
Sesampainya dirumah, tiba-tiba Rimba merasa ingin muntah. Ia segera berlari ke wastafel kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya disana.
"Hey, kamu kenapa Rim?" Steven datang dan kaget saat melihat Rimba muntah-muntah dikamar mandi.
"Nggak tau nih, perutku mual aja," sahut Rimba setelah membersihkan mulutnya dengan air.
"Sekarang gimana? masih mual?" tanya Steven sambil mengusap-usap punggung Rimba dari belakang.
"Setelah dikeluarin udah mendingan. Hanya agak pusing sedikit," keluh Rimba kali ini sambil memijat pelipisnya.
Tanpa aba-aba, Steven begitu saja merengkuh tubuh mungil Rimba dari kamar mandi dan dibawanya ke atas ranjang. Lelaki itu lantas membuka laci nakas, mengambil alat stetoskop dan segera memeriksakan kondisi tubuh istrinya itu.
"Sebelumnya kamu punya riwayat maag?" tanya Steven.
Rimba mengangguk pelan.
"Suhu badan kamu juga meningkat. Minum Paracetamol ya," ujar Steven siap beranjak menjadi kotak obat.
"Jangan!" cegah Rimba memegangi pergelangan tangan Steven. "Saya nggak apa-apa, ditidurin bentar juga paling udah baikan," pintanya.
Steven kembali duduk disisi ranjang, "Oke, kalo gitu kamu istirahat ya, tapi kalo dalam waktu 2 jam demamnya makin naik kamu harus minum obat!" ucapnya dan langsung mendapat anggukan setuju dari Rimba.
Steven menangkup kedua pipi Rimba yang tengah berbaring itu dengan kedua telapak tangannya, dengan cepat dia mencium bibir istrinya sekilas. Rimba mengerjap kaget dengan serangan yang tiba-tiba itu. Aliran darahnya langsung berdesir hebat, walau hanya sebuah kecupan dibibir tapi mampu membuat Rimba seperti melayang. Ini memang bukan kali pertama bibirnya disentuh oleh bibir seorang laki-laki. Dulu Marvin pernah mencium Rimba satu kali saat mereka masih berpacaran. Tapi rasanya kali ini sangat berbeda, sungguh berbeda.
"Mau teh?" tawar Steven mengalihkan pikiran Rimba yang masih melayang.
__ADS_1
"Teh manis tapinya," sahut Rimba sok manja.
"Oke, saya buatin dulu ya," ucap Steven lalu melangkah keluar kamar.
Lelaki itu sibuk menuangkan air panas ke dalam gelas yang sudah di isi teh dan sedikit gula untuk Rimba saat suara bel rumahnya berbunyi. Siapa yang bertamu malam begini? begitu pikirnya. Buru-buru ia menyelesaikan kegiatannya tersebut dan segera untuk membukakan pintu.
"Sean?" Steven cukup terkejut dengan kedatangan sang adik yang sudah 2 tahun tak bertemu. Dia bernama Sean Kingston Lewiss, mereka saudara seayah beda ibu.
Sean selama ini tinggal di Paris, ia memiliki perusahaan yang bergerak dibidang fashion. Ia juga orang yang Steven mintai untuk mencari tahu tentang gadis kecil penyelamatnya dulu. Mereka memang tidak begitu cukup akrab, maksudnya Steven justru malah lebih akrab dengan Mitha, adik perempuan yang satu ibu dengannya. Tapi Sean tetap menghormati Steven sebagai seorang kakak yang suatu saat mereka akan saling membutuhkan, seperti sekarang ini.
"Aku sengaja datang kemari hanya untuk memastikan sesuatu," ucapnya setelah Steven mempersilahkannya masuk, dan sebelumnya pamit sebentar untuk memberikan teh pada Rimba di kamar, tapi ternyata istrinya itu malah sudah tertidur dan Steven tak berani mengganggunya.
"Emang ada masalah apa?" tanya Steven sambil memberikan minuman kaleng dingin yang sudah dibukanya itu kepada sang adik.
"Ya, kenapa? dia sudah ku temukan, dan aku menempati janji untuk menikahinya" sahut Steven datar, tubuhnya ia sandarkan disofa.
"Seriously?" Sean kaget luar biasa mendengar ucapan Steven. ia berusaha mencerna kalimat kakaknya itu hati-hati.
"liat foto ini! Dia bernama Rimiko, seorang model yang lagi terkenal di Paris. dia berdarah Jepang-indonesia, perhatikan wajahnya! mirip anak kecil yang ada di foto itu bersamamu kan!" terang Sean bagai petir menyambar di telinga Steven.
"So?" desis Steven masih dengan wajah kagetnya saat melihat wajah foto perempuan itu yang begitu mirip Rimba. Namun yang ini nampak bersih dan penampilannya begitu elegan layaknya model papan atas.
"Dia bisa saja anak kecil yang kau cari selama ini, bukan yang kau nikahi saat ini," balas Sean sukses membuat Steven gamang.
"Jangan bercanda kau, Sean! ini masalah kehidupan ku, kau tau!" tegur Steven langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri adiknya itu. "Kau ada data yang valid mengenai ini? Bagaimana bisa dua orang yang berbeda dengan wajah yang serupa? kecuali mereka kembar identik," ucapnya.
__ADS_1
"Kalau kau mau, Aku akan terus kembangin penyelidikan ini. Aku bisa cari tau tentang masa lalunya. Sementara ini aku hanya tau dia bernama Rimiko Putri Atmaja."
"Kau cari tau siapa nama ayah dan ibu kandungnya!" perintah Steven.
"Oke, aku bisa saja sekarang mendapatkan data itu. Tapi masalahnya saat ini aku lelah, ingin mandi dan istirahat dulu sejenak, boleh?" ujar Sean menyeringai, memberikan kode pada Steven agar membolehkannya menginap dirumah ini.
"Baiklah, malam ini kau boleh menginap disini. Tapi inget, jangan macam-macam! dia lagi kurang sehat dikamarnya."
"Your wife?" terka Sean. "aku jadi penasaran, semirip apa dia dengan model diperusahaan ku, Rimiko," ucapnya seakan meremehkan seorang Rimba.
"Jangan pernah bandingkan istri ku dengan siapapun!"
"Oke oke, I'm sorry," ucap Sean meminta maaf.
Steven terdiam, lelaki itu menghela napas panjang, beberapa kali untuk menenangkan pikirannya. Dalam pandangan matanya berseliweran bayangan Malaikat kecilnya yang susah payah ia cari sekuat tenaga. Jika dia bukan Rimba, bagaimana Steven bisa menyelamatkan hatinya? Haruskah mereka yang sudah terikat pernikahan, berpisah? apakah Steven bisa?
Steven memandang nanar keluar jendela. Ia seperti habis dijatuhkan dari ketinggian dan seluruh tulang di tubuhnya diremukkan. Keyakinan yang ia percayai, gadis yang selama ini ia cintai dan lindungi mungkin saja adalah orang asing yang tidak memiliki hubungan masa lalu apapun dengannya. Kendati demikian bolehkah ia bersikap asing pada isterinya? ia sudah mencintai Rimba sepenuh hati, seiring waktu berlalu. seandainya ia tahu bahwa bukan Rimba Malaikat kecil itu, akankah cinta itu tetap tumbuh sebesar dan sehebat sekarang?
.
.
.
Akan datang waktu di hidupmu ketika kamu harus memilih untuk membalik halaman, menulis buku yang lain atau sekedar menutupnya.
__ADS_1