Pesona Dokter Steven

Pesona Dokter Steven
28 - Terpaksa mengaku


__ADS_3

Tepat jam 3 sore, Steven menjemput Rimba dikampusnya. Lelaki itu cukup terkejut saat Rimba menghubunginya lagi, memberitahukan tentang foto yang diupload Angela dan tersebar ke forum online kampus. Steven segera mencari ketua forum di ruang perkumpulan mahasiswa jurusan. Dan Angela sebagai salah satu pengurus sudah menyalahgunakan aksesnya untuk kepuasan pribadi.


"Forum diskusi disalahgunakan buat posting hoax, kalian mau saya adukan ke dekan?” ujar Steven terlihat begitu dingin kepada Dion, mahasiswa kedokteran yang bertanggung jawab tentang forum online jurusan. "Mana disini mahasiswi yang bernama Angela?" tanyanya.


Steven tidak menyangka, sejak kemarin dia spot jantung dengan kejadian yang datang tiba-tiba. Mulai Sean yang datang dengan fakta soal masa lalunya, dan hari ini harga dirinya yang harus dipertaruhkan. Seakan segala masalah terus datang menyambangi lelaki itu sejak mengenal gadis bernama Rimba.


"Maaf Pak, Angela sudah pulang. kami sangat menyayangkan sikapnya dan akan kami tegur serta memberinya sanksi. Kami akan delete foto itu," ucap Dion menunjuk laptop miliknya dihadapan Steven.


Steven menghela napas, “Oke, delete sekarang juga!" perintahnya. "Dan perlu kalian tau semuanya, perempuan yang ada dimobil bersama saya itu adalah istri saya. Jadi menurut saya itu hal yang wajar, toh perbuatan kami tidak ada yang menyimpang kan?” ucapnya setengah hati.


'Hah? jadi Rimba istrinya?' bisik pengurus forum yang lain dibelakang.


'Bukannya Pak Steve waktu itu bilang masih single?' mereka mulai menggunjing.


'Whatever.'


“Sekali lagi kami mohon maaf Pak Steve. Tapi jika foto itu sudah tersebar ke luar, kami tidak bisa berbuat apa-apa, itu diluar kendali kami” ujar Dion. Ia merasa tanggung jawabnya disini hanya mengelola, bukan mengatur postingan yang muncul di kanal tidak resmi di kampus itu.


“It's oke, itu urusan saya”, balas Steven beranjak pergi.


Saat menuruni tangga, ternyata Rimba datang menyambut Steven dengan wajah sedikit panik. Jelas ada raut kesal khawatir yang tak bisa Rimba sembunyikan. Sebelumnya Steven mengirim pesan pada Rimba kalau dirinya sudah mengetahui gosip panas tentang dirinya dikampus. Dan akan segera membereskannya.


“Kenapa?” tanya Steven begitu lugunya.


“Gimana?” tanya Rimba tak sabar.


“Sudah beres, fotonya sudah dihapus. Dan saya sudah bilang kalo kamu istri saya."


"Apa?" Rimba melotot, "Jadi mereka udah pada tau?"


Steven mengangguk, "Nggak masalah kan? tidak ada mahasiswa yang di DO karena statusnya sudah menikah," ujarnya. Dan Rimba hanya bisa terdiam pasrah seraya menghela napasnya.


"Rim, lo u---" tiba-tiba Ellena datang. Dia cukup kaget dengan adanya Steven disana tengah berbincang dengan Rimba. Ia pun sampai tak melanjutkan kalimatnya dan hanya membungkukkan tubuhnya menunjukkan rasa hormat pada sang dosen. "Sore Pak," sapanya kikuk.


"Kenapa Elle?" tanya Rimba.


Ellena bimbang, "Emh, ini di grup," ucapnya ragu hendak menunjukan ponselnya tapi urung. Ellena merasa tidak tega memberitahu pada Rimba perihal kejadian yang menimpa sahabatnya ini. Melihat sikap Ellena, melihat gelagat sahabatnya itu Rimba berinisiatif membuka ponselnya sendiri. Tangan Rimba bergetar hebat, ia syok. Hampir saja ponsel ditangannya jatuh, tapi Steven sigap menangkapnya.

__ADS_1


Foto dirinya dan Steven dalam mobil yang di upload Angela yang dipublikasikan di forum online jurusan memang sudah dihapus oleh Dion. Namun, di daring media social fakultas, Rimba dihujat habis-habisan. Bukan tidak mungkin jajaran dosen dikampus ini mendengar juga berita nya.


"Kamu tenang saja, semua akan saya bereskan sekarang juga. Kamu tunggu didepan ya," pinta Steven pada Rimba. "Ini kunci mobilnya, kamu tunggu disana, ajak sekalian temanmu ini. Kita mampir makan dulu, oke" tambahnya lantas ia pamit sebentar untuk menemui seseorang.


"Ini maksudnya apa ya? bisa Lo jelasin?" tanya Ellena selepas kepergian Steven, sangat sinis.


"Ayok! Lo nggak denger barusan kalo dia mau neraktir kita berdua?" ucap Rimba lantas ngeloyor gitu aja meninggalkan Ellena yang masih bengong menunggu jawaban.


"Hey! beneran Lo nggak mau jawab gue Rim? Lo nggak bisa lari dari gue lagi!" Ellena geram, lantas ikut mengejar langkah Rimba menuju parkiran depan kampus dimana mobil Steven diparkir. Rimba tak menjawab kicauan Ellena, hingga mereka sampai juga didepan mobil merah milik Stevan.


Ternyata Steven perginya tidak lama, ia segera menghampiri Rimba yang sudah menunggu disamping mobilnya.


