
Rimba mengerjap saat merasakan lengan kekar melingkar diatas perutnya. Diliriknya Steven yang masih terlelap dengan nyaman sambil mendekap tubuhnya. Perlahan Rimba memindahkan lengan Steven dari perutnya, ia hendak bangun.
"Nanti dulu," gumam Steven terbangun. Mengeratkan kembali pelukan dengan matanya yang masih terpejam.
"Semalam kok nggak bangunin aku sih?" tanya Rimba.
Steven tak langsung menjawab. Lelaki itu malah mendekatkan wajahnya ke leher Rimba, lalu menciuminya. "Kamunya nyenyak gitu, mana tega bangunin," ucapnya kemudian.
Rimba menggeliat. "Steve, geli tau ih!"
"Bilang sekali lagi!" desis Steven malah semakin gencar menciumi leher istrinya.
"Apaan sih? geli tau, aahh..." desah Rimba berusaha menghindar.
"Aku paling suka denger kamu panggil aku Steve," gumamnya kali ini menggoda dengan menggigit pelan leher jenjang milik Rimba.
Rimba sontak kaget, ia terpaksa mendorong tubuh suaminya itu hingga terjungkal ke lantai.
Brukk!!
"Ah, sori-sori," Rimba langsung beringsut turun menolong kembali suaminya yang terjatuh. "Sakit?" tanyanya seraya menatap wajah Steven iba.
Steven kembali berdiri dibantu Rimba. "Tega banget ya kamu," katanya mendengus.
"Maafkan, aku nggak sengaja tadi. Tapi kamu nggak apa-apa kan?" tanya Rimba sambil meraba-raba lengan Steven, takutnya ada yang lecet.
"Dosa tau nolak suami," gumam Steven.
"Nolak apa?" Rimba tak paham.
"Itu tadi apa?" Steven malah balik bertanya.
"Apa?" Rimba malah mengernyit.
"For God sake, Rimba! ternyata kamu masih nggak paham maksudnya tadi?" ujar Steven menggeleng-gelengkan kepalanya.
Rimba malah nyengir seraya mengangkat bahunya tinggi-tinggi.
"Sudahlah," Steven kembali naik ke atas ranjang hendak tidur lagi.
"Eit! jangan tidur lagi dong, pagi ini aku ada praktikum nih. Anterin ya," pinta Rimba menggelayut manja.
"Giliran praktikum dikampus semangat," sindir Steven mendelik.
"Kamu mau nyuruh aku praktikum dirumah juga?" ujar Rimba melirik suaminya seraya mengedipkan sebelah matanya genit.
__ADS_1
"Hah?" Steven langsung melotot, tidak yakin dengan ucapan Rimba barusan. Giliran tadi dia seolah tidak paham dengan omongan Steven, tapi kali ini dia langsung paham dan respek.
"Entar malem aja ya suamiku," tepuk Rimba dilengan Steven. Lantas ia mengambil handuk yang menggantung dipaku dinding. "Aku mandi dulu ya, awas jangan tidur lagi!" ancamnya beranjak keluar kamar menuju ke kamar mandi bersama didekat dapur.
Steven tak menjawab, iya hanya mengangguk mengiyakan. Lantas ia pun keluar dari kamar, tidak enak juga sama ibu mertua kalau bangun siang. Steven lalu duduk di depan tv sambil menonton berita pagi terkini. Tak lama Galang datang dari arah dapur, ia membawa dua cangkir teh hangat untuk dirinya dan juga Steven.
"Nih, dari bunda" Galang memberikan salah satu cangkirnya kepada Steven.
"Nggak ke kantor?" tanya Steven iseng, sekedar basa basi.
"Enggak, badanku rasanya nggak enak, mungkin kecapean kali ya," sahut Galang sambil menyeruput tehnya.
"Kau sakit? perlu ku periksa?" Steven bergeser duduknya jadi lebih dekat.
"Nggak usah!" sahut Galang cepat. "Semalaman aku mikirin tentang pengakuan Bunda yang belum tuntas, makanya imun ku langsung drop gegara nggak bisa tidur," ucapnya jujur. Galang memang sedang banyak pikiran saat ini. Belum selesai masalah dengan Priyanka yang akhir-akhir ini sulit dihubungi, tambah lagi kini masalah tentang rahasia besar adiknya. Ah, semuanya membuat Galang stress.
"Bunda masih dikamar?" tanya Steven.
"Didapur, lagi masak sambil nyuci baju," sahut Galang.
"Ya? emang bisa ya masak sambil cuci baju?"
