
Vania tengah duduk berdua diruang tamu bersama Steven saat Galang datang. Sementara Rimba masih tertidur pulas dikamar.
Sesekali Steven melirik jam tangannya. Ini sudah malam, tapi Rimba masih tidur dari tadi sore sebelum dirinya datang hendak menjemput. Steven tidak tega membangunkannya untuk pulan.
"Kalian menginap saja malam ini," saran Vania.
"Iya Bun, Rimba kayanya cape banget hari ini," sahut Steven setuju.
"Saranku ya, mending dirumahmu itu ada ART. jadi Rimba nggak akan kesepian kalo kamu belum pulang. Tau sendiri kan dia itu penakut. Kalo ada orang dirumah dia nggak akan tiap hari kemari dan nunggu kamu jemput. Kapan mandirinya kalo gitu," ujar Galang langsung nyamber saja, padahal lelaki itu baru saja pulang dari acaranya bersama Marco.
"Galang!" Vania langsung melotot, ia merasa perkataan Galang tadi kurang sopan. Steven memang adik iparnya, tapi dari sisi usia, Steven masih diatas Galang 4 tahun.
"Nanti saya pikir ulang, soalnya saya tidak terbiasa ada orang lain dirumah selain keluarga sendiri," jawab Steven.
"Jangan dipikirkan Steve! bunda malah suka-suka aja kok Rimba tiap hari kemari," ujar Vania pada menantunya itu. "Mandi dulu sana! kamu ini pulang-pulang langsung duduk di sofa, dibajunya banyak virus tuh, apalagi abis ketemu orang banyak kan? ganti!" ucapnya kini tertuju pada Galang.
"Bunda tau diacara tadi aku ketemu siapa?" ucap Galang tak menggubris perintah Vania, malah mengalihkan topik pembicaraan. "Seseorang yang mirip Rimba bernama Rimiko," ucapnya, dan sukses membuat Vania juga Steven terkejut bukan main.
"Siapa Lang? Rimiko?" tanya Vania memastikan kembali.
"Iya Bun, dia anaknya relasi Pak Marco dari perusahaan yang ada di Jepang. Wajahnya sangat mirip dengan Rimba. Sayang banget, tadi nggak sempat aku fotoin," tutur Galang sekali lagi.
Vania hanya terdiam, perempuan itu menunduk menyembunyikan kedua matanya yang mulai mengembun. 'Rimba, kamu ada di Indonesia Nak? bunda kangen' batinnya lirih.
Sementara Steven pun ikut terdiam. Dia sudah tahu dari Marco tentang Rimiko yang datang ke acara tersebut. Dalam benaknya ada sedikit rasa penasaran untuk melihatnya secara langsung, juga memastikan apakah gadis kecil waktu itu benar-benar Rimiko atau bukan. Tapi ia sudah berjanji dengan Rimba untuk berhenti mencarinya. Steven sedang dalam tahap melupakan masa lalu itu meski sulit, karena ia terikat janji dengan sang malaikat kecilnya dulu.
__ADS_1
"Rimiko dan Rimba itu seperti cermin. Aku sendiri awalnya mengira dia Rimba, Bun. Tapi saat melihat behavior, manner dan attitude yang ditunjukkannya barulah aku sadar, itu bukan Rimba yang bar-bar," tutur Galang yang sukses membuat pandangan Steven kembali teralihkan.
'Ehem!' Steven berdehem, menunjukan protesnya saat Galang membandingkan dan menjatuhkan istrinya dengan perempuan lain.
"Oops, sorry. Lupa kalo disini ada suaminya," kekeh Galang. "Tapi ini fakta lho, kamu bisa tanya Pak Marco kalo nggak percaya, Steve!" ujarnya lagi.
"Cukup!" kata Vania kembali mengangkat wajahnya. "Jelas mereka mirip, karena mereka kembar identik," gumam Vania lirih.
"Apa?"
"What?"
Galang dan Steven begitu terkesiap, mereka kaget bukan main.
"Tunggu Bun!" Galang menghela napasnya sejenak untuk menenangkan jiwanya dari keterkejutannya. "Apa maksud bunda mereka kembar identik? bunda nggak lagi bercanda kan?" tanyanya masih ingin memastikan omongan Vania barusan.
"Bun?" tegur Galang.
"Bunda nggak apa-apa kan?" tanya Steven yang malah mengkhawatirkan kondiri psikologis Vania. "Kalo bunda belum siap cerita tak apa, kami tidak akan memaksanya," ucapnya seraya mengusap bahu Vania yang kebetulan duduk bersebelahan.
Vania melirik ke arah Steven, lalu tersenyum samar. "Terima kasih Steve. Maafkan bunda," lirihnya sendu. Air matanya kembali menetes, dengan cepat Steven menarik kotak tisu yang ada diatas meja untuk diberikannya kepada Vania.
Sementara itu, Galang menepuk-nepuk pahanya sendiri. Tak sabar menunggu Vania mengungkapkan semua yang membuatnya curiga selama ini.
"Bunda ke kamar dulu," ucap Vania malah beranjak berdiri dan pergi.
__ADS_1
Galang sontak berdiri hendak menghentikannya, "Bun!"
Steven segera menghentikan niat Galang dengan mencekal lengannya, "Biarkan bunda istirahat dan menenangkan pikirannya dulu. Ini sudah malam, Lang. Bunda juga lelah," ucapnya.
"Tapi Steve, bunda udah berhasil bikin aku syok dan penasaran."
"Ya, saya tau itu. Saya bahkan sudah menduganya dari awal kalau Rimba punya saudara kembar," tutur Steven.
"Apa?" Galang membelalakkan kedua matanya. "Maksud mu?"
Steven akhirnya menceritakan semua tentang masa lalunya itu kepada Galang. Mulai dari kejadian runtuhnya sebuah mall di Tokyo 15 tahun yang lalu, sampai dirinya yang dari awal meyakini bahwa Rimba gadis penyelamatnya dulu dan akhirnya menikahinya.
"Kemungkinan anak kecil yang pernah nolong kamu itu Rimiko?" tanya Galang setelahnya.
Steven mengangguk pelan.
"Jadi kamu nyesel nikahin Rimba?" Galang menatap tajam kepada Steven. Sorot matanya seakan tak terima. Meski badung, Rimba tetap adiknya. Galang tak akan tinggal diam jika ada orang yang berani menyakiti adiknya itu.
"Nggak ada yang perlu disesali. Saya sudah mencintai Rimba dari hati. Saya udah nggak peduli tentang masa lalu saya dengannya. Sekarang Rimba masa depan saya. Jika memang Rimiko benar gadis kecil penyelamat saya dulu, saya bersyukur dia selamat dan tumbuh dengan baik, menjadi sosok yang diidolakan dan membanggakan seperti sekarang. Itu sudah membuat saya tenang," aku Steven jujur.
.
.
.
__ADS_1
Mau dibungkam dengan cara apa pun, mau disudutkan dengan isu apa pun, kebenaran tetaplah kebenaran. Ia akan hadir dengan caranya sendiri. Pada akhirnya kebenaran akan segera diungkap oleh sang pemilik hati, Vania.