Posesif love

Posesif love
Marry me


__ADS_3

Setelah meninggalkan Zeline seorang diri dikamar, Kevin pun turun kebawah dan memasuki mobil sportnya, kali ini iya menyetir sendiri .


"brumm .. brummm"


Zeline mendengar suara mobil lalu berlari menuju balkon kamarnya, iya melihat Kevin yang telah pergi menggunakan mobil seorang diri. Kevin melaju dengan kecepatan 100km, iya merasa sangat kecewa dengan sikap Zeline, apalagi saat mengetahui kabar tentang kedekatannya dengan Antonio, iya merasa cemburu “Apakah dia belum mencintaiku?” gumam Kevin, dia teringat perkataan Zeline untuk tidak mencintai dirinya.


Bisakah sepasang kekasih hidup bersama tanpa cinta .. ??????


...


Sudah dua minggu Kevin tidak pulang kerumah. Rasa bersalah Zeline kian membesar, iya merasa  rindu dengan sosok kevin , sebenarnya iya merasa nyaman saat berada di dekat kevin, apakah Zeline mulai mencintainya??


”Aah tidak mungkin!” tukas Zeline, iya menepikan perasaan itu, iya menganggap perasaan yang dia alami ini adalah murni karena rasa bersalahnya. Namun bisa saja tertanam benih cinta pada diri Zeline, seperti pepatah jawa "witing tresno jalaran sukokulino" (cinta timbul karna terbiasa)


"Tok .. tok .. tok’" House keeper bernama Abra mengetuk pintu.


”Masuk!” jawab Zeline dari dalam kamar


Kemudian Abra membuka pintu, lalu berkata “Nona sarapan telah siap!”


Zeline terdiam, kemudian mengangguk mengiyakan perkataan Abra, biasanya Abra akan meminta diri setelah memenyelesaikan perkataannya, namun kali ini dia berdiri mematung seperti hendak memberitahukan sesuatu pada dirinya, “Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan? Katakanlah!” ucapnya pada Abra sambil tersenyum.

__ADS_1


“Maaf jikalau saya lancang menycampuri urusan kalian berdua. Namun saya harap Nona jangan terlalu di ambil hati atas perkatan Tuan, dia sangat sulit mengontrol emosinya ketika sedang marah, dan ini juga pertama kalinya saya melihat tuan marah kepada perempuan, sebenarnya Tuan sangat perhatian dengan Nona, Nona adalah satu-satunya wanita yang Tuan bawa kerumah ini, hanya saja tuan tak tau bagaimana harus mengepresikan perasaanya untuk Nona!”  ucap Abra sopan. “Saya sudah dua puluh tahun bekerja di sini, dan sudah faham semua sifat tuan, iya amat dingin kepada semua orang kecuali Nona, terkadang iya juga sangat manja!” lanjutnya


“Apa yang membuatnya begitu dingin pada semua orang?” tanya Zeline penasaran.


"Lima belas tahun yang lalu, ketika Tuan berumur sepuluh tahun, Ibunda Tuan, Nyonya kirana meninggal dunia, dan itu menjadi luka yang sangat berat bagi Tuan, karna telah kehilangan sosok ibu, Tuan hanya dekat dengan ibunya saja, sedangkan kakaknya berada di luar negri dan sangat jarang pulang, karna harus menyelesaikan pendidikan, Ayahnya pula selalu sibuk dengan perusahaan, sejak saat itu Tuan menjadi seorang yang dingin, dia jarang bericara dan kalau iya pun hanay berbicara sepenuhnya saja!” Jawab Abra


“Baiklah aku mengerti, terimakasih telah memberitahuku semuanya Abra.” Jawab Zeline tersenyum.


Kemudian Abra tersenyum membalas Zeline, lalu meminta diri dan segera beredar.


Usai sarapan, Zeline sedang duduk termenung di balkon kamarnya, matanya melihat  kearah taman belakang rumah, iya sedang memikirkan apa yang telah Abra katakan padanya. Dia menyangka kehidupan kevin selama ini menyenangkan, namun malah sebaliknya iya sangat kesepian, yaaah dengan predikat orang yang hartanya tak kan habis walau sampai lima belas turunan sekalipun, pasti ada banyak cara untuk bahagia, fikirnya. Namun ternyata ada juga kebahagian yang tak bisa di beli dengan uang .


