
Bulan madu singkat mereka telah usai. Kini Steven dan Rimba sudah kembali. Bulan madu itu memang penting karena memiliki efek positif yang signifikan terhadap pernikahan, terutama di masa mendatang. Harus diakui bahwa memulai kehidupan rumah tangga bukanlah sesuatu yang mudah bagi Steven maupun Rimba.
"Liburannya kurang puas ah," keluh Rimba sambil merebahkan tubuhnya diatas sofa diruang tengah rumahnya.
"Nanti kita bikin session 2," sahut Steven yang baru saja datang dari arah dapur sambil membawakan segelas air putih untuk istrinya. "Nih, minum dulu!" katanya seraya menyodorkan gelas itu kepada Rimba.
Perempuan itu bangkit dari posisinya menjadi duduk, dan menerima segelas air yang diberikan Steven. "Thank you," gumamnya nyengir. "Aku mau di session 2 nanti kita nggak ketemu orang-orang yang kita kenal. Apalagi ketemu orang yang ada hubungannya dengan flash back," ucapnya.
"Kalo gitu dirumah aja, lebih aman dan gak bakalan ada orang lain," jawab Steven.
"Abisnya 3 hari kita di Jogya tapi cuma semalem," ujar Rimba seraya mengerucutkan bibirnya.
"Semalem apa?" Steven mengernyit tak paham.
Rimba tidak menjawab, ia malah mengalihkan pandangannya ke televisi yang menyala.
"Oh, semalem itu maksudnya?" tanya Steven mulai mengerti maksud arah pembicaraan istrinya. "Semalem tapi 3x itu lumayan lelah lho," ucapnya menyeringai.
Rimba sontak menoleh kembali ke arah Steven, Wajahnya sontak semerah tomat. Ia tidak menyangka Steven akan paham maksudnya. Sepertinya saat ini hormon estrogen perempuan itu tengah berada dipuncak.
"By the way, mau jam berapa kita ke rumah bunda?" tanya Steven yang sudah duduk disamping Rimba.
Rimba menyimpan kembali gelas setelah meneguk isinya ke atas meja, lalu memiringkan posisi duduknya, melipat satu kakinya disofa agar bisa berhadapan dengan suaminya.
"Ehmm, kapan ya? agak sorean deh," sahut Rimba setengah malas.
"Oke, kalo gitu kita bisa main-main dulu sebentar," seringai Steven sambil menaik turunkan alisnya berirama seolah memberinya kode.
Rimba mengerjap, lalu terdiam beberapa detik menangkap sinyal isyarat dari suaminya. "Let's do it on the floor," sahut Rimba hingga membuat Steven menohok.
"Seriously? dapet dari mana kalimat itu?" tanya Steven dengan ekspresi yang senang luar biasa, dan Rimba hanya membalasnya dengan anggukan sambil tertawa.
"Pernah denger aja di film-film," jawab Rimba.
"Film dewasa?"
"Kayanya sih," gumam Rimba ragu.
__ADS_1
"Nakal ya kamu," ucap Steven menangkup kedua pipi sang istri, dihujaninya kecupan dikening dan pipinya. "I love you," lirihnya diakhiri dengan kecupan sekilas dibibir Rimba. Wajah perempuan itu pun terlihat merona.
"Love you too," balas Rimba seraya melingkarkan kedua lengannya dileher Steven. Sedangkan lelaki itu masih betah memandangi wajah sang istri lekat-lekat.
"Rim" panggilnya lagi.
"Iya" sahut Rimba terdengar lembut.
Ibu jari Steven mengelus lembut pipi sang istri, lalu menyentuh bibir Rimba itu yang kini sedikit terbuka.
Nafas Rimba tersendat, perempuan itu mengerjap menunggu apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu selanjutnya.
Rimba bisa melihat Steven menatapnya hangat, juga mendamba dan sangat menginginkan, keduanya tau siang ini, ditempat ini akan berakhir seperti apa.
