Pesona Dokter Steven

Pesona Dokter Steven
58 - I admire you, wife!


__ADS_3

"Steve! bangun Steve!!" teriakan Vania sambil menggedor-gedor pintu kamar.


Sontak mendengar namanya disebut Steven langsung membuka mata. Meski sedikit pusing karena tiba-tiba bangun, ia pun segera turun dari ranjang untuk membuka pintu.


"Rimba, Rimba nggak ada. Anak itu pasti kabur!" ujar Vania panik.


"Hah?" Steven mengerjap masih setengah sadar.


"Kamu cari dia, buruan Steve!" pinta Vania seraya menarik-narik tangan Steven. "Tadi bunda telpon HP-nya nggak aktif," adunya.


"Tenang dulu Bun, Rimba----"


"Kamu ini kebanyakan mikir deh, ayok buruan cari! Anak itu dari dulu kaya gitu, tiap ada masalah pasti kabur-kaburan. Bunda heran kapan dia bisa berpikir dewasa. Dipikirnya dengan dengan kabur gitu bisa nyelesain masalah? yang ada malah tambah masalah. Kamu juga harusnya bisa bikin di---"


"Ada apa sih Bun? ini masih subuh lho, si bleki punya Pak Haji Dulloh aja belum berkokok," tiba-tiba Rimba nongol dari belakang Steve sambil menguap lebar.


Vania terkejut, ternyata Rimba tidak kemana-mana. Perasaannya pun langsung lega. "Kamu pindah kamar? kok bunda nggak tau?" tanyanya.


"Iya Bun, aku pindah semalem pas bunda ngorok," sahut Rimba. "aku tidur lagi ya, masih ngantuk," ucapnya hendak kembali naik ke ranjang.


"Eeh, ini udah shubuh Rim!" tahan Vania.


"Si bleki aja belum berkokok bun," sahut Rimba.


"Sampe kapan pun si bleki nggak akan berkokok lagi, orang dia ilang ada yang nyolong."


"Wah, serius Bun?" Rimba kembali ke ambang pintu. "Kok bisa ada yang nyolong? kasian pak aji," ucapnya.


"Namanya juga maling Rim, apapun bisa dicolong termasuk si bleki," sahut Vania. "Ya udah bunda masak air dulu," ucapnya lantas pergi ke arah dapur.


"Si bleki apaan? Anjing?" tanya Steven yang sedari tadi menyimak.


"Emang anjing bisa berkokok?" ucap Rimba malah balik bertanya.


"Lha? jadi maksudnya itu ayam?"


"Iya," sahut Rimba polos.


"Wow, baru kali ini ada ayam dikasih nama si bleki," gumam Steven. "emang bulunya item semua ya?" tanyanya malah jadi penasaran.


"Nggak, bulunya malah putih semua."

__ADS_1


"Hah??"


*


Mereka tengah menikmati sarapan pagi buatan Vania. Steven sudah nampak rapi dengan setelan formal karena pagi ini jadwalnya praktek dirumah sakit.


Begitu juga dengan Galang, lelaki yang baru patah hati itu kini malah paling klimis dibanding Steven. Rambutnya yang disisir rapi setelah diberi pomade, serta mencukur habis bulu-bulu halus diatas bibir dan dagunya, membuat seorang Galang yang memang memiliki kulit putih bersih itu bak seperti Oppa-oppa Korea. Wajahnya sudah tak terlihat muram lagi seperti tadi malam.


"Oppa! saranghaeyo," kata Rimba seraya menyilangkan ibu jari dan telunjuknya.


"Aku keliatan tua banget ya?" Galang malah fokus memperhatikan penampilannya sendiri.


"Nggak lah, malah bagus gini ketimbang kemarin," sahut Rimba lalu menyeruput jus jeruknya.


"Lha tadi kamu bilang Opa, maksudnya ngeledek? aku keliatan tua begitu?" sewot Galang.


Rimba hampir saja tersedak oleh minumannya sendiri. "Oppa itu panggilan buat adek perempuan kepada kakak laki-lakinya dalam bahasa Korea," ucapnya tertawa.


