
"Bunda yakin mereka menginap di hotel ini?" tanya Rimba ragu, saat keduanya sudah berada didepan salah satu hotel bintang lima di bilangan Jakarta Selatan.
"Iya yakin," sahut Vania. "Kita masuk dan tanya resepsionisnya," ajaknya seraya menarik tangan Rimba.
Vania pun akhirnya bertanya kepada resepsionis. Benar saja, nama Akiyo Farayaka tercatat sebagai salah satu tamu di hotel tersebut. Si Mbak resepsionis itu pun memberitahukan nomer kamar Akiyo, setelah ia menghubunginya via interkom bahwa ada orang yang ingin bertemu dengannya.
"Kamar 1025 kan?" ucap Vania setelah berhenti tepat didepan pintu kamar hotel yang memiliki nomor tersebut.
Rimba hanya mengangguk memberi jawaban. Lantas tanpa ragu Vania langsung mengetuk pintunya. Tak lama pintu itu terbuka, nampak Akiyo menyambut keduanya dengan senyuman.
"Apa kedatangan kami mengganggu mu?" ucap Vania basa-basi. Padahal kemarin memang Akiyo memintanya untuk datang.
"Tentu saja tidak, silahkan masuk!" ucap perempuan yang masih terlihat cantik meski usianya tak muda lagi.
"Dimana Rimiko?" tanya Vania seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Ah, Rimiko ada dikamar yang lain. Kami tidak tinggal bersama," sahut Akiyo.
"Kau tidur sendiri dikamar sebesar ini?" tanya Vania iseng dan langsung mendapat kedipan mata dari Rimba, mengisyaratkan kalau bundanya itu terlalu kepo.
Akiyo tertawa lembut. "Tidak, saya bersama suami tentunya," ucapnya.
Vania langsung terkesiap, ia merasa begitu sungkan dan tidak enak hati. 'Bagaimana kalau suaminya itu ada didalam? atau sedang dikamar mandi mungkin?' batinnya menduga-duga.
"Tenang saja, suami saya sudah tidak ada. Dia sudah terbang ke Tokyo lebih dulu semalam," ujar Akiyo seolah bisa membaca pikiran Vania. Kedua matanya sedari tadi mengamati Rimba yang nampak begitu dingin. Apa dia tidak senang bertemu dengan ibu yang sudah melahirkannya ke dunia ini?
"Oh gitu ya," gumam Vania lega.
Sementara itu kedua mata Rimba menangkap dua koper baju dan tas tangan disudut ruangan. 'Apa ia sudah mau check out?' batinnya bertanya.
Raut wajah Rimba tiba-tiba menjadi muram. Ia tidak sadar, ada rasa sedih yang hinggap dilubuk hati terdalamnya. Sedih karena apa ia pun tidak paham.
__ADS_1
Akiyo mendekati Rimba, ia duduk disampingnya lalu memberikan Rimba sesuatu dari telapak tangannya.
"Apa ini?" tanya Rimba pelan, ia terpaksa melakukan kontak mata dengan Akiyo.
"Ambilah, ini untukmu."
Tanpa bicara apa-apa Rimba lalu mengambil benda kecil itu dari tangan Akiyo. Benda cantik berbentuk kupu-kupu berwarna putih itu terlihat sangat indah. "Jepit rambut?" gumam Rimba saat mengamati bagian belakangnya yang ternyata benda itu adalah jepit rambut.
"Hairpins ini yang sering kamu pakai waktu kecil dulu," ucap Akiyo.
"Really?" Rimba mulai merespon Akiyo dengan binar matanya yang awalnya dingin jadi hangat.
"Yes, I keep it for one day I can give to you," jawab Akiyo lirih, lalu mengambil kembali jepit rambut itu dari tangan Rimba dan memakainya dirambut putri yang telah lama dirindukannya. "Cantik," gumamnya lantas tersenyum.
Rimba terdiam, ia hanya mampu tersenyum tanpa bisa mengutarakan semua isi hati kepada sosok sang ibu kandung dihadapannya.
