Pesona Dokter Steven

Pesona Dokter Steven
66 - Terlalu larut


__ADS_3

Setelah hampir 2 Minggu kepergian sang kakek, Steven masih terlihat berduka. Laki-laki itu lebih sering menyendiri diruang kerja rumahnya dan sedikit bicara. Duka yang mendalam tengah dialaminya, bahkan mungkin telah menyebabkan tekanan psikis hingga mengubah kondisi kesehatannya baik secara biologis dan patologis.


Dalam kasus di mana kematian tidak terduga, seperti karena penyakit akut yang dialami kakek Hermawan membuat Steven saat ini berada dalam fase penolakan dan kemarahan dari kehilangan untuk jangka waktu tertentu.


Rimba pun merasa serba salah juga tak berani lagi mengganggunya setelah kemarin dibentak Steven saat masuk ke ruang kerja suaminya itu tanpa permisi. Padahal hanya untuk membawakan makanan ringan dan teh hijau untuknya.


"aku berangkat dulu."


Pamit Steven tiba-tiba, membuyarkan lamunan Rimba yang tengah duduk di sofa ruang keluarga dengan kondisi tv menyala namun tidak ada yang menontonnya.


"Ya?" Rimba terperanjat dan langsung berdiri mengejar Suaminya yang telah berjalan cepat menuju pintu keluar. "bukannya kamu masih cuti?" tanyanya.


"cutiku hanya seminggu," sahut Steven tanpa menoleh ke arah istrinya. "oke, see ya!" tambahnya kali ini melirik Rimba, lantas Lelaki itu masuk ke dalam mobilnya yang terparkir didepan rumah. tak lama sosoknya hilang bersama mobilnya tersebut membelah jalanan di tengah teriknya matahari jam 1 siang.


Rimba masih berdiri diambang pintu, matanya masih tertuju ke arah jalan komplek rumah sisa bayangan suaminya pergi barusan.


Sebersit hatinya sedikit terluka melihat sikap Steven yang banyak diam dan tak banyak menyapanya. bahkan tadi, Steven yang biasanya mengecup kening Rimba saat hendak berangkat kerja pun tak lagi dilakukannya.


Rimba berusaha untuk tidak over thinking, dia harus paham dengan kondisi Steven yang saat ini masih berduka akan kepergian sang kakek yang teramat disayanginya itu. Siapa yang tidak sedih dan tidak berduka? meski Rimba baru mengenal sosok kakek Hermawan beberapa bulan lalu, tapi Rimba pun sama begitu sangat kehilangan sang kakek yang secara tak langsung telah menyatukan dirinya dan Steven.


**


Sesampainya di rumahsakit Steven banyak menerima ucapan belasungkawa dari teman sejawatnya yang waktu itu tidak bisa datang ke rumah duka, karena jenazah sang kakek yang langsung diterbangkan ke Pangandaran untuk dimakamkan di tanah kelahirannya tersebut.


"I understand and can feel your sadness. may the path to God's side be filled with peace,"


(Saya mengerti dan dapat merasakan kesedihanmu, Steve. Semoga jalan kakekmu menuju sisi Tuhan penuh kedamaian). Ucap dokter Marissa yang merupakan kawan terdekatnya dilingkungan tempat kerjanya.


"Yeah, thanks" sahut Steven tersenyum. Sang kakek adalah orang yang baik dan taat beribadah, Steven yakin kakeknya kini telah berada ditempat terindah yang dimuliakan oleh Tuhan. Tapi kenapa dirinya masih belum menerima takdir ini? Ya, karena Steven sering kali ditinggal orang-orang yang disayanginya secara tiba-tiba. Mulai dari neneknya yang di Polandia, ayahnya yang meninggal di Amerika, bahkan ibunya yang belum sempat ia temui seumur hidupnya hanya bisa Steven lihat melalui batu nisan saja.


"Oke, welcome back Steve. Semangat!!!" ucap Dokter obgyn itu memberi spirit kepadanya.


"Oke," sahut Steven lagi-lagi mengembangkan senyuman manisnya hingga Marissa menghilang dari balik pintu ruangan itu.

__ADS_1


Steven memutuskan untuk keluar dari kesedihannya sejenak. ia harus tetap profesional dengan pekerjaan apalagi ini menyangkut tentang keselamatan dan kesehatan pasien yang berikhtiar berobat kepadanya.


Jam menunjukkan pukul 20:15. Steven pun memutuskan untuk pulang setelah jam prakteknya selesai satu jam yang lalu.


