Pesona Dokter Steven

Pesona Dokter Steven
60 - Prasangka


__ADS_3

Setelah Steven menjemput Rimba dirumah Vania, mereka pun lantas berpamit untuk pulang. Malam memang sudah larut tapi mereka tetap memutuskan untuk kembali ke rumahnya malam ini.


"Bun, aku dan Rimba pamit pulang ya," ucap Steven lalu menyalami punggung tangan Vania, disusul Rimba dibelakangnya.


"Iya Bun, besok aku udah mulai ngampus lagi dan pasti bakalan sibuk. Jadi kemungkinan untuk beberapa hari ke depan aku mungkin jarang kemari," ujar Rimba.


"Iya nggak apa-apa, bunda ngerti. Yang penting kalian sehat-sehat ya disana," sahut Vania mengusap bahu Rimba. Ia lalu mengantar keduanya sampai diteras rumah.


Steven dan Rimba hendak masuk ke dalam mobil saat melihat kedatangan seseorang dari arah pintu pagar yang sudah terbuka lebar.


"Itu Rimiko kan?" gumam Steven ragu.


Rimba mengangguk. "Katanya dia akan tinggal disini beberapa hari," sahutnya.


"What?" bola mata Steven terbelalak. "Bukannya ibu Akiyo sudah kembali ke Tokyo?" tanya Steven.


"Ibu Akiyo emang udah balik ke Jepang, tapi dia belum," sahut Rimba lalu memutuskan untuk segera masuk ke dalam mobil. "Ayo!" ajaknya pada Steven yang masih berdiri disisi pintu mobil seraya menatap Rimiko yang mulai berjalan mendekat ke arahnya.


"Apa nggak menyapanya dulu?" tanya Steven. "Nggak enak lho kita pergi gitu aja."


Rimba pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil. Benar juga apa kata Suaminya itu. Meski masih merasa canggung, tapi kenyataan tetaplah mereka bersaudara. Apa salahnya jika ia menyapanya lebih dulu. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang.


"Hai," sapa Rimba bermaksud menyapa lebih dulu. Tetapi apa yang didapat dari sapaannya itu? Rimiko sama sekali tidak membalas sapaan Rimba, ia hanya meliriknya sekilas lalu melengos begitu saja.


"Bunda ada?" Rimiko malah bertanya kepada Steven.


Steven sejenak menatap istrinya sebelum menjawabnya. "Ada, masuklah!" jawabnya.


"Apa kalian akan pergi?" tanya Rimiko tapi matanya seakan enggan menatap Rimba.


"Ya, kita mau pulang. Didalam bunda sudah nungguin kamu tuh!" ucap Rimba terdengar ketus, sedikit kesal juga karena sapaannya tadi diabaikan.


Tak lama kemudian Vania datang, ia sudah melihat Rimiko dan langsung menghampiri. Terlihat sekali raut sumringah terpancar diwajah Vania. Ia begitu senang dengan kedatangan Rimiko, apalagi saat gadis kembaran Rimba itu baru saja memeluk Vania. Sikap Rimiko kali ini terlihat begitu hangat dan manja, tidak sedingin ketika pertama kali bertemu Vania kemarin.


"Kok baru datang malam-malam gini? Bunda kira kamu tidak jadi kemari, tapi Ibu Akiyo bilang kalau kamu akan tinggal disini untuk menghabiskan masa liburanmu," ucap bunda seraya mengusap punggung Rimiko.


"Maaf tadi pergi ke suatu tempat dulu, untungnya bunda belum tidur," sahut Rimiko.


"Bunda kan nungguin kamu," ucap Vania


Rimiko tersenyum bahagia mendengarnya. "Aku kangen sama bunda dan kak Galang, Apa dia dirumah?" tanyanya seraya celingak-celinguk mencari Galang.


"Ada, dia lagi dikamar. Kalo gitu ayo masuk," ajak Vania.


Rimba yang menyaksikan pemandangan tersebut sedikit cemburu. 'Dia kangen bunda sama kak Galang? tapi sama sodara kandungnya sendiri kaya barusan itu? ck! yang benar saja,' batinnya menggerutu.


Steven yang sedari tadi memperhatikan mimik istrinya mulai merasa tidak nyaman, ia pun kembali berpamitan kepada ibu mertuanya itu untuk kedua kalinya.


"Kalo gitu kami pergi dulu ya Bun," ucap Steven.