"Boleh ibu memelukmu?" ucap Akiyo yang sukses membuat Rimba mengerjap kaget dan bingung.
Rimba akhirnya memeluk Akiyo, begitu erat. Pelukan mereka bisa menjadi cara yang ampuh untuk mengkomunikasikan perasaan mereka satu sama lain. Tak ada kata-kata yang ingin Rimba ungkapkan lagi selain rasa syukur karena ia diberi kesempatan untuk dekat dan memeluk perempuan yang telah melahirkannya ke dunia. Rimba sudah mengikhlaskan semuanya, ia tak lagi merasa kecewa karena ketidak jujuran mereka padanya selama ini. Ia juga tak lagi merasa kecil hati karena merasa menganggap dirinya anak sial dan dibuang oleh ibu kandungnya.
"Ibu," lirih Rimba memanggil Akiyo. "Terimakasih," ucapnya lagi.
Akiyo mengusap lembut wajah Rimba, "Seharusnya ibu yang berterimakasih," ucapnya.
Mereka saling melepas rindu melalui pelukan. Rimba kali ini tak bisa menahan air matanya. Ia pun nangis dalam pelukan sang ibu kandung.
Vania yang menyaksikannya juga ikut terharu seraya menitikkan air mata. Ia merasa lega, beban dihatinya kini terlepas, pun dengan ketakutannya kehilangan Rimba akhirnya tidak terbukti. Rimba kini sudah menjelma menjadi sosok perempuan dewasa yang cukup bijak dalam menghadapi setiap tantangan hidup.
Tak lama seseorang mengetuk pintu, Akiyo segera membuka pintu ruangannya. Orang itu ternyata supir sewaannya yang akan mengantar Akiyo ke Bandara.
"Saya harus berangkat sekarang," ucap Akiyo.
__ADS_1
"Ibu mau kembali ke Tokyo?" tanya Rimba.
"Iya, ibu minta maaf Nak. Ada banyak pekerjaan yang sudah menunggu ibu disana," ujar Akiyo, sekali lagi ia memeluk Rimba sebagai pelukan perpisahan. Lalu bergantian memeluk Vania, ia pun tak lupa memberitahukan Vania kalau Rimiko ingin tinggal bersamanya untuk beberapa hari ini sebelum dia kembali ke Paris.
Vania pun terlihat begitu senang, ia selalu membuka pintu rumahnya untuk Rimiko kapan pun juga.
"Lalu dimana Rimiko sekarang? apa dia akan ikut mengantarmu ke bandara?" tanya Vania.
Akiyo malah tertawa. "Rimiko bukan tipe orang yang terlampau perhatian seperti itu," ucapnya.
Rimba dan Vania saling berpandangan untuk beberapa saat. Tidak mengerti apa maksudnya Akiyo barusan.
"Sebaiknya kalian pulang saja, tidak usah mengantar saya ke Bandara. Ini bukan perpisahan, kita pasti akan sering bertemu" ujar Akiyo.
"Tapi aku hanya ingin mengantar ibu ke bandara."
"Tidak perlu Rimba. Nanti saja, kalau liburan datanglah ke Tokyo. Ada banyak cerita yang ingin ibu bagikan padamu," pinta Akiyo.
Rimba akhirnya mengangguk dan tersenyum, "Oke, kapan-kapan aku dan Kak Steven akan berkunjung menemui ibu."
"Ibu tunggu ya," ucap Akiyo senang, lalu tatapannya beralih ke Vania. "Saya titip anak-anak padamu Vania."
Vania tersenyum. "Kamu jangan khawatir, mereka juga anak-anak saya," ucapnya tulus.
Tak lama kemudian Akiyo berpamit pergi. Begitu juga dengan Rimba dan Vania yang memutuskan untuk pulang setelah Akiyo bersikukuh agar mereka tidak mengantarnya ke Bandara.
.
.
.
__ADS_1
Saat kita memeluk seorang anak, selalu jadilah orang terakhir yang melepaskan. Kita tidak pernah tahu berapa lama mereka membutuhkannya.