Pesona Dokter Steven

Pesona Dokter Steven
54 - Both were injured


__ADS_3

Yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. Rimba dan Steven baru saja tiba. Keduanya nampak terkejut melihat Rimiko juga Akiyo yang sedari tadi sudah duduk di sofa ruang tamu bersama Vania.


Terlebih Rimba yang terlihat begitu syok saat melihat Rimiko. Pasalnya, kini rambut Rimiko digerai acak seperti dirinya sehari-hari. Pakaiannya yang kasual membuat Rimba seolah kini sedang berdiri dihadapan cermin.


Sungguh berbeda dengan Rimiko yang ditemui Rimba saat di Jogyakarta kemarin. Sosok Rimiko yang berpenampilan formal, elegan dan full makeup. Rimba bahkan tidak menyadari kemiripan diantara mereka berdua. Tapi hari ini, kemiripan diantara mereka begitu kentara, sulit dibedakan.


"Rim," gumam Steven mengagetkan Rimba yang masih berdiri diambang pintu masuk. "Yuk!" ucapnya seraya menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke dalam rumah bersamaan.


Vania berdiri dari duduknya, lalu menghampiri Rimba dan membawanya duduk disamping dirinya. "Mana titipan bunda dari Jogya?" tanya Vania mencairkan suasana. Ia melihat mimik wajah Rimba yang berubah pucat sejak melihat Rimiko. Vania paham bagaimana perasaan Rimba sekarang, ia pastinya kaget saat melihat seseorang yang begitu mirip dengannya, bahkan nyaris tidak ada perbedaan sama sekali.


"Rim," Vania kembali menyapa anaknya yang sedari diam seraya memandangi Rimiko dan Akiyo bergantian.


"Titipan bunda masih dimobil, mau diambil sekarang?" kata Steven bantu menjawab.


"Oh, nggak usah. Nanti saja," sahut Vania.


Sesaat suasana atmosfer diruangan itu tiba-tiba seakan membeku. Dingin, kaku dan tidak ada yang mau memulai pembicaraan.


"Mereka siapa Bun?" gumam Rimba tiba-tiba bertanya, ia hanya tidak ingin terjebak lebih lama dari atmosfer dingin ini.


"Ini ibu Akiyo," kata Vania sambil memandang Akiyo yang duduk tepat dihadapannya, "Sedangkan yang itu putrinya Rimiko," tambahnya kali ini beralih menatap Rimiko.


"Hai, kita sempat bertemu kemarin. Di pameran lukisan taman budaya," ucap Rimiko menyapa Rimba namun tanpa senyuman. Rimiko juga merasa canggung dengan situasi seperti ini.


Rimba memberanikan diri menatap Rimiko, lalu tersenyum samar. "Sungguh, saya nggak nyangka saat anda seperti ini sekarang ternyata anda seperti cermin bagi saya," ucapnya.


"Karena kalian memang saudara kembar," kata Vania mau tidak mau harus segera mengungkapkan kebenarannya.

__ADS_1


Dek! jantung Rimba seakan berhenti berdetak saat mendengar pengakuan Vania barusan. Ia memang sudah menduga semua ini sejak lama, saat Steven membicarakan gadis kecil penyelamatnya itu. Tapi Rimba tak menyangka bahwa itu benar-benar nyata.


"Rim, maafkan bunda yang udah menyimpan rapat-rapat rahasia ini sama kamu," lirih Vania seraya memeluk bahu Rimba yang masih bergeming tanpa ekspresi apapun diwajahnya.


Sesaat suasana kembali hening, hanya helaan nafas yang terdengar samar. Menanggung beban yang mereka pikul belasan tahun.


"Saya tau mungkin kamu masih surprised, but that's the truth," ucap Rimiko yang memang sudah lama mengetahui bahwa dirinya memiliki saudara kembar yang terpisah.


Rimba mendongak, menatap saudara kembarnya nanar. "Kenyataan gimana? kenyataan yang harus diungkap diakhir cerita seperti ini? drama banget ya kalian," ucapnya spontan. Rimba melepas tangan Vania dari bahunya, lalu beranjak berdiri dari duduknya hendak pergi.


Steven dengan cepat meraih pergelangan tangan istrinya, mencegah untuk pergi.


"Tenang dulu Rim," Steven angkat bicara, berusaha menenangkan Rimba yang wajahnya mulai memerah memendam amarah.


"Kamu juga ya, kamu pasti tau kan soal ini? buktinya kamu nggak kaget dan terlihat tenang saat bunda bilang aku sama dia sodara. Brengsek!" ujar Rimba merasa tak terima.