Uang memang segalanya


Kemudian setelah difikir-fikir, Zeline pun keluar dari balkon kamarnya dan menuruni anak tangga, kemudian iya memanggil supir untuk menghantarnya ke tempat Kevin berada, sebelumnya iya sudah menelfon kevin berulang kali, namun tiada jawaban, lalu kebetulan sekali iya melihat Abra sedang lewat didepannya, lalu menanyakannya tentang keberadaan Kevin, kemudian  Abra memberitahu kemana biasanya Kevin pergi kalau tidak sedang berada dirumah maupun kantor.


Kemudian Zeline memberitahukan pada supir alamat yang sudah Abra beritahu, lalu selang beberapa waktu iya pun sampai di taman pribadi milik keluarga Alexander, suasana taman yang sangat sunyi dan menenangkan, ditambah dengan tiupan angin dan bau berbagai bunga.


Zeline menarik nafas panjang sebelum pergi menghampiri Kevin berada, dari kejauhan iya melihat Kevin sedang duduk disebuah kursi hitam menghadap kolam ikan.


Zeline memberanikan langkahnya, sebenarnya iya gugup dan tak tau harus berkata apa, namun Zeline bersikeras untuk menemui Kevin. Dari belakang Zeline menyentuh pundak Kevin denan posisi sedikit menunduk. “Sayang, apakah kamu tak merindukan ku?” Tanya Zeline lembut.

__ADS_1


Kevin sempat kaget menyadari Zeline yang sedang menghampirinya, iya tak menyangka kalau Zeline akan pergi mencarinya, namun iya tak menjawab pertanyaan Zeline, iya hanya diam dengan wajah dinginnya, sementara ekor matanya menghadap Zeline.


Zeline mengenakan dress lengan panjang bawah lutut, di padankan dengan Sandal casual berwarna merah maroon dan rambutnya di ikat semua, hingga menampak kan bekas kiss mark yang hampir memudar yang di buat kevin pada minggu lalu.


Kevin terpana melihat panampilan Zeline, dia sangat menyukai wanita yang berpenampilan seperti Zeline, terlihat sopan dan elegan, tanpa harus memerkan buah dada dan lekuk tubuhnya dengan pakaian singkat nan ketat. Karena penampilan Zeline itu jugalah yang membuat iya juga tertarik.


Zeline yang merasa diacuh kan oleh Kevin pun kemudian mengambil duduk di sampingnya, lalu mereka berdua sama-sama terdiam.


“Ayolaaah .. Kevin bicaralah sesuatu, apa kamu masih marah dengan ku? belum cukupkah kamu menghindariku selama ber minggu-minggu? Tanya Zeline, iya menyandarkan kepalanya pada bahu kevin, jujur iya sangat merindukan kevin, iya bahkan tak tau letak perasaannya sekarang ini, yang iya tau hanya sedang merindukan kevin saja.


Kevin hanya terdiam mendengar Zeline, iya sedang menikmati hembusan angin yang menerpanya.


Mereka berdua terdiam cukup lama. Kemudian Kevin menarik nafas panjang.


”Berentilah bekerja, dan menikah denga ku, dan aku akan memaafkan mu!” ucap Kevin tanpa ragu-ragu, pandangannya masih menatap pada kolam ikan yang ada didepannya


Zeline yang mendengar perkataan itu sangat terkejut, lalu iya membetulkan duduknya yang sedari tadi menyandar kepada kevin.


”Yang benar saja Kevin, menikah bukanlah hal yang mudah seperti yang kau ucapkan!” Jawab Zeline sambil membeliak-kan mata.


“Jika aku bisa menjadi kekasih mu, kenapa tidak dengan menjadi suami mu!” Tukas Kevin dengan santainya sambil mendekapkan diri.

__ADS_1


Dan lagi-lagi Zeline tak habis fikir dengan jawaban Kevin. Baginya pernikahan adalah hal yang amat sakral, dan iya tak ingin salah dalam memilih pasangan hidup, karna sampai saat ini Zeline belum begitu serius pada hubunganya dengan kevin. Iya tidak ingin salah langkah.


__ADS_2