
Hari itu, Galang menemani Bos-nya menghadiri pesta sekaligus jamuan bisnis disebuah ballroom hotel berbintang. Ini kali pertama lelaki itu berada ditengah-tengah para pengusaha besar. Banyak pemimpin perusahaan-perusahaan bonafit yang hadir, diantara ada perusahaan O'Neill grup yang memiliki banyak anak perusahaan dimana-mana, juga ada perusahaan pengembang IT sekelas Neotech yang juga hadir disana.
"Saya akan menyapa dulu Tuan Aaron dan Tuan Matthew," gumam Marco pada Galang yang masih terpukau dengan situasi seperti ini.
"Oh, perlu saya temani Pak?"
"Tidak perlu, kamu disini dulu saja," sahut adik ipar Steven itu sambil berlalu pergi.
Galang pun hanya mengangguk. Ia lantas mengambil minuman yang disodorkan pelayan kepadanya. "Terima kasih," ucapnya.
Galang sangat menikmati suasana disana, ia merasa beruntung karena Rimba menikah dengan Steven. Sejak itulah ia merasa karirnya di tempat ia bekerja semakin menjanjikan. Setidaknya kini ia bisa dekat dengan orang nomor 1 dikantor. Buktinya saat ini, Marco lebih memilih mengajak dirinya ke acara ini daripada sekertarisnya. Aneh bukan?
"Agghh," tiba-tiba Seseorang yang tergesa-gesa menyenggol lengan Galang, dan membuat minumannya tumpah sedikit ke jas yang baru dibelinya kemarin, khusus untuk acara formal ini.
"I'm sorry."
"Rimba? kamu disini juga?" Galang terkejut ketika tahu yang menyenggolnya itu Rimba.
"Excuse me?" orang itu nampak kebingungan.
"Ya?" Galang mengernyit, ia langsung menyadari kalau perempuan yang kini dihadapannya itu bukanlah adiknya. Suaranya sedikit berbeda, sorot matanya pun terlihat asing dengan softlens berwarna abu-abu. "Oh, I'm sorry, I have mistaken someone," ucapnya.
"Ah, It's Oke. Sekali lagi saya minta maaf telah menumpahkan minuman ke pakaian anda," ucap perempuan yang ternyata Rimiko itu sedikit membungkukkan badannya didepan Galang.
"Oh, ya" balas Galang terasa kikuk, lalu balas sedikit membungkukkan badannya, seperti yang biasa dilakukan orang Jepang dan Korea sebagai bahasa tubuh sebuah penghormatan sebagai ungkapan rasa hormat atau permohonan maaf yang dikenal dengan istilah ojigi itu.
Tak lama perempuan itu pergi, sementara Galang masih terpaku ditempatnya. Mengamati punggung perempuan yang memiliki wajah serupa dengan adiknya. Dalam hatinya terus bertanya, siapa perempuan itu? segimana pun ia poles dengan riasan dan gaun cantik, kulitnya yang terlihat putih dan mulus, tetap saja wajah itu wajah Rimba.
__ADS_1
Ingin sekali Galang mengejarnya, memastikan kembali penglihatannya, tapi rasanya akan sangat memalukan jika saat ini ia lakukan. Sadar akan posisi dirinya yang bukan siapa-siapa. Terlalu banyak orang-orang penting disini, dan ia tidak ingin membuat Marco yang sudah mengajaknya kemari menjadi malu.
*
Sementara itu, gadis yang disinyalir kembaran Rimba ini kini berjalan menuju ke salah satu meja dimana disana ada kedua orangtuanya yang tengah berbincang dengan beberapa pengusaha lainnya termasuk Marco.
"Ini putri saya," ucap lelaki bernama Tuan Hideyoshi itu mengenalkan putrinya kepada para rekan bisnisnya.
"Rimba?" gumam Marco sangat pelan. Ia mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, meyakinkan bahwa penglihatannya tidak rabun. 'For God sake, Steve! benar-benar mirip,' batin Marco seraya menghela napasnya takjub.
