
Mata Steven terbuka spontan, ia mengerjap kemudian. Alam bawah sadarnya ia tinggalkan. Lagi-lagi ia bermimpi, mimpi yang sama setelah sekian lama tak menyambanginya lagi.
"Argh," Steven mengerang kecil. Tenggorokannya serasa kering, seakan ia baru saja berjalan kaki menempuh jarak ribuan kilo.
Hati-hati sekali, Steven menarik lengannya yang masih digunakan sebagai bantal oleh Rimba. Ia melangkah menuju nakas, meneguk segelas air yang selalu disediakan Rimba setiap malam.
"Ternyata sudah pagi," gumam Steven saat melihat pantulan sinar matahari yang menerobos masuk melalui kaca jendela. 'Terlalu kepikiran makanya kebawa mimpi itu lagi,' batin lelaki itu seraya meraup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Sosok gadis kecil yang kini dipercayai Steven adalah Rimiko tiba-tiba muncul lagi dalam mimpinya. Lantas kenapa selama ada Rimba yang ternyata bukan malaikat kecil yang dimaksud, tapi keberadaannya bisa menenangkan Steven? apakah itu sugesti semata?
"Gesture tubuh, cara ngomong, cerianya, humble-nya, cerewetnya, itu seperti Rimba," desah Steven lagi. Kini ia berdiri didepan jendela lebar kamarnya yang baru saja ia buka supaya udara segar bisa masuk. Serta menghirupnya dan menikmati ruangan yang mulai dihangatkan oleh sinar matahari di kejauhan.
"Kak,"
Steven tersentak. Tangan mungil Rimba meraba pundaknya. Wajah lucu istrinya itu muncul dari balik punggungnya, matanya masih setengah tertutup.
"Hei wife, sudah bangun?" sapa Steven lantas meraih lengan Rimba, memeluknya dari belakang.
Rimba menggeleng lemah, "Aku nyari suamiku, biasanya dia masih meluk aku jam segini, pas bangun nggak ada," gumam Rimba menyandarkan kepalanya dipundak Steven.
"Semalaman aku mimpi jelek, makanya kebangun dan ternyata udah pagi," ucapnya lalu menciumi puncak kepala Rimba, begitu sayang.
"Hem?" Rimba langsung memutar tubuhnya menghadap Steven. Dipaksanya matanya agar terbuka lebih lebar, "Are you okay?" tanyanya penuh perhatian.
"I'm fine," balas Steven lembut. "Selama ada kamu," tambahnya.
Rimba merasa tersanjung atas perlakuan suaminya yang selalu spontan. "Aku buatin teh mau?" tawar perempuan itu lantas mendongak.
"Enggak!" tolak Steven, "Di sini aja kamu, Enak banget begini, pagi-pagi peluk badan istri," ujar Steven sambil memejamkan mata.
Rimba mengangguk manja. Ia berjinjit, dikecupnya bibir Steven sekejap.
"Enak kan rasanya belum sikat gigi?" tanya Rimba jahil.
Steven mengerucutkan bibirnya bergaya, dibasahinya kemudian. Ia kemudian terkekeh.
"Sikat gigi dulu yok!" ajak Steven menyadari momen 'awkward' mereka karena napas naga di pagi hari.
Rimba balas tertawa. Ia menyadari Steven pasti sangat gelisah dihantui oleh mimpi jeleknya. Apalagi kini Rimba tahu bahwa Steven tengah didera kenyataan dan dilema yang sudah ditepisnya mengenai gadis bernama Rimiko itu. Dalam hati Rimba memendam harapan bahwa bisa saja Steven salah orang.
"Nggak sekalian mandi?" tawar Rimba iseng, alisnya naik turun sengaja menggoda Steven.
"Ehm, modus" balas Steven menyeringai.
"Ih, modus apaan?"
"Kamu mau kan? Ayo! kita masih punya waktu sejam sebelum ke kampus," Steven langsung menarik lengan istrinya, membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
.
__ADS_1
"Aku jadi penasaran gimana wajahnya Ri-- siapa? Rimiko?" ucap Rimba usai keduanya selesai mandi dan bersiap ke kampus.
Pasalnya hari ini Steven ada jadwal ngajar dikelas Rimba. Tinggal beberapa bulan lagi Rimba melihat wajah suaminya wara-wiri di kampusnya sebagai dosen pengampu, karena semester selanjutnya Steven memilih mundur. Lelaki itu akan fokus ke tugas utamanya sebagai dokter. Tujuannya sudah tercapai untuk mendapatkan perempuan yang membuatnya penasaran, sampai ia memerlukan bantuan Marco demi bisa mengajar di kampus itu sebagai dosen pengampu.
"Jangan mulai menanyakan sesuatu yang bikin suasana kita tegang lagi Rim," gumam Steven enggan menanggapi pertanyaan Rimba.
"Aku nggak akan bahas lagi tentang masa lalu kalian, aku hanya ingin memastikan apa kata Sean semalem," jawab Rimba mendekat, merangkul leher Steven dari belakang yang tengah duduk menikmati teh hijau buatannya.
"Memastikan apa lagi?"
"Kalo aku dan dia nggak ada hubungan apa-apa. Dan soal kembaran itu nggak bener," ucap Rimba menempelkan dagunya dibahu Steven.
"Oke, demi rasa penasaran kamu nanti aku tanya Sean sekali lagi. Dari mana dia mendapatkan informasi yang tidak akurat seperti itu," ujar Steven melirik ke wajah Rimba yang balas meliriknya.