Vania menoleh, tersadar kalau Steven dan Rimba belum pergi dari rumahnya. "Oh, ya. Kalian ati-ati ya!" ujarnya.

__ADS_1


Steven balas mengangguk. Tanpa bicara lagi Rimba pun langsung masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian mobil yang membawa mereka berdua pun akhirnya pergi, meninggalkan Vania dan Rimiko yang nampak tengah melepas rindu.


.


Rimba dari tadi hanya diam, Steven yang paham dengan kondisi istrinya itu pun inisiatif untuk membuka obrolan ditengah perjalanannya menuju ke rumah mereka.


"Besok kuliah jam berapa?" tanya Steven seraya melirik Rimba.


Istrinya itu masih diam. Rupanya pikiran Rimba sedang melanglang buana dan tidak mendengar ucapan suaminya barusan.


"Rim? Rimba sayang?" panggil Steven sok manis.


Barulah Rimba mengerjap. "Ya? kenapa?"


"Emh, ketauan ya dari tadi asik dengan dunianya sendiri. Ngelamunin apa sih?" tanya Steven yang sesekali melirik Rimba ditengah menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Nggak, aku nggak ngelamun tuh," sangkal Rimba lalu melipat tangannya didepan dada.


"Buktinya tadi kamu nggak denger aku nanya apa," kata Steven.


"Emang nanya apa?"


"Tuh kan, berarti itu artinya kamu tadi ngelamun."


Kali ini Rimba tak bisa lagi berkelit. Memang benar, pikirannya sejak keluar dari rumah bunda Vania memang teralihkan oleh kedatangan Rimiko tadi. Entah kenapa Rimba masih asing dengan sosok kembarannya yang bernama Rimiko itu, begitu juga sebaliknya. Mereka kembar identik, tapi sepertinya mereka tidak memiliki ikatan batin sama sekali. Justru Rimba sudah terlanjur berprasangka buruk. Ia merasa Rimiko akan mengambil Bunda Vania dan Galang darinya. Atau bahkan tak menutup kemungkinan Rimiko juga akan mengambil Steven juga.


"Kenapa sih? apa ini ada hubungannya dengan Rimiko?" tanya Steven lagi.


"Hah? mereka--- maksudnya bunda sama Galang gitu?" terka Steven masih gagal paham.


"Iya lah, siapa lagi."


"Pikiran kamu itu berlebihan, sayang. Bunda sama Galang itu bukan anak kecil lagi yang bisa dihasut. Nggak mungkinlah Rimiko seperti itu," ujar Steven.


"Kok kamu jadi bela dia sih? emang kamu udah kenal dia sedalam apa sih sampe seyakin itu?" Rimba mulai terpancing.


"Nggak gitu Rim, jelas aku lebih kenal kamu daripada dia. aku cuma ngingetin kamu aja kalo gak baik berprasangka yang bukan-bukan sementara kita belum mengenal lebih jauh. Coba aku tanya sama kamu ya, pernah gak kalian berdua ketemu trus ngobrol? belum kan? jadi dari mana kamu berasumsi kalo dia punya niat seperti apa yang dibilang tadi?" tanyanya.


"Tadi kamu nggak liat apa sikapnya dia ke aku? jangankan mau ngobrol, aku nyapa segitu aja apa dia jawab? enggak," sahut Rimba mulai emosi, ia mulai meremas-remas tali tasnya sendiri, merasa kesal.


Melihat sikap Rimba, Steven sejenak menepikan mobilnya ke pinggir jalan sembarangan tanpa melihat sekitar. Ia memiringkan tubuhnya menghadap sang istri setelah mematikan mesin mobilnya terlebih dulu.


"Fine, aku ngerti apa yang kamu rasakan sekarang. Tapi sebaiknya nggak usah terlalu dipikirin, toh semuanya belum tentu terbukti kan? jadi kita positif thinking aja, oke? kamu ada aku, Rim. Apapun yang terjadi ada aku disamping kamu." ujar Steven berusaha meyakinkan Rimba yang tengah dilanda rasa galau, dan cemburu yang berlebihan kepada saudara kembarnya.


"Beneran?" tanya Rimba menatap suaminya.


Steven lantas mendekatkan tubuhnya ke arah Rimba. "Ya, itu janji aku sama kamu," sahut Steven lalu mengecup bibir istrinya.


