Pesona Dokter Steven

Pesona Dokter Steven
09 - Diantar pulang


__ADS_3

Air mata Rimba mengalir lagi. Ia sadar sudah keterlaluan pada lelaki di sampingnya ini. Ia sudah berkata tidak sopan pada orang yang jauh lebih tua darinya. Seandainya suasana hati gadis itu tidak sedang terpuruk, gara-gara kehilangan laptop yang harganya 15 juta hadiah ulangtahun dari Galang tahun lalu, Rimba pasti tidak akan keterlaluan seperti tadi.


"Maafin saya Pak," ucap Rimba lirih.


Hening, Steven bergeming.


"Tadi saya kehilangan uang saya di bus, dan tas ransel saya yang isinya baju, buku dan laptop belahan jiwa saya, lenyap gitu aja waktu saya ngejar bus buat nyari uang saya yang mungkin jatuh pas ngangkat telepon tadi, "Rimba bercerita sambil terisak.


Pandangannya ia arahkan keluar jendela, terlalu malu untuk sekedar beradu tatap dengan Steven. "Setelah semua kesulitan yang saya alami ini, apa masih pantas saya nerima kemarahan dari Bapak juga?" lirihnya sedikit menyalahkan sikap Steven yang sedari tadi hanya diam.


"Saya akan antar kamu pulang," ucap Steven setelah terdiam beberapa lama. Suaranya tetap datar, mengesankan kemarahan yang masih bersisa akan sikap ke kanak-kanakan calon istrinya ini.


"Saya nggak mau pulang!" tolak Rimba cepat. Meski ia tidak tahu harus pergi ke mana, Rimba hanya tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Galang jika tahu laptop pemberiannya itu raib entah kemana.


Steven menepikan mobilnya dan berhenti sejenak disana. Ia lalu menatap Rimba yang masih menghadap jendela mobil.


"Kamu kabur karena kamu nggak mau nerima lamaran saya?" tanya Steven.


Rimba perlahan memalingkan wajahnya ke arah Steven. Menatap lelaki tampan yang kini tengah menatapnya dalam. "Iya, Saya nggak mau Pak," jawab Rimba, lalu kembali menundukkan kepalanya, tak ingin melihat perubahan ekspresi Steven setelah ia menolaknya mentah-mentah.


"Apa aku terlalu jelek, atau terlalu tua untuk jadi pasangan kamu?"


"Tidak!!" sangkal Rimba cepat. ia kembali menegakkan kepalanya melirik ke arah Steven. "Hmm, maksud saya Bapak punya semua boyfriend materials yang dibutuhkan setiap perempuan. Bapak tampan, seorang dokter, dosen pengampu, berkelas, pokoknya sempurna banget. Perempuan numpang lewat aja pasti bakalan suka sama Bapak. Tapi masalahnya, saya belum mau nikah. Apalagi sama seseorang yang baru saya kenal seperti Bapak," ujar Rimba jujur, seraya mengatur irama jantungnya yang tiba-tiba saja berdegup kencang.


"Kata siapa kita baru kenal? kita sudah kenal lama," sahut Steven datar.


"Ya?" gadis itu terkejut. Rimba tak paham dengan maksud perkataan Steven barusan. Seumur hidupnya, dari kecil dia merasa tidak pernah punya kenalan atau teman berparas bule seperti Steven. Kenal dari mana? bahkan pergi ke luar negeri pun tidak pernah.

__ADS_1


"Sudahlah, mungkin kamu lupa," ujar Steven hendak kembali menjalankan mobilnya.


Rimba masih bengong, pikirannya terus berputar, berusaha mengingat masa lalunya yang jelas-jelas masih membekas, tapi tak ada sosok Steven diantara sekian banyak teman dan kenalannya. 'Aneh, salah orang nih kayaknya!' batin Rimba seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, tak mau ambil pusing.


"Kok pulang sih? saya kan tadi bilang nggak mau pulang!" protes Rimba saat mobil yang dikendarai Steven berbelok menuju arah ke rumahnya.


"Masih mau menghindari masalah?" tanya Steven masih fokus menatap ke depan dibalik kemudinya.


"Masalah terbesar saya itu anda, Pak," sahut Rimba. "Kok Bapak mau sih sama saya?" tanyanya percaya diri.


"Excuse me?!" Steven spontan melirik Rimba. "Kamu yakin saya suka sama kamu?" lelaki itu malah balik bertanya.


"Buktinya Bapak nerima-nerima aja, padahal sudah jelas dari awal hubungan kita emang salah paham," ujar Rimba berani.


