Pesona Dokter Steven

Pesona Dokter Steven
15 - Halal


__ADS_3

Hari itu pun tiba. Sesuai kesepakatan dari kedua belah pihak, Rimba ingin pernikahannya ini dihadiri hanya keluarga terdekat saja dan tidak ada pesta atau resepsi apa pun.


Steven pun menyetujuinya, baginya ada atau tidak diadakannya resepsi bukanlah salah satu syarat sah sebuah pernikahan. Meski tak jarang pula yang membuat resepsi pernikahan besar-besaran. Bahkan ada yang membuat pesta pernikahan hingga 7 hari 7 malam. Entah berapa banyak uang yang dihabiskan untuk menggelar acara tersebut. Padahal jika bertumpu pada nilai kesakralan, sebenarnya pernikahan adalah hanya tentang Ijab Qabul/Pemberkatan saja. Menikah tanpa resepsi bukan sesuatu yang wajib dalam agama. Undang-undang baik dari keagamaan ataupun negara juga sepertinya tidak mewajibkan hal tersebut. Tapi kebanyakan orang menganggap hal ini yang menjadi acuan atau nilai utama dalam sebuah proses pernikahan.


Mereka bukan tidak mampu mengadakan pesta besar-besaran, bahkan Marco sebagai adik iparnya Steven yang tajir itu pun sempat menawarkan pesta glamor padanya hanya dengan sekali petikan jari. Sayangnya, Rimba menolak dengan alasan tidak ingin diekspos.


Beriringan, Rimba dan Steven masuk ke mesjid At-Taqwa yang ada di perumahan elite kawasan pondok indah tempat tinggal Steven, beberapa orang dari KUA sudah hadir disana. Satu per satu syarat dan kelengkapan data diperiksa kembali, ditanyakan kebenarannya pada calon pengantin.


"Silahkan jabat tangan walinya, Mas Steven," kata Pak penghulu setelah menanyai Steven sudah hafal atau belum pengucapan akad nikahnya.


Kegugupan menyerang Steven. Menikah dan mengucap ikrar atas nama Tuhan ternyata sedemikian menegangkannya. Apalagi selama ini ia menyadari bahwa pengetahuan tentang agama yang baru dianutnya baru seumur jagung, dan baru sebatas identitas di KTP saja. Kini, jika ia berani menyakiti Rimba setelah mengucap akad, Tuhan yang akan langsung menegurnya.


Galang sang kakak sudah siap menjadi wali nikah untuk adik tercintanya Rimba.


"Saya terima nikah dan kawinnya Rimba Dylania Putri binti Fabian, dengan cincin emas seberat 200 gram dan uang sebesar 200 juta dibayar tunai," sebut Steven fasih karena sudah 2 Minggu ini mulai menghapalkannya.


Marco, Adik iparnya yang ditunjuk menjadi salah satu saksi nikah langsung mengucap kata 'SAHH!' begitu lantang. Dibarengi dengan semua orang yang hadir, mengucap kata yang sama termasuk Kakek Hermawan yang sedari tadi begitu antusias.


Doa-doa dilantunkan Pak Penghulu dan di amin-kan oleh semua yang hadir. Air mata Rimba untuk pertama kalinya mengalir tanpa bisa dibendung lagi. Seolah inilah puncak dari perjuangan hidup yang harus ia jalani. Mulai hari ini ia resmi memiliki sandaran hati yang diakui sah secara agama dan negara.


Steven lalu memakaikan cincin bertahtakan berlian di jari manis milik tangan kanan Rimba, lambang kepemilikannya yang sah.


"Foto dong, angkat dulu buku nikahnya!" kata Galang setelah keduanya menerima buku nikah mereka.


"Bentar dulu dong!" tahan Priyanka, kekasih Galang itu cepat-cepat menghapus air mata di pipi Rimba dengan tisu, "Penganten mana boleh nangis," katanya.


"Harusnya kalian yang lebih dulu kaya gini," Isak Rimba pada Galang dan Priyanka. "Kok malah jadi gue yang duluan sih," sesalnya.


Galang tertawa seraya mengusap kening adiknya begitu sayang. "Makanya, suruh siapa bandel!" gumamnya masih terkekeh.


"Haish!" Rimba mendengus kecil lalu mengalihkan pandangannya pada adik iparnya Mitha, yang sudah menyambutnya untuk memberikan selamat.

__ADS_1


"Selamat ya Kak Rimba," ucap Mitha tersenyum manis.


"Eh kok Kakak sih? panggil aku Rimba aja, Kak" pinta Rimba canggung.


"Tapi kamu kakak ipar ku lho," kata Mitha tertawa.


"Jangan deh, tolong panggil aku nama aja! Aku lebih nyaman dipanggil nama. Aku kan masih kecil kak Mitha," kata Rimba berusaha memberikan senyuman termanisnya pada sang adik ipar. Mereka memang belum lama dekat, Rimba masih merasa canggung dengan keluarga dari suaminya itu.


"Iya deh, aku panggil nama aja ya biar kita lebih akrab," kata Mitha akhirnya.


Bergantian, mereka mengabadikan momen sederhana tapi sarat makna dan sangat bersejarah itu. Jemari Steven tak henti menggenggam erat jemari Rimba, inilah waktu mereka, satu tahap paling serius yang harus mereka lewati bersama.


"Bulan madu kemana?" tanya Marco yang terus menggoda Steven yang sering diledeki bujang lapuk olehnya selama ini.


