Pesona Dokter Steven

Pesona Dokter Steven
08 - Hilang sudah


__ADS_3

Rimba nekat naik bus trans tanpa tujuan setelah sebelumnya ke tempat kost-kostannya Ellena, namun sahabatnya itu ternyata sedang pulang ke rumah orangtuanya di Tangerang.


Gadis itu duduk di kursi belakang, menghadapi tas ransel yang disimpan didepannya, menatap keluar jendela. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, ia sering merasakan hal seperti ini jika sedang ada masalah, bahkan saat tidak ada masalah pun terkadang seperti itu. Tiba-tiba ingin menangis, kadang merasa bahagia padahal tidak ada apa-apa yang membuatnya ingin menangis atau tertawa bahagia. Rimba merasa ada ikatan batin dengan seseorang diluar sana. Namun entahlah, mungkin itu hanya perasaannya saja.


Kembali pada kenyataan hidup yang sekarang ia hadapi. Apa pun yang terjadi, harus dihadapinya. Namun, harus pergi ke mana ia kini? penginapan murah? dimana? ia bahkan tak memiliki tujuan jelas.


"Mungkin di aplikasi perjalanan ada promo," desis Rimba seraya membuka ponsel lama milik Galang yang dipinjamkannya kemarin. "Kak Galang, 25 panggilan tak terjawab?" gumamnya saat menyadari ada panggilan dari sang kakak.


Baru Rimba ingin mengetik pesan padanya, Galang menelpon lagi. Rimba tak buru-buru mengangkatnya. Ditariknya napas dalam-dalam, menormalkan suaranya yang pasti bergetar menghadapi omelan Galang.


"Ya K---"


'Kamu dimana? cepat pulang!' serang Galang tanpa memberi kesempatan Rimba untuk bicara.


"Aku nggak mau, Kak!" tolak Rimba, bibirnya mulai bergetar seperti mau menangis. "Aku nggak mau nikah! kalo kalian tetep maksa lebih baik aku pergi!" ancamnya.


'Kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan?' suara Galang terdengar gemas bercampur kesal.


"Aku sadar, makanya aku milih pergi ketimbang harus nikah dengan orang itu," sahut Rimba.


'Sekarang dimana? biar kakak jemput,' tanya Galang.


"Aku nggak mau!"


'Bilang sama kakak, di mana? dikostan Ellena?' kali ini Galang terdengar menyentaknya.


"Nggak!"


'Di mana?'


"Di bus" kata Rimba jujur.


'Mau ke mana?'


"Nggak tau!"


'Kok nggak tau? Sekarang turun di halte terdekat, aku susul!' perintah Galang tak terbantahkan.


"Nanti aku hubungi kakak lagi kalo udah nyampe di tujuan,"

__ADS_1


'Tujuan ke mana? Rim! ayo bilang kakak!' desak Galang.


"Aku nggak mau kasih tau! kecuali kalian membatalkan rencana pernikahannya. Titik." ucap Rimba berusaha mengakhiri pembicaraan.


'I'll find you, Rim! turun di halte dan tunggu aku datang!' titah Galang sangat tegas.


"Tapi Kak, aku musti car---"


'Share location! I need to talk to you!' potong Steven merebut ponsel Galang diseberang sana.


Rimba terkejut mendengar suara Steven. Reflek ia mematikan sambungan teleponnya.


"Kok dia yang jawab sih? pake nyuruh-nyuruh shareloc pula?" desis Rimba mendengus.


Rimba mengurut kepalanya. Sejenak ia bimbang, ia tidak harus mendengarkan semua yang mereka perintahkan bukan?


Hujan pun turun, sangat sesuai dengan suasana hati Rimba yang berantakan. Di halte berikutnya, Rimba mengirim lokasinya ke ponsel sang kakak. Entah bagaimana bisa ia menurut saja waktu Steven memintanya untuk turun dan menunggu. Susah payah ia menggendong tas ranselnya yang berat itu. Berteduh sejenak di emper toko karena hujan semakin deras.


"Lho! Duit gue?!"


Rimba mengaduk-aduk isi tas kecilnya. Baru sadar ada yang hilang dari dalamnya saat memasukkan ponselnya tadi. Pasti sisa uang cash bulanan dari kakaknya itu terjatuh saat ia mengambil ponselnya di atas bus tadi. Tanpa pikir panjang, Rimba menyimpan tas ranselnya sembarangan lalu berlari mengejar bus yang baru saja meninggalkan halte, berharap ia bisa mendapatkan kembali uangnya.


Tak lama Rimba tergopoh, gadis itu kembali ke tempatnya turun dari bus tadi. Ke tempat ia tadi meninggalkan tas ranselnya di emper toko. Serasa Rimba ingin menabrakkan dirinya sendiri ke arah mobil yang lalu lalang saat menyadari bahwa di emper toko sana, tas ranselnya sudah lenyap. Semua sendi di kakinya bagai menghilang tiba-tiba, dan Rimba hanya bisa menangis tersedu, sejadinya didalam hujan.


