
Seiring berjalannya waktu, tidak terasa persalinan Zeline hanya tinggal menghitung hari, karna ini adalah persalinan pertamanya, dia merasa ketakutan ditambah tidak ada Kevin disisinya, mujurlah ada Antonio yang setia menemaninya, sejak hari pengakuan itu tidak ada yang berubah dari diri Antonio, dia masih tetap orang yang sama!
"Bagaimana? Apa kau sudah memikirkan rencanamu setelah ini?" Tanya Antonio
"Iya, tapi Aku butuh bantuanmu, Apa kau bersedia?"
“Iya Aku bersedia membantumu!”
Kemudian Zeline menjelaskan semua rencananya pada Antonio dengan rinci.
Antonio mengerenyitkan dahi, dia merasa tidak yakin denga recana Zeline, dia takut Zeline akan menyesal di kemudian hari. “Apa kau yakin?” Tanyanya kembali.
"Sangat yakin!”
"Baiklah, kalau itu maumu, apapun keputusanmu Aku harap kau berbahagia.” Ucap Antonio tersenyum, dalam hatinya dia masih belum melupakan cintanya pada Zeline, namun apalah daya, hanya gelar seorang sahabat yang pantas diberikan Zeline untuk dirinya.
.
Zeline sedang duduk di kursi rodanya sambil menghadap ke pesisir pantai, cuaca hari ini sangat cerah, dia sedang menyibukkan diri menulis surat untuk Kevin, surat terakhir yang akan dia sampaikan jika ada sesuatu yang terjadi padanya. Tidak lama kemudian Lisa menghampiri dirinya. “Zeline, sudah waktunya!” Kata Lisa. Dari jauh hari Alice sudah pun memberitahu Zeline dan yang lainnya bahwa peluang dia melahirkan secara normal sangat tidak memungkinkan, prosedur secara operasi adalah jalan satu-satunya, itu semua dilakukan untuk kebaikan si bayi dan ibu.
Kemudian merekapun kembali ke villa, disana sudah ada ruangan khusus yang dipersiapkan untuk persalinan Zeline, juga alat-alat lainnya.
“Mari biar Aku yang hantar!” Kata Antonio pada Lisa. Kemudian dia mendorong kursi roda lalu masuk kedalam lift.
“Terimakasih Antonio.” Kata Zeline sambil menggenggaam tangan Antonio, dia tempak gemetar.
Sesampainya diruang persalinan Alice sudah siap dengan seragam khas dokter, juga empat orang asistennya.
Setelah dipindahkan, Alice kemudian memberi suntikan bius pada Zeline, agar dia tidak merasakan sakitnya, tiga menit kemudian Zeline sudah setengah sadar, dia merasakan mati rasa pada bagian kaki hingga paras dadanya. Matanya memandang keatas, melihat lampu ruang operasi, sedangkan Antonio masih setia menemaninya didalam ruangan.
Setengah jam kemudian terdengar suara tangisan bayi yang mengisi ruangan yang tadinya tenang, Zeline menitikkan air matanya, kini dia sudah menjadi seorang ibu, rasa bahagianya tidak dapat terucap dengan kata. ketiga dari asisten Alice tadi membersihkan ketiga bayi yang baru saja lahir itu. Operasi telahpun selesai, sayatan tadi telahpun dijahit semula, namun Zeline tiba-tiba tak sadarkan diri, dia mengalami komplikasi pasca pembedahan.
__ADS_1
“Apa dia akan baik_baik saja?” Tanya Antonio yang mulai khawatir, dia ada disitu selama proses operasi berlangsung.
“Kau tidak usah khawatir ini biasa terjadi saat operasi, Aku akan melakukan semampuku!”
“Baiklah, lakukan yang terbaik.”
Antonio kemudian melihat ketiga bayi yang telahpun dibersihkan, mereka sangat lucu, kecil menggemaskan. Jenis kelamin mereka adalah, dua lelaki dan satu perempuan, Zeline sudahpun mempersiapkan nama untuk ketiga bayinya. Kemudian tiga nurse tadi mengambil ketiga bayi untuk disusukan, karna Zeline belum tersadar, bayinya diberi susu formula terlebih dulu.
Tidak lama setelahya, Zeline membuka matanya, dilihatnya Antonio yang sedang tertidur di kursi dekat tempatnya berbaring. Dia memandang Antonio sambil tersenyum. “Andai saja kita bertemu lebih awal, mungkin ceritanya tidak seperti ini!” Lirihnya dalam hati.
Proses pembedahan tadi memakan waktu yang agak lama, dan dia merasa haus, Zeline mencoba bangun dan menggerakkan tangannya untuk meraih air yang ada disamping tempat tidurnya, namun dia merasa pusing saat bangun tadi, lalu dia baring kembali.
