Pesona Dokter Steven

Pesona Dokter Steven
52 - At Jogyakarta part VI


__ADS_3

Sebelum benar-benar keluar dari bangunan itu, Rimba sempat menoleh sekali lagi melihat ke arah Rimiko. Ia baru sadar, meski penampilannya jauh berbeda dengan dirinya, tapi sekilas Rimba seperti sedang bercermin. Dalam hati pun ia merasa takjub melihat kecantikan dan keanggunan perempuan yang masih berdiri dari kejauhan. Sungguh elegan dan melambangkan kecerdasan dalam kecantikan yang tak lekang dijamah waktu.


"Rimiko," ucap Steven bertepatan dengan datangnya mobil yang dikendarai Pak Wiro didepan teras hotel.


"Oh, dia ya," balas Rimba masih tidak sadar dengan arah pembicaraan Steven.


Lantas Steven membukakan pintu mobil untuk sang istri. Seakan sudah hafal dengan sikap manis lelakinya, Rimba pun masuk ke dalam mobil. Baru setelah Pak Wiro mulai melajukan mobil, Rimba tersadar.


"Rimiko? Maksud kamu?" tanya Rimba menoleh tegang.


"Perempuan yang didalam tadi itu, yang pake dress selutut berwarna hitam, dia Rimiko," terang Steven tak ingin lagi menutup-nutupinya.


"Ya? serius?" pekik Rimba kaget. Ia lantas meneliti tubuhnya sendiri. "Demi apapun aku malu!" gerutunya menutup wajah spontan.


"Malu kenapa? Nggak telanjang ini," sahut Steven datar.


"Dia cantik banget lho! so perfect. Tinggi, langsing, elegan, anggun dan keliatan berkelas banget. Sementara aku? Ya ampun, dekil banget," keluh Rimba memandang dirinya sendiri.


"Kamu cantik, Rim. Buktinya aku lebih milih kamu ketimbang dia," ucap Steven menenangkan.


"Tapi kamu ngakuin kalo dia cantik kan? tidak mungkin kamu bilang enggak," gumam Rimba.


"Iya emang cantik sih," balas Steven jujur. "Kalo aku bilang jelek, berarti kamu juga jelek. Wajah kalian kan mirip," ujarnya.


Rimba menghela napasnya, tidak ada yang salah dari jawaban Steven. Ia saja yang sebagai perempuan mengakui betapa berkelas dan elegannya seorang Rimiko. Dari caranya berdiri saja tadi Rimba sudah bisa menebak seberapa tinggi kastanya Rimiko. Semua barang yang menempel ditubuhnya begitu mahal dan bermerek.


"Jadi dia anak perempuan yang pernah kamu janjiin buat nikah itu? bukannya kamu bilang dia Perancis? kok bisa ada disini?" tanya Rimba memicing.


"Aku juga nggak tau. Tapi kayanya dia salah satu pelukis muda yang karyanya dipajang di pameran itu," jawab Steven.


"Wow, multitalent juga ya. By the way apa dia mengenalimu?" tanya Rimba dan langsung mendapat anggukan dari Steven. "Good, ternyata dia masih hapal kamu padahal sudah belasan tahun tak pernah ketemu lagi. She is so perfect wife materials buat laki-laki manapun termasuk kamu. Pasti banyak tuh laki-laki yang menyukainya," gumam Rimba lagi-lagi insecure.

__ADS_1


Steven menggeleng, "Nggak juga, karena aku udah jadi husband materials buat perempuan lain. Makanya aku nggak tergoda sama dia sama sekali. Dan juga, karena aku bukan sebagian besar laki-laki yang menyukainya. Aku hanya sebagian kecil dari laki-laki yang jatuh cinta sama kamu, dan nggak mau sama perempuan mana pun termasuk dia. Mungkin kamu bener, semua laki-laki bakalan suka sama Rimiko yang sangat cantik dan elegan versi kamu, tapi aku termasuk orang yang enggak. Bersama kamu yang cantik apa adanya, juga calon dokter ini, duniaku indah lebih berwarna," ujarnya panjang lebar. 'Karena kamu itu gadis kecil yang selama ini ingin aku miliki Rim,' ucapnya dalam hati.


