
Setelah mengantar Ellena ke tempat kost-annya, Rimba dan Steven langsung pulang.
"Sean sudah terbang ke Paris tadi sore," sahut Steven saat Rimba menanyakan keberadaan Sean yang tidak terlihat batang hidung mancungnya dirumah itu lagi.
"Bentar amat," gumam Rimba tak ingin bertanya lebih jauh.
"Begitu lah dia. emang rada gila sih, jauh-jauh datang kemari hanya untuk menyampaikan informasi yang harusnya bisa via telepon. Tapi intinya bukan cuma itu. Rasa penasarannya yang sangat tinggi ingin melihat kamu," ucap Steven sambil menjatuhkan tubuhnya dikursi, setelah ia menarik salah satu buku yang berjejer rapi dilemari.
"Ya?" Rimba langsung menoleh kaget ke arah Steven. "Konyol, kamu kan bisa kirimin foto aku ke dia dari HP, Kak" ucapnya.
"Dia nggak percaya sama kamera ponsel jaman sekarang, banyak jahatnya" sahut Steven tanpa balas menatap Rimba. Ia fokus ke bacaan yang sedang dibacanya.
Rimba tertawa, "Kamera jahat emang bikin resah buat sebagian orang yang ingin melihat rupa aslinya," ucapnya masih terkekeh. "Kak Steve kenapa nggak nganter dia ke bandara? padahal aku nggak apa-apa lho tadi nggak dijemput," ujar Rimba.
"Setelah kamu telepon tadi dan bilang kita menjadi trending topik di forum online kampus, nggak mungkin saya tidak memprioritaskan kamu Rim," kali ini Steven mengangkat wajahnya menatap Rimba. Wajah gadis itu lagi-lagi langsung bersemu merah. Ucapan Steven sungguh telah mengobrak-abrik perasaannya.
"Lagi pula Sean sudah biasa datang tak diundang dan pulang tak diantar. So, don't worry be happy," ujar Steven santai sambil menyunggingkan senyuman mautnya.
"Ya kali dia jelangkung," sahut Rimba seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sadar, ia sudah terpesona akut dengan senyuman manis Steven yang menggoyahkan iman.
Steven tak menanggapi, ia berpindah posisi duduknya tak nyaman. Tak lama kemudian ia berdiri setelah menutup bukunya dan disimpan diatas meja. "Bisa tolong buatkan kopi!" pintanya pada Rimba yang tengah asik membuka media sosialnya diponsel.
Rimba mendongak, "Kopi? tumben, mau bergadang?" tanyanya kepo, yang ia tau Steven kurang menyukai kopi bahkan merokok pun Rimba belum pernah melihatnya.
"Lagi pengen aja," sahut Steven berjalan ke arah toilet. "Bisa membuatnya kan?" tanyanya kembali berbalik.
Rimba menggeleng, "Seduh kopi sachet-an mau?" tawarnya memberikan alternatif, mengingat Rimba yang belum paham cara menggunakan mesin kopi otomatis yang ada dirumah ini.
"Emang ada? kayanya saya nggak pernah nyetok kopi sachet-an"
"Ada, aku sengaja beli untuk jaga-jaga kalo pas lagi ngerjain tugas ampe malam," sahut Rimba segera menyimpan ponselnya disofa lantas beranjak berdiri. "Aku buatin ya," ujarnya lantas beranjak pergi.
Steven hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban. "Sekali-kali boleh lah," gumamnya lalu melanjutkan langkahnya menuju ke kamar mandi.
.
"Terima kasih," ucap Steven saat Rimba menyerahkan kopi buatannya. Lantas ia pun mengesapnya perlahan karena masih panas.
__ADS_1
"Gimana?" tanya Rimba yang masih berdiri dihadapan Suaminya.
"Apanya?"
"Rasanya lah," sahut Rimba.
"Ini kopi sachet-an kan?"
"Iya"
"Kopi saset itu mengandung satu sendok makan gula pasir," sahut Steven lantas kembali mengesap kopinya sekali lagi.
"So?" Rimba mengernyit tak paham.
"Sangat manis," sahut Steven memandang wajah istrinya intens. Rimba tersipu malu, merasa tersanjung. "kopinya yang sangat manis, bukan kamunya," ucapnya saat menyadari pipi Rimba merubah merah muda, begitu menggemaskan.
"Iya gue tau!" Rimba mencebik kesal. Terlihat konyol melihat sikap gadis itu saat ini.
