Pesona Dokter Steven

Pesona Dokter Steven
61 - Kenapa sih kamu, Rim?


__ADS_3

Mereka akhirnya terselamatkan oleh Marco yang notabene kenal dengan beberapa orang penting di kepolisian. Terlebih lagi ini hanya sebuah kesalah pahaman saja.


"Aku pikir kalian itu kecelakaan atau dibegal. Taunya terciduk," seringai Marco seusai urusan kedua sejoli itu dengan para petugas polisi selesai. Siapa yang yang tak kenal adik ipar Steven itu, Marco Apta Daniswara. Pengusaha muda yang cukup sukses seantero negeri ini.


"Ini bukan terciduk namanya, tapi salah paham!" sangkal Steven tak terima.


"Ya...ya... apapun itu namanya, tapi kalo Kakek sampe tau bakal jadi tabligh akbar. Aku dan Mitha yang akan kena imbasnya juga," sahut Marco.


"Tapi kakek nggak tau masalah ini kan Kak Marco?" tanya Rimba jadi rada khawatir. Kakek mertuanya itu bisa syok kalau tau mereka terciduk polisi.


"Jam segini udah pada tidur. Kalian tenang saja, Kakek maupun Mitha nggak ada yang tau kalo aku pergi ngurusin masalah aib kaya gini," ujar Marco lalu beranjak hendak pergi. "Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini," ajaknya.


"Hey! apa kau bilang? AIB?" sangkal Steven tak terima. "Yang benar saja!" lelaki itu lantas mendengus melihat sikap Marco yang tak memperdulikan ocehannya.


"Sudahlah, ayo pergi!" sahut Rimba seraya menggandeng lengan suaminya dan membawanya untuk segera masuk ke dalam mobil.


Mereka akhirnya membubarkan diri. Marco meluncur kembali ke rumahnya, dan Steven pun melanjutkan perjalanan pulangnya bersama Rimba.


"Besok kita harus segera ngurus kartu keluarga yang baru biar kejadian kaya gini nggak keulang," ucap Rimba selama diperjalanan.


"Nanti aku suruh orang buat ngurus kepindahanmu," sahut Steven.


Rimba langsung mendongak, "Kalo gitu berarti aku akan dicoret dari kartu keluarga bunda ya?" tanyanya konyol.


"Iya lah, namanya juga pindah domisili," sahut Steven tanpa mengalihkan pandangannya untuk tetap fokus ke depan dibalik kemudi.


Rimba tertunduk diam. Entah kenapa ia jadi merasa sedih membayangkan nama dirinya bakal dicoret dari kartu keluarga milik Vania.


"Kok sedih?" kali ini Steven terpaksa melirik istrinya yang masih menunduk sambil memainkan gantungan tali tasnya.


Rimba mendesah halus, "Nggak apa-apa," gumamnya lalu memalingkan wajah ke arah samping kirinya.


"Mood kamu hari ini nggak bagus banget. Ini bukan Rimba yang selama ini aku kenal lho. Kamu lagi PMS ya?" tanya Steven sok tahu.


"Hah?" Rimba langsung menatap suaminya. "Nggak tuh, mens ku masih sekitar 2 mingguan lagi kok," ucapnya begitu yakin.


"Oh, oke. Aman dong ya?" gumam lelaki itu tersenyum penuh arti.


"Maksudnya?" Rimba mengernyit bingung menatap suaminya yang tengah memutar stir hendak berbelok, masuk ke dalam halaman rumahnya.


Nampak Steven tak menggubris pertanyaan Rimba. "Akhirnya kita nyampe. Perjalanan malam ini dari rumah bunda rasanya jauh banget, satu jam lebih lho," ucapnya sambil menghela napasnya, merasa lega.


"Ih kok nggak jawab sih?" Rimba berdecak kesal karena pertanyaan terakhirnya diabaikan.


"Udah, ayo turun! kamu cepet istirahat sayang, besok kuliah kan?" ajak Steven lantas keluar dari mobilnya lebih dulu. Rimba pun akhirnya menyusulnya masuk.

__ADS_1


.


"Ganti baju dan bersih-bersih!" ujar Steven setelah dirinya baru saja keluar dari kamar mandi.


Rimba pun menurut, ia segera membersihkan dirinya lalu berganti pakaian.


Sebelum keduanya memejamkan mata, mereka sejenak mengenang kembali kisah unik yang pernah mereka alami bersama. Ternyata Tuhan punya cara-Nya yang unik untuk mempertemukan seseorang dengan belahan jiwa dan jodohnya. Setiap orang pun tentu memiliki cerita tersendiri dalam menemukan cintanya. Begitu juga Rimba dan Steven. Kalau bukan karena salah paham sang Kakek mungkin akan lain ceritanya.


"Kenapa kita selalu terciduk oleh kesalahpahaman ya? dosa apa kita dimasa lalu?" kata Rimba sambil menyelusupkan kepalanya didada Steven.


"Kamu nyesel karena itu?"


"Ya?" Rimba mendongak, lalu menggeleng. "Kenapa harus nyesel? malah aku bersyukur, dengan ketemu kamu masa lalu aku jadi terungkap," sahutnya.


