Pesona Dokter Steven

Pesona Dokter Steven
48 - At Jogyakarta part II


__ADS_3

Rimba menundukkan kepalanya. Ditariknya napas dalam, mengumpulkan kekuatan dan keberanian. Ia tidak boleh berbohong kepada suaminya, bukan?


"Hmm, selama ini aku minum pil KB," ungkap Rimba jujur. Ia tak tahan lagi untuk terus memendamnya sendirian.


Steven terkejut tapi ia memilih diam, tatapannya nanar, jauh ke arah jalanan di depan sana.


"Aku hanya belum siap aja untuk hamil dan punya anak," lanjut Rimba. "Aku ingin menyelesaikan sekolah, trus jadi dokter seperti kamu Steve. Bukankah kita pernah sepakat untuk tidak buru-buru dulu punya anak kan?" tambahnya sedikit emosional.


Mimik wajah Steven sedikit berubah. Tangannya yang semula memeluk pundak Rimba ditariknya. Ia jelas kecewa, sampai harus marah sepertinya. Rimba tidak perlu merahasiakan apa pun darinya, juga tidak perlu melakukan hal itu sampai sebegitunya.


"Kenapa kamu nggak jujur? kenapa kamu milih buat ngerahasiain itu semua dariku?" tanya Steven dingin. Nada suaranya datar, Rimba bisa merasakan bahwa Steven marah pada perbuatannya. "Apa ngomong jujur sama suamimu itu hal yang susah, Rim? iya?"


"Aku udah mau bilang sama kamu dari pas awal nikah dulu. Tapi aku takut kamu nggak setuju," aku Rimba.


"Jelas aku nggak bakalan setuju!" sengak Steven marah. "Harusnya dari awal kamu terbuka, kita bisa bicarakan serius masalah ini. Jangan kamu ambil keputusan sendiri. Bukannya tindakan perempuan bersuami yang menutup katup rahimnya, adalah dilarang apabila dilakukan tanpa izin suaminya?" Mata Steven seakan berapi, ia merasa Rimba menyentuh harga dirinya sebagai hak suami, dan membuatnya hampir terjun bebas ke dasar laut.


Rimba tercekat mendengar nada tinggi dari Steven yang tidak pernah ia dengar selama ini. Ada satu ruang di sudut hatinya yang nyeri saat wajah teduh dan penuh cinta suaminya itu berubah kaku dengan rahang kokohnya yang mengeras, menyimpan amarah.


"Tapi aku nggak mau hamil dulu. Punya anak, dan nantinya malah direpotkan oleh ini itu yang membuat konsentrasi belajarku buyar." Rimba balas menaikkan suaranya satu oktaf.


"Terus itu membenarkan semua kelakuanmu? kamu diam-diam meminum pil itu selama tiga bulan, sementara aku terus-terusan merasa jadi lelaki lemah karena tidak mampu membuatmu hamil? padahal semuanya karena kamu. Apa itu artinya kamu tidak benar-benar mencintaiku Rim? Secara nggak langsung kamu menolak benih yang aku tanam didalam sana," Steven tidak lagi membentak. Ia bicara dalam mode datar, menusuk dan mengintimidasi, seperti kebiasaannya.


"Nggak gitu!" desis Rimba. Ia tak mampu melanjutkan ucapannya. Tangis Rimba pun pecah, ia berlari masuk ke dalam ruangan, membanting tubuhnya ke ranjang. Disembunyikannya wajahnya di dalam bantal, ia tak mau terlihat kacau di depan suaminya yang bahkan menuduhnya bahwa dirinya tidak mencintai Steven. Rimba sudah berusaha jujur. Ia hanya perlu didengar, ditenangkan, bukan malah semakin ditekan.


"Aku keluar bentar!" pamit Steven yang memilih untuk menghindar dari pertengkaran yang lebih besar. Ia meraih jaketnya, membanting pintu hotel dan pergi entah kemana.


*


Ternyata Steven pergi ke sebuah bar and club yang cukup terkenal di Jogyakarta. Dia tidak sendiri, melainkan ditemani Pak Wiro yang dibayar Marco untuk selalu siap siaga mengantar kemanapun pasangan itu pergi.


"Mas!" Pak Wiro menguncang-guncang tubuh Steven.


Steven menggeleng. Ia tidak pernah sampai mabuk seperti ini sebelumnya. Bahkan sudah lama sekali Steven tidak menyentuh lagi minuman beralkohol tinggi. Kekesalannya pada keadaan yang menimpa rumah tangga barunya sudah tak bisa ia kendalikan. Ia marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa memahami Rimba, pun pada Rimba yang entah mengapa tidak mau sedikit memahaminya.


"Kenapa kamu nggak mau punya anak dariku, Rim?" gumam Steven dalam kondisi setengah sadarnya.


"Mas, sebaiknya kita balik ke hotel ya," bujuk Pak Wiro lagi berharap Steven mau beranjak pergi dari tempatnya sekarang.

__ADS_1


"Hem," desis Steven sekali lagi meneguk Bourbon yang dipesannya.


"Sudah yo Mas, kita balik sekarang," ucap Pak Wiro lagi sedikit memaksa.


Steven menepis tangan Pak Wiro, tak ingin diganggu. Pak Wiro kebingungan sendiri, apa yang yang harus ia lakukan sekarang? haruskah ia menggeret paksa Steven keluar dari tempat itu?


