Pesona Dokter Steven

Pesona Dokter Steven
62 - Keadaan sang kakek


__ADS_3

Steven dan Rimba saat itu langsung berangkat ke rumah kediaman Marco. Nampak didepan rumah adik Steven itu ada satu unit kendaraan ambulance yang terparkir, dan beberapa tim medis yang tengah sibuk menggotong kakek Hermawan kedalam ambulance.


Setelah mobilnya berhenti, Steven segera keluar dan berlari untuk segera mengetahui apa yang telah terjadi. Begitu pula dengan Rimba yang menyusul langkah suaminya tersebut.


"Kakek kenapa Mit?" tanya Steven pada adiknya yang tengah terisak, sambil melihat sang kakek yang tengah dipasangkan oksigen oleh tim medis.


"Aku nggak tau. Kakek nggak sadarkan diri," sahut Mitha terdengar parau.


"Tadi dikamarnya terdengar ada suara benda jatuh saat aku baru pulang. Dan aku liat kakek sudah duduk dilantai tengah meringis memegangi dada, dan gelas minumnya terjatuh disamping," jawab Marco yang memang dia lah orang pertama menemukan kondisi sang kakek.


"Tapi masih sadar?" tanya Steve.


"Ya, kakek mengeluh pusing, nyeri dada dan wajahnya berkeringat. Tak lama kemudian Kakek malah tak sadarkan diri. Makanya aku langsung panggil ambulance," jawab Marco.


Tak berkomentar apa-apa lagi Steven langsung masuk ke dalam ambulance untuk melihat kondisi kakeknya. Terlihat ia pun melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) pada dada sang kakek.


"Cepat jalan Pak!!" teriak Steven kemudian kepada sang sopir ambulance.


Tak lama kemudian Kakek Hermawan pun dibawa ke rumah sakit bersama Steven yang ikut didalam mobil ambulance tersebut. Sementara Rimba bersama Marco dan Mitha mengikutinya dari belakang.


*


Kakek Hermawan langsung dibawa keruangan khusus untuk dilakukan pemeriksaan. Steven turut masuk untuk memastikan kondisi sang kakek secara detail. Sementara Marco, Mitha dan Rimba hanya bisa harap-harap cemas menunggu hasilnya diluar.


"Apa kakek punya riwayat sakit jantung?" tanya Rimba.


"Hah?" Mitha yang awalnya tengah mondar-mandir kaya setrikaan langsung berhenti dan menatap Rimba. "Maksud kamu?" tanyanya.


"Aku tidak yakin sih Kak. Hanya saja mendengar dari ucapan kak Marco tadi tentang kakek menunjukan gejala orang yang terkena serangan jantung," sahut Rimba yang sukses membuat Mitha menjadi makin cemas dan panik.


'Eh apa gue salah ngomong ya? bodoh lu Rim, ngapain juga ngomong gitu sama kak Mitha. Lu nggak tau apa kalo kak Mitha lagi hamil? ini malah bikin dia makin stres. Tolol banget gue,' umpat Rimba dalam hati menyesali kata-katanya barusan kepada Mitha.


"Kita tunggu saja apa kata dokter nanti ya," ucap Marco berusaha menenangkan istrinya.


Tak lama kemudian dokter yang memeriksa kakek Hermawan pun keluar dan menemui mereka.


"Gimana Dok?" tanya Marco antusias.

__ADS_1


"Kakek saya baik-baik saja kan?" susul Mitha tak sabaran.


"Kondisinya sudah stabil, tapi masih kami pantau," ucap dokter yang bernama Devon itu memberitahu kondisi si pasien kepada keluarganya.


"Kakek saya sakit apa Dok?" tanya Mitha.


"Serangan jantung."


"Apa?" bola mata Mitha terbelalak. "ijinkan saya melihat kakek, saya ingin melihat keadaannya Dok," ucapnya lirih.


