihak hotel didalam kamar mandi mewah itu. Cukup mandi dibawah kucuran air shower, dan menggosok badannya dengan sabun 2x saja sudah bersih bagi seorang Rimba.
"Kenapa nggak sarapan direstoran hotel aja?" tanya Steven setelah Rimba selesai berganti pakaian, dan kini sedang menyisir rambutnya didepan cermin.
"Ke Jogya nggak nyempetin wisata kuliner? kayaknya bakalan rugi deh. Kemarin aku belum puas jalan-jalan disekitar Malioboro. Kita ke sana lagi yuk, sekalian beli oleh-oleh." ajak Rimba terlihat begitu semangat.
"Kesana lagi?" tanya Steven membelalakkan matanya.
"Iya, gudeg yang kemarin itu enak banget. Aku mau sarapan itu lagi," sahut Rimba manja, lalu mendekati Steven yang masih nyaman dengan posisi duduknya di sofa.
"Trus abis dari sana kita kemana?" tanya Steven.
"Ke candi Borobudur. Aku baru sekali kesana, itu pun dulu banget pas kenaikan kelas SMP kalo nggak salah," ucap Rimba seraya melingkarkan kedua lengannya dileher suaminya.
"Oke, hari ini kita puas-puasin jalan-jalannya. Besok kita harus balik ke Jakarta," ujar Steven lalu mengecup kening Rimba. "Aku telpon Pak Wiro dulu," katanya lalu beranjak mencari ponselnya. Steven lantas menghubungi Pak Wiro untuk segera menjemputnya dihotel.
Senyum Steven melebar. Sambil menunggu Pak Wiro datang menjemput, Rimba mengajak lelakinya itu menonton drama Korea diponselnya. Awalnya Steven berjenggit geli, tapi saat tahu bahwa genre dramanya adalah investasi, rasa penasarannya terpanggil, meski harus bersaing dengan wajah pemeran laki-lakinya yang sering Rimba puji karena ketampanannya.
"Tampan dari sudut mana coba?" gumam Steven mengomel.
"Tampan itu relatif. Buat aku, kamu jauh lebih tampan. Mereka mah cuma buat cemilan doang," ujar Rimba menanggapi gumaman suaminya.
Steven tertawa, "Kalo mereka cuma cemilan doang, berarti aku makanan beratnya?"
"Iya lah, kamu itu menu utamanya," sahut Rimba.
"Dikira kita ini makanan," Steven mendengus. "Begini nih kalo kadar gula darah ditubuh kamu mulai rendah alias lapar," tambahnya.
Rimba terkekeh.
Tak lama Pak Wiro pun menelepon Steven dan mengatakan kalau dirinya kini sudah menunggu di lobby hotel. Steven dan Rimba pun segera mengakhiri obrolannya dan segera turun.
__ADS_1
.
Jogya masih pagi. Suasana syahdu sudah menyambut Rimba dan Steven disepanjang jalan yang mulai ramai oleh anak sekolah, dan pekerja yang mengejar waktu untuk menjalankan aktivitasnya. Gedung-gedung tua yang masih dipertahankan nilai estetikanya menambah indah pemandangan mata. Di salah satu sudut kota, setelah mereka melewati tugu Jogya yang tersohor, seorang penjual gudeg nampak dikerumun pembeli. Rimba menunjuk ke arah penjual itu, meminta Pak Wiro menepikan mobilnya.
"Ayo Pak, kita sarapan dulu sebelum kita menjelajah," seru Rimba mengajak Pak Wiro untuk ikut turun dari mobil.
"Saya sudah sarapan Mbak. Saya tunggu dimobil saja," tolak Pak Wiro.
"Kalo gitu saya pesankan kopi?" tawar Rimba.
"Sampun Mbak, Ndak usah repot-repot," lagi-lagi Pak Wiro menolak.
Rimba hanya bisa menghela napasnya. Ia tak mau memaksanya lagi. Akhirnya Rimba dan Steven pun meninggalkan Pak Wiro yang memutuskan menunggunya di dalam mobil sambil mendengarkan musik Jawa diponselnya.
"Semoga nggak kehabisan ya," harap Rimba sambil ikut mengantri untuk memesan dua porsi gudeg special untuk sarapan.
"Makan malam gudeg, sarapan sekarang juga gudeg lagi" gumam Steven.
"Iya, karena aku belum bisa move dari gudeg yang semalem," sahut Rimba. Perempuan itu kini tengah fokus pada menu makanan yang disajikan di dalam baki-baku besar, semua bermerk Kedaung yang etnik. Ada telur bumbu semur, sambal goreng kentang, gudeg kering yang aromanya sudah menggoda, juga ayam kampung yang dimasak lama dengan kayu bakar, sehingga warnanya jadi kecoklatan yang menggoda dan empuk luar biasa.
