
"Udah? segitu aja?" tanya Steven menoleh Rimba saat gadis itu sudah berdiri dihadapannya sambil membawa paper bag belanjaan.
Anggukan mantap Rimba berikan seraya memberikan kembali dompet berisi isinya kepada suaminya tersebut.
"Kartunya udah kamu bawa kan?" tanya Steven berdiri dari duduknya.
Rimba menggeleng sebagai jawaban.
"Lho, saya kan bilang kartunya bawa aja. Itu buat kamu," kata Steve hendak mengeluarkan kartu itu lagi dari dalam dompet, namun Rimba segera mencegahnya.
"Nggak usah! saya belum perlu apa-apa kok. Lagipula utang saya ke kamu yang 4 juta gimana?" ujar Rimba lirih.
"Astaga, saya hampir lupa kamu masih punya utang itu ya," jawab Steven tersenyum miring meremehkan.
"Jadi masih berlaku?" gumam Rimba.
"Oh masih dong, utang itu kan sebelum kita nikah, jadi tetep harus kamu bayar."
"Perhitungan sekali!" gumam Rimba lalu mengerucutkan bibir mungilnya itu ke depan.
Steven yang melihatnya hanya mampu mengulum senyum, menggemaskan sekali istrinya itu, padahal ia hanya berniat mengerjainya saja.
"Kemana lagi nih?" tanya Rimba kemudian.
"Makan siang," ucap Steven irit, langsung ke arah parkir tanpa menunggu langkah Rimba yang sudah pasti tertinggal jauh dari langkah lebarnya.
"Hey Om! punya kaki panjang itu harus toleran sama orang mungil kayak saya!" protes Rimba begitu masuk ke dalam mobil dengan sambutan tatapan dingin dari Steven.
"Om?" ulang Steven memiringkan kepalanya menatap Rimba. "Salah saya kerena punya kaki panjang? kaki kamu yang pendek," balas Steven sengit, tak terima lagi-lagi Rimba memanggilnya dengan sebutan Om kalau dia sedang kesal padanya.
"Nggak boleh body shaming ya Kak! saya tuntut nanti!" ancam Rimba mengomel.
"Coba aja kalo berani, nanti kamu yang rugi lho," Steven mengulum senyum, lantas menyeringai menggemaskan.
Rimba yang awalnya kesal entah kenapa tiba-tiba luluh dengan seringai Steven yang meluluh lantahkan benteng egonya, sungguh mempesona.
"Kalo saya pendek kenapa Kak Steve mau sama saya? yang saya tau tipikal kaya Kak Steve ini harusnya yang sexy, tinggi, bohay. kaya Emma Roberts, atau Amber Heard barangkali yang seumuran?" ucap Rimba dengan nada sinisnya.
Steven tertegun, ia sendiri kebingungan menjawab. Namun jika ia boleh jujur, Steven akan tegas menyangkalnya. Jika hal seperti itu menjadi indikasi lelaki dalam membina hubungan, Steven bisa jatuh cinta pada perempuan lain yang lebih segalanya dari Rimba. Namun kenyataannya, justru ia terjebak dalam pesona Rimba yang imut dan menggemaskan ini.
__ADS_1
Steven menggeleng pelan, "Saya enggak suka mereka, jangan pukul rata dan samain semua laki-laki tipikal kaya saya menurut versi kamu seperti itu," desisnya lirih.
"So tipe cewek kayak apa yang sebenarnya kak Steve idolakan? cantik, pinter, elegan, feminim, seksi, begitu?" Rimba bertanya serius.
"Kalo saya, ukuran yang dipunyai perempuan tukang protes, cerewet, tomboi yang nabrak mobil saya waktu itu. Bukan minta maaf tapi malah marah-marah minta ganti rugi, padahal udah jelas yang salah siapa," jawab Steven serius, lantas membuang pandangan.
Wajah Rimba bersemu merah muda, apalagi mendengar Steven yang menjawabnya dengan suara serius dan meyakinkan itu. Ia malu dan tersipu secara bersamaan, melayang.
"Kak Steve ngeprank saya? Nyindir karena saya masih punya utang 4 juta itu?" tuduh Rimba masih dengan wajah yang bersemu merah.
Steven mengulum senyum. Puas sekali ia memergoki Rimba dengan wajah Semerah tomat itu. Ingin rasanya ia menangkup kedua pipi menggemaskan Rimba dan mengacak rambutnya lalu menciumnya. Tapi Steven menahan diri sekuat tenaga karena ini masih ditempat umum, dan kaca mobilnya pun tembus pandang.