"Tenang Bu, untuk saat ini pasien belum bisa ditemui. Kami harus melakukan beberapa pemeriksaan dan CT scan terlebih dahulu," ucap dokter tampan yang memiliki wajah ke arab-araban itu.


"Tapi Dok---"


"Hey, kamu tenang dong, sayang. Ada Steve didalam, dan semua akan baik-baik saja," ucap Marco menenangkan kembali istrinya.


"Iya Kak, lebih baik kita tunggu saja dulu," kata Rimba ikut menenangkan adik iparnya itu.


Mitha akhirnya menerima saran dari orang-orang terdekatnya. Ia pun kembali tenang setelah menyadari ada Steven yang kini menemani sang kakek didalam sana.


Sudah setengah jam lebih mereka bertiga duduk menunggu, namun Steven tak kunjung keluar dan memberikan kabar terbaru tentang sang kakek.


"Ini kok lama banget sih? sampe kapan kita harus nunggu?" keluh Mitha mulai resah.


"Aku coba telpon Steve," gumam Marco seraya merogoh ponselnya dari dalam kantong celananya. Ia mulai menelpon sang kakak ipar, tapi sayang sepertinya panggilan teleponnya terabaikan.


"Gimana kak?" respon Rimba saat melihat wajah Marco yang ditekuk kecewa sambil menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Nggak diangkat, kita tunggu sebentar lagi," ucap Marco.


Benar saja beberapa menit kemudian Steven datang dan langsung disambut Mitha dengan begitu antusias dan harap-harap cemas.


"Kakek tidak apa-apa kan?" tanya Mitha.


Steven tidak langsung menjawab. Lelaki itu menghela napasnya sejenak sebelum memberitahukan kondisi kakek Hermawan yang sebenarnya.


"Kakek harus segera di operasi," jawab Steven lirih.

__ADS_1


Bola mata Mitha seketika terbelalak lebar, "Operasi apa?" tanyanya.


"Operasi baypass jantung," sahut Steven.


"Apa kakek menderita jantung koroner?" tanya Rimba yang sedikitnya sudah paham dengan tujuan operasi tersebut.


Steven mengangguk. "tindakan operasi ini untuk mengatasi penyumbatan pembuluh darah pada jantungnya kakek."


"Apa operasi ini aman dan tidak riskan?" giliran Marco ragu.


"Prosedur operasi ini dilakukan dengan cara mencangkok pembuluh darah yang sehat dari bagian tubuh lain, ke pembuluh darah jantung yang tersumbat, kemudian akan menggantikan fungsi pembuluh darah jantung yang rusak untuk mengalirkan darah dan oksigen ke area jantung yang mengalami kekurangan pasokan darah. Dan risiko serangan jantung pun akan berkurang.


Tapi masalahnya---" Steven tiba-tiba menghentikan kalimatnya.


"Tapi apa? ada masalah apa?" tanya Mitha seraya memicingkan matanya curiga.


Lagi-lagi Steven menghela napasnya dengan berat dan sukses membuat semua orang disana merasa tegang dan semakin cemas.


"Jangan bikin aku tambah khawatir Kak!" bentak Mitha tak sabar.


"Tenang dong sayang," gumam Marco mengusap punggung istrinya.


"Apa ada penyakit lain yang diidap kakek?" gumam Rimba sudah curiga.


Steven mengangguk pelan. "Hasil pindai CT scan lainnya sudah keluar. Kakek ternyata memiliki cancer paru-paru tahap akhir," ucap lelaki itu tak kuasa mengakui tapi kabar ini tetap harus ia sampaikan.


"APA?"


Kompak Mitha, Marco dan Rimba bersamaan.


.


.


.


Merelakan bukan berarti menyerah, tapi menyadari bahwa ada hal yang tidak bisa dipaksakan. Namun janganlah pernah berhenti mencoba, karena keajaiban itu nyatanya memang ada.

__ADS_1


__ADS_2