TOK! TOK! TOK!


tiba-tiba kaca samping kemudi mobilnya ada yang mengetuk.

__ADS_1


Mereka kaget bukan main. "Kita salah parkir ya?" gumam Rimba panik.


"Kayanya enggak," sahut Steven. Ia lantas segera membuka kaca pintu mobilnya.


"Selamat malam Pak, bisa keluar sebentar dan menunjukan KTP serta STNK mobilnya?" kata salah satu ketiga polisi yang mendatanginya itu.


"Oh, sebentar" sahut Steven. Ia segera keluar lalu mengeluarkan dompetnya untuk menunjukan KTP dan STNK kepada polisi-polisi yang sedang berpatroli tersebut.


"Jadi anda seorang dokter?" tanya polisi itu.


"Iya," sahut Steven.


"Lalu Mbaknya yang dimobil ini siapa? pacar atau siapanya?"


"Ini istri saya," sahut Steven cepat. "Maaf, ini ada apa ya? apa saya parkir ditempat yang salah?" tanyanya.


"Ini bukan masalah parkir Mas dokter," kali ini polisi wanita yang menjawabnya. "kami sedang patroli dalam upaya memerangi penyakit masyarakat," jelas polwan cantik berambut pendek, berwajah oriental itu. Ternyata mereka mengira Steven salah satu pria hidung belang yang sedang membooking perempuan-perempuan muda yang selalu mangkal didaerah situ.


"Hah?" bola mata Steven terbelalak, begitu juga dengan Rimba yang langsung keluar dari mobil.


"Mas dan Mbaknya tau kan ini jam berapa? ini sudah hampir jam 1 malam. Jika memang Mas dan Mbak sudah menikah, kenapa selarut ini belum pulang? malah maaf, bermesraan didalam mobil," ucap polisi itu salah paham.


Steven dan Rimba saling berpandangan dengan tatapan aneh satu sama lain. "Kenapa jadi gini?" gumam Steven.


"Kamu sih malah berhenti, harusnya tadi jalan aja," balas Rimba malah menyalahkan suaminya.


"Makanya kamu jangan incesure dong, Aku tuh nggak bisa liat kamu sedih-sedih kaya tadi," sahut Steven. Ia lalu menjelaskan kepada para polisi yang sedang patroli itu kalau dirinya dan Rimba benar-benar suami istri, dan kebetulan tadi ada masalah yang membuat mereka harus menepikan mobilnya sebentar untuk bicara serius. Tapi sayangnya mereka tidak percaya begitu saja, apalagi setelah melihat KTP milik Rimba.


"Bagaimana kami bisa percaya jika KTP Mbaknya saja disini statusnya pelajar, lalu di KTP mas dokter ini lajang, alamatnya pun juga berbeda," kata polisi itu tegas.


Oh my God, ternyata mereka lupa belum mengurus kartu keluarga yang baru, dan ini bukan masalah sepele.


"Kami baru menikah beberapa bulan yang lalu dan belum sempat mengurus KTP yang baru," kata Steven masih membela diri.


"Baik, kalau begitu tunjukan bukti sah kalau Mas sama Mbaknya memang sudah benar-benar menikah," tantang sang polwan. "Kasus seperti ini bukan yang pertama bagi kami. Kebanyakan pasangan mesum yang belum sah selalu berkelit dengan alasan yang sama," ucapnya lagi.


'What?? kita pasangan mesum? for God sake Rimba!!' batin Rimba seraya menggelengkan kepalanya, bingung mau menjelaskan bagaimana lagi.


"Mari! nanti bisa anda jelaskan dikantor," kata polisi yang satunya.


"Tunggu! tapi kami betul-betul sudah menikah pak. Ini cincin pernikahan kami berdua," Rimba berusaha meyakinkan para petugas itu dengan menunjukan cincin pernikahan yang melingkar dijari manisnya. "Lihat, disini bahkan ada inisial nama kami S dan R," ucapnya lagi menegaskan.


Tetap saja para petugas itu tidak percaya. Sepasang suami istri itu malah hendak diamankan ke kantor polisi terdekat.


Mau tidak mau, suka tidak suka, malu ataupun tidak, akhirnya Steven menghubungi Marco adik iparnya.


.


.


.

__ADS_1


Jangan pernah berprasangka buruk terhadap orang lain. Tapi, jangan terlalu mudah percaya karena ada beberapa orang yang tidak bisa dipercaya.


__ADS_2