Kini keduanya saling berhadapan. Tiba-tiba Steven mengangkat dagu lancip sang istri. Keduanya saling merangkum bibir. Setelah beberapa lama, akhirnya Steven melepaskan pagutannya. Menyatukan keningnya dengan kening Rimba, sambil menuntun tubuh istrinya hingga ke posisi paling nyaman disofa besar itu. Steven mulai melucuti pakaian istrinya.
"Tunggu!" Rimba menahan tangan Steven yang mulai liar. "Kakek sedang dirumah Kak Mitha kan?" tanyanya.
"Iya, kenapa? takut kepergok kakek lagi?" tanya Steven asal.
"Kamu tau sendiri kan gimana kakek? suka nongol tiba-tiba diwaktu yang nggak tepat," gumam Rimba tertawa kecil.
**
Sementara ditempat yang berbeda, Vania tengah berbincang dengan seseorang dirumahnya.
"Rimba baru tiba tadi pagi," kata Vania.
"Waktu saya tidak banyak, besok saya harus kembali ke Tokyo," kata seseorang yang ternyata Akiyo Farayaka, ibu kandungnya Rimba.
"Apa Rimiko juga akan kembali besok?" tanya Vania terlihat gusar.
Akiyo mengangguk sebagai jawaban. "Maafkan atas sikap Rimiko, Saya tidak tau kenapa dia tidak ingin bertemu denganmu," ucapnya.
"Tidak apa-apa. Saya paham, waktu sudah berlalu bertahun-tahun lamanya, wajar kalau mungkin dia lupa," gumam Vania sendu.
"Rimiko tidak pernah melupakanmu, Vania. Saya sudah berusaha menghilangkan kalian dalam ingatannya, tapi tetap tidak bisa. Sampai sekarang Rimiko masih memanggil namamu, Galang, dan ayahnya saat dia tengah mabuk," ucap Akiyo.
__ADS_1
"Apa? Mabuk?" bola mata Vania terbelalak.
"Rimiko memang kecanduan alkohol. Tapi dua tahun terakhir ini sudah berkurang, sejak dirinya bergabung di agensi model di Paris," ungkap Akiyo.
Vania hanya bisa mengelus dada. Ia paham dengan kondisi Rimiko yang besar diluar negeri, yang terbiasa meminum minuman keras atau alkohol. Bahkan di negara seperti Korea, China, Jepang kebiasaan mengonsumsi minuman yang mengandung alkohol merupakan tradisi sebagai bentuk penghargaan, juga menjadi sarana untuk mengekspresikan diri.
Ia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Anak perempuan yang pernah ia besarkan dari usia 1 tahun hingga 7 tahun itu kini sudah menjelma menjadi seorang gadis asing dan berjarak.
"Selamat siang."
Tiba-tiba seseorang datang tanpa disadari Vania juga Akiyo yang tengah duduk di ruang tamu, menyapa begitu ramah.
"Rimiko?" gumam Vania terkejut.
"Surprise Rimiko! when did you land from Jogya? I thought you would arrive tonight," ucap Akiyo yang sudah terbiasa menggunakan bahasa Inggris bisa berkomunikasi dengan Rimiko. Dia tidak menyangka kalau putrinya itu akan datang, padahal sebelumnya dia sempat menolak untuk menemui Bunda Vania meski sudah memiliki alamat rumahnya.
Gadis bernama Rimiko itu tersenyum, "An hour ago, Mama" ucapnya kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Vania. Kedua mata mereka saling bertemu.
"Hallo, Bunda" sapa Rimiko canggung.
"Rimiko," gumam Vania berdiri dari duduknya, lalu mendekat ke arah Rimiko yang masih berdiri diambang pintu.
Rimiko maju beberapa langkah, menyambut tangan Vania yang hangat. Keduanya saling berpelukan.
.
.
.
Terkadang tidak ada kata-kata yang dapat menyampaikan pesan yang ingin kamu sampaikan atau bagikan, namun pelukan sederhana dapat mengatasi semuanya.
-----------------------------------
Slow UP ya, mau lebaranan dulu 🤭
Untuk para readers setia, Selamat hari raya idul Fitri 1442H, bagi yang merayakan.
__ADS_1
Mohon maaf lahir dan batin 🙏🤗💙