Pesona Dokter Steven

Pesona Dokter Steven
65 - God's secret


__ADS_3

Benar dugaan Rimba, ia terlambat masuk mata kuliah pilihan di jam pertamanya. Gadis itu pun terpaksa harus mengendap-endap masuk agar tidak terlihat sang dosen yang tengah menjelaskan sesuatu didepan sana.


'ternyata banyak juga yang ngambil mata kuliah ini,' batin Rimba saat mengedarkan pandangannya untuk mencari kursi yang kosong.


"Ssttt, sini!!" tiba-tiba Ellena langsung menarik tangan Rimba untuk duduk disampingnya.


"Elle?" Rimba pun cukup terkejut, tak menyangka Ellena menarik tangannya begitu saja, dan hampir saja membuat Rimba terjatuh. "Aaach!"


Beberapa pasang mata langsung menoleh ke arah Rimba, termasuk sang dosen yang seketika menghentikan teorinya didepan kelas.


"Kamu terlambat masuk jam saya?" tanya si dosen itu ketus, menatap Rimba seraya menaikkan kacamata bulatnya ke pangkal hidung.


"Emm, maaf pak" ucap Rimba sedikit membungkuk memberi penghormatan.


"Kali ini anda saya maafkan. Tapi saya harap pertemuan selanjutnya tidak ada yang terlambat. Saya tidak bisa mentolerir lagi," ucap sang dosen yang usianya sekitar 50 tahun keatas itu.


Rimba hanya membalas dengan anggukan. Sungguh dirinya benar-benar malu karena menjadi pusat perhatian satu ruangan itu.


"biasanya gak pernah telat, abis lembur semalem, heh!" ledek Ellena seraya menyunggingkan senyuman miring.


Rimba reflek menyikut lengan temannya itu. "Hish, sotoy Lo Elle! Kakek mertua gue msk RS semalem, makanya terlambat."


"Serius?" bola mata Ellena terbelalak. "kenapa?"


"heart attack, emang kak Galang nggak ngomong sama Lo?"


Ellena menggeleng. "gue udah dapet tempat kostan yang baru," ucapnya.


"Ya? jd Lo udah gak tinggal dirumah bunda lagi?" sontak Rimba kaget.


"Ssstt!!!"


"Ssttt!!"


beberapa mahasiswa yang duduk dekat bersama mereka pun langsung melirik dengan menegurnya.


"Oops! sorry," balas Rimba tersenyum samar merasa tidak enak kepada mahasiswa lainnya.


"Yeah, sodara kembar Lo sekarang tinggal dirumah bunda. Nggak mungkin kan gue masih ngejogrok disitu. Gue mau tidur dimana coba, berdua sama dia? impossible bgt karena dia bukan Lo," ucap Ellena memelankan suaranya.


"Ngejogrok apaan sih?" ledek Rimba terkekeh. "tapi Lo kan bisa dikamarnya kak Galang, Elle" katanya lagi.

__ADS_1


"What???!" Ellena refleks mengeraskan volume suaranya kembali seraya melotot.


Beberapa pasang mata disekitarnya langsung menatap tajam kearah mereka berdua.


'Oopps!!' ellena reflek menutup bibir merah jambu ya dengan salah satu telapak tangannya.


"Yang berdiskusi diluar konteks mata kuliah ini silahkan keluar!" tegur sang dosen di muka kelas. Ternyata suara gaduh Ellena dan Rimba terdengar sampai ke telinganya.


"Oh, iya Pak maaf" ucap Ellena menganggukkan kepalanya. Begitu juga Rimba.


*


Langit sudah mulai mencapai cakrawala. Rimba pun bergegas keluar dari kelas perkuliahan terakhirnya. Hari ini memang jadwal kuliahnya sangat padat dan hampir tidak ada jeda.


'Gue kudu buru-buru ke rumah sakit nih,' batinnya tergesa-gesa diikuti langkah kakinya yang melangkah lebar. Entah kenapa tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak enak.


Rimba segera memesan taksi online melalui aplikasi di ponselnya. Sambil menunggu taksi tersebut datang, Rimba berdiri disisi jalan tepat didepan pintu masuk kampusnya.


Tidd!!!


satu unit mobil besutan Eropa berwarna silver keluar dari area kampus dan membunyikan klakson ke arah Rimba. mobil itu lantas berhenti dan membuat istri dokter Steven itu mengernyit heran.


