
Tibalah Rimba dirumah sang bunda. Sejak menikah, entah kenapa rumah ini lah yang membuatnya selalu merindu. Padahal dulu Rimba mana betah diam dirumah.
"Suami kamu tau kalo kamu kemari?" tanya bunda saat Rimba baru saja merebahkan tubuhnya di sofa.
"Tau Bun, tadi aku udah ngasih kabar kok," sahut Rimba sejenak memejamkan matanya, terasa lelah.
"Kamu kenapa, lemes gitu?" tanya Vania ikut duduk disamping Rimba yang masih memejamkan matanya bersandar disofa.
"Capek aku tuh Bun," sahut Rimba tanpa membuka matanya.
"Jangan-jangan kamu hamil."
"What?" Rimba langsung membuka matanya dan menatap sang bunda.
"Kenapa? Kalian udah nikah hampir 2 bulan, wajar kalau kamu hamil Rim," kata Vania dan itu membuat Rimba jadi merinding.
Hamil? Rimba hampir melupakan kosakata itu saat beberapa kali melakukan hubungan intim dengan suaminya.
"Enggak lah Bun, aku belum mau hamil dulu. Bisa repot nanti," ujar Rimba meski hatinya kini was was.
"Kok repot? Emang kalian sengaja menunda momongan dulu?" tanya Vania.
"Iya," sahut Rimba ragu.
"Nunda hamilnya jangan lama-lama ya, kan ada bunda. Anakmu nanti bisa bunda asuh kalo kamu kuliah. Bunda jadi nggak bosen dirumah seharian," ujar Vania begitu antusias. Berharap Rimba hamil, punya anak, dan Vania yang mengasuhnya nanti.
Rimba hanya menghela napasnya. Sebagian pasangan yang sudah menikah memang ingin cepat-cepat punya momongan. Tapi tidak dulu bagi perempuan yang satu ini. Rimba belum ada rencana untuk hamil, ia hanya ingin fokus dulu ke kuliah dan cita-citanya untuk menjadi dokter.
"Ada nyonya Steven ternyata," kata Galang yang baru saja pulang dan membuyarkan lamunan sesaat Rimba tentang momongan.
"Tumben pulang siang?" tanya Vania.
"Iya Bun, kebetulan kerjaan dikantor agak kosong," sahut Galang menyimpan tas kerjanya di atas meja, lalu menjatuhkan tubuhnya duduk di sofa disamping Rimba yang tengah menatapnya. "Kenapa? Kamu kangen ya? Mandangnya gitu banget," ucapnya saat menyadari sang adik tengah menatapnya serius.
"Kabarnya kak Priya gimana?" tanya Rimba.
"Kenapa kok tiba-tiba nanya Priya?" Bukannya menjawab, Galang malah balik bertanya.
__ADS_1
"Kangen aja, lama dia nggak kemari," sahut Rimba.
"Sibuk dia tuh, makanya jarang main kemari."
"Sibuk? Udah kakak cek hari ini dia ngapain aja?"
"Kamu ngomong apaan sih?" tanya Galang bingung.
"Iya Rim, kamu ini kok malah bikin kakakmu bingung saja," ucap Vania ikut menyela. "Ada apa?" tanya.
"Kakak tau? tadi aku liat kak Priya sama lelaki lain jalan di mall, dan lelaki itu mengakui kalau dirinya pacar kak Priya. Maksudnya apa coba? Emang kakak udah putus ya dari kak Priya?" Ujar Rimba.
"Apa? Jangan ngada-ngada kamu Rim! Priyanka sedang ada di Bandung dari kemarin. Mall mana yang kamu maksud?"
Rimba berdecak, "Berarti Kak Galang udah ditipu mentah-mentah sama Priyanka,"
"Hey! Kamu jangan fitnah Priyanka dong Rim! Dia jelas-jelas ada di Bandung, tadi siang aku telponan kok," sahut Galang.