Tak menanggapi, Steven memilih untuk mulai melajukan mobilnya. Namun belum sempat mobilnya bergerak, seseorang mengetuk jendela disamping Rimba.
"Gery!" seru Rimba takjub, tak menyangka akan bertemu dengan teman kecilnya yang sekarang tengah kuliah di Bandung.
"Nggak nyangka ini beneran Lo Rim!" balas Gery sumringah.
"Lo lagi di Jakarta, Ger? mana motor gue, baik-baik aja kan dia? awas aja kalo Lo jual!" cerca Rimba malah menanyakan kabar motornya yang dijual pada Gery waktu itu.
Lelaki itu mengangguk, "ada tuh di parkiran. Lo tenang aja, motor Lo gue jaga sepenuh hati," sahutnya. "Oya, Babeh bilang katanya Lo baru nikah ya kemarin? buru-buru amat," tanyanya lantas merubah arah tatapannya pada Steven yang memandang lurus ke depan, tak peduli. Dari penampilan Steven yang khas metroseksual kelas atas itu, Gery langsung curiga. Kenapa Rimba bisa terjerat Om bule macam dia? apa dia kaya? pengusaha? sejak kapan teman kecilnya ini berubah jadi matre? begitu pertanyaan Gery dalam hati.
"Ah iya, kenalin nih Kak, ini teman kecil aku, Gery. dia anak pak RW dirumah Bunda," ujar Rimba lalu mengenalkan Gery pada Steven.
"Hai!" sapa Steven irit, meliriknya sebentar. Gery pun hanya membalas sapaan hai juga pada suami Rimba.
"Oke, kalau gitu gue masuk dulu ya, ada yang mau gue beli soalnya. Kapan-kapan kita ngobrol via chat ok, ada yang mau gue tanyain," gumam Gery sambil berbisik, kemudian berpamit pergi.
Rimba pun hanya balas mengangguk sambil tersenyum ramah. "Oke."
"Teman kecil dari usia berapa tahun?" tanya Steven setelah melihat teman kecil Rimba itu sudah benar-benar menjauh pergi. "Jadi dia yang beli motor kamu waktu itu?" tambahnya.
"Iya, kebetulan Gery lagi nyari motor buat sarana transportasi nya di Bandung."
"Kuliah di Bandung?" terka Steven.
Rimba mengangguk mantap. "Balik ke Jakarta kalo akhir pekan aja," ucapnya. "Saya temenan sama dia dari kecil, dari jaman sekolah TK dulu kita barengan. Sering main bareng gitu. Pokoknya aku sama dia kemana-mana selalu berdua deh," kenang Rimba.
"Usia masa TK itu 5 tahun ya? tapi kamu masih ingat?" tanya Steven penasaran.
__ADS_1
"Iya lah inget," sahut Rimba. "Eh tapi---" Rimba tak melanjutkan kalimatnya. Ia ingat dengan foto dirinya didompet milik suaminya tadi.
"Kenapa?"
"Kok di dompet tadi saya liat ada foto kita berdua ya? itu editan?" tanya Rimba nampak sangat penasaran.
"Asli, bener kamu nggak inget? usia kamu diatas 5 tahun lho itu," sahut Steven.
Rimba menggeleng, "Saya nggak tau, rasanya samar gitu," ucapnya meragukan.
Steven tertawa meledek, "Mungkin karena kenangan kita nggak membekas di hati kamu. Tidak seperti si Gery Spongebob mu itu kan?" sindirnya pelik.
Rimba melirik sinis.
"Kok natap saya segitunya, kenapa?" Steven berhenti tersenyum, wajahnya berubah serius.
"Nggak! kepikiran aja sama siput peliharaannya Spongebob," Rimba mengulum senyum, segera mengalihkan pandangannya. Hati dan pikirannya masih terus berusaha mengingat masa lalu yang katanya pernah bertemu dengan lelaki disampingnya itu.
"Kita mau makan apa by the way?" tanya Steven mulai menjalankan mobilnya, keluar dari area parkiran.
"Bebas, yang penting kenyang dan nggak ribet ngantri," sahut Rimba sekenanya.
"Siap Nyonya Steve."
Rimba langsung melirik suaminya, rona merah diwajahnya kembali merona. Apa itu tandanya Rimba mulai menyukai Steven?
.
.
.
Witing Tresno Jalaran Soko Kulino.
---------------------------
Jangan lupa dukung terus dengan like, komen and Vote-nya ya tsay 🤗
Slow up ya, lagi ada acara keluarga 🙏🥰
__ADS_1