
Dikampus, Rimba mencari-cari keberadaan Ellena yang tak ditemuinya dari kelas praktikum tadi pagi hingga kelas hari ini berakhir. 'Tuh anak kemana sih?' gumamnya kesal setelah ia mencoba menghubungi sahabatnya itu tapi tidak bisa tersambung.
Akhirnya Rimba memutuskan untuk menemui Ellena di tempat kost-kostannya yang tak jauh dari kampus.
"Elle, kenapa Lo nggak ngampus sih?" Rimba mendorong pintu kamar kost-an Ellena. Ia mendapati Ellena tengah mengemasi barang-barangnya, wajahnya muram. "Ya Tuhan Elle, ada apa? Lo mau pulang ke Bandung apa ke Jogya?" ucapnya lagi seraya memperhatikan pakaian Ellena yang sudah masuk ke dalam koper yang masih terbuka.
Bukannya menjawab, Ellena malah menangis. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Namun ia segera mengusapnya, takut Rimba ikut terbebani dengan masalahnya.
"Hey, are you okay?" Rimba langsung memeluk erat sahabatnya.
"Gue nggak apa-apa," ucap Ellena seraya melepas pelukan Rimba.
"Trus kenapa hari ini Lo nggak kuliah? sakit? kok nggak ngabarin sama sekali sih?" tanya Rimba.
"Gue diusir dari kostan Rim, sore ini gue udah harus cabut dari sini," sahut perempuan blesteran Sunda-Jawa itu lirih.
"Apa? kok bisa?" tanya Rimba kaget.
"Ini emang salah gue, gue yang salah gara-gara semalem. Harusnya gue nggak ngikutin apa kata Marvin," kata Ellena masih terisak, mengelap ingusnya dengan punggung tangannya sendiri.
Rimba yang melihat kelakuan sahabatnya itu langsung mengambil sekotak tissue kecil yang selalu dibawanya didalam tas. "Ih, jorok banget sih Lo, nih pake ini!" ucapnya menyodorkan kemasan tissue pada Ellena.
"Mentang-mentang punya suami dokter, sok steril Lo, biasanya juga Lo lebih jorok dari gue," gumam Ellena masih sempat-sempatnya menggerutu ditengah kesedihannya. Lantas ia menarik dua lembar tissue dari kemasannya dan segera mengelap pipinya yang basah.
Rimba hanya tersenyum samar, "Barusan Lo nyebut nama Marvin. Emang Lo ngapain sama dia?" tanyanya kemudian seraya memicingkan matanya penuh curiga.
"Jadi semalem tuh tiba-tiba si Marvin datang kemari sama temennya, me---"
"Apa? kemari? Ngapain coba?" potong Rimba langsung jengah saat mendengar lelaki itu kembali berulah.
"Tadinya udah gue usir, tapi mereka nerobos masuk gitu. Mana semua penghuni disini lagi pada ngumpul diruang tengah pula. Sial kan gue?"
"Ngapain katanya?" tanya Rimba lagi.
"Mereka katanya abis liat Lo keluar dari hotel Sunrise pake dress seksi."
"Hah? gila, nggak ada habisnya ya mereka ngangguin idup gue," Rimba terperanjat kaget. "Dan Lo percaya?" tanyanya pada Ellena.
__ADS_1
"Awalnya gue nggak percaya, tapi setelah Marvin menunjukan buktinya gue jadi ragu," ucap Ellena sambil menggigit kuku jari tengahnya.
"Bukti apa?"
"Temannya Marvin ngefoto Lo pas keluar dari hotel sampai masuk ke mobil mewah sama Om-om yang setau gue itu bukan suami Lo," ujar Ellena.
Rimba menggelengkan kepalanya. "Konyol!! mana mungkin itu gue. Pan Lo juga tau kalo gue kemarin pulang ke rumah bunda. Bahkan nyampe rumah gue malah ketiduran ampe pagi. Kak Steve dateng aja gue nggak nyadar. Sumpah!" aku Rimba jujur.
"Trus yang difoto siapa?" gumam Ellena.
"Ya mana gue tau, editan paling. Marvin kan dari dulu suka iseng gitu ngedit-ngedit foto orang," sahut Rimba tak mau ambil pusing. Memang si Marvin itu selalu saja cari masalah. Rimba yakin ini salah satu upaya Marvin juga untuk balas dendam kepada Rimba. Pasalnya sejak Steven melaporkan ulah Marvin dan kedua temannya waktu itu, mereka mendapat teguran keras dari pihak kampus dan terancam do jika ketahuan cari masalah lagi. Apalagi sampe mabuk-mabukan di area kampus.
