
"Gimana? mau lanjut jalan-jalannya atau kita balik ke hotel?" tanya Steven setelah Rimba mulai tenang didalam mobil.
"Entahlah, kepalaku jadi pusing," gumam Rimba seraya memijat keningnya sendiri.
"Kenapa tadi kamu berpikir kalo bangunan itu akan runtuh?" tanya Steven mulai menggali ingatan Rimba yang sepertinya perlahan mulai ingat.
"Entahlah. Aku ngerasa pernah ngalamin aja. Dejavu kali ya," gumam Rimba.
"Dejavu gimana?"
"Iya, aku kaya pernah ngalamin kaya tadi. Ada benda yang jatuh dari atas hampir mengenai kepala, setelah itu tiba-tiba ada suara gemuruh disertai guncangan seperti gempa. Lalu semuanya jadi gelap," ucap Rimba seraya memejamkan kedua matanya. "Bikin aku jadi pusing," gumamnya.
"Kalau gitu sebaiknya kita balik ke hotel, istirahat. Semalam jam tidur kamu itu kurang Rim," ujar Steven lalu meminta Pak Wiro untuk mengantarnya kembali ke hotel. Steven merasa ingatan masa kecil Rimba mulai muncul seiring dengan kejadian yang tak sengaja mirip dengan kejadian masa lalu dulu.
"Tapi aku bosen kalo di hotel terus. Kita ke tempat yang deket-deket aja gimana?" kata Rimba masih tak rela bila tidak menghabiskan waktu yang singkat ini di Jogyakarta untuk jalan-jalan.
"Ini cuacanya makin panas Rim, tambah pusing lho nanti," kata Steven, namun malah diabaikan Rimba.
"Pak Wiro, kira-kira kemana ya tempat yang bagus dikunjungi tapi indoor," tanya Rimba pada Pak Wiro yang duduk dibalik kemudi.
"Banyak Mbak. Ada keraton, museum-museum, atau ke taman budaya. Kebetulan disana sedang ada pameran lukisan se-Asia tenggara hingga esok lusa. Mungkin mbak Rimba suka dengan lukisan barangkali?" ujar Pak Wiro.
"Oh boleh tuh Pak, kita ke sana aja deh. Aku suka liat-liat lukisan," kata Rimba kembali semangat.
"Beneran kamu nggak apa-apa?" kata Steven merangkul bahu istrinya.
"Nggak apa-apa, cuma pusing dikit. Kali aja setelah liat-liat lukisan pusingnya jadi ilang," ucap Rimba tertawa.
"Oke," Steven mengangguk sambil tersenyum, lalu membawa kepala Rimba agar bersandar di bahunya.
Akhirnya Pak Wiro mengantar mereka ke taman budaya Yogyakarta.
Mereka tengah melihat karya seni lukisan dari beberapa seniman lokal maupun mancanegara. Namun mereka tidak tahu bahwa disana juga ada Rimiko. Dia salah satu pelukis yang hasil karyanya dipajang dipameran ini. Selain berprofesi sebagai model, Rimiko juga memiliki bakat lain yakni sebagai pelukis muda asal Jepang yang cukup dikenal.
"Rimiko?" gumam Steven saat melihat salah satu nama pelukis yang terpampang dibawah salah satu lukisan yang ia lihat.
"Toiletnya disebelah mana ya?" Rimba malah celingak-celinguk ke setiap sudut ruangan.
"Kamu mau ke toilet?" Steven malah balik bertanya, dan Rimba hanya membalasnya dengan anggukan. "Dipintu masuk depan kamu tengok ke sebelah kiri. Tadi kulihat ada tulisan arah ke toilet disitu," ucapnya.
"Oya? kamu liat emang?"
__ADS_1
"Kalo aku nggak liat ngapain juga aku ngasih tau. Udah buruan sana! tinggal nanya petugas didepan sana kalo bingung," kata Steven.