Kebetulan sekali, Rimiko duduk didekat Marco. Lelaki itu jadi bisa melihat dengan jelas kemiripan Rimiko dan Rimba. Tak bisa dipungkiri, keduanya tidak bisa dibedakan dari sisi wajah.
"Saya tau anda sangat terkenal di Paris sebagai model, Nona Rimiko," puji Marco sambil mengambil gelas minumannya.
Perempuan itu tersenyum ke arah Marco, "I don't think so," ucapnya.
"Ya?"
Wow, Marco terkesiap. Disini lah letak perbedaan Rimiko dan Rimba.
*
Acara pesta kalangan pembisnis itu akhirnya selesai. Dalam perjalanan pulangnya, Marco dan Galang sibuk membicarakan putri dari tuan Hideyoshi yang bernama Rimiko.
"Yakin kalau adik kamu itu tidak kembar?" celetuk Marco kepada Galang yang duduk disamping Pak Roni, supir pribadi Marco. Sementara Marco sendiri duduk sendiri dikursi penumpang belakang.
Galang terdiam beberapa saat, tidak langsung menjawabnya. "Saya tidak tau Pak," ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Kok nggak tau, kamu kan kakaknya?" sahut Marco.
Galang menoleh ke belakang, menatap Marco sebentar. "Setelah melihat nona Rimiko tadi saya jadi ragu. Memang ada yang ganjal tentang Adik saya selama ini, tapi saya ragu untuk mencari tau yang sebenarnya," ujarnya.
"Apa itu?" Marco menegakkan badannya dari posisi duduk bersandarnya. "Ah, maaf. Bukan maksudku mencampurinya, tapi sekarang kita keluarga, Lang. Mungkin di kantor kamu bawahan saya, tapi diluar urusan kantor saya sudah anggap kamu bagian dari keluarga juga. Jadi jangan sungkan," ucapnya.
"Terima kasih, Pak Marco" gumam Galang masih terlihat canggung.
"Rimba ada ketika usia saya 6 tahun, waktu itu bunda tiba-tiba saja datang bersama ayah membawa seorang bayi yang katanya adik saya. Dari kecil saya lebih sering tinggal bersama nenek karena mereka sibuk bekerja. Saya tidak ingat kapan waktu itu bunda hamil Rimba," kenang Galang menceritakan masa lalunya. "Buat saya kehadiran Rimba itu berkah. Sejak ada dia, Bunda jadi tidak bekerja lagi, Bunda fokus mengurus saya dan Rimba dirumah," aku Galang jujur.
"Jadi kamu nggak tau kapan Bunda Vania melahirkan Rimba?" tanya Marco tiba-tiba. Cerita tentang Rimba sudah membuatnya menarik perhatian.
"Maksud Pak Marco?" Galang malah mengerutkan dahinya, tak paham.
"Maksudnya, siapa tau bunda memang melahirkan bayi kembar, lalu terpisah," terka Marco asal.
"Hah?" Galang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, bingung. Lelaki itu kembali melihat ke depan seraya menggelengkan kepalanya pelan. 'Kayanya Pak Marco sering nonton sinetron nih,' ucapnya dalam hati.
Dalam pikirannya, Galang sebenarnya sudah merasa ada sesuatu yang disembunyikan bundanya selama ini. Jika sering marah dan kesal terhadap Rimba, Vania sering kali keceplosan membandingkannya dengan seseorang entah siapa. Bunda juga sering memandangi foto kecil Rimba yang masih usia 4 tahunan. Bunda kadang menangis dan sering berkata kalau ia sangat merindukannya, padahal selama ini Rimba tidak kemana-mana. 'Foto siapa itu yang sebenarnya? Foto Rimba apa bukan sih? Apa jangan-jangan yang dikatakan Pak Marco benar?'
.
.
.
Semua tak ada yang kebetulan, semua butuh persiapan. Meskipun kita tidak menyadari bahwa persiapan yang paling dominan adalah mental.
__ADS_1