
"APA?"
Kompak Mitha, Marco dan Rimba bersamaan.
Pada awalnya mereka tidak percaya, bahkan Mitha tidak terima. Tapi akhirnya mereka sadar, Realita tetap realita, tak peduli mereka terima atau tidak, semua itu tidak mengubah kenyataan yang ada.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan sama kakek?" tanya Marco kepada Steven.
"Awalnya seperti yang sudah ku katakan tadi, Kakek harus segera di operasi baypass. tapi setelah mengetahui hasil CT scan mengenai cancer itu kami perlu mengkaji ulang karena terlalu beresiko," jelas Steven.
"Lakukan yang terbaik untuk kakek, Kak" lirih Mitha.
Steven mengangguk seraya mengusap bahu adiknya itu. "Sebaiknya kamu pulang, biar aku yang jagain kakek disini," pintanya.
"Bagaimana aku bisa pulang dengan kondisi kakek seperti ini?" sanggah Mitha.
"Ada aku yang jagain kakek, Mit. lagipula kau sedang hamil, tidak baik terlalu lama disini," kata Steven.
"Iya kak, sebaiknya Kak Mitha pulang saja. biar aku dan Kak Steven yang jagain kakek disini," ucap Rimba.
"Tidak! kamu juga harus ikut pulang Rim. Besok harus ke kampus kan?" ujar Steven langsung melarangnya.
"Ya, kalian pulang saja. Aku dan Steve yang akan disini," Marco menambahkan.
"Tidak Marco, kamu juga sebaiknya pulang bersama mereka. Kakek aman disini, aku dan tim dokter lainnya akan selalu memantau kondisi kakek," cegah Steven.
"Tapi Steve---"
"Kalian perlu istirahat, pulanglah! disini ada aku yang jangan kakek. Kalian jangan khawatir," ujar Steve.
Setelah dipertimbangkan bersama akhirnya Rimba, Marco, dan Mitha pulang untuk beristirahat. Steven meyakinkan mereka untuk tetap tenang mengenai kondisi sang kakek.
***
Pagi itu Kakek Hermawan sudah dipindahkan ke ruang rawat inap karena kondisinya sudah mulai stabil.
Nampak Steven tengah tertidur di sofa tunggu dengan posisi duduk. Hermawan yang sudah membuka matanya dan melihat sang cucu yang tengah tertidur.
"S-Stip!" panggil sang kakek lirih.
__ADS_1
Steven terkejut dan langsung terbangun. "Oh, ada apa kek? apa yang kakek rasakan? katakan padaku!" cerca Steven dengan sigap menghampiri ranjang Kakek Hermawan.
Sang kakek malah menggeleng lantas meraih tangan dingin Steven. "Sebaiknya kamu pulang, Stip. Tidur dikursi kaya gitu teh nggak enak, bisa pegel badan kamu. Kakek mah nggak apa-apa disini sendiri, sana pulang! temenin si neng Rimba," pintanya.
Steven hanya balas tersenyum, "Apa yang kakek rasakan?" tanyanya mengalihkan pembicaraan tanpa mengiyakan lelaki tua itu.
Sang kakek hanya menarik napas dalam-dalam. Sadar, sarannya diacuhkan oleh sang cucu.
"Apa kakek bisa bernafas dengan baik?" tanya Steven seraya membenarkan posisi selang oksigen dihidung Hermawan.
"Ieu mah panyakit aki-aki," (Ini penyakit para lansia), kata si kakek sedikit terkekeh. "disini rada sakit sama sesak Stip," ucapnya seraya memegangi dada kirinya. "Sakit naon atuh Stip? jantung kakek teh kumat deui kitu? kenapa nyeri pisan sekarang mah? biasanya nggak pernah gini. Padahal udah lama kakek teh nggak ngerokok sama minum kopi hideung," lanjut sang kakek setelah kembali menarik nafasnya dalam-dalam.
Steven tersenyum, raut wajahnya ia paksakan untuk tetap terlihat tenang dimata sang Kakek. "Nanti aku obatin sakitnya kakek ya," ucapnya menghibur.
"kamu jujur aja Stip! perasaan kakek asa teu enak gini. Cepet atuh bilang!"
"Tidak ada apa-apa, Kek"
"Teu nananon kumaha? jangan dikira kakek nggak tau, kakek sengaja nggak bilang sama bibi kamu ataupun Mitha karena takut mereka teh khawatir," ujar Kakek Hermawan memaksa meski bicaranya terdengar ngos-ngosan seperti habis berolahraga.
"Tau tentang apa Kek? sudahlah, mending Kakek istirahat aja dulu ya, nanti agak siang dokter spesialisnya datang untuk memeriksa kondisi kakek lagi," ucap Steven mengalihkan perkataan Hermawan.