Steven hanya balas tersenyum, kemudian mengecup kening Rimba begitu sayang. Badannya yang tinggi besar itu lalu memeluk tubuh mungil istrinya.


"Tapi saat ini ada yang jadi beban pikiran ku," gumam Rimba masih dalam rengkuhan sang suami.


"Apa?" tanya Steven tanpa melepaskan pelukannya.


"Apa maksud Rimiko ingin tinggal bersama bunda? apa dia ingin mengambil posisiku dan menjadi Rimba kembali?"


"Jangan terlalu jauh berpikir, wife. Be positive aja, mungkin dia hanya ingin tinggal sebentar. Walau bagaimanapun Rimiko pernah tinggal dirumah itu bersama bunda," jawab Steven nampak tenang.


"Tapi kenapa sikapnya begitu dingin sama aku?" Rimba kembali mendongak menatap manik mata Steven.


"Nggak gitu Steve---"


"Stop ya Wife!" Steven langsung memotong pembicaraan Rimba. "Jangan banyak menduga-duga. Biarkan hidup ngalir apa adanya, let it flow. Kamu ada aku, oke?!" ucapnya berusaha meyakinkan Istrinya. Berharap Rimba berhenti membicarakan hal-hal yang menurutnya absurd.


Rimba lalu bangkit dari posisi rebahan diatas tubuh suaminya, ditatapnya wajah Steven. "Oke, kalo gitu aku personifikasikan hidupku seperti arus yang mengalir. Arus kehidupan yang menyertai perjalanan hidup. Arus itulah yang membawa ku perlahan, cepat atau bahkan kadang berhenti di suatu tempat dalam menuju delta akhir kehidupan. Tapi pernah nggak kamu bertanya, lalu siapa aku yang harus di analogikan dalam arus tersebut? apakah sehelai daun tak berdaya yang akan mengikuti arus tersebut kemanapun? terombang-ambing tanpa daya mengubah kemudi sedikit pun dan hanya jadi penonton setiap benda lain bergerak ke tempat mereka masing-masing? jujur saja, aku lebih menyukai menganalogikan diriku sebagai pemegang kemudi dalam kapal yang aku tumpangi saat ini."


Steven tertegun mendengar ucapan Rimba yang panjang lebar tapi sedikit ngawur. Lelaki itu lantas ikut bangkit dari posisinya. Kini mereka duduk berhadapan diatas ranjangnya.


"Hey, cara berfikir kamu itu berlebihan Rim. Terlalu jauh, aku nggak ngerti arah pembicaraan mu kemana," ujar Steven.


"Maksudku apa kamu akan membiarkan Rimiko perlahan menghancurkanku dan aku hanya diam mengikuti arus air begitu?"


"For God sake, Rimba! kita nggak bisa menilai tentang Rimiko secepat itu." sahut Steven.


"Jadi kamu dukung sikap dia ke aku?"


"No! maksudku nggak gitu. Ayolah, sebaiknya kita istirahat, oke! besok kita bahas lagi."


"Kamu tidur duluan aja!" sahut Rimba sambil bergegas turun dari ranjang. Wajahnya terlihat begitu kesal.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" cegah Steven.


"Aku bosan, mau nonton tv," sahut Rimba.


"Ini sudah malam Rim, bukannya besok kamu ada kuliah pagi? ayo tidur!" titah Steven sedikit keras menyikapi sikap istrinya yang mulai sulit dikendalikan. "Mau nurut apa enggak!!" ucapnya.


Rimba sejenak menghela napasnya. Memutar kembali langkahnya dan naik kembali ke atas tempat tidur. "Oke, aku tidur!" ucapnya dengan bibir sedikit dimonyongkan dan membuat gemas suaminya saja.


Baru 10 menit mereka memejamkan mata, tiba-tiba ponsel Steven bergetar diatas nakas. Keduanya kembali terbangun.


Nama Marco tertera di layar ponsel milik Steven. Ia lantas segera menggeser icon berwarna hijau untuk menjawab panggilan dari adik iparnya itu.


"Ha---"


'Cepat kemari! kakek kesakitan,' potong Marco diseberang sana terdengar panik.


"What?? kakek kenapa?"


'Ku bilang cepat kemari! no debat oke, urgent!'


"O-oke"


Steven terlihat panik dengan tangan yang entah kenapa tiba-tiba menjadi dingin dan gemetaran.


"Kenapa sama Kakek?" tanya Rimba ikut panik.


"Kakek sakit, aku harus segera pergi," sahut Steven sambil menyambar jaketnya yang tergantung dilemari.


"Aku ikut!" Rimba ikut bangkit dan bergegas mengganti pakaiannya karena tidak mungkin ia pergi dengan mengenakan gaun tidur diatas lutut bertali spaghetti.


"Cepatlah! aku tunggu didepan."


.


.


.


Waktu dan kondisi berubah begitu cepat sehingga kita harus menjaga tujuan kita agar terus fokus pada masa depan.


_________________________________


**Lama banget sih othornya tidak UP, kemana?


**Maaf, kemarin akunya sakit, butuh istirahat dan pemulihan secara total. Alhamdulillah hasil SWAB-nya negatif.

__ADS_1


Semoga kita semua selalu diberi kesehatan ya ☺️🤲🏻💪


__ADS_2