
Setelah secara medis Vania sudah tidak bisa hamil lagi, disitulah ia merasa hidupnya begitu menyedihkan. Tak pelak prosedur ini memberikan dampak yang signifikan terhadap kondisi fisik dan emosi Vania yang telah menjalani histerektomi. Bagaimana tidak, Ia harus kehilangan kesempatan memiliki banyak anak di usianya yang kala itu baru menginjak 25 tahun.
Entah ini hanya mitos atau fakta, Vania merasakan efek sampingnya. Seperti ketimpangan hormonal yang mengakibatkan penurunan gairah seksualnya. Satu tahun, dua tahun, keharmonisan rumah tangganya masih terbilang baik-baik saja. Tapi setelah memasuki tiga tahun pasca operasi, kondisi hormon Vania semakin kacau dan sering membuat Fabian, suaminya merasa kecewa atas sikapnya.
Dari sanalah duri dalam rumahtangganya mulai muncul. Ada sosok Akiyo Farayaka, mahasiswi transfer asal Jepang yang tengah dekat dengan Fabian. Mereka tak sengaja bertemu disuatu tempat.
"Bun,"
Panggilan Galang membuyarkan lamunan Vania akan kenangan masa lalunya.
"Jika Rimba bukan anak kandung bunda, lantas siapa orangtuanya?" tanya Galang yang sedari tadi menunggu kejujuran dari sang bunda.
"Selain bunda, ayahmu punya istri lain yakni ibunya Rimba dan Rimiko," sahut Vania pelan, tapi masih terdengar jelas di kuping Galang maupun Steven yang sedari tadi hanya diam menyimak.
"Hah? jadi ayah berpoligami?" gumam Galang menggelengkan kepalanya, kecewa.
"Iya tapi nggak lama. Setahun setelah bayi kembar itu lahir, mereka bercerai."
"Tapi kenapa Rimba bisa sama kita Bun? kan ada ibunya," tanya Galang yang begitu respect.
"Bunda juga nggak tau alasannya. Intinya saat mereka sepakat cerai, ayahmu membawa Rimba, dan Akiyo membawa Rimiko," sahut Vania begitu tenang saat menyebut nama perempuan itu. Sepertinya Vania memang tidak pernah menaruh kebencian apapun terhadap Akiyo yang jelas-jelas sudah menjadi duri dalam rumah tangganya bersama Fabian.
__ADS_1
"Gimana perasaan bunda waktu itu? saat ayah membawa anak dari perempuan lain ke hadapan bunda?" tanya Galang lirih. Tak terbayang dalam benaknya bagaimana kecewanya sang bunda saat itu.
"Jangan pernah tanya gimana perasaan bunda. Itu sudah lama, bunda sudah mengikhlaskan bahkan melupakannya. Ayahmu laki-laki yang baik, bertanggungjawab dan cukup adil menurut bunda," ucapnya seraya menyeka air mata yang mulai menetes di pipinya.
"Laki-laki yang baik kata bunda? aku saja yang laki-laki, anaknya dia, aku kecewa Bun. Aku pikir ayah tipikal laki-laki yang setia, mencintai 1 wanita dalam hidupnya, ternyata tidak."
"Jaga ucapanmu Galang! kamu nggak berhak menghakimi ayahmu seperti itu. Tidak baik menyimpan rasa kecewa kepada orang yang sudah tiada. Kamu harus ingat, adanya kamu di dunia ini karena siapa. Tolong maafkan semua kesalahannya," ujar Vania terisak kembali.
Galang langsung mendekap Vania, memeluknya dan meminta maaf. Ia sadar akan kesalahannya. Dalam hati Galang pun tak henti meminta maaf kepada mendiang sang ayah karena telah merasa kecewa dan menyalahkannya.
"Boleh saya tanya sesuatu Bun? mungkin ini berkaitan dengan masa laluku yang berhubungan dengan salah satu anak kembar itu. Jika Rimba yang disini, berarti anak yang pernah saya temui di Tokyo itu Rimiko?" tanya Steven setelah kondisi Vania dan Galang kembali tenang.
"Setelah mereka memutuskan bercerai, si kembar itu terpisah. Rimiko dibawa ibunya ke Jepang, sedangkan Rimba dibawa ayahnya. Rimba begitu menggemaskan, membuat bunda langsung jatuh cinta saat pertama kali dibawa ke rumah ini. Dia anak yang manis, penurut, dan ceria. Tak terasa waktu terus berjalan, sampai akhirnya kami mendapat kabar tak mengenakkan tentang Rimiko dari ibunya. Rimiko disana mengalami kecelakaan yang mengakibatkan cidera serius dikepala dan mengalami koma," kenang Vania, ia kembali menyeka air matanya sebelum melanjutkan ceritanya.
"Setelah 2 bulan koma, kami tak menyangka Rimiko bisa sadar kembali. Gadis 7 tahun itu terbangun lagi dengan memorinya yang kosong. Rimiko kehilangan semua ingatan masa kecilnya. Selama setahun ia terus menerus menjalani terapi motorik. Ibunya angkat tangan, ia lelah dengan biaya pengobatan yang mahal demi kesembuhan Rimiko. Akhirnya kami sepakat untuk menukar posisi si kembar. Rimba dibawa ibunya sebagai Rimiko, sedangkan Rimiko dibawa ke sini sebagai Rimba. Ingatan Rimiko yang kosong memudahkan kami untuk mengisinya dengan kenangan Rimba selama tinggal disini. Bagaimana kebiasaannya, siapa teman-temannya, semuanya kami input ke memorinya sebagai sosok Rimba. Begitu juga dengan Rimba yang asli, dirinya harus beradaptasi dengan identitas barunya sebagai Rimiko," jelas Vania panjang lebar, sukses membuat Galang juga Steven menganga tak percaya.
Steven meraup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sulit dipercaya, tapi begitulah kenyataannya. Ternyata apa yang diyakininya selama ini benar. Rimba yang sekarang ini menjadi istrinya itu adalah gadis penyelamatnya dulu. Gadis yang sudah lama dicarinya, gadis kecil yang ternyata mengorbankan dirinya sendiri demi menyelamatkan Steven agar keberadaannya ditemukan tim penyelamat.
"Jadi Rimba yang aku jagain, antar jemput sekolah sampe usia 7 tahun itu bukan Rimba yang ini? oh God," ujar Galang seraya memijat dahinya sendiri, terasa pusing. "Tapi kok aku sampai nggak tau dan nggak nyadar gitu ya Bun?" tanyanya.
"Rimiko dibawa ke sini saat kamu tengah liburan dirumah nenek. Kamu ingat saat Rimba pernah di opname di rumah sakit beberapa hari waktu itu? dia Rimiko, dan Rimba yang asli sudah di Tokyo."
__ADS_1
"Ya, tentu aku ingat bun. Saat ayah bilang Rimba jatuh saat bermain sama Gery, dan dari situ aku jadi kesal sama tuh anak," kenang Galang yang ternyata semua itu hanya omong kosong belaka.
.
.
.
Sungguh luar biasa mengetahui ada seseorang yang bisa menghancurkan hatimu, dan kau tetap mencintainya dengan serpihan-serpihan itu.
---------------------------------
**Sambil nunggu dokter Steven Up, bisa mampir ke karya novelku yang sudah tamat ya π€
- ALEEYA BERAWAL DARI TALAK 3
- IN A BROKEN HEART TO FIND YOU
- LOVELY ATREYA
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1