"Jangan ada yang ditutup-tutupi Stip! kakek punya masalah dengan jantung. Dulu pas di Pangandaran Kakek pernah diperiksa dokter. dia bilang kalau kakek teh punya masalah dijantung, dan ini pasti ada hubungan na kan? apa jantung kakek teh udah parah pisan? harus dioperasi?" ucap Hermawan yang sudah curiga.
"Nanti kita konsultasikan lagi dengan dokternya ya Kek," ucap Steven.
"Kamu juga dokter kan? untuk apa kakek harus nunggu dokter yang lain?"
"Kek, tidak semua profesi dokter itu sama. kami punya specialisnya masing-masing," jelas Steven.
"Sarua wae, sakola na Oge sama jurusan kedokteran. bedanya dimana?" sanggah si kakek.
Steven lagi-lagi tersenyum. "Ya enggak gitu kek, kami juga memiliki dokter spesialis yang memiliki spesialisasi terhadap suatu bidang atau bagian tubuh tertentu," ujarnya.
"Ya sudah atuh, kakek mah nurut weh," jawab Hermawan terdengar pasrah, rasanya untuk memahaminya saja sudah sulit. Lantas tubuh renta itu perlahan bangun dari posisi tidurnya hendak duduk.
"Kakek perlu sesuatu?" tanya Steven mencoba membantunya bangun.
"Kakek haus," ucapnya.
__ADS_1
Steven segera mengambil gelas air putih diatas nakas lalu diberikannya perlahan kepada sang kakek.
.
Dokter spesialis yang menangani Hermawan pun telah selesai memeriksa. lantas ia terlihat sedang berbincang dengan Steven didepan pintu ruangan rawat inap sang kakek.
Hermawan yang memperhatikan raut sendu Steven dari kejauhan pun mulai curiga. Ia yakin sesuatu yang serius tengah terjadi didalam tubuhnya.
Dengan langkah gontai terlihat Steven kembali menghampiri Hermawan setelah dokter yang menangani Hermawan itu pergi.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya sang kakek to the poin. "cukup kamu katakan yang sebenarnya Stip. kakek tidak suka kamu menyembunyikan apapun tentang penyakit kakek," ujarnya serius.
Steven terdiam beberapa saat seraya menunduk. lelaki itu serba salah, apakah ia sanggup mengatakan yang sebenarnya kepada sang kakek?
"Stip, kamu diem gitu kakek jadi yakin pasti Aya nu serius ini teh. Iya kan?" gumam Hermawan.
Akhirnya Steven mengangkat wajahnya kembali. Ia memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya tentang kondisi sang kakek. Ia tau kakeknya itu orang yang kuat dan hebat.
Hermawan hanya tersenyum setelah mengetahui tentang penyakitnya. tak disangka, lelaki tua itu terlihat sangat tenang. tidak nampak raut wajah sedih ataupun kecewa di muka keriputnya itu.
"Kakek ingin bernapas dengan tenang. Ini bukan permintaan yang terlalu sulit bukan?" tanya Hermawan. "Ini masalah hidup dan mati. kakek tau kakek ini udah tua dan hidup cukup lama. Tapi bukan berarti kakek teh tidak ingin tetap hidup. Sebaliknya hidup kakek ini tak lama lagi, jadi kakek ingin hidup lebih lama. Itu teu bener Stip. Haruskah kakek mu ini nunggu mati tanpa melakukan apa-apa? itu bukan kakek yang sebenarnya." ucap Hermawan kemudian.
"Tapi Kek, melihat kondisi penyakit kakek yang satunya ini membuat operasi menjadi tidak sederhana. Dikhawatirkan akan berdampak lebih buruk ke penyakit satunya," jelas Steven.
"Iya Kakek Oge nyaho Stip," jawab Hermawan. (Ya, kakek juga tahu)
"Lantas Kakek masih mau tetap melakukannya?" tanya Steven.
"Meskipun waktu kakek tersisa satu hari lagi, kakek ingin menjalani hidup yang layak. Kakek ingin mati seperti itu," jawab sang kakek begitu yakin. "Stip, kakek ingin kamu teh ngehargain pilihan kakek, ngerti kamu teh Stip?"
Mendengar hal itu Steven hanya mampu terdiam. Steven menghargai keputusan kakeknya, tapi meski begitu, keputusan Hermawan tetap harus sepengetahuan Mitha dan keluarganya yang lain.
.
.
.
Dunia tak lagi sama tak selamanya memihak kita, di saat kita mau berusaha di situlah kebahagiaan akan indah pada waktunya.
__ADS_1
**
Sehat selalu untuk kita semua ☺️