"Apa gue mati aja? didalamnya ada laptop gue..." desis Rimba hampir kehilangan akalnya. seakan ingin meraung sejadinya, mengutuk semua yang ia alami belakangan ini. Siapa yang akan ia mintai tanggung jawab kali ini?


Hujan mengguyur makin deras, seakan tak perduli dengan kesulitan Rimba. Menurut orang-orang yang ada disekitar sana, tas rimba dibawa seseorang yang tadi ikut berteduh di emperan toko, namun mereka juga tidak yakin.


"Apes gue hari ini," Isak Rimba merasa benar-benar tak kuat lagi menghadapi masalahnya.


Rimba masih cukup beruntung. Tepat saat ia merasa sudah ingin menyerah, sebuah mobil merah yang sangat familiar berhenti di sisi trotoar jalan. Seorang lelaki tampan keluar dari dalamnya, membawa satu buah payung besar dan berjalan ke arah Rimba.


"Something wrong?" tanya Steven singkat, menghindari tatapan orang-orang dari halte yang penasaran, atau terkesima dengan ketampanannya.


Rimba tak menjawab. Ia justru menarik kedua kerah jas yang dipakai Steven, mencengkeramnya erat, sambil tetap tersedu, kadang melengking tinggi saking marahnya Rimba pada getir hidup yang harus ia alami apalagi sejak dirinya bertemu dan berhubungan dengan Steven. "Puas Lo?!" teriaknya. Sukses menjadi pusat perhatian orang-orang disekitar sana dan merasa iba karena mereka beranggapan Rimba telah ditelantarkan


"Kita jadi perhatian semua orang, cara menangis mu buruk sekali, dan ini," Steven melepas cengkeraman Rimba, "kamu selalu begini ke saya, kasar dan bar-bar" gumamnya sedingin air hujan.


Rimba tak membalas, kedua bahunya bergetar hebat, bukti bahwa sebenarnya ia pun sekuat tenaga menahan tangisnya, tapi gagal. Tubuhnya sudah basah kuyup dibasuh air hujan, matanya pun memerah karena menangis.

__ADS_1


"Ayo!" Steven menarik pergelangan tangan Rimba begitu saja, tapi Rimba masih saja tetap bertahan.


"Saya mau dibawa ke mana?" Isak Rimba menatap lekat pada lelaki didepannya.


"Kamu nggak malu diliatin banyak orang?" sentak Steven tak kuasa menahan kekesalannya.


Rimba mengibaskan tangannya, membuatnya terlepas dari genggaman Steven.


"Kita bisa bicara di mobil, jangan nangis dipinggir jalan gini!" bujuk Steven memelankan nada bicaranya, lalu kembali meraih tangan Rimba.


"Kenapa? Lo malu liat gue begini?" sentak Rimba sengak. Kini Rimba mulai berbicara informal pada sang dosen.


"Kamu yang sudah bikin malu diri sendiri!" balas lelaki itu masih terlihat dingin.


"Lo nggak lebih baik dari gue! berhenti sok menilai semua kesakitan gue dengan wajah innocent Lo itu!" pekik Rimba semakin membabi buta.


Orang-orang yang melihat adegan drama itu menatap Rimba yang masih menangis dengan tatapan iba. Tapi juga mengomelinya.


"Ih norak banget sih ribut ditempat umum. Ceweknya juga bodoh nolak cowok seganteng dia, udah gitu baik pula nyusulin pake payung."


"Bener, cowok sekeren dia jarang tuh yang bela-belain nyusulin ceweknya hujan-hujan begini."


"Udah Mas, tinggalin aja kalo dia nggak mau mah!"


Keadaan jadi berbalik menjadi berpihak pada Steven, Rimba malah jadi bahan pergunjingan.


"Kamu milih masuk ke mobil atau di sini dengan penghakiman orang-orang?" gumam Steven akhirnya melepas pergelangan tangan Rimba dengan sendirinya.


Rimba terdiam, baru kali ini ia melihat sorot mata marah yang begitu kuat dari mata Steven. Tak memiliki pilihan yang lebih menguntungkan, akhirnya Rimba berjalan gontai masuk ke dalam mobil Steven, tanpa perlawanan berarti.


Steven membanting pintu mobilnya cukup keras, tanpa bicara apapun. Jasnya juga sudah basah oleh air hujan, namun cukup hangat untuk dilepasnya dan diberikannya pada Rimba, sekali lagi dalam mode diam. Sampai mobil melaju cukup lama di jalanan, mereka tak saling menegur atau memulai pembicaraan.


.


.


.


Tak peduli apa yang telah hilang, selama kamu masih mampu bersyukur pada Tuhan, kamu tak kehilangan apapun.

__ADS_1


__ADS_2