"Pak Steve," Ellena menyapa hormat pada Steven yang baru kembali dari ruang dosen.


Steven hanya mengangguk menanggapi sapaan dari Ellena. Ia lantas masuk kedalam mobil setelah Rimba memencet tombol pintu otomatis.


"Diajak makan sekalian sama Pak Steve, yuk!" kata Rimba kali ini terlihat santai.


Ellena menatap aneh. Ia tidak tahu bahwa sahabatnya sudah seakrab dan sedekat ini dengan sang dosen. Jangan-jangan foto yang diambil Angela itu benar adanya. Apalagi melihat Rimba dengan sebegitu luwesnya masuk dalam kursi penumpang di depan, menata beberapa buku dan tas laptop milik suaminya di kursi belakang dan menyuruh Ellena duduk disampingnya. Serasa Ellena tengah melihat Nyonya Steven yang terhormat.


Ellena tersadar. Tanpa berkata apa-apa, ia menuruti ajakan Rimba. Diliriknya buku-buku diktat milik Steven juga Rimba yang bercampur disampingnya.


"Kita makan di sana aja, nggak apa-apa?" tanya Steven menunjuk satu tempat makan dengan menu western didekat kampus.


"Iya nggak apa-apa," jawab Rimba.


Sampai mereka turun dari mobil, Ellena kali ini membisu, padahal tadi ia mencecar Rimba, dan sikap diam itu bukan sifatnya. Selain ia terpesona dengan Steven yang dingin tapi menawan itu, ia juga dipenuhi banyak tanya untuk Rimba tapi enggan mengutarakannya didepan Steven.


"Sejak kapan Lo deket sama Pak Steve?" bisik Ellena pada akhirnya. Sempat diliriknya Steven yang sibuk membolak-balik buku menu.


"Beberapa bulan lalu," sahut Rimba.


"What? jadi sebelum dia jadi dosen pengampu dikelas kita, Lo udah kenal Pak Steve duluan?" Ellena sangat terkejut dan tak lagi bisa memelankan suaranya. Steven pun langsung mengalihkan perhatiannya ke arah kedua gadis yang tengah berbincang serius itu.


"Pesen dulu," gumam Steven memberi saran.


"Ah iya. Lo pesen apa Elle?" tanya Rimba pada Ellena yang masih menatapnya serius menunggu jawaban.

__ADS_1


"Yang jelas gue nggak akan pesen kerak telor ditempat ini," ucap Ellena sekenanya. Gemes juga sama Rimba yang membuatnya penasaran setengah mati.


"Itu kearifan lokal, Elle! kalo perlu usulin aja sama restorannya buat bikin menu itu!" protes Rimba ngakak.


Steven yang melihat tingkah dua mahasiswi dihadapannya membuatnya merasa konyol. "kalian pesan dulu makanannya, saya permisi ke toilet dulu," ucapnya sambil beranjak pergi.


"Abis Lo bikin gue gemes tau nggak Rim?!" ujar Ellena menggertakkan giginya seraya melotot ke arah Rimba. "Sekarang Lo jujur ke gue! ada hubungan apa Lo sama dia?" tanya penuh paksaan.


"Fine, gue jujur sekarang," jawab Rimba pasrah. Percuma terus menerus di sembunyikan, toh Steven sudah mengaku pada pengurus forum online jurusan itu, dan kabar tersebut pasti akan cepat sampai ke telinga Ellena. "Hubungan gue sama Pak Steve itu suami istri. Kami udah nikah," ucapnya, dan sukses membuat Ellena membulatkan matanya sempurna.


"Lo serius Rim?"


"Ya, gue serius. gue nggak bohong. Lo jangan marah ya, please!" ucap Rimba sambil menunjukan jari telunjuk dan jari tengahnya kehadapan Ellena.


"Hey!" Ellena menjambak rambut Rimba pelan, "Lo main rahasia-rahasian ya sekarang. katanya nggak mau nikah muda nyatanya nonsent, Lo udah jadi nyonya Steven!" ucapnya mencebik.


"Gue dijodohin, Elle!" ucap Rimba menarik sengit rambutnya dari cengkeraman Ellena. "Awalnya gue nolak sampe kabur dari rumah, tapi usaha gue gagal total. percaya deh!" jelas Rimba.


"Oya? dan Lo kurang ajar banget bisa nikah sama dia padahal gue yang tergila-gila!" protes Ellena memanyunkan bibirnya.


Rimba tertawa. Benar kata Ellena, sejak awal Rimba pun tak pernah menyangka akan sejauh ini terlibat dengan Steven hingga ke depan penghulu. Ia yang awalnya bertekad melupakan kenangan tentang lelaki perhitungan yang membuat Rimba menjual motor kesayangannya itu, tapi justru ditarik masuk ke dalam dunianya.


"Trus gimana rasanya malam pertama bareng Pak Steve? kuat berapa ronde?" bisik Ellena sekarang malah menggodanya.


Rimba menelan salivanya kuat-kuat, wajahnya berubah bersemu merah. Bingung harus jawab apa. Untungnya terselamatkan Steven yang sudah kembali dari toilet. Ellena pun tak lagi menuntut jawaban dari Rimba. Gadis itu sudah membayangkan dan menduga-duga sendiri berapa ronde yang mereka habiskan dimalam pertama.


.


.


.


Salah satu kualitas paling indah dari persahabatan sejati adalah memahami dan dipahami.


-------------------------


***Mon maaf ya, authornya lagi kurang sehat beberapa hari ini jadi slow up 🙏🥰 terimakasih buat yang masih setia ngikutin kisah tentang Rimba dan Dr. Steven.

__ADS_1


__ADS_2