
"Kakek??"
Ternyata tamu yang malam-malam datang itu Kakek Hermawan.
"Stip, untung kakek teh inget alamat disini," kata si Kakek setelah masuk dan duduk dikursi.
"Kakek langsung dari Pangandaran? sendiri?" Steven masih sedikit syok dengan kedatangan sang kakek yang tiba-tiba. Masalahnya, kakeknya itu sudah sedikit pikun. Steven begitu mengkhawatirkannya.
"Kakek ikut rombongan pengantin ke Jakarta. Habis acara tadi selesai, kakek teh asa capek pisan, gak kuat kalau harus balik deui ka Parigi. Jadi tadi teh naik taksi ke rumah kamu," jelas si Kakek.
"Emang siapa yang nikah di Jakarta?" tanya Steven.
"Itu si Iwan," sahutnya.
"Iwan?" Steven mengernyit bingung.
"Tetangga sebelah rumah di Parigi. Kamu mah nggak kenal ya? adik kamu yang kenal mah," ujar Kakek Hermawan.
"Kenapa kakek nggak telpon dulu. Tau gitu bisa aku jemput. Untung aja nggak nyasar," ucap Steven hatinya masih was-was dan tidak tenang.
"Tadinya mau ke rumah Mitha, cuman daerahnya kakek lupa lagi. Kalau rumah kamu mah pan gampang dicari na. Tinggal cari weh rumah sakit San Medika, dari situ mah kakek apal jalan na," jelas si Kakek.
"Berapa tadi ongkos naik taksinya?" tanya Steven tiba-tiba penasaran.
"300 rebu."
"Hah? jauh emang Kek?"
"Jauh atuh. Biarin lah yang penting mah nyampe," kata Kakek Hermawan seraya mengedarkan pandangannya ke setiap ruangan. "Mana istri kamu? udah tidur?" tanyanya kemudian.
"Belum. Ada dikamar," sahut Steven.
"Kakek laper ini teh, dari siang belum makan lagi," gumam kakek Hermawan seraya memegangi perutnya.
"Oh, sebentar aku panggilkan Rimba ya Kek. Biar dia yang siapin makanannya," ujar Steven lantas segera kembali ke kamar untuk menemui istrinya.
.
"Kok lama? siapa yang datang?" tanya Rimba saat Steven baru saja masuk ke dalam kamar.
"Cepet ganti pakaiannya! pake yang lebih sopan," pinta Steven.
Rimba mengernyit, "Kenapa? emang yang datang satpol PP? kita nggak sedang di hotel melati kan?" tanyanya konyol.
"Bukan satpol PP lagi, tapi CIA," jawab Steven.
"Hah? serius? nggak sekalian FBI?" tanya Rimba yang tengah asik menonton film diponselnya itu jadi terpaksa berhenti.
__ADS_1
"Ayo buruan Rim!" titah Steven yang membuat sang istri akhirnya turun dari ranjangnya.
"Steve, jangan-jangan kamu mafia ya? ayo ngaku!" Rimba malah mendekati Steven yang masih berdiri didepan pintu kamar yang sudah terbuka. Menatap mata suaminya serius.
"Ngaco kamu," gumam Steven. "Kebanyakan nonton Vicenzo Cassano tuh makanya kaya gitu," ucapnya sinis.
"Eh kok tau sih? kamu diem-diem suka nonton juga?" terka Rimba malah tertawa.
"Nggak ya, aku tuh suka denger aja para perawat di rumah sakit bahas nama itu. Taunya drama Korea yang sering kamu tungguin juga per episodenya tiap malem Minggu," ujar Steven mendengus.
Rimba semakin tertawa ngakak, tidak tahan melihat mimik wajah suaminya yang terlihat begitu menggemaskan kala sedang cemburu. Bagaimana tidak, waktu malam mingguannya terpaksa selalu terbagi dengan jadwal Rimba menonton film favorit yang sedang digandrungi kaum hawa +62 saat ini.
"Stip!"
Tiba-tiba Kakek Hermawan sudah berdiri didepan kamarnya. Sang kakek terpaksa menyusul Steven karena kelamaan menunggu. Namun kemunculannya sukses membuat Steven maupun Rimba terperanjat kaget.
Begitu juga dengan kakek Hermawan yang langsung menunduk menjaga pandangannya seraya beristighfar, saat melihat cucu menantunya itu tengah berpakaian minim dan seksi dihadapannya.
"Kakek?" Rimba reflek menutup bagian dadanya terekspos.
Steven langsung pasang badan didepan Rimba, sengaja menutupi tubuh sang istri yang seharusnya hanya dia yang boleh menikmatinya.
"Kenapa nggak bilang kalo kakek yang datang?" bisik Rimba dibelakang punggung Steven.
"Udah sana ganti!" balas Steven.
"Ayo kek, kita ke depan lagi. Rimba ganti dulu pakaian, nanti nyusul" ucap Steven lalu mengajak kembali kakek Hermawan ke ruang tengah. Mereka akhirnya menunggu disana sambil mengobrol sambil menonton televisi.
Tak lama kemudian Rimba pun datang. Pakaiannya sudah diganti dengan yang lebih sopan. Ia menyapa sang kakek terlebih dulu sebelum akhirnya pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan. Tadi kakeknya itu minta dibuatkan roti bakar saja sebagai pengganjal perut mengingat hari sudah malam, jam makan malam pun sudah lama terlewati.