Steven mengangkat bahunya. "Terserah nyonya disebelah," sahutnya melirik Rimba.


"Minggu depan ada ujian di kampus, Kak Marco. Jadi kayanya nggak kepikiran sampe ke situ dulu," sahut Rimba.


"Ujian praktek apa tulis?" tanya Marco yang sontak membuat Rimba mengernyit heran.


"Kalo gitu ujian praktek reproduksinya nanti malem, kamu harus mengerjakannya sungguh-sungguh biar lulus," ujar Marco bermaksud menggoda sepasang pengantin baru ini.


"Hah?" bola mata Rimba melotot, awalnya bingung, tapi ia langsung sadar arah pembicaraan suaminya Mitha itu. 'Sialann, Mesum semua nih Om-om bule!' umpatnya dalam hati.


***


Usai tadi siang melaksanakan ijab qobul dan makan-makan keluarga sebagai perayaan kecilnya, kini Rimba mau tidak mau harus ikut tinggal bersama Steven dirumahnya.


Tadinya Rimba ingin malam ini ia tidur dikamarnya sendiri untuk yang terakhir kalinya sebelum dirinya pindah dan ikut bersama suaminya. Namun Steven tidak mau dengan alasan sudah lelah.


"Kenapa sih tadi bapak nggak mau nginep dirumah bunda barang semalem aja?" protes Rimba saat keduanya sudah ada didalam kamar rumah Steven.

__ADS_1


"Saya kan sudah bilang, Saya capek. Kita menginap dirumah bunda kapan-kapan lagi kan bisa," sahut Steven.


"Tapi saya maunya sekarang!" ujar Rimba sedikit menambah volume bicaranya.


Steven yang hendak mengganti pakaiannya pun urung. Ditatapnya wajah mungil istrinya kesal. "Silahkan kalo kamu mau pergi ke rumah bunda sekarang. Jangan salahkan saya nanti kalo bunda kamu tanya ke saya kenapa saya memperbolehkan kamu pergi sendiri," ujarnya.


"Emang kenapa?"


"Kamu istri yang membangkang perintah suaminya," sahut Steven dengan ekspresi dinginnya.


"Shit!" umpat Rimba tak bisa berkutik. Bakal runyam ceritanya kalau begitu. "Fine, gue nurut," ucapnya.


Rimba tak lagi mendebat Steven. Ia merasa kasihan pada dirinya sendiri karena sudah sah menjadi istri lelaki sedingin kulkas ini. Steven bahkan tak terlihat seperti manusia normal dalam pandangan Rimba. Diamatinya lelaki berparas tampan itu bergerak. Seakan tak memperdulikan Rimba, Steve melepas jasnya, lalu kemejanya. Ia bertelanjang dada didepan Rimba yang dengan sangat jelas menatapnya takjub. Tubuhnya sungguh enak dipandang. Jadwalnya yang bisa dibilang padat, tapi sepertinya lelaki itu masih punya waktu sendiri untuk berolah raga. Terlihat perutnya yang terbentuk sempurna dengan 6 ABS yang menggoda. Lengannya cukup kokoh dan kencang. Dan tunggu!! Ada satu tato kecil dipunggungnya yang juga menarik perhatian Rimba. Meski terlihat macho dan elegan, Rimba tetap tak paham maksud tato itu.


"Kamu duluan yang mandi apa saya?" tanya Steven tanpa tanggapan. Mata Rimba tak sadar berbinar menatap suaminya takjub, membuat Steven tersenyum bangga. "Jangan ngiler atau kamu bakalan saya suruh ngepel seluruh lantai diruangan ini!" tegur Steve menjentik jari di depan wajah Rimba penuh arti, terkesan meremehkan.


Cepat-cepat Rimba membuang pandangannya, tak ingin terjebak dalam pesona Lelaki yang kini sah menjadi suaminya yang begitu memabukkan.


"Ih, siapa juga yang bakalan ngiler, biasa aja tuh!" balas Rimba mendengus.


"Kamu itu capek, butuh istirahat yang cukup, makanya uring-uringan terus," kata Steven berubah perhatian.


Rimba tak begitu menanggapi ucapan Steven barusan. "Saya tidur diranjang ini?" tanya Rimba malah menanyakan hal lain sambil menunjuk ke arah ranjang Steven, yang sudah ditaburi banyak kelopak bunga mawar oleh Mitha tadi siang, sebelum prosesi ijab qobul berlangsung.


"Emang kamu maunya tidur dimana?" Steven malah balik bertanya.


"Tapi---" Rimba tak berani melanjutkan kalimatnya. Seandainya Steven meminta haknya sebagai suami malam ini, relakah Rimba menyerahkan harga dirinya? Keperawanan adalah sebuah kehormatan bagi perempuan. Rimba setuju dengan ungkapan tersebut. Sebab, hubungan **** yang sebenarnya adalah ketika dilakukan dengan pasangan yang benar-benar telah disumpah dalam ikatan pernikahan. Tapi masalahnya, Rimba belum benar-benar mencintai suami tampannya itu.


.


.

__ADS_1


.


Pernikahan Rimba dan Steven layaknya seperti mosaik yang dibuat oleh mereka sendiri. Jutaan momen kecil yang menjadi kisah cinta akan tercipta diantara keduanya. Meski mungkin akan ada badai besar yang menghantam keteguhan hati dan cintanya dikemudian hari.


__ADS_2