
Tak banyak yang Rimba lakukan seharian ini dirumah. Waktunya ia habiskan untuk membaca diktat kuliahnya dan menghapal beberapa teori yang kemungkinan akan ada di soal ujian besok. Meski begitu tadi sore Rimba menyempatkan diri menyiapkan makanan untuk suaminya saat pulang nanti. Bukan makanan special ala-ala restoran sih, hanya telur dadar dan ayam bumbu kecap yang menjadi andalannya selama ini.
Steven datang saat Rimba tengah mencuci piring bekas makannya barusan. Ia terpaksa makan lebih dulu karena perutnya sudah lapar sementara suaminya itu sebelumnya tak kunjung pulang padahal hari sudah malam.
"Kamu lagi apa?" tanya Steven mendekat setelah sebelumnya menaruh tas kerjanya sembarang ke atas meja. Rimba sedikit terkejut karena Steven kembali peduli terhadapnya setelah belakangan ini sikapnya terlihat dingin dan jarang bicara apalagi menyapanya.
'Apa mood dia udah balik normal lagi ya? apa dia udah mulai melepaskan kesedihan atas meninggalnya kakek sehingga mau ngomong lagi? padahal jelas-jelas tadi siang sikapnya masih acuh gitu, ' batin Rimba malah bermonolog sendiri.
"Hey! kok malah bengong?" ucap Steven kembali mengagetkan.
"Hah? Kok malem banget sih? jadinya aku makan duluan," saut Rimba berusaha bersikap seperti biasanya, ia segera mengelap tangannya yang masih basah menggunakan kain berbahan handuk yang tergantung didekatnya. "mau langsung makan apa mandi dulu? aku siapin," katanya lagi.
"Sorry, tadi udah makan di kantin rumahsakit. Ini aja masih kenyang," jawab lelaki itu mengusap perut sixpacknya sendiri.
Rimba melipat kedua tangannya didepan dada, "Yaa... padahal aku udah masakin masakan kesukaan kamu lho." ia mendesah sedikit kecewa. Rimba merasa sia-sia telah menyempatkan dirinya masak namun sang suami malah tidak memakannya.
"Tadi dokter Raehan ngajak makan, nggak enak lah buat nolak." kata Steven.
"Tapi kamu bisa pesen makanan ringan ato minum aja," protes Rimba.
"Nggak bisa gitu dong," Steven langsung menarik pinggang istrinya ke arahnya agar lebih dekat.
"Why?" desih Rimba sambil menatap intens suaminya yang tengah menunduk menatap padanya juga.
"Hmm... karena aku juga laper," sahut Steven lantas memencet hidung Rimba gemas.
Rimba mencebik, "Oke, makanannya bisa diangetin buat besok," ucapnya tidak mau memperpanjang bahasan ini. Ia lalu melepas tangan Steven dari pinggangnya untuk membereskan makanan diatas meja, dan menaruhnya ke dalam lemari pendingin. Rimba mengikuti kebiasaan Vania yang selalu menyimpan makanan sisa ke dalam lemari pendingin agar esoknya bisa dihangatkan dan dimakan kembali.
Selesai Steven membersihkan diri, ia langsung merayap naik ke atas tempat tidur. Disana sudah ada Rimba yang sedang membalas pesan WhatsApp dari Ellena.
"Chat sama siapa? senyum-senyum sendiri gitu? Marvin?" tuding Steven dengan melirikkan matanya ke arah layar ponsel istrinya yang menyala.
"Ih, kok nuduhnya kesitu sih? ini tuh Ellena, bukan nama cowok yang barusan kamu sebut itu, nih liat sendiri!" sahut Rimba seraya menunjukan pesan-pesan WhatsApp dari kontak Ellena.
__ADS_1
"I know, I was just joking with you babe."ucap Steven lalu menarik tubuh kecil istrinya itu kedalam pelukannya. "I have to apologize to you for my behavior recently." desisnya seraya mengecup puncak kepala Rimba.
Rimba mendongak, "kenapa?"
"Nggak disadari kalo aku mengabaikan kamu akhir-akhir ini?" ujar Steven memperjelas ucapannya.
"Hhhmmm.... yeah, kamu udah nyuekin aku berhari-hari lho kak. But it's oke, It's normal. Jika aku jadi kamu juga mungkin aku akan depresi akut, kayanya lebih parah dari kamu malahan," sahutnya malah dibuat tidak serius dengan cengengesan. Rimba sengaja agar suaminya tidak mengingat kembali rasa dukanya.
Steven tersenyum lega melihat respon sang istri yang mengerti akan kondisinya kemarin. "Thank you wife, kamu emang the best, jadi makin gemess..." ucapnya lalu mengacak-acak rambut Rimba.