"Yang ini istimewa banget," ujar Rimba nyengir setelah mendapat gilirannya dan tangannya ada seporsi nasi gudeg berlauk ayam kampung, lengkap dengan teh panas gula batunya. Begitu juga dengan Steven.
Rimba menggeleng. "Disana aja yok!" ajaknya sambil menunjuk satu tempat lesehan dimana pelanggan lain juga menikmati makanan mereka.
"Tempat ini rame sekali Rim, nggak kaya semalem yang pengunjungnya cuma beberapa," ujar Steven sempat ragu
"Nggak apa-apa, malah enak jadi banyak temannya," jawab Rimba sekenanya. Tak perlu menunggu persetujuan suaminya, Rimba pun memilih satu sudut beralas tikar, di mana view yang mereka dapat langsung mengarah ke lalu-lalang kendaraan di jalanan. Meski sempat canggung, Steven akhirnya menikmati juga makanannya. Tidak hanya dari suasana sudut kotanya, tapi juga makanan, serta ramah masyarakatnya yang mampu mendamaikan rasa.
"Ibukota Indonesia dulu pernah dipindah di sini," gumam Rimba menatap takjub pada istana gedung agung didepannya.
"Kok tau? emang kamu udah lahir?" tanya Steven asal.
"Belajar sejarah dong pas jaman SD SMP dulu," sahut Rimba. "Yang sekolah di Luar negeri sih mana tau ya," ledeknya menyindir.
Steven mendelik, tapi enggan memperpanjang. "Jadi Judulnya bulan madu edukatif ya, Rim," bisik Steven lalu menunjuk benteng megah yang mereka punggungku, benteng Vredeburg, berikut monumen serangan umum 1 Maret disebelahnya.
"Iya," balas Rimba bersyukur. Ia memeluk sebelah tangan suaminya bangga, senang bahwa bulan madu singkat mereka bisa menjadi istimewa, seperti status daerah yang dikunjungi mereka.
__ADS_1
"Kuharap rumah tangga kita bisa selalu istimewa ya, kayak Jogya," celetuk rimba mesra, mengembangkan senyum menawan diwajah lelakinya.
"Kayak cintaku ke kamu juga, mereka bilang Jogya itu terbuat dari rindu, pulang dan angkringan. Kalo cintaku ke kamu terbuat dari rindu, pulang, dan pelukan dari kamu," cengir Steven.
"Gombal!" seru Rimba berjenggit geli. "Dapet kata-kata dari mana tuh? nggak mungkin kamu buat sendiri," tanya Rimba.
"Dari Pak Wiro semalem," kekeh Steven.
Rimba tertawa, tapi tetap merasa bahagia bisa menerima rayuan langka dari suaminya.
Usai menyantap gudeg serta makanan pendamping lainnya, Rimba dan Steven lantas iseng mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Jakarta.
Pak Wiro menyarankan mereka ke toko pernak-pernik khas Jogjakarta yang cukup terkenal di Malioboro. Akhirnya mereka mengikuti saran Pak Wiro dan pergi ke Miniso yang ada di lower ground floor Malioboro Mall.
Benar saja, dikedai souvernir itu banyak pernak-pernik yang bisa dijadikan oleh-oleh. Rimba pun membeli beberapa untuk dibawanya ke Jakarta.
Saat keduanya hendak keluar dari kedai itu tiba-tiba papan nama toko yang terbuat dari bahan acrylic itu jatuh tepat dihadapan Rimba. Sontak perempuan itu menjerit kaget karena hampir mengenai kepalanya.
"Mall-nya mau runtuh ini. Ayo kak kita harus cepet keluar! ayo!!" Rimba malah jadi panik sendiri seraya menarik-narik tangan Steven.
"Rim, ini cuma papan nama toko aja yang jatuh," kata Steven.
"Enggak! ini mau runtuh Steve, ayo cepat keluar! aku nggak mau kejebak lagi!" Rimba semakin panik.
"Oke, oke. Kita keluar," Steven pun cepat-cepat membawa istrinya keluar. Ketempat terbuka yang membuat Rimba mulai kembali tenang.
Rimba terlihat ngos-ngosan, keringat didahi dan pelipisnya bercucuran.
"Kamu kenapa? tadi itu yang jatuh papan nama toko," kata Steven kembali menjelaskan.
"Nggak, tadi aku liat pilar bangunan itu retak dan mulai menggeser. Mall itu mau runtuh," kata Rimba masih terlihat gemetaran.
"Masa?" Steven mengernyit bingung, tak yakin dengan apa yang diucapkan istrinya.
.
.
__ADS_1
.
Pasangan paling bahagia di dunia ini tidak pernah memiliki sifat yang sama. Mereka hanya saling memahami dengan baik tentang perbedaan yang mereka miliki.