Tak lama kemudian orang didalam mobil itu menurunkan kaca pintunya sembari nyengir. "butuh tumpangan?" tawarnya kepada Rimba.


"Why??" tanya Marvin sedikit meninggikan suaranya dari dalam mobilnya.


Rimba lalu sedikit membungkukkan badannya dan menatap jelas ke arah Marvin yang berada dibalik kemudi. "Why?" katanya malah balik bertanya.


"Ya, kenapa?" kata Marvin menekan kalimatnya.


"because Lo punya Angela and I was married. Gue nggak mau nyari masalah baru sama Lo," balas Rimba.


"Ayolah Rimba, gue cuma nawarin Lo tumpangan doang kok, nggak lebih. lagian gua sama Angela udah lama putuss." kata Marvin lagi menekan kata terakhirnya.


"Oke thanks atas tawaran tumpangan Lo, tapi sorry gue nggak bisa," tolak rimba sekali lagi.


Untungnya taksi online yang dipesannya datang, rimba pun segera menghampiri mobil berwarna putih itu lalu masuk kedalamnya melalui pintu belakang penumpang.


Sementara Marvin hanya bisa membuang nafasnya kasar. Sadar bahwa dirinya tak mungkin kembali mendapatkan Rimba secara mudah.


*

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Rimba dikejutkan dengan beberapa orang yang tengah berdiri cemas didepan pintu ruang rawat kakek Hermawan. Disana ada Mitha, Marcho, Vania, Rimiko juga Galang. Tapi dimana Steven??


"Ini ada apa?" tanya Rimba mulai over thinking saat melihat Mitha yang menangis dipundak suaminya.


Mitha maupun Marcho tak menyahuti, mereka hanya memandang Rimba dengan tatapan nanar.


"Kakek collapse, ini sedang ditangani para dokter didalam," sahut Galang kemudian.


Bola mata Rimba terbelalak, ia terkejut bukan main. Bukannya Steven bilang tadi pagi kakek sudah mulai membaik?


"Kamu dari mana aja sih jam segini baru nongol?" bisik Vania segera menarik lengan Rimba kearah dirinya.


"aku baru beres kuliah Bun, lagian kenapa nggak ada yang ngabarin sih??" jawab Rimba sedikit protes.


"Ya tapi harusnya kamu pulang lebih awal dong, udah tau mertuamu sedang sakit," celetuk Rimiko ikutan nimbrung.


"Mana aku tau akan kaya gini, tau gitu aku nggak akan masuk matkul terakhir tadi," sahut Rimba menyesalkan dirinya sendiri. 'Steve juga nggak ngabarin, setidaknya kirim pesan kek,' batinnya terus merasa bersalah karena dikondisi sekarang dirinya terlihat seolah tidak perduli dengan kondisi kakek mertuanya itu.


Kondisi kembali hening, hanya terdengar isakan tangis Mitha yang terdengar samar. terlihat Vania pun berkomat-kamit melafalkan doa untuk kakek Hermawan.


Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruangan itu. Mitha dan suaminya dengan cepat menghampiri diikuti Rimba dan juga yang lainnya.


"Nggak apa-apa kan dok?" tanya Mitha cepat dengan mata sembabnya.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin," ucap sang dokter seraya membuka kacamata minusnya.


"Maksudnya?" tanya Marco seraya menyipitkan kedua matanya.


"Kami turut berduka, Kakek Hermawan telah meng-"


"Apa maksudmu dok?" belum selesai dokter itu bicara, Mitha langsung mendorong tubuhnya. Adik ipar dari Rimba itu malah menerobos masuk ke dalam ruangan untuk memastikan langsung kondisi sang kakek.


Didalam sana terlihat Steven tengah terisak seraya memeluk tubuh sang kakek yang telah terkujur kaku ditutupi kain berwarna hijau. Semua alat medis yang sebelumnya terpasang ditubuh Hermawan kini telah terlepas.


Rimba pun berdiri shok mendapati suaminya yang kini terlihat terpukul dengan kepergian orang yang selama ini dihormati dan teramat disayanginya.


.


.


.

__ADS_1


Kematian orang yang dicintai adalah pengingat bagi kita. Bagaimanapun, hidup adalah persiapan untuk harimu akan bertemu dengan Sang Pencipta.


__ADS_2