"Ah, kebiasaan deh ngacakin rambut orang," protes Rimba menghindar dari serangan Steven, ia hendak bangun dari posisinya tapi ditahan suaminya itu.
"Tapi orang itu cuma kamu, Rim. Mana berani aku ngacakin rambut orang lain," bantah Steven seraya reflek Steven mendorong tubuh istrinya menjadi terlentang dan ia setengah menindihnnya.
"Iya lah, awas aja kalo berani ngacakin rambut cewe lain!!" ancam Rimba mendengus.
Steven terbahak, namun hatinya bahagia karena seorang Rimba memiliki rasa cemburu kepadanya. Itu artinya Rimba sangat takut kehilangan dirinya. "Besok kamu udah siap ujian?" tanyanya kemudian.
"Kok tau besok aku ujian? aku belum bilang lho," kaget Rimba.
"Kamu ketemu bunda dimana?"
Sial, ternyata Steven keceplosan ngomong. Akhirnya ia sendiri yang kebingungan untuk menjawabnya.
"Hhmm, maksudku kakakku yang bilang,"
"Gimana sih? kamu bilang tadi bunda, kok jadi kak Galang, yang bener yang mana?"
"Hm, Galang yang ngomong. Katanya bunda yang bilang," ucap Steven jadi pabeulit.
"Ooh.." Rimba membulatkan bibirnya tanpa curiga. "Iya nih aku agak stress, ngeri juga kalo nilainya jelek soalnya kemarin-kemarin aku sering absen," keluhnya.
Steven mengerti maksud Rimba, ia pun merasa bertanggungjawab atas seringnya Rimba absen tidak masuk kuliah sejak keduanya menikah.
__ADS_1
"I'm sure you can do well on the exam."hibur Steven menyemangatinya.
"Yeah, I hope so," balas Rimba seraya menggigit bibir bawahnya ragu.
"Good," Steven mengecup kening istrinya begitu sayang. "Biar kamu rileks, can we do it tonight?"
"Hah?" Rimba nge-lag sebentar. "maksudnya itu?" tanyanya malu-malu tapi mau.
Steven hanya mengangguk, tanpa aba-aba lelaki itu kini naik ke atas tubuh Rimba. Tak ada penolakan disana, karena Rimba pun sebenarnya menginginkannya.
Saat ini keduanya memang butuh penyatuan setelah cukup lama tidak melakukannya. Terlebih lagi mereka saat ini lelah pikiran menghadapi masalah masing-masing. Aktivitas hubungan intim antar suami istri itu dapat melepaskan hormon endorfin serta hormon lainnya yang dapat membuat perasaan mereka menjadi lebih baik. Karena katanya, zat kimia ini dapat membuat tubuh dan pikiran jadi lebih rileks sehingga tak heran banyak orang yang merasakan manfaat **** terhadap kesehatan pikiran.
Nafas keduanya menderu. Steven manopang tubuh Rimba dengan kedua lutut dan satu tangan karena tangan satunya lagi menangkup sisi wajah istrinya itu yang kini tengah merona.
Ibu jarinya mengelus lembut pipi Rimba lalu menyentuh bibir Rimba yang kini sedikit terbuka.
Nafas Rimba tersendat, perempuan itu mengerjap menunggu apa yang akan dilakukan Steven selanjutnya.
Rimba bisa melihat Steven menatapnya hangat juga mendamba dan sangat menginginkan, keduanya tau malam ini akan berakhir seperti apa.
Cukup lama mereka bergumul, hingga akhirnya Rimba menjerit kecil kemudian mengeraskan suara irama cumbu yang telah melekat sedalam-dalamnya. Menekan disertai kecupan dahaga, dan Rimba pun mengiyakan pelepasan penyatuan mereka.
Nafas keduanya tersengal, Steven menghadiahkan kecupan dikening sang istri, kemudian tubuhnya yang basah oleh keringat itu pun bergulir kesamping. Tidak lupa menarik selimut untuk menutup tubuh polos mereka dan membawa Rimba masuk kedalam pelukannya.
Selang beberapa menit saat keduanya hendak memejamkan mata, tiba-tiba suara bel pintu rumahnya berbunyi. keduanya kembali mengerjap dan reflek memutar kepalanya ke arah jam dinding yang menempel dikamar itu.
"Siapa??"
.
.
.
__ADS_1
Ketika kita berdua bersama, tidak ada hal lain di dunia ini yang penting bagiku. Kebahagiaan terbesar dalam hidup adalah bersamamu dan mengetahui bahwa aku milikmu selamanya.