"Korea lagi," gumam Steven yang baru saja menyelesaikan sarapannya, lantas beranjak dari duduknya bersiap berangkat kerja.


"Iya tau tuh, nggak dia nggak Ellena kok doyan banget sama cowok-cowok Korea, padahal mukanya sama semua menurutku," sahut Galang yang mendengar gumaman Steven.


"Hm, kita satu server kalo gitu," sahut Steven.


"Kenapa nggak kamu telepon?" tanya Galang.


"Aku belum sempet telepon, tau sendiri kan kemarin sikonnya kaya apa," sahut Rimba.


"Besok lusa dia balik. Info terakhir adiknya udah bisa pulang dari rumah sakit hari ini. Keadaannya baik-baik aja," ujar Galang detail.


"Kak Galang kok tau?" kedua mata Rimba memicing menatap kakaknya curiga. "Udah sedeket itu kamu sama Ellena? apa jangan-jangan----"


Galang berdecak, "Jangan ngada-ngada deh, aku ke dia itu cuma sebatas care doang. Kaya aku ke kamu gitu, nggak ada ya pake hati. Nggak sama sekali!" ucapnya yakin.


"Oke-oke, gue percaya," sahut Rimba lalu beranjak pergi menyusul Steven ke depan. Suaminya itu bersiap akan pergi.


Steven nampak masih memanaskan mobilnya di halaman rumah. Rimba menghampirinya sambil membawakan ponsel Steven yang tertinggal diatas meja.


"Pulangnya sore kan?" tanya Rimba seraya memberikan ponsel milik suaminya itu.


"Liat situasi nanti ya, nanti aku kabari kalo ada perubahan," sahut Steven. "Oya, kamu jadi hari ini nemuin Ibu Akiyo?" tanyanya.

__ADS_1


"Iya," sahut Rimba terdengar ragu.


"Dianter bunda ya, jangan pergi sendiri! maaf aku nggak bisa nemenin," ucap Steven menyesal.


"Iya nggak apa-apa, nanti aku pergi sama bunda kok. Kamu tenang aja ya," ucap Rimba meyakinkan suaminya yang nampaknya masih sangat khawatir.


"Perasaan kamu gimana sekarang?" tanya Steven.


"Maksudnya?" Rimba mengernyit bingung.


"Maksudku, How do you feel that you know the truth right now? can you accept everything 'bout your biological mom and twin siblings?"


Rimba terdiam sesaat, ia tengah memantapkan hatinya untuk ikhlas menerima semuanya tanpa ada rasa benci, kecewa, sedikit pun. "Ya, aku nerima semuanya. Suka nggak suka, aku memiliki hubungan darah dengan mereka," ucapnya.


"Kamu benar sayang," sahut Steven lalu menarik pinggang Rimba.


"Dan yang bikin aku lebih bersyukur lagi, ternyata gadis kecil penyelamatmu dulu itu adalah aku," ucap Rimba tersenyum. "Meskipun sampai sekarang pun aku tak ingat sama sekali," tambahnya.


"Yang penting itu kamu sudah cukup. Kamu nggak inget pun tak masalah," kata Steven memeluk istrinya. Ia pun tersenyum lega. Rimba sudah banyak berubah, sikapnya jauh lebih dewasa sekarang. Lantas ia lalu mengecup kening istrinya sebelum berpamit untuk kerja ke rumah sakit.


***


Sementara itu, ditempat yang berbeda.


"Come on hurry up! our flight to Tokyo in about 2 hours," ucap Akiyo sambil mengemasi koper-kopernya.


"Sorry, but I'm not going to Tokyo with you," sahut Rimiko.


"What? But why Rimiko?" bola mata Akiyo terbelalak kaget. "are you going back to paris?" terkanya.


"No! but I want to stay a few more days with Bunda Vania," jawab Rimiko yakin.


"You're serious?"


"Yes I am serious."


.


.


.

__ADS_1


Jalani hidup meski kadang ada bagian yang tidak disukai. Terimalah kenyataan yang ada dengan tetap bersyukur, ikhlas dan sabar.


__ADS_2