"Kau sudah sadar, kenapa tidak membangunkanku!” Kata Antonio yang baru saja terbangun, kemudian mengambilkan air untuk Zeline.
"Terimakasih, dimana bayi ku?" Tanya Zeline setelah meneguk air yang diberi Antonio.
"Mereka sehat dan semuanya baik-baik saja, bayimu ada di ruangan sebelah, kata Alice kau harus istirahat dan jangan buat apa-apa pergerakan selama enam jam kedepan!’"
"Hai Zeline, apa kau merasa baik-baik saja?” Tanya Alice, dia datang untuk memeriksa keadaan Zeline.
“Itu normal terjadi setelah pembedahan, dan maaf sekali tapi kau tidak boleh makan setelah enam jam.” Kata Alice sambil memperbaiki letak kacamatanya, “Istirahatlah, karna setelah ini mungkin kau akan kesulitan untuk tidur.” Lanjutnya, karna bayi yang baru lahir sangat rewel, dan akan kerap bangun selama kurang lebih dua jam sekali untuk menyusui, satu bayi saja sudah melelahkan inikan pula tiga sekaligus.
“Tapi Aku ingin melihat bayiku!” Pinta Zeline.
“Kau akan bertemu dengannya setelah enam jam, bersabarlah mereka baik-baik saja, nurce dan Lisa sedang menemaninya, mereka mengurusnya dengan sangat baik!” Jawab Alice dia sangat tegas saat bekerja, tidak seperti biasanya. “Ini memang harus dilakukan setelah pembedahan, kau tidak boleh banyak bergerak!” Lanjut Alice mencoba menerangkan, dia bukan sengaja menyuruh Zeline istirahat selama enam jam, tapi itu memang harus dilakukan.
“Nurce akan menjagamu disini, Aku permisi dulu!” Kata Alice meminta diri, sambil melihat kearah nurce yang sudah ditugaskan untuk menjaga Zeline, menggantikan infusya dan lain-lain.
Enam jam telahpun berlalu. Dengan dibantu Antonio Zeline kemudian pergi menuju ketiga anaknya dengan dibantu kursi roda, dia masih kewalahan untuk berjalan, karna bekas bius tadi sudah hilang kini dia merasakan sakit hasil dari bekas pembedahan tadi.
"Tuhan terimakasih telah memberi ku anugrah terindah yang sekarang sedang berada didepan ku ini!” Kata Zeline, dia sangat bersyukur ketiga bayinya lahir dengan selamat.
__ADS_1
Zeline telahpun memepersiapkan nama untuk ketiga bayinya.
Alvian Eccelyno Alexander
Natalia belvidere alexander
Alvin elfata alexander
Zeline merasa terharu melihat bayinya, andai saja Kevin ada disini, melihat ketiga anak mereka yang baru lahir
"Zeline bolehkah Aku menggendongnya?" Pinta Alice. Dia telahpun berganti pakaian. "Tentu!"
Kemudian Alice mengambil Alvian lalu menggendongnya.
"Zeline bolehkah Aku menggendongnya juga!" Pinta Antonio. Kemudian Zeline mengangguk tanda mengiyakan.
"Hati-hati, bayinya sangat kecil nanti terjatuh dari tanganmu!" Kata Alice dengan nada sindiran.
“Baiklah bu dokter kau cerewet sekali.”
.
Waktu demi waktu, hari demi hari, bahkan minggu demi minggu, satu bulan sudah pun berlalu sudah tiba masanya untuk Zeline menjalankan rencananya.
Pagi itu Zeline turun ke bawah membawa Alvian, sudah ada Antonio dan Alice yang menunggunya dengan raut wajah sedih.
"Ini terakhir kalinya Aku bertanya, apa kau yakin?" Tanya Antonio mencoba memastikan.
Zeline mengangguk sambil menyerahkan Alvian pada Alice, Zeline tidak dapat menahan rasa sebak didalam hatinya, dia mencium Alvian untuk terakhir kalinya, hanya tuhan yang tau betapa sedih hatinya hari ini. "Maafkan mama!" Katanya dengan isak tangis, sedangkan Alvian, bayi yang masih belum tau apa-apa hanya terdiam sambil menghisap jari muungilnya.
“Pergilah!” Kata Zeline, dia menyuruh mereka berdua untuk segera pergi, dia sudah tidak tahan, lagi-lagi dia harus menanggung sakit berpisah dengan orang yang sangat dia cintai. Setelah itu dia memberi surat untuk Kevin, yang sudah ditulisnya sebulan yang lalu. “jangan lupa berikan ini padanya!”
__ADS_1
Setelah kepergian mereka, tangis Zeline kian menjadi-jadi, seperti tangis anak kecil yang ditinggal pergi.
Lisa yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu, tidak mampu berkata apa-apa, dia hanya bisa memeluk Zeline, mencoba untuk menenangkannya.