"Oke, kamu tunggu dan jangan kemana-mana dulu!" ujar Rimba segera berbalik ke arah pintu masuk tadi dengan langkah lebarnya.
Steven masih setia menunggu Rimba seraya melihat-lihat lukisan yang tak begitu jauh dari tempat semula ia berdiri.
.
Tak sadar sepasang mata tengah menatapnya dari kejauhan. Gadis kembaran istrinya itu sepertinya menaruh harapan pada Steven. Ia berjalan mendekat seraya mengembangkan senyum terbaiknya, berusaha memikat suami Rimba tersebut. Dalam hatinya mulai timbul rasa tak rela lelaki semenarik Steven berakhir pada gadis biasa-biasa saja yang merupakan saudara kembarnya sendiri.
"Mikir apa sih kamu Rimiko!' desis Rimiko mengkritik pikirannya sendiri yang mulai tamak. Bolehkah ia bersikap murahan dengan mengharap cinta lelaki yang hatinya sudah dimiliki orang lain?
"Hai," sapa Rimiko ketika sudah berdiri disamping Steven yang setengah terperanjat kaget oleh kedatangannya. "Sudah merasa baikkan?" tanyanya kemudian.
"Ya?" Steven kurang fokus.
"Semalam anda mabuk," ucap Rimiko kembali mengingatkannya.
"Ooh," sahut Steven pendek.
"Terima kasih sudah berkunjung. By the way kemana istri anda? tidak ikut kah?" tanya Rimiko mengedarkan pandangannya.
"Heh?" baru kali ini Steven seperti orang bodoh yang kebingungan sendiri. Kenapa Rimiko sok akrab begini? padahal jelas Steven tidak mengenalnya dengan baik.
"Kapan kita pertama bertemu?" pancing Steven seraya menaikkan sebelah alisnya, menatap tajam.
"Waktu kita sama-sama terjebak dipuing-puing bangunan kan? kau tidak ingat?" kata Rimiko begitu tenang.
Steven menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak! itu bukan kamu," ucapnya.
Rimiko malah menghela napasnya. "Oke, saya mengerti," ucapnya seperti enggan membahasnya lagi. "Well, menurut anda bagaimana lukisan saya?" tanyanya
"Hhmm, lukisan anda sangat indah, nona Rimiko," ucap Steven, dan memang nyatanya lukisan-lukisan perempuan itu memang patut diacungi jempol.
"Thank you," balas Rimiko ramah, "Sudah semua melihat hasil karya ku yang lain?" tanyanya.
Steven tak menjawab. Diabaikannya Rimiko yang menanyainya. Ia nampak lebih fokus menatap satu karya lukis bergambar danau dengan hanya satu pohon beranting tapi tak berdaun ditepinya. Serta ada dua anak manusia yang tengah berdiri, seraya memandangi bayangannya sendiri diatas air danau tersebut. Satu interpretasi dari lukisan Rimiko ketika bertemu dengan Steven pertama kalinya. Kala itu Steven mengira dia adalah gadis kecil yang sama saat keduanya terjebak direruntuhan bangunan.
"Kamu ingat itu?" tanya Rimiko penuh rasa kenangan. "sederhana tapi sarat makna bukan? kamu selalu ada disini," ucapnya seraya menunjuk ke dadanya sendiri.
Steven masih diam. Lelaki itu malah memilih berpindah ke lukisan karya orang lain. Suasana hatinya sedang tak baik. Rasa cintanya kepada Rimba. Ya, adanya Rimiko yang justru entah mengapa kini mulai mengusik pikirannya, dan justru membuat rasa cintanya untuk Rimba malah semakin bertambah. Ia hanya takut Rimba akan segera mengetahui yang sebenarnya, dan malah akan membuat istrinya itu bersedih serta kecewa dengan kenyataan yang ada.
__ADS_1
"Ini karyanya Kohsoom dari Thailand, dibuat pakai tangan kiri karena dia itu kidal. Tangan kanannya juga tidak berfungsi normal," terang Rimiko fasih, memberi informasi kepada Steven yang kini tengah memandangi lukisan yang dipajang disebelah lukisan karya dirinya.