Saat melewati ruang admisi, sekilas ia melihat wajah istrinya disana. Tapi begitu menghampirinya segera Steven sadar bahwa perempuan itu adalah Rimiko.


"Steve," lirih Rimiko begitu mengetahui Steven datang mendekatinya.


"kamu sedang apa?" tanya Steven menatap curiga.


"Bunda-"


"Kenapa bunda?" potong Steven cepat.


"Tadi bunda jatuh di toilet lalu tak sadarkan diri."


"What?" Steven terbelalak dan terkejut. Belum sembuh kesedihannya haruskah kembali ada kabar buruk seperti ini?


Rimiko akhirnya menjelaskan kronologi tentang Vania yang terpaksa harus rawat inap di rumah sakit ini.


"yang penting sekarang kondisi bunda membaik," sahut Steven dan hanya membalas anggukan dari Rimiko.


Steven pun segera menemui ibu mertuanya itu setelah Rimiko selesai mengurus semua administrasi rawat inap.


Tampak diruangan VIP 01 itu Vania tengah terbaring lemah. Disisi kanan ranjangnya ada Galang yang tengah mengupas jeruk untuk ibundanya.


"Steve," sapa Vania begitu melihat Steven dan Rimiko masuk berbarengan. Vania ingin mengubah posisi tidurnya menjadi bangun namun ditahan oleh Galang.


"tiduran aja Bun, kan masih pusing," katanya.


tanpa banyak protes Vania pun menurut saja. "kamu kesini sama Rimba?" tanyanya seraya mengedarkan pandangannya.


Steven menggeleng, "Gimana kondisi bunda? ada keluhan?" tanyanya khawatir.

__ADS_1


"Bunda nggak apa-apa kok, bunda hanya kecapean aja," jawab Vania.


"Kecapean, telat makan, kurang tidur, nah itu yang akhirnya bikin bunda tumbang kan, tensinya langsung naik 180/100" ucap Galang ikut menyahuti. Vania hanya bisa melirik anaknya itu tanpa berkomentar. Ia mengakui semua yang diucapkan Galang itu benar. Sekembalinya dari Pangandaran untuk mengantar kakek Hermawan ke peristirahatan terakhirnya memang membuat Vania kelelahan. Ditambah nafsu makannya yang tiba-tiba hilang membuat kondisi tubuhnya semakin lemah.


"Tensi darah terakhir berapa?" tanya Steven.


"Barusan suster bilang mulai turun ke 140," jawab Galang.


Steven mengangguk-angguk, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah Vania. "Bunda harus istirahat yang cukup ya dan makan yang teratur," katanya.


"Iya Steve, kamu juga," jawab Vania. "Oya, kamu jangan bilang Rimba bunda disini ya, kasian dia masih cape. ditambah besok dia mulai ujian semester kan?" ucapnya lagi.


Steven hanya membalasnya dengan anggukan. Dalam benaknya ia tersadar kalau akhir-akhir ini dirinya kurang memperhatikan Rimba. Bahkan hari ini pun ia tidak tahu kabar istrinya. Kuliah jam berapa, pulang jam berapa, sudah makan atau belum. Ah, Steven benar-benar mengabaikannya.


"Ya sudah sekarang mending kamu pulang Steve! kasihan seharian Rimba nunggu dirumah," pinta Vania.


"Seharian? mungkin Rimba juga baru pulang dari kampus. Setiap hari Rabu biasa jadwalnya hingga sore Bun," terang Steven.


"Berarti kamu tidak tahu ya kalau Istri kamu hari ini lagi off? she didn't go to campus," kali ini Rimiko yang bicara.


"Hah?" Steven mengerutkan keningnya.


"Iya Steve, Ellena bilang hari ini off karena besok mulai memasuki ujian semester," jelas Galang. "tadi pagi Ellena datang ke rumah mengambil barangnya yang masih tertinggal."


Oh my God, Steven benar-benar melupakan banyak hal tentang istrinya. Ia merasa sangat menyesal karena terlalu larut dalam kesedihannya sendiri dengan mengabaikan perempuan yang nyatanya paling penting dalam hidupnya saat ini.


Tak lama kemudian Steven pun segera berpamit pulang. tak lupa ia berpesan kepada Galang untuk segera menghubunginya jika terjadi apa-apa atau membutuhkan sesuatu.


.


.


.

__ADS_1


Tak ada yang muncul setelah kegelapan selain cahaya, tak ada yang muncul setelah kesedihan selain kegembiraan.


__ADS_2