"Syukurlah, untung kakek nggak minta macem-macem. Kalo roti bakar sih masih aman, gue bisa bikin itu mah," gumam Rimba bermonolog sendiri didapur seraya memasukan dua lembar roti tawar ke dalam toaster.
Sementara itu Steven dan Kakek Hermawan tengah membicarakan sesuatu hal yang cukup serius.
"Jadi istri kamu teh belum hamil-hamil juga? masa kalah sama si Marco yang udah mau punya anak 3," ucap Hermawan yang malah membanding-bandingkan Steven dengan Marco, suami dari Mitha adiknya.
"Turunan Kakek Hermawan mah kudu tokcer atuh, maenya udah tiga bulan belum hamil-hamil Oge? si Neng Rimba teu di KB pan?"
Steven menggeleng, "Nggak kek, mungkin belum waktunya aja. Toh Rimba kan masih muda, jadi santai aja lah," ucapnya.
"Justru eta, Stip. Harusnya mumpung muda itu punya anak teh. Tujuan nikah kan buat apa lagi kalau untuk ibadah dan memperbanyak katurunan," ujar si Kakek yang udah tidak sabar ingin memiliki cicit dari anak Steven.
"Ajak atuh istri kamu bulan madu, biar ada waktu buat berdua dan euweuh nu ngeganggu," kata Hermawan lalu menyeruput teh hijau yang sebelumnya tadi dibuatkan Rimba sebelum membuat roti bakar.
"Dirumah aja udah cukup. Disini cuma ada aku sama dia, nggak bakalan ada yang ganggu," sahut Steven. 'Kecuali malam ini, misi gagal," batinnya hanya bisa mengelus dada.
"Ya beda atuh Stip. Tuh kaya si Iwan, hari ini nikah, sorenya udah terbang ke Jogya. Katanya mau bulan madu disana sama istrinya. Ikutin atuh kaya si Iwan, tong diem wae dirumah. Cari suasana baru buat kamu sama si Neng Rimba," ujar sang kakek.
__ADS_1
"Betul kata Kakek tuh, kamu nggak pernah ngajak aku jalan-jalan sih," tiba-tiba Rimba datang dari arah dapur sambil membawa sepiring roti bakar dan telur mata sapi pesenan sang kakek.
"Ih, bukannya kamunya yang nggak pernah mau diajakin dengan alasan kuliah? enak aja nyalahin orang," sangkal Steven mendengus.
Rimba lantas mencibir, tak menanggapi ucapan Steven. Ia sibuk melayani kakek Hermawan. "Ini Rotinya kek, maaf kalo udah nunggu lama. Mau nambah lagi teh-nya?"
"Nggak neng, udah cukup. Kakek udah ngerepotin kamu ya?"
"Nggak kok Kek. Justru aku seneng banget kakek datang. Waktu itu kita belum sempet ngobrol banyak kan, kakeknya keburu pulang ke Pangandaran," ucap Rimba.
Kakek Hermawan hanya mengangguk-angguk karena tengah menyantap makanannya.
"Denger Jogya tadi aku jadi pengen ke Jogyakarta deh, udah lama banget aku nggak pernah kesana lagi," gumam Rimba sambil melingkarkan tangannya dilengan Steven yang duduk saling berdampingan.
"Seriously?" Steven yang tadinya fokus ke acara televisi jadi mendadak mengalihkan pandangannya ke samping, menatap Rimba. "Kapan?" tanyanya.
"Besok?" tanya Rimba.
"Apa? jangan dadakan gitu dong!"
"Besok kan Minggu, hari Senin Selasanya kebetulan aku libur," ujar Rimba. "Ya, ya, mau ya?" perempuan itu mulai merajuk kepada suaminya.
"Jangan bohong kamu, libur apaan?" tanya Steven curiga.
"Nggak percaya? tanya aja Ellena," sahut Rimba pura-pura ngambek, lalu mengalihkan pandangannya ke arah kakek Hermawan yang masih menyantap makan malamnya.
"Udah kalian pergi aja, nanti kakek yang bilang ke Marco buat pinjem kapalnya biar hemat waktu dan nggak cape dijalan," ujar si Kakek yang ternyata menguping pembicaraan mereka.
"Bukan kapal kek, pesawat," sahut Steven meluruskan.
"Sarua wae Stip. ceuk kakek mah pesawat teh nyak kapal ngaran na," (Sama aja Stip, kata Kakek tuh pesawat itu namanya kapal)
"Iya bener tuh Kek, kapal terbang kan ya?" sahut Rimba membela sang kakek.
"Whatever," gumam Steven seraya mendelik ke arah istrinya. Rimba yang melihatnya hanya terkekeh. Senang banget rasanya bisa bikin suaminya kesal seperti itu.
"Yes! berarti fix besok kita ke Jogya ya," kata Rimba sumringah begitu antusias.
"Siap Nyonyah," sahut Steven akhirnya mewujudkan keinginan istri kesayangan.
.
.
.
Aku mencintaimu karena seluruh alam semesta bekerja sama untuk membantuku menemukanmu. Cinta menghidupkan semangat hidup untuk berjuang. Dan usahaku selama ini telah direstui alam semesta.
__ADS_1