
Usai menyantap sarapan, Rimba berpamit lebih dulu ke kamarnya karena akan bersiap pergi ke kampus. Sementara Steven dan Sean masih berbincang kecil di meja makan.
"Dia masih kuliah?" tanya Sean selepas Rimba sudah tidak ada.
Steven mengangguk sambil memasukan sebutir buah anggur ke dalam mulutnya.
"Aku sudah dapatkan data kedua orangtua Rimiko," gumam Sean.
"What?" Steven membelalakkan kedua matanya. Ia spontan menengok ke arah kanan-kiri terlebih dulu, memastikan Rimba tidak ada disitu dan tidak mendengarnya. "Siapa?" tanyanya kemudian.
"Ibunya bernama Akiyo Farayaka, dan ayahnya Hideyoshi," kata Steven.
Steven mengerutkan keningnya, "Kau bilang dia ada keturunan Indonesia, darimana?"
"Aku belum selesai bicara! Hideyoshi itu ayah tirinya. Ayah kandungnya dari Indonesia, dan anak buahku belum menyelidikinya sampai sejauh itu," ujar Sean lalu beranjak dari duduknya.
"Kita belum selesai bicara!" cegah Steven agar adiknya itu lekas pergi.
"Apalagi? belum cukup informasi dariku?"
"Apa dia punya kembaran?" tanya Steven memicingkan sebelah matanya.
"I don't know," sahut Sean seraya mengangkat bahunya tinggi-tinggi. "informasi dari bagian perekrutan diperusahaanku hanya memberikan data sampai disitu. Disana dituliskan kalau dia tidak memiliki saudara alias anak tunggal," jelasnya.
"Tidak mungkin," gumam Steven gamang.
"Oke, nanti sore aku harus kembali ke Paris. Kau harus mengantarku ke bandara," kata Sean sambil berlalu pergi ke kamarnya.
"Hey! kau baru saja tiba, Sean. Tinggallah disini untuk beberapa hari!" ujar Steven meninggikan suaranya.
"I'm businessman, I'm not a doctor," balas teriak Sean didepan pintu kamarnya.
Steven mendengus kecil, ia pun lantas berdiri dari tempat duduknya. melangkahkan kakinya dengan pikiran yang berseliweran. Apa ayah kandungnya itu mendiang ayahnya Rimba? jika iya, itu artinya mereka kembar.
"Aww!!"
"Eh, Rim. Kamu nggak apa-apa?"
Pasalnya saat Steven membuka pintu kamarnya kearah dalam, secara bersamaan Rimba juga hendak membuka pintu untuk keluar. Disitulah kening Rimba mengenai sisi daun pintu akibat dorongan tiba-tiba dari luar oleh Steven.
__ADS_1
"Lumayan sakit sih," keluh Rimba sambil menggosok-gosokan keningnya dengan telapak tangannya.
"Sorry, saya nggak tau kamu mau keluar," kata Steven membawa Rimba bersandar didinding sisi pintu. "Sini saya liat! ada luka nggak?" gumamnya lalu menyentuh kening Rimba yang memerah namun untungnya tidak ada luka disana.
Jantung Rimba langsung berdegup kencang tatkala tubuh Steven menghimpitnya ke dinding. Aliran darahnya berdesir hebat saat jemari Steven menyentuh lembut keningnya.
"Masih sakit?" gumam Steven menurunkan pandangannya menatap wajah Rimba yang mendongak balas menatap.
"Udah nggak," lirih Rimba yang masih berusaha mengatur ritme jantungnya.
Steven tersenyum, tak bisa dipungkiri perasaannya pada Rimba terlanjur dalam. Cinta yang ia miliki untuk gadis lincah dan ceria didepannya ini semakin menuntut kepemilikan sepenuhnya, mendesak untuk segera diluapkan. Namun Steven belum yakin betul apakah Rimba menyetujuinya atau tidak. Sebagai seorang suami, sudah sepantasnya ia memiliki hak dan akses tak terbatas terhadap istrinya, hanya saja Steven takut mendapat penolakan, dan ia tidak ingin Rimba merasa terpaksa. Terlebih kali ini Steven harus segera mencari tau dulu sebuah kebenaran.
***
Mobil sport merah besutan Eropa itu berhenti tepat dilahan parkir kampus.
"Selesai jam berapa?" tanya Steven sambil membantu melepaskan safety belt yang mengikat tubuh Rimba.
"Jam 3," sahut Rimba lalu meraih tangan Steven dan mengecup punggung tangannya begitu mendadak.
"Tumben," gumam Steven terpukau.
"Mau ditungguin apa nanti dijemput?" tanya lelaki itu.
