
Rimba jatuh pingsan. Steven segera membawa tubuh Rimba ke kamarnya. Lelaki itu dengan cekatan memeriksa kondisi istrinya. Mengukur tensi darah Rimba yang disinyalir menjadi memicunya.
"Rimba kenapa Steve?" tanya Vania khawatir. Ia menyusul ke kamar, sementara Akiyo dan Rimiko masih duduk ditempatnya tadi tanpa ekspresi. Keduanya saling diam, merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Rimba.
"Tidak apa-apa Bun, Rimba baik-baik saja. Mungkin dia syok," ujar Steven menyambut kedatangan ibu mertua didekat pintu kamar.
"Nggak apa-apa gimana? dia pingsan lho Steve, sebaiknya kita bawa ke rumah sakit!" kata Vania panik, lalu menatap tubuh Rimba yang tengah berbaring diatas tempat tidur.
"Bun, Rimba masih merespon panggilanku barusan. Dia hanya butuh waktu sebentar untuk menenangkan dirinya," jelas Steven.
"Beneran nggak apa-apa?" tanya Vania memastikannya lagi.
"Iya Bun. Rimba syok."
"Syok?" mata Vania membulat sempurna.
Steven mengangguk pelan. "Rimba belum siap menerima kenyataan hingga membuatnya syok. Kondisi seperti tadi dapat membuat tekanan darah pada tubuhnya menurun secara drastis, membuat suplai darah ke otaknya menjadi turun. Tapi ku pastikan Rimba baik-baik saja," jelasnya.
Vania menghela nafas, ledikit lega dengan penjelasan dari Steven tentang Rimba barusan. "Oke, bunda percaya kamu. Kalau gitu bunda akan buat buatkan teh hangat untuknya. Kamu jangan kemana-mana, temani Rimba disini!" kata Vania lantas bergegas pergi ke arah dapur.
.
Setelah membuatkan teh panas untuk Rimba, Vania pun kembali menemui tamunya didepan sana.
"Is she okay?" tanya Rimiko kepada Vania.
"Rimba butuh istirahat sebentar. Sepertinya dia syok," sahut Vania.
"Tapi tidak ada yang serius kan?" kali ini giliran Akiyo yang bertanya.
"Kamu tenang saja, ada Steven yang akan selalu menjaganya," kata Vania.
Mendengar nama Steven, tergorokkan Rimiko seakan tercekat. Sejak dari tadi ia berusaha menahan perasaannya. Ia sadar dan tahu diri, Cintanya tidak akan terbalas. Rimiko bisa menilai bagaimana Steven memperlakukan istrinya seperti tadi, begitu menyayanginya. Ditambah Rimiko ingat bagaimana sikap dingin Steven waktu di Jogya kemarin, mempertegas bahwa dirinya sudah menjadi milik seseorang, dan tidak ada celah untuk perempuan lain masuk ke dalam hatinya.
"Bun?"
Tak ada yang menyadari kedatangan Galang disana. Semua terkejut dengan suara itu.
__ADS_1
"Lang? sejak kapan kamu datang Nak?" tanya Vania lalu bergegas menghampiri Galang di depan pintu. "Gimana Ellena? bis-nya sudah berangkat kan?" tanyanya.
"Sudah Bun," sahut Galang. Lelaki itu baru saja mengantar Ellena ke terminal setelah Ellena mendapat kabar kalau adiknya di Bandung kecelakaan.
"Ah syukurlah," kata Vania menghela nafas lega. "Semoga adiknya baik-baik saja," gumamnya.
"Wehh, yang abis honeymoon udah balik nih, udah ada hasilnya belum?" kekeh Galang mendekati Rimiko yang ia kira Rimba.
Rimiko tampak mengernyit bingung, ia lalu menatap Vania seraya mengerjapkan matanya.
"Lang, dia bukan Rimba," kata Vania mendekat.
"Ya?" kali ini Galang yang mengerutkan keningnya bingung. "Maksud bunda?" tanyanya.
"Ini Rimiko, bukan Rimba," gumam Vania.
Galang tertawa, lalu menarik tubuh Rimiko dan merangkul bahunya. "Nggak mungkin lah, ini jelas-jelas anak bunda yang bar-bar itu," ujarnya seraya mengacak-acak rambut Rimiko seperti biasa yang ia lakukan pada Rimba jika gemas.
"Maaf," gumam Rimiko langsung menjauhkan tubuhnya menghindari Galang. Ia lalu merapihkan rambutnya yang nampak berantakan karena ulah tangan jahil Galang.
