
Pagi-pagi sekali Rimba sudah terbangun kembali. Dia tidak mendapatkan tidur yang nyenyak tadi malam. Pikirannya masih tak tenang memikirkan tentang kondisi kakek mertuanya yang kini tengah berbaring di rumah sakit.
Ia pun bergegas mencari ponselnya untuk menelpon Steven. Rimba ingin mengetahui kondisi terbaru tentang kakek Hermawan.
"Gimana kondisi kakek?" tanya Rimba tanpa menyapa kabar suaminya terlebih dulu.
'Kamu nih ya, bukannya nanyain kabarku dulu, malah nanya kabar laki-laki lain,' sahut Steven mendengus diseberang sana.
"Aku serius ini Kak,"
'Aku juga serius, Rimba! aku tuh kangen sama kamu,' ujar Steven tak mau kalah.
Rimba tersenyum sendiri mendengar ucapan suaminya diseberang sana. "Iya, iya... maafin atuh suamiku. aku juga kangen, tapi kamu baik-baik aja kan?"
'aku baik-baik aja, kakek juga,' jawab Steven.
"Syukurlah," sahut Rimba sedikit lega. "Trus operasinya ditunda dulu kan?" tanyanya kemudian.
Steven terdengar menarik nafasnya sejenak sebelum menceritakan tentang keputusan Kakek.
'Kakek malah minta secepatnya dioperasi,' ucapnya.
"Lho bukannya itu terlalu beresiko?" Rimba nampak kaget.
'Aku sudah jelaskan pada kakek, tapi ia bersikukuh tetap di operasi.'
"What? apa kamu yakin tidak akan beresiko nantinya?" tanya Rimba masih tak menyangka.
'Ini semua atas maunya Kakek, kami tidak punya pilihan lain,' sahut Steven. 'Kita doakan yang terbaik saja untuk kakek.'
"Oke, tapi apa Kak Mitha dan kak Marco udah tau ini?" tanya Rimba.
'Ya mereka sudah tau. by the way, jam berapa kamu ke kampus?' tanya Steven mengubah topik pembicaraan.
"Ehhmm.... aku kok malas ya ke kampus," jawab Rimba malah kembali merebahkan tubuhnya keatas ranjang.
'Jangan gitu dong, ayo semangat biar cepet lulus!!' ujar sang suami.
"Tapi aku kangen lho sama kamu, jadi malas ngapa-ngapain deh," sahut Rimba yang entah kenapa jadi sok manja begini.
Steven terdengar terbahak diseberang sana.
"Kok ketawa sih? gak ada yang lucu tau!" desis Rimba kesal.
__ADS_1
'Tadi pas awal telpon aja cuek, kenapa tiba-tiba spoiled begini?' ledek Steven.
"Oh jadi gitu? kamu gak suka aku kangenin? Oke fine!"
'Hey, I'm kidding baby'
Tiba-tiba suara bel rumahnya berbunyi ditengah pembicaraan suami istri itu.
"Ada yang datang, udahan dulu ya nanti siang dari kampus aku ke RS," kata Rimba.
'Oke, kamu hati-hati ya. I love you'
"Love you too husband."
Setelah mengakhiri panggilan teleponnya itu, Rimba pun bergegas ke depan untuk membuka pintu rumahnya.
Rimba cukup terkejut saat tahu bahwa yang datang kerumahnya saat ini adalah sang bunda dan Rimiko.
"Bun?" reflek Rimba. Kedua mata Rimba pun beralih ke saudara kembarnya yang berdiri dibelakang Vania. "Rimiko?" sapa Rimba terdengar kaku.
"Bunda denger katanya kakek Hermawan masuk rumah sakit, sakit apa?" tanya Vania tanpa basa-basi. Sebagai besan, tentu saja Vania juga ikut mengkhawatirkan kondisi Kakek Hermawan. Dan tujuan mereka datang pagi-pagi ke rumah Rimba ini hanya ingin menanyakan kondisi Kakek itu.
"Bunda tau dari mana?" tanya Rimba setelah mempersilakan mereka masuk dan duduk disofa. Yang ia ingat, dirinya belum sempat mengabari tentang kakek kepada ibunya.
"Ooohh, tapi sebenernya bunda bisa mastiin lewat telepon kan, nggak perlu repot-repot kemari juga." kata Rimba.
"Eh, kamu nggak suka bunda maen ke rumahmu?" kata Vania langsung melotot.