Rimba tertegun takjub. Lagi-lagi ia salah karena telah meragukan ketulusan cinta Steven. Kali ini Rimba harus lebih banyak berjuang lagi untuk mempertahankan semuanya. Steven miliknya, tak boleh ada perempuan mana pun yang berani menyentuh apalagi mengambil darinya. Termasuk Rimiko, perempuan yang menurut Rimba adalah cinta pertama Steven, padahal nyatanya adalah dirinya sendiri.


Mobil yang dikemudikan Pak Wiro pun mulai melaju menuju kembali ke hotel, seiring dengan suara dering ponsel Rimba yang berasal dari dalam tasnya.


"Ada telepon," gumam Steven memberitahu.


Cepat-cepat Rimba merogohnya dari dalam tas. Nama Bunda yang tertera dilayar ponsel Rimba.


"Iya Bun," sapa Rimba.


'Masih di Jogya?'


"Iya kenapa? tenang aja Bun, bakpia pathok, yangko, geplak sama coklat monggo pesenan bunda udah dibeliin. Semua aman, aku beli lebih juga buat Ibu Bagus sama Tante Wangsi tetangga dirumah. Bunda mau titip apa lagi mumpung aku masih di Jogya?" ucap Rimba panjang lebar.


'Kapan kalian balik?' tanya Vania diseberang sana. Nada suaranya terdengar tidak semangat. Biasanya Vania paling antusias kalau bicara tentang oleh-oleh.


"Ya?" sejenak Rimba tercenung. "Bunda nggak apa-apa kan? sehat-sehat aja kan?" tanyanya curiga.


"Besok pagi. emang siapa Bun?"


'Nanti aja lah pas kalian udah balik.Disana kamu bertemu seseorang?' tanya Vania tiba-tiba.


"Enggak tuh, ketemu siapa ya?" Rimba malah balik bertanya seraya mengerutkan dahinya bingung. Ia curiga, kenapa Vania menanyakan perihal konyol seperti itu? jelas di Jogyakarta Rimba bertemu banyak orang. Maksudnya seseorang siapa? Pak Wiro? pikir Rimba menerkanya.


'Ya sudah, kalo gitu bunda tutup teleponnya. Kamu dan Steve hati-hati disana!' ujar Vania hendak mengakhiri panggilan teleponya.


"Tunggu Bun!!"


'Apa?'

__ADS_1


"Apa Ellena ada dirumah?" tanya Rimba.


'Ellena baru saja pergi sama Galang. Katanya mau makan bakso Mas Edi,' sahut Vania.


"Hah? emang bakso mas Edi buka lagi? bukan minggu-minggu kemarin kedainya tutup?"


'Udah buka lagi Rim. Dua bulan lalu si mas Edi-nya pulang kampung ke Tawangmangu katanya.'


"Wihh, mantep nih, jadi pengen buru-buru balik."


'Udah ya, bunda tutup teleponnya,' kata Vania.


"Oke Bun."


Akhirnya obrolan ibu dan anak itu terputus.


.


"Bunda?" tanya Steven setelah Rimba memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.


"Iya, bunda tanya kapan kita pulang. Katanya ada yang mencariku," ucap Rimba.


"Siapa?"


"Nggak tau, bunda nggak bilang siapanya," sahut Rimba seraya menyandarkan kepalanya dibahu lelaki yang begitu ia cintai.


Steven tertegun, pikirannya melanglang buana, perasaannya mulai resah. Ia hanya takut hati Rimba tersakiti.


.


.

__ADS_1


.


Pasangan paling bahagia di dunia ini tidak pernah memiliki sifat yang sama. Mereka hanya saling memahami dengan baik tentang perbedaan yang mereka miliki.


__ADS_2