"Ya, saya tau itu, alasannya simpel saja. Yang pertama, saya nggak bisa nolak keinginan Kakek, karena beliau adalah orang yang paling saya hormati. Kedua, saya single dan memang sedang mencari calon istri," ujar Steven jujur. 'Ketiga, karena memang kamu lah gadis kecil yang saya tunggu dari dulu,' kini hatinya yang bicara.


Tak terasa mobil Steven sudah sampai di halaman rumah Rimba. Tapi mereka enggan turun karena pembicaraan mereka belum tuntas.


"Apa menurut pandangan mu kalau sudah menikah itu tidak bisa mewujudkan cita-cita? menurutku itu salah. Kita sekarang hidup di jaman serba modern. Dan saya termasuk orang yang mendukung perempuan bersuami terus berkarier sesuai dengan porsinya," ujar Steven sambil menarik tuas rem tangan mobilnya setelah berhenti.


"Dan saya bukan termasuk perempuan yang terpaksa menikah dengan laki-laki yang lebih tua, yang mapan dan kaya seperti Bapak. Menurut ku itu fenomena yang berkaitan dengan mitos lawas yang mengingatkan ku tentang pangeran berkuda putih di negeri dongeng. Kisah rekaan itu berusaha mengajari perempuan untuk mencari suami yang sukses, mapan, terlebih ganteng seperti Bapak," ujar Rimba, sukses membuat Steven tersenyum samar mendengar pendapat gadis yang diyakini pernah menyelamatkan hidupnya di masa lalu.


"Oke, saya hormati pendapat kamu yang itu. Dari awal saya juga nggak ngotot minta cepat-cepat menikahi kamu. Itu semua keinginan Kakek dan Ibu Vania. Tapi tolong, ijinkan saya untuk bisa mengenalmu lebih jauh," kata Steven terlihat serius menatap Rimba.


"Bapak nembak saya?" Rimba mengernyitkan keningnya. Yang benar saja, dosen ini nembak mahasiswinya sendiri? oh, God.


"Ya," sahut Steven pendek.

__ADS_1


Rimba beberapa kali mengerjapkan matanya tak percaya. Pasalnya, baru kali ini ada laki-laki yang menyatakan cintanya tapi dengan cara muter-muter seperti ini, bahkan minta langsung ngajak nikah.


Belum sempat Rimba menjawab pernyataan cinta Steven, didepan mobil nampak Vania sudah berdiri sambil memanggil nama Rimba untuk segera turun. Kaca mobil Steven yang begitu transparan seperti aquarium itu membuat orang yang melihatnya dari luar bisa menembus ke dalam.


Rimba lantas keluar dari mobil, disambut dengan sang bunda yang siap mengomelinya, juga ada Galang yang berdiri dibelakang Vania.


"Dari mana kamu?" kata Vania judes.


Rimba kali ini terdiam, ia hanya menunduk sambil mengeratkan jas milik Steven yang tadi dipakaikannya, kedinginan.


"Sudah Bun, biarkan Rimba masuk dulu. Liat, bajunya basah kuyup gitu, pasti tadi kamu hujan-hujanan kan, Rim?" ujar Galang melirik adiknya itu.


"Iya Kak," sahut Rimba masih menunduk pasrah. Ia merasa niat kabur dari rumah itu sia-sia. Malah tambah masalah baru, karena kehilangan laptop kesayangan yang didalamnya banyak file penting dan tugas-tugas kuliahnya.


"Ya sudah, ganti baju dulu sana! habis itu kita bicara!" kata Vania tegas, lalu ia menghampiri Steven, mengucapkan terimakasih karena telah menemukan anaknya dan membawanya pulang.


Rimba pun segera ke kamarnya untuk berganti baju. Dilihatnya kursi ruang tamu yang sudah kosong. Hanya ada sisa gelas-gelas dan toples cemilan diatas meja yang belum dibereskan.


"Mereka udah pulang ternyata," gumam Rimba saat melewati ruang tamu.


Sebersit ada rasa bersalah karena sudah tidak sopan pergi begitu saja, dan membuat malu keluarga. Mungkin keluarga Steven sudah beranggapan negatif terhadap dirinya yang bar-bar. Ah, mungkin itu lebih baik. Dengan begitu kakek Steven akan berpikir dua kali untuk menikahkan cucunya dengan ku, begitu pikir Rimba.


.


.


.

__ADS_1


Yakinlah, pertemuan itu tidak akan salah tempat, tidak akan salah waktu, apalagi salah orang. Pertemuan adalah takdir, dan setiap pertemuan selalu membawa kita ke takdir yang lain.


__ADS_2