"Nggak gitu Bun. Maksudku jika aku gak ada dirumah gimana? bunda bisa telpon dulu sebelumnya, ini aja untung aku belom pergi ke kampus lho," jelas Rimba menjelaskan kepada ibunya. Ia tidak ingin Vania jadi salah paham.
"bunda tadi panik, makanya gak telpon kamu dulu. Ini aja HP-nya ketinggalan, nggak bunda bawa," sahut Vania.
"Tuuh kan, kebiasaan deh. Untung akunya belum ke kampus."
"looks like you have to give her the key to your house." (Kayanya kamu harus memberikan kunci cadangan rumahmu untuk bunda). Ujar Rimiko yang tak disangka mengeluarkan pendapat seperti itu.
"What?" Rimba terkejut lalu beralih menatap Rimiko.
"Yeah, maksudku supaya Bunda bisa kapan saja datang menemuimu, even if you're not at home" jelas gadis yang aksen bicaranya terdengar kaku itu.
Rimba hanya mengerutkan keningnya, tak paham dengan maksud saudara kembarnya ini. 'lha kalo gue gak dirumah ngapain bunda kemari? hello, ini maksudnya apa sih?' batinnya heran.
"Why? kamu keberatan?" kata gadis berpakaian mini nan anggun itu seolah mendengar batin Rimba.
__ADS_1
Rimba hanya terlihat menghela nafasnya. seperti kebingungan harus menjawab bagaimana.
"Nggak perlu, toh jarak dari rumah bunda kemari juga nggak nyampe satu jam. Anggap aja jalan-jalan," jawab Bunda Vania akhirnya mencairkan suasana canggung ini.
"Bukannya aku nggak mau ngasih kunci atau password pintu rumah sama bunda, tapi aku harus ijin Steven dulu," kata Rimba menjelaskan.
"Ih apaan sih Rim. Bunda juga gak bakalan mau kok dikasih kunci rumahmu. Udahlah, jangan bahas yang gak penting. Sekarang gimana kondisi Kakek? bunda denger dia kena serangan jantung?" tanya Vania mengalihkan pembicaraan agar tidak terjadi keributan diantara saudara kembar itu.
"Iya Bun, awalnya kakek memang kena serangan jantung. dan memang sudah seharusnya melakukan operasi, tapi ternyata kita baru mengetahui kalau kakek juga mengidap kanker paru stadium akhir. Jadi tim dokter masih perlu mengobservasi kakek dulu."
"Yang bener kamu Rim? separah itu penyakit kakek Hermawan? Ya Tuhan....." ucap Vania kaget sekaligus iba. "Tapi kondisinya sekarang gimana?" tanyanya.
"Kakek sudah sadar, tapi masih belum boleh pulang," jawab Rimba.
"Kalau gitu nanti sore bunda jenguk kakek ke rumah sakit ya, nunggu Gilang pulang biar sekalian," kata Vania, dan hanya mendapatkan anggukan setuju dari Rimba.
Sudah setengah jam mereka mengobrol, sampai akhirnya Vania dan Rimiko berpamitan pulang karena Rimba juga harus segera berangkat ke Kampus.
"Apa kampus kamu sangat jauh dari sini?" tanya Rimiko saat keduanya berjalan berdampingan keluar, sementara Vania sudah berjalan lebih dulu ke depan menunggu taksi online yang dipesannya.
"Nggak juga, Deket kok," sahut Rimba.
"Kapan-kapan boleh aku melihat kampusmu?"
"Untuk apa?" seketika Rimba mengernyitkan keningnya.
"Hanya ingin tahu saja. Dulu usia saya terlalu muda saat masuk ke university," ucap Rimiko kali ini terlihat ramah dan tidak sejutek sebelumnya.
"Oya? itu artinya kamu jenius dong," jawab Rimba sekenanya.
Rimiko hanya tertawa. tawa yang sangat manis dan elegan. Rimba pun mulai merespon baik dengan saudara kembarnya itu.
"Bolehkan?" tanya Rimiko lagi sambil menatap Rimba.
Rimba balas mengangguk seraya tersenyum. Vania yang melihat pemandangan itu pun lantas ikut tersenyum bangga. 'Semoga kalian selalu rukun. tidak ada sifat iri dengki sesama saudara,' batinnya berucap.
.
.
.
Hubungan persaudaraan itu bagaikan jalanan, kadang jalannya mulus, kadang juga menikung dengan sangat tajam.
__ADS_1