"Emang hari ini nggak ada kelas atau praktek di RS gitu?" Rimba malah balik bertanya.
"Saya hanya ngambil dikelas kamu saja yaitu besok lusa. Dan sampai hari ini saya masih cuti, baru mulai besok praktek lagi," ucap Steven.
Rimba hanya mengangguk, "Dijemput aja deh, kasian kan kalo disuruh nunggu," ucapnya.
"Oke, kebetulan saya mau ke tempatnya Marco dulu, ada perlu sebentar."
"Emang ada masalah?" tanya Rimba jadi penasaran.
Steven menggeleng sambil tersenyum. "Bukan masalah yang penting, hanya ada perlu yang dibicarakan saja," ucapnya.
Rimba mengangguk paham, ia akhirnya berpamit dan keluar dari mobilnya dengan hati-hati. Rimba takut seseorang yang dikenal melihatnya keluar dari mobil Steven.
Benar saja, saat Rimba melangkahkan kakinya menuju gedung fakultas kedokteran, tiba-tiba Angela sudah berada disampingnya, mensejajarkan langkahnya bersama Rimba. "Kayanya gue kenal deh mobil yang nganter Lo itu," ucapnya sinis.
__ADS_1
Rimba tak menanggapi, langkahnya tetap tenang, juga pandangannya yang tetap lurus ke depan tanpa melirik ke arah Angela sedikitpun.
"Itu mobil mister Steven kan? kok bisa nganter Lo? Lo siapanya dosen pengampu itu? jangan bilang Lo ngerayu dia biar dapet nilai A," cerca Angela sengaja memancing emosi Rimba.
"Bukan urusan Lo!" sahut Rimba ketus.
"Oowh, berarti benar dong dugaan gue. Lo ngerayu dia dengan wajah sok innocent Lo tapi bar-bar itu kan?"
"Shit!" Rimba mulai terpancing. Ia menghentikan langkahnya dikoridor dekat lab. "Mau Lo apa sih? Lo mau ngerecokin hidup gue? kurang kerjaan banget!" ucapnya jengah. Beberapa mahasiswa yang kebetulan berpapasan disana pun semua melihatnya karena suara Rimba yang cukup keras.
Angela sengaja memanfaatkan situasi seperti ini untuk mempermalukan Rimba. "Kalian semua denger ya, tadi gue liat dia diantar Pak Steve. Gue liat dia merayunya didalam mobil, pake cium-cium tangannya segala. Padahal kalian kan tau sendiri kalau Pak Steve itu single, eh cewe ini main nyosor aja deketin duluan." tuduhnya pada Rimba.
"Itu fitnah! kalian jangan percaya mulut busuknya dia!" ujar Rimba membela dirinya.
Angela lantas tertawa, "Disini siapa yang mulutnya busuk? Lo apa gue?" ucapnya sambil menunjukan foto yang ia ambil dari galery ponselnya. Disana ada gambar Rimba yang sedang mencium tangan Steven didalam mobil yang memiliki kaca transparan itu.
"Sial!" umpat Rimba tak bisa berkutik lagi.
"Mana-mana? gue mau liat!"
"Iya liat dong!"
Para mahasiswa yang disana pun begitu antusias ingin melihat foto tersebut dari ponselnya Angela.
"Tenang-tenang, nanti gue upload ke forum jurusan. Kalian bisa liat sepuasnya disana," seringai Angela penuh racun. Jemarinya dengan lincah meng-upload foto tersebut ke forum jurusan. Otomatis semua mahasiswa jurusan kedokteran dikampus ini bisa melihatnya.
"Angela! Lo keterlaluan ya!" serang Ellena yang tiba-tiba datang dari belakang dan hendak merebut ponselnya, tapi gagal. "Hapus nggak! gue bilang hapus sekarang juga!" pintanya penuh ancaman.
"Sorry Elle, gue nggak bisa. Bye!" ucap Angela lantas buru-buru pergi dengan seringainya yang nampak begitu puas.
"Gila ya tuh anak!" umpat Ellena kesal lalu menghampiri Rimba yang tiba-tiba saja jadi diam. "Foto itu nggak bener kan?" tanyanya.
Rimba menghela napasnya dalam-dalam. Haruskah ia jujur ke semua orang kalau dirinya sudah menikah? Rimba hanya belum siap mengakuinya dengan alasan malu. Ia yang dulu menolak habis-habisan untuk menikah muda merasa kemakan omongannya sendiri.
.
.
.
__ADS_1
Perbedaan teman dan musuh sangat tipis. Ada saatnya dia mendukung berbagai hal yang kamu lakukan, tapi bisa saja dia menusuk dari belakang, bahkan menghancurkanmu.