"Thanks you husband," gumam Rimba mengecup bibir suaminya. "Berangkat yuk!" ajaknya kemudian.
Steven mengangguk mengiyakan, kini keduanya bersama menuju ke kampus. Tak ada yang mereka sembunyikan lagi. Sebagian orang-orang dikampusnya sudah mulai mengetahui tentang hubungan mereka.
**
Usai mengajar dikelasnya Rimba, buru-buru Steven bergegas hendak pergi. Rimba yang tengah mengobrol dengan teman-teman sekelasnya jadi teralihkan tatkala melihat suaminya yang bergegas keluar dari kelas.
"Langsung balik? bukannya hari ini off? katanya mau nunggu aku selesai 2 mata kuliah lagi," cerca Rimba yang kali ini entah kenapa begitu manja, minta ditungguin. "Ada urgent di rumah sakit?" tanyanya lagi.
Steven menggeleng, "Tadi Marco mengabari kalau anaknya sakit. Aku mau ke sana sebentar," sahutnya.
"Ih, bukannya masih ada kelas? nanti aku jemput lagi disini Rim."
"Tapi---"
"Rimba!!" teriak Ellena dari kejauhan. Membuat Rimba seketika menoleh dan tidak melanjutkan kalimatnya. "Ayok! profesor Lilik udah ada tuh, kena semprot lho ntar telat masuk kelas," ujarnya.
"Tuh, profesor Lilik udah ada. kamu masuk sekarang apa ngulang taun depan?" kata Steven. mengingat profesor ahli kardiovaskular itu lumayan killer dikelasnya.
Mendengar itu Rimba langsung mengerucutkan bibirnya, "Oke, gue masuk sekarang," sahutnya.
"Nah gitu dong nurut, biar cepet lulus kuliahnya," ujar Steven seraya mengusap-usap puncak kepala Rimba, setelah itu berpamit pergi kepada istri tercintanya tersebut.
"Bojone sing guanteng dewek iku arep ning ndi?" tanya Ellena dengan bahasa jawanya.
"Apaan sih kagak ngerti gue? bahasa ningrat Lo itu nggak usah dibawa-bawa kemari napa Elle," ujar Rimba jengah, menoyor kepala Ellena pelan.
Ellena memang gadis keturunan Sunda-Jawa, tak heran jika ia sedikitnya hapal dan paham dengan kedua bahasa daerah tersebut.
"Laki Lo mau kemana itu?" ulang Ellena nyengir.
"Oh, biasa panggilan profesi," sahut Rimba enteng sambil ngeloyor pergi mencari kelas selanjutnya.
"Profesi yang mana dulu nih?" Ellena mengejar langkah Rimba.
__ADS_1
"Profesi sebagai dewa penolong," sahut Rimba sekenanya.
Ellena tertawa.
*
Sementara itu, Steven langsung menuju ke rumah Mitha, adiknya.
"Siapa yang sakit? Neill apa Maxell?" tanya Steven setibanya dirumah sang adik.
"Alergi Neill kambuh lagi, semalaman dia nggak bisa tidur karena seluruh badannya gatal-gatal," sahut Marco.
"Kok bisa?" Steven mengernyit, "Apa dia diam-diam makan cokelat lagi?"
"Kemarin di sekolah katanya dia dipaksa makan cokelat oleh teman-temannya," kali ini giliran Mitha yang menyahuti.
Putra pertama Mitha dan Marco memang dari kecil alergi cokelat. Mau tidak mau mereka harus terus mengawasi asupan makanan sang anak. Tapi tetap saja, terkadang mereka kelolosan jika si anak sedang diluar rumah.
Steven lantas memeriksa bocah berusia 7 tahun itu didalam kamarnya. Lantas ia memberinya obat, serta menuliskan beberapa resep obat yang kurang untuk ditebusnya di apotik. "Ini resep obat lainnya," ucapnya sambil menyerahkannya kepada Mitha.
Tak lama Mitha langsung meminta tolong kepada salah satu ART dirumahnya untuk menebus obat tersebut di apotik terdekat. Sementara Steven dan Marco, mereka memilih keluar setelah keadaan Neill mulai membaik dan kini tertidur.
"Ada hal penting lainnya yang ingin aku bicarakan," ucap Marco setelah mengajak Steven duduk diruang tamu.
"Sepenting apa?" tanya Steven penasaran.
"Besok ada jamuan makan malam dengan para relasi di sebuah hotel, disana akan ada Tuan Hideyoshi. Mitha tidak bisa ikut, karena kehamilan yang sekarang ini dia sering mual muntah kalau liat makanan," jelas Marco.
"So?"
"Tuan Hideyoshi dan keluarganya akan tiba besok siang di Jakarta. Kau mau ikut?" ajak Marco.
Steven menggeleng-gelengkan kepala cepat.
"Bukannya kau penasaran dengan anaknya? denger-denger anaknya yang tinggal di Paris itu juga akan datang," kata Marco.
"Nope! aku sudah nggak mau tau tentang gadis kecil itu. Aku udah janji sama Rimba untuk tidak mencarinya lagi," sahut Steven yakin.
"Seriously? Finally, Rimba berhasil menaklukkan mu," sahut Marco lega, akhirnya kakak iparnya itu sudah lepas dari bayang-bayang masa lalunya. "Kalo gitu besok aku ajak Galang saja, dia pasti mau," gumamnya.
Mengajak Galang??
.
.
.
Kebenaran itu menyakitkan jika diungkapkan dan akhirnya diketahui. Hanya sedikit orang yang dapat menerima hal itu.
__ADS_1