Rimba tersenyum samar melihat sikap Galang yang masih setia mempercayai kekasihnya yang sudah bertahun-tahun lamanya dipacarinya itu.
"Ini ada apa sih? Kamu cerita yang jelas dong Rim!" Pinta Vania menengahi kedua anak-anaknya.
Vania menohok mendengar cerita Rimba. Anaknya itu tidak mungkin berbohong. Apa yang dikatakan Rimba pastilah benar adanya. Tapi tidak bagi Galang, lelaki itu masih yakin kalau Rimba salah paham. Galang masih percaya dengan kesetiaan Priyanka yang menurutnya tulus.
"Kamu pasti salah paham Rim," ucap Galang lalu beranjak pergi ke kamarnya.
"Tapi Kak----"
"Cukup! Urus saja urusanmu sendiri!" ujar Galang lalu membanting pintu kamarnya dan mengurung diri didalam sana.
"Sudah, yang penting kamu sudah menyampaikan apa yang sudah kamu lihat. Selebihnya biarkan kakakmu yang menilai benar atau tidaknya," ucap Vania seraya menepuk pelan bahu Rimba, menenangkan. "Ayo bantu bunda didapur! kamu belum makan kan?" ajak Vania lalu beranjak menuju dapur.
"Oke Bun," sahut Rimba. Lantas ia membantu Vania memasak di dapur sambil menunggu Steven menjemputnya. Tak lama kemudian perempuan itu teringat sesuatu, diam-diam ia segera mengambilnya dari dalam tas. Mengeluarkan dua butiran kecil sekaligus dari sana, lalu memasukkan ke dalam mulutnya bersamaan dengan air minum yang baru saja diambilnya.
.
Jam 9 malam, Steven baru bisa menjemput Rimba dirumah Vania.
__ADS_1
"Tumben malem, biasanya agak sore," sapa Vania saat Steven baru saja datang.
"Iya Bun, tadi ada tindakan operasi dadakan," sahut Steven. "Rimbanya mana Bun?"
"Ada dikamar bunda, tadi sih lagi nonton Drakor dilaptopnya Galang," sahut bunda.
Steven malah tersenyum.
"Mau langsung pulang?" tanya Vania.
"Iya Bun, udah malem soalnya," jawab Steven.
"Ya udah, bunda panggilkan Rimba kalau gitu," ujar Vania hendak ke kamarnya. "Eh, Steve!" Vania jadi ingat sesuatu.
"Iya Bun," sahut Steven lembut.
"Benar kalian menunda momongan?" tanya Vania jadi ingat obrolannya dengan Rimba tadi sore.
"Momongan?" Kening Steven mengerut, bingung.
"Maksud bunda, apa benar kalian menunda untuk punya anak dulu?" kata Vania memperjelas kalimatnya.
"Nggak Bun, kita bahkan tidak pernah bahas masalah itu." aku Steven jujur.
"Oya? Berarti kalian nggak pakai alat kontrasepsi apa-apa kan untuk menunda kehamilan?" tanya Vania begitu penasaran.
"Enggak Bun," sahut Steven seraya menggeleng-gelengkan kepalanya begitu polos dan menggemaskan.
"Bagus!!" gumam Vania, lantas pergi untuk memanggil Rimba dikamarnya.
Steven hanya tersenyum samar. Kini ia paham apa yang tengah diinginkan ibu mertuanya ini, seorang cucu. Steven memang tidak pernah membicarakan soal momongan kepada istrinya. Karena menurutnya, obrolan tentang rencana punya momongan memang bisa bikin pasangan seperti tertekan atau terbebani. Apalagi Rimba sepertinya belum siap untuk memiliki momongan. Oleh karena itu, Steven tidak pernah membahas tentang momongan kepada Rimba meski hatinya sudah ingin sekali memiliki keturunan.
.
.
.
__ADS_1
Hadiah tak selalu di bungkus dengan indah. Kadang Tuhan membungkusnya dengan masalah dan penantian. Meski begitu, di dalam hadiah itu tetaplah berkah.