"Kamu marah?" tanya Steven.
"Siapa yang marah?" Rimba malah balik bertanya. "Udah ah, aku mau tidur. Minggir!" ucapnya lantas naik ke atas ranjang.
"Ada yang salah kalo aku tidur jam 8? enggak kan?" jawab Rimba sambil membentangkan selimut, menutupi tubuhnya dari perut hingga ujung kaki.
"Kamu nggak mau nemenin saya dulu?"
"Nemenin apa? Jangan bilang pikiranmu lagi mesum ya kak”, tuduh Rimba.
Steven tak menjawab, ditatapnya wajah cantik Rimba yang juga balas menatapnya. Dorongan itu semakin kuat menderanya. Hasrat yang ia lawan sekuat tenaga seakan mencapai puncaknya. Bagaimana jika malam ini juga ia akhirnya meniduri istrinya ini?
“Kamu capek, apa perlu aku pijitin?” tanya Rimba iseng. Ia langsung merasa bersalah karena baru saja berbicara tidak sopan kepada suaminya. Tidak sepantasnya Rimba mengatakan hal itu pada Steven yang nyatanya memiliki hak penuh atas dirinya.
“Kamu sendiri yang udah maksa saya jadi berpikiran seperti itu ya Rim!” suara Steven terdengar parau, mati-matian bertahan agar tidak menyerang Rimba.
“Ah masa?” ujar Rimba seolah terkesan menantang, “Suami dokterku ini bisa ngapain sih?” tambahnya seraya menarik turunkan kedua alisnya berirama. Jadi sedikit menggodanya dengan mendekati telinga Steven nakal.
Steven memegang kedua pundak Rimba tiba-tiba, ditatapnya Rimba dengan sorot nakal. Sebagai seorang lelaki normal yang memiliki kecerdasan emosional yang diatas rata-rata, jiwa Steven yang katanya cool dan kalem itu tertantang juga. “Jangan nyesel kalo saya beneran jadi jahat malam ini,” gumam Steven seakan meminta persetujuan Rimba.
__ADS_1
“Serius Kak, kamu mau jahatin aku?” Rimba mengulum senyum, hatinya masih yakin kalau suami kulkasnya ini tak akan sampai hati melakukan itu padanya.
“Kamu yang nantang ya Rim! siap-siap aja,” geram Steven tak tahan dan siap menerkam Rimba saat itu juga. Lelaki itu tiba-tiba naik ke atas tubuh istrinya.
Rimba memekik kecil, dan malah dibiarkannya Steven membenamkan wajahnya diceruk lehernya.
“Steve!” desah Rimba sangat lirih, diremasnya rambut Steven agar lelakinya berhenti.
“Hem?” Steven mendongak tak sabar.
“Apa ini yang pertama kalinya juga buat kamu?” tanya Rimba konyol.
“Perlu dijawab sekarang? Nanggung lho ini,” gemas Steven geregetan.
“Perlu lah, biar aku tau siapa aja yang pernah kamu sentuh selain aku, istrimu” kata Rimba.
Steven meraup wajahnya, lalu menegakkan punggung. Ia berguling ke sisi Rimba, terlentang disamping istrinya. Tidak perlu buru-buru, lagipula ia tak ingin membuat Rimba merasa terpaksa melakukannya.
"Sebelumnya saya nggak sempet main perempuan Rim. Di kampus saya bahkan dikenal sebagai kulkas karena nggak ada satupun perempuan yang bisa deketin saya,” ujar Steven jujur.
“Kenapa gitu? Kamu cupu banget kayanya ya?” tebak Rimba sembarangan.
'Karena aku udah janji dengan seseorang, dan aku berusaha menepatinya, dan kuharap itu kamu,' batinnya berucap. "Mungkin iya, makanya nggak ada satu perempuan pun yang mau deketin," ucap Steven berbohong.
“Nggak mungkin, aku nggak percaya. Bukannya kalo kamu ganteng kaya gini bisa gampang dapetin cewe tipe apa pun?”
Steven terkejut dengan pengakuan Rimba barusan. "Jadi kamu ngakuin kalo saya ganteng?" urainya geli.
“Eh, nggak gitu, maksudku---"
Steven langsung mencium bibir Rimba tiba-tiba, membuat perempuan itu tak bisa melanjutkan kalimatnya.
.
.
.
__ADS_1
Ciuman adalah trik cinta yang dirancang oleh alam untuk menghentikan ucapan gombal.