"By the way, hubungan Marvin dengan Lo di usir dari kostan ini apa?" tanya Rimba kembali fokus ke persoalan semula.
"Mereka bikin ricuh disini. Mereka ngegangguin penghuni kamar lainnya. Sampai ada yang laporin ke ibu kost dan akhirnya dia ngusir gue gini. Katanya demi ketentraman penghuni kost yang lain," ungkap Ellena.
"Lha, sepele gitu doang?"
"Masalahnya temennya si Marvin ngaku-ngaku pacar gue. Makanya ibu kost geram,"
"Kan Lo bisa nyangkal, Elle"
Kini Rimba hanya bisa menghela napas panjang. Nasi sudah jadi bubur. Tidak ada gunanya juga diperdebatkan.
"Terus Lo mau ke mana Elle? kenapa ibu kostnya nggak ngasih waktu seenggaknya sampe Lo dapet kostan yang baru. Dia nggak mikir apa kalo Lo itu cewek!" ujar Rimba sedikit geram juga sama ibu kost yang sadis itu.
"Kalo gue nggak keluar sore ini juga, sisa uang administrasi kost yang udah gue bayar awal bulan kemarin nggak akan dikasih kan Rim. Lo tau kan kostan ini punya aturan sendiri. Lo inget kasusnya Angela dulu? Dia bawa Marvin sekali ke kamarnya aja langsung didepak. Dan sekarang gue? kayaknya sisa uang kostan dibalikin aja gue udah harus bersyukur," ucap Ellena mencoba memberi pengertian pada Rimba.
"Kasusnya kan beda Elle, mereka kan mesum di dalam kamar. Nak elo kan enggak."
"Udah nasib gue kali Rim," gumam Ellena mendesah pasrah.
"Trus Lo mau tidur dimana? dirumah gue aja gimana Elle, Lo mau ya!" tawar Rimba.
"Nope!" tolak Ellena cepat. Mana mau dia jadi obat nyamuk dirumah pasangan pengantin baru itu.
"Kenapa? Lo bisa pake kamar gue disana?"
__ADS_1
"What? kamar Lo?" bola mata Ellena terbelalak lebar. "Maksudnya kita tidur bertiga gitu sama kakang Stipen Lo itu?"
Rimba langsung meneloyor kepala Ellena. "Hish, sembarangan. Dipikir gue rela membagi pasangan hidup gue sama Lo?"
"Lha itu tadi?"
"Maksud gue Lo pake kamar gue yang dirumah bunda. Dasar Lo ya pikirannya udah mesum aja," ujar Rimba lantas membantu mengemasi barang-barang Ellena ke dalam koper.
Setelah beres semua, Rimba menghubungi Steven dan menceritakan semua yang Ellena hadapi saat ini, juga meminta suaminya itu untuk segera menjemputnya.
Beriringan, keduanya keluar dari dalam kamar kost-an tersebut. Beberapa penghuni kostan melihat mereka saling berbisik, mencibir, dan sebagainya.
"Nggak usah didenger Elle," bisik Rimba seraya mengusap punggung Ellena.
"Tenang aja, gue udah masang topeng kasatmata dan menebalkan kuping gue buat ngadepin kejamnya dunia," sahut Ellena.
Rimba malah cekikikan mendengar jawaban absurd dari Ellena.
Diluar sana nampak mobil Steven sudah nongkrong diluar pagar kost-kostan itu. Segera Elena mengangkat 2 koper barang-barangnya tersebut, untuk dimasukkan ke dalam bagasi dengan dibantu Steven karena lumayan berat.
"Kita anter Ellena ke rumah bunda dulu ya, abis itu pulang," kata Rimba yang sudah duduk disamping Steven. Sementara Ellena duduk di kursi penumpang belakang.
Steven mengangguk seraya memperhatikan wajah sang istri disamping. Ia masih tak menyangka bahwa Rimba yang ini lah gadis kecil penolongnya. Kalau bukan karena keberaniannya dulu untuk keluar dari puing-puing itu, belum tentu mereka akan ditemukan selamat.
'Tunggu! jika setelah kejadian itu Rimba mengalami trauma di kepala dan koma, berarti gadis kecil yang difoto itu? pantas saja dia jadi bisa berbahasa Indonesia'
"Ayo jalan Kak!" pinta Rimba membuyarkan lamunan suaminya sesaat.
"Ah, iya" jawab Steven, lantas mulai melajukan mobilnya.
.
.
.
Biarkan kenangan lamamu berlalu, jangan biarkan bertumpuk di pikiranmu, pikirkan masa depanmu dengan hal-hal yang baru.
__ADS_1