Tiba-tiba mata Pak Wiro menangkap sosok istri dari pria mabuk ini dari kejauhan.


"Mbak Rimba!" panggil Pak Wiro melambaikan tangan. Tak menyangka kalau ternyata istri dari tuannya itu juga sedang berada ditempat yang sama. 'kenapa tadi ndak pergi barengan saja?' batinnya.


Merasa diabaikan panggilannya itu, Pak Wiro lantas mendekat.


"Mbak, Itu mas Steve keliatane mabuk berat," kata Pak Wiro kepada perempuan yang tengah duduk sendiri di mejanya sambil minum dan memakan kentang goreng.


"Ya?" perempuan itu langsung mendongak menatap Pak Wiro, asing.


"Itu suaminya Mbak'e mabuk disana, apa sebaiknya dibawa balik ke hotel saja?" jelas Pak Wiro dengan kedua matanya yang sudah tampak lelah. Juga hingar bingar musik didalam club itu membuatnya semakin tidak nyaman dan malah tambah pusing.


"Suami saya?" Perempuan yang ternyata Rimiko mengernyit bingung.


"Ayo Mbak!" Pak Wiro memaksa perempuan itu untuk melihat kondisi Steven.


"Rimba, Rim!" racau Steven.


"Iya tow Mbak, Mas'e jok de wau garwane nimbali asmane panjenengan," (Mas-nya dari tadi memanggil-manggil nama anda terus) kata Pak Wiro.


Rimiko mengangguk meski tak paham apa artinya, ia lalu duduk disamping Steven, menatap nanar lelaki yang nampaknya sudah familiar dalam ingatannya. Disentuhnya lengan Steven yang tengah menunduk itu. 'Wajah kamu masih tetap sama dari dulu ternyata ya,' batin Rimiko tersenyum.


"Hai Steve," panggilnya lembut.


Steven menoleh, dahinya berkerut ekstrem. Tapi lelaki itu memilih diam saja.


"Aku nggak nyangka kita ketemu lagi," kata Rimiko.


"Kamu siapa?" tanya Steven dalam ketidaksadarannya. Ia mengibaskan tangannya yang disentuh Rimiko.


"Kamu Steven kan?"

__ADS_1


"Jangan pegang-pegang! Saya sudah punya istri! Rimba namanya," sentak Steven ketus. Meski Rimiko memilik wajah yang sama dengan Rimba, namun ternyata dibawah alam sadarnya, Steven sangat mengenali yang mana istrinya dan mana yang bukan.


"Steve, kamu nggak inget aku? aku Rimiko, dulu kita bertemu di Tokyo." Perempuan itu kembali menyentuh tangan Steven. Rimiko tak bisa menahan rasa bahagianya. Lantas ia menunjukkan foto dalam dompetnya yang sama dengan yang Steven punya. "Kau ingat foto ini?" tanyanya.


Steven perlahan mengangkat wajahnya untuk melihat foto yang ada ditangan Rimiko. "Kau bukan dia," gumamnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Melihat Steven saat mabuk seperti ini justru malah membuat seorang Rimiko merasa tertantang. "Dulu kamu pernah janji buat nikahin aku," kata Rimiko malah sengaja menempelkan tubuhnya pada Steven.


Steven berdecak, didorongnya tubuh Rimiko menjauh. Wajahnya nampak kesal.


"Pergi nggak!" bentak Steven dingin. "Udah ku bilang aku lelaki beristri, jangan bikin aroma tubuh kamu itu nempel dibadanku dan bikin istriku tambah marah dan cemburu! kau bukan Rimba!" usirnya.


Rimiko lantas menjauhkan sedikit tubuhnya dari Steven. "Rimba?" gumamnya seraya mengingat-ingat sesuatu. 'Bukannya itu namaku sebelum diganti?' batinnya tiba-tiba galau.


Steven menggumam tak jelas. Diteguknya lagi minuman miliknya yang sudah disajikan berkali-kali oleh bartender.


"Jangan sekali-kali menyentuhku!" ucap Steven semakin menghindar dari sosok tubuh Rimiko.


Pak Wiro yang ada disana nampak kebingungan dengan sikap Steven yang malah mengusir istrinya sendiri.


"Mas, itu Mbak Rimba. Kok malah diusir?" tanyanya Pak Wiro.


"Dia bukan istriku, Pak"


"Hah?"


"Pak Wiro, antar aku ke hotel sekarang!" kata Steven akhirnya beranjak berdiri. Dengan sedikit sempoyongan dengan dibantu Pak Wiro akhirnya Steven kembali ke hotel.


Sementara Rimiko masih terpaku ditempatnya. Perempuan itu pun ternyata datang jauh-jauh ke Indonesia hanya untuk mencari sebuah kebenaran.


Dia yang tidak mengalami amnesia tapi dipaksa untuk menciptakan momen-momen masa kecil dalam memorinya yang sama sekali tidak pernah ia alami.


Terkecuali dengan sosok Steven, Rimiko memang mengalami pertemuannya dengan lelaki itu dimasa lalunya. Dan foto mereka berdua saat itu memang betul adalah dirinya.


.


.

__ADS_1


.


Aku tidak pernah percaya pada cinta pada pandangan pertama sampai saat aku bertemu denganmu untuk yang kedua kalinya.


__ADS_2