
Kesokan harinya. Zeline terbangun mendengar ketukan pintu dari seorang Maid.
"Nyonya sarapan sudah siap!" Ucap Maid dari belakang pintu.
kemudian Zeline membuka pintu. "Baiklah, kami akan turun sebentar lagi!" Ucap Zeline tersenyum dengan wajah bantalnya.
Maid kemudian setengah membungkuk lalu meminta diri dan kembali mengerjakan pekerjaan lainnya.
Seperti biasa, setelah bangun Zeline menuju kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian mengganti pakaian. Zeline menggunakan dress ruffle warna kuning hingga bawah lutut, ada tali panjang pada leher lalu di buat menjadi pita, sangat cocok dengan Zeline ditambah dengan make up tipis dan lipstick warna maroon, rambutnya di ikat setengah rupanya mirip sekali dengan putri dari kalangan para bangsawan, tidak heran kalau Kevin jatuh cinta pada pandang pertama ketika melihatnya.
"Kevin bangun, saatnya sarapan!" Ucap Zeline menggoyangkan tubuh Kevin agar cepat tersadar dari tidurnya. Alhasil kevin pun terbangun, Iya pangling melihat Zeline.
"Sayang Kau cantik sekali, Aku sempat kaget melihatmu, Aku sangka Aku sedang dibangunkan oleh bidadari!" Ucap Kevin lalu menarik tubuh Zeline kedalam pelukannya.
"Huh, kalau yang membangunkanmu adalah bidadari sungguhan apa kau akan memilih bersamanya?" tanya Zeline.
"Tentu tidak! Aku akan tetap memilih Zelineku, jika dibandingkan dengan bidadari, Kau tiada bandingnya dengan mereka karena Kau adalah Ratuku!" Jawab Kevin mencium kening Zeline.
"Opps! Jangan mengelus rambutku, Aku membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membuatnya, tolong jangan merusaknya!" Cegah Zeline ketika tangan Kevin hendak menyentuh rambutnya.
"Sudahlah! Pergi mandi dulu, setelah itu kita sarapan!" Ucap Zeline melepaskan pelukan Kevin.
Kevin menuruti kata Zeline, Iya berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi mereka berdua turun ke bawah untuk sarapan.
Setelah selesai sarapan.
"Kevin, hari ini aku ingin berjalan-jalan, Aku merasa bosan!" Ucap Zeline.
"Baiklah Aku akan menemanimu!" Jawab Kevin
"Benarkah? bukankah tempo hari Kau bilang Kau sangat sibuk di perusahaan?" Tanya Zeline.
__ADS_1
"Iya, tapi Aku sudah menyelesaikan sebagiannya, sebagiannya lagi akan kuserah kan pada Edward, sekertarisku" Jelas Kevin sambil melahap makanannya.
"Baiklah kalau begitu, Aku sangat ingin pergi ke kebun anggur!" Ucap Zeline.
Kevin hanya diam mengiyakan. "Kalau begitu Aku akan mengambil handbag dulu!" Ucap Zeline kemudian naik menuju kamar.
Melihat Zeline semakin jauh, Kevin kemudian mengambil telfonnya, lalu menelfon Edward.
"Halo Edward, Kau akan menggantikanku saat rapat nanti, dan aku minta Kau segera mengganti Jesica, carikan Aku asisten lelaki saja, Aku tidak ingin kejadian kemarin berlaku!" Tegas Kevin.
"Baik Kevin, Aku akan segera menggantinya!" Jawab Edward dalam telfon, mereka adalah teman sejak kecil, Kevin sangat mempercayakan Edward sebab itulah Edward sekarang bisa menjadi tangan kanan Kevin dan hubungan mereka bisa di bilang sangat dekat.
.....
Sesampainya di kamar Zeline tiba-tiba merasa mual kemudian masuk ke kamar mandi alhasil Iya memuntahkan sarapan paginya.
"Huh! Kenapa aku tiba-tiba seperti ini?" Ucap Zeline sendiri. kemudian dia mencheck celana dalamnya.
Zeline memicit kepalanya, Iya sangat kebingungan.
"Sayang kamu lama sekali!" Ucap Kevin dari luar kamar mandi, dan berhasil membuat Zeline terkejut entah kapan iya masuk kamar.
"Huh, mungkin ini hanya flek biasa, Aku akan mengecheknya nanti kedokter!" Batin Zeline mencoba untuk menenanangkan dirinya, Iya bingung jika Iya hamil mengapa kemarin keluar darah.
Kemudian Zeline keluar dari kamar mandi. "Sayang kenapa wajahmu terlihat pucat? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Kevin khawatir, sambil memerhatikan wajah Zeline.
"Huh? Benarkah? Aku baik-baik saja, mari jalan!" Jawab Zeline mencoba menyembunyikan ketegangannya.
Kemudian mereka berjalan menuju kebun anggur, sebenarnya Zeline ingin melihat kebun anggur di dekat tempat kerjanya dulu. Namun kevin mengusulkan untuk pergi ke kebun anggur milik kakeknya saja, karna suasana disna juga tenang, dan iya juga ingin membawa Istrinya menuju kakeknya, sudah lama mereka tidak bertemu, terakhir kalinya mereka bertemu sejak acara pernikahan mereka.
"Kevin, kakek suka apa? Aku ingin membawakannya buah tangan!!" Tanya Zeline.
__ADS_1
"Tidak usah repot-repot, dengan kedatanganmu saja mereka sudah senang!" Jawab Kevin.
"Hmm baiklah!" Jawab