"Bisa lah, bunda itu kan multitasking. Ia sangat hebat, bisa mengerjakan banyak hal di waktu yang bersamaan dan dilakukan setiap hari pula," ujar Galang.
Steven mengangguk-angguk setuju. Meski dari kecil ia tidak mengenali sosok ibu kandung, tapi ia mengenal sosok Nonny, perempuan yang mengurus dan membesarkan Steven setulus hati karena sang ibu tiri tak pernah menganggapnya ada. Dari sana ada banyak hal yang bisa Steven teladani dari sosok Nonny sang pengasuh. Entah itu perjalanan hidupnya, cintanya yang tak terbatas seperti pada anaknya sendiri, atau juga kehebatannya dalam multitasking yang gak perlu diragukan lagi saat itu.
"Ya, katanya ada praktikum jam 9. Kenapa?" tanya Steven.
"Tadi bunda bilang mau bicara, tapi saat Rimba tidak ada," ucap Galang.
"Kenapa? ku rasa rimba juga perlu tau," kata Steven.
"Aku nggak tau, tapi bunda bilang Rimba jangan tau dulu," gumam Galang sedikit berbisik.
"Tau apa?" tiba-tiba Rimba datang dengan rambutnya yang basah tergerai. Wajahnya terlihat sangat segar dan mempesona bagi Steven.
"Ngagetin aja nih mbak Kunti," celetuk Galang.
"Eh, sialan gue dibilang kuntilanak," desis Rimba tak terima.
"Nah itu rambut Lo panjang gitu acak-acakan pula. Mirip kan?"
"Abis keramas ini," kata Rimba menjelaskan.
"Mandi junub?" ledek Galang spontan dan langsung mendapat lemparan handuk basah ke wajahnya.
__ADS_1
"Haish, punya kakak kok lemes banget mulutnya," dengus Rimba lalu melengos begitu saja ke kamarnya. Percuma ngomong sama Galang, pikirnya.
Steven yang menyaksikan polahan kakak beradik itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia pun lantas mengambil handuk yang tadi dilempar Rimba, lalu giliran dia beranjak ke kamar mandi.
"Mandi Steve?" tanya Galang terkekeh.
"Ikut?" ajak Steve melirik Galang seraya menaik turunkan alisnya.
"Hish, ogah!" tolaknya langsung.
**
Setelah mengantar Rimba ke kampus, Steven kembali ke rumah Vania.
Saat ini Steven, Galang dan juga Bunda tengah duduk diruang tengah. Sepertinya Vania sudah siap mengungkap sebuah rahasia yang selama ini disimpan sendirian setelah Fabian, sang suami meninggal dunia.
"Bunda minta maaf udah bikin kamu nggak bisa tidur semaleman gara-gara masalah ini," ucapnya pada Galang. "Bunda bingung harus mulai darimana," gumamnya setelah tidak ada respon dari kedua laki-laki yang duduk dihadapannya itu.
"Aku cuma pengen tau aja kenapa kemarin bunda bilang Rimba dan Rimiko itu saudara kembar. Asal usulnya dari mana coba?" ujar Galang yang dari semalam sudah penasaran.
Vania menaikkan kacamatanya yang sedikit melorot. Entah kenapa kali ini Vania memakai kacamata minusnya, padahal biasanya kalau dirumah ia jarang memakainya. Mungkin untuk menyamarkan matanya yang bengkak sisa semalam.
"Nak Steve, bunda minta maaf kalau selama ini bunda menutupi kebenarannya," ucap Vania.
"Nggak apa-apa Bun, saya bisa memahaminya," sahut Steven.
Vania pun tersenyum, "Sebenarnya Rimba bukan anak kandung bunda," gumamnya lirih.
"Apa?" respon Galang cepat.
"Rimba memang bukan anak kandung bunda, tapi dia tetap adik kamu Lang," kata Vania menatap Galang yang nyatanya masih tercengang.
"Ya?" Galang begitu terkesiap. "Maksudnya gimana Bun?"
Nampak Vania menghela napasnya sejenak sebelum ia menceritakan kisah dramatis yang ia hadapi, dalam menjalani kehidupan rumahtangganya yang boleh dibilang tahan banting meski menguras air mata.
Masih teringat dengan jelas saat dirinya baru satu tahun melahirkan Galang, dokter memvonis Vania menderita fibroid dan harus segera diambil tindakan histerektomi, yang adalah suatu prosedur medis untuk mengangkat rahim dan leher rahim.
.
.
.
Beberapa Rasa Memang Harus dibiarkan menjadi rahasia. Bukan untuk di utarakan, tetapi di syukuri keberadaanya.
__ADS_1
** Dokter ini kok narsis sekali ya 😀😍 demi apa coba?!