Steven hanya mengangguk pelan tanpa memandang Rimiko sedikit pun.
"Apa betul Sean itu adik anda?" tanya Rimiko melenceng.
"Ya," sahut Steven pendek.
"Saya sudah tau semuanya dari Sean tentang anda, dan tentang istri anda dari ibu saya."
Kali ini Steven reflek memalingkan wajahnya, berani menatap Rimiko karena cukup terkejut dengan pengakuan perempuan itu barusan. Tapi dia masih diam membisu. Steven masih memilih mode diamnya.
"By the way, kenapa semalam anda sampai mabuk seperti itu? apa ada masalah?" tanya Rimiko seraya mengusap lengan Steven dengan lancangnya, dan langsung ditepis Steven tanpa berkata.
Rimiko malah tersenyum. "Jangan mabuk lagi seperti itu, karena itu merepotkan orang lain!" nasehat Rimiko tulus. Bagaimanapun ia tidak bisa menghindar untuk tidak jatuh hati pada sosok cinta pertamanya itu. Baginya, Steven adalah godaan terbesar bagi standart tipe sosok lelaki idaman yang selama ini dipatoknya.
"Itu tidak akan terjadi lagi," gumam Steven masih tampak tak peduli, tapi kali ini ia menanggapinya dengan sebuah jawaban. "Pikirkan saja diri anda sendiri nona Rimiko, jangan terlibat terlalu jauh dengan saya. Ada Rimba yang akan mengurus saya," Steven terdiam sebentar setelah melontarkan kalimat dingin dan datarnya. Matanya tajam menatap gambar didepannya. "Permisi!" pamitnya seakan tidak ingin Rimiko menguntit langkahnya lagi.
"Tunggu! ada yang perlu saya bicarakan," cegah Rimiko, dan Steven terpaksa menghentikan langkahnya sejenak. Bersamaan dengan itu,
"Steve, kamu---" tiba-tiba Rimba datang dari arah belakang Rimiko. Sontak membuat Rimiko membalikkan badannya. "Lho?" Rimba tertegun. Kedua matanya mengerjap beberapa kali. 'Ini versi gue dalam mode cantik,' batinnya setengah takjub. Rimba sama sekali tidak curiga apapun. Sungguh polos perempuan ini.
"Kamu lama sekali ke toiletnya?" gumam Steven mendekati Rimba lalu dengan sengaja merangkul pundaknya.
"Kayanya aku salah makan deh," bisik Rimba sambil memegangi perutnya. "Lemes aku tuh," keluhnya jadi tidak fokus dengan sekitarnya.
"Kebanyakan makan nasi gudeg kamu sih. Segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik," balas Steve. "Sebaiknya kita kembali ke hotel, aku obatin sakit perut kamu, ayo!" ajaknya.
Rimba kali ini menurut saat tangan Steven mulai menariknya untuk pergi, namun sesaat tatapannya bersiborok dengan Rimiko yang tengah menatapnya sedari tadi. Rimba hanya bisa tersenyum seraya menganggukkan kepalanya tanda permisi.
Seakan dibuang, Rimiko mematung ditempatnya sendiri. Ia menatap nanar langkah gagah Steven yang menjauh tanpa menolehnya lagi sama sekali. Tak peduli dengan sikap dingin yang seakan menyembur jantungnya, Rimiko justru jatuh dalam pesona lelaki itu. Hatinya bak ditarik keluar oleh Steven, Rimiko jatuh cinta.
.
.
.
Lucu sekali bagaimana kamu bisa menghancurkan hatimu, dan kamu masih bisa mencintai dirinya dengan semua kepingan kecil yang masih tersisa.
-------------------------------
__ADS_1
Mohon maaf ya akhir-akhir ini aku slow up nih. Masih sibuk 😁 maklum mendekati hari raya jadi banyak urusan dulu 🙏🤗