"Rimba anakku, maafkan ibu Nak," Akiyo berdiri dan menghampiri Rimba.


Vania tertunduk diam, bingung harus jawab apa. Ini yang ditakutkan Vania selama hidupnya, saat Rimba akhirnya tahu tentang kebenaran dirinya.


"Tolong kamu tenang dulu sayang. Kita akan dengarkan penjelasan mereka tentang kamu," ucap Steven. Lelaki itu takut Rimba nekad seperti dulu lagi, kabur demi menghindari masalah.


Rimba menghela napasnya sejenak. Kali ini dia tidak bisa lagi menghindar. Ini menyangkut siapa dirinya yang penuh tanda tanya. Dan Rimba sudah seharusnya menuntut penjelasan dari Vania juga perempuan bernama Akiyo itu.


"Oke," lirih Rimba kembali duduk. Kini dia duduk disamping Steven suaminya.


Tangan kiri Steven tak lepas menggenggam erat tangan kanan Rimba seolah memberinya kekuatan. Sementara diseberang meja, nampak Rimiko tengah memperhatikan dua sejoli itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


Tak lama kemudian Akiyo mulai bicara, ia menceritakan bagaimana perjuangannya saat melahirkan bayi kembarnya dulu. Lalu terpaksa memisahkan mereka karena perceraian yang telah disepakati bersama.


Akiyo juga menceritakan bagaimana Rimiko kecil dulu yang sekarang berubah identitas menjadi Rimba. "Kamu dari kecil memang tomboi, ceria, dan suka nolong orang. Syukurlah apa yang kamu cita-cita kan dulu akan segera terwujud. Kamu selalu cerita ke semua orang kelak ingin menjadi dokter hebat," kenang Akiyo seraya meneteskan air matanya.


Kini giliran Vania yang bergantian menceritakan tentang Rimba yang sekarang berubah identitas menjadi Rimiko sejak kejadian yang menghebohkan di Tokyo itu. "Rimiko anak yang cerdas. Dia langsung paham saat kami memintanya untuk bertukar posisi. dia mengerti kalau saudaranya tengah sakit waktu itu. Meski awalnya Rimiko tidak mau pergi karena harus berpisah dengan Galang kakaknya," kenang Vania.


"Tunggu! jadi dulu aku pernah tinggal di Tokyo?" tanya Rimba baru tersadar setelah berusaha mencerna cerita dari mulut Vania dan Akiyo.


"Iya Nak, kamu pernah tinggal bersama ibu Akiyo sampai usia 7 tahun. Tepatnya sebelum kecelakaan itu yang membuatmu kehilangan memori sebelumnya," sahut Vania.


"Tidak mungkin! aku ingat kok masa kecil ku dulu. Dulu bunda sering bilang kalo aku lincah dan nggak mau diem saat di sekolah TK. Aku ingat saat terjatuh ke selokan bersama Gery saat rebutan mainan rubik," kata Rimba.


"Itu tidak benar! bukan kamu yang mengalami itu semua, tapi aku. Masih ingat dalam memori ku saat aku bermain bersama Gery maupun Kak Galang dirumah ini. Dan itu bukan kamu, tapi aku" ujar Rimiko seolah menegaskan kepemilikan sepenggal kisah masa kecilnya dulu.


"Rimiko, behave yourself!!" tegur Akiyo.


"Why? kenapa harus aku yang mengalah terus?" sanggah Rimiko. "Dulu aku tidak ingin pergi, tapi ayah dan bunda memaksaku. Kalian tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Aku harus menjadi dia, aku harus mengingat setiap momen yang pernah dia alami selama 7 tahun kehidupannya di Tokyo. Sementara dia?" Rimiko menunjuk ke arah Rimba, "Aku lihat dia baik-baik saja. Dia nyaman menjadi sosok Rimba yang sebenarnya itu aku," ucapnya.


"Rimiko!" bentak Akiyo kali ini geram.


"Aachh!" Rimba memegangi kepalanya. Tiba-tiba ia merasakan sakit yang luar biasa. Kepingan-kepingan mirip puzzle kini seolah berputar dikepalanya.


"Rimba! kamu kenapa?" Steven langsung menopang tubuh istrinya agar tidak jatuh.


.


.

__ADS_1


.


Bahkan kembar identik pun tidak dapat memiliki pengalaman yang persis sama, dan otak mereka tidak terhubung dengan cara yang sama.


__ADS_2