Kedua mata lelaki itu mengerjap kaget, syok juga melihat sikap Rimba yang tak biasanya. "Maaf?" gumam Galang mengulang ucapan Rimiko yang terdengar asing ditelinganya. Pasalnya Rimba tidak pernah mengucapkan kata maaf jika sedang bercanda dengannya. Yang ada Rimba malah balas menjitak kepala Galang jika dirinya merasa teraniaya olehnya.
Galang yang mulai kebingungan itu pun akhirnya menurut saja. Ditambah saat dirinya melihat Akiyo yang sedari tadi diam saja. Galang masih ingat dengan perempuan yang duduk tenang dihadapannya kini. 'Ini kan istrinya Tuan Hideyoshi, berarti dia mantan istrinya ayah, si pelakor itu?' batinnya sambil terus menatap Akiyo.
"Galang!" panggil Vania saat melihat tatapan tajam Galang ke arah Akiyo. Vania tahu apa yang kini tengah ada dibenak putranya itu.
"Ya?" Galang tersadar, segera ia mengalihkan pandangannya ke arah sang bunda.
Vania pun mulai memperkenalkan Akiyo dan Rimiko kepada Galang. Tak banyak yang Vania ceritakan kepadanya, karena Galang maupun Steven memang sudah mengetahui kebenaran ini sebelumnya.
"Kak Galang apa kabar? Maaf, saya tidak tau yang menabrak saya diacara waktu itu Kak Galang," kata Rimiko kemudian. Memang benar, Rimiko tidak tahu kalau dia adalah Galang, kakak yang selama ini selalu dirindukannya.
"Saya nabrak kamu? bukannya kebalik ya?" ucap Galang masih terdengar canggung.
Rimiko tersipu malu. "Ah, maaf kalau begitu" ucapnya seraya tersenyum begitu manis.
"Nggak apa-apa," gumam Galang.
__ADS_1
Hubungan mereka masih terlihat begitu canggung dan kaku. Galang merasa sangat asing dengan sosok Rimiko. Padahal waktu kecil dulu mereka sempat bersama. Sama halnya dengan Vania, jujur saja ia masih kurang nyaman dengan kedatangan Akiyo. Bukan kenapa-kenapa, tapi ada rasa takut Vania jika Rimba akan meninggalkannya jika sudah tahu bahwa dirinya bukan ibu kandung Rimba.
**
"Are you okay?" ucap Steven saat melihat Rimba mulai membuka kedua matanya.
Rimba hanya mengangguk kecil.
"Diminum dulu teh-nya mumpung masih hangat! tadi bunda yang bikinin buat kamu," kata Steven sambil meraih secangkir teh hangat diatas nakas
Sudah hampir satu jam Rimba tertidur setelah tadi sempat pingsan beberapa menit. Steven sengaja membiarkan istrinya itu beristirahat sejenak. Pikirannya terlalu lelah dan butuh pemulihan.
Rimba mengabaikan ucapan Steven yang memintanya meminum teh buatan Vania. Perempuan itu malah bangkit dari posisi tidurnya. "Mana bunda?" tanyanya panik. Perempuan itu lantas turun dari ranjang bergegas keluar kamar.
"Rim!" Steven segera mengikuti langkah istrinya keluar kamar.
Rimba mencari Vania disekitar rumah. Ternyata bundanya itu tengah berbincang diteras rumah bersama Galang.
"Mana mereka Bun?" tanya Rimba mengagetkan semuanya.
"Hey, kamu sudah bangun Rim?" Vania malah balik bertanya.
"Bun, apa mereka udah pergi? aku masih butuh penjelasan kalian," ujar Rimba.
"Mereka baru saja pulang. Kita bicara didalam saja ya!" ajak Vania merangkul bahu Rimba. Membawanya masuk kembali ke dalam rumah diikuti Galang juga Steven.
"Jadi benar kalau Rimiko itu saudara kembar ku? kami dipisahkan, dan kalian menukar kami saat kecil? trus wanita yang bersamanya tadi itu? apa dia ibu kandungku?" cecar Rimba memberondong banyak pertanyaan untuk Vania.
"Kamu tenang dulu Rim, biarkan bunda perlahan menjelaskannya padamu," ucap Steven yang setia mendampingi disisi Rimba.
Rimba menarik nafasnya dalam-dalam, ia berusaha untuk menenangkan dirinya terlebih dulu. Sebisa mungkin bersiap untuk berlapang dada.
.
.
.
__ADS_1
Bunda adalah yang terhebat di dunia sebab ia memberikan kehidupan yang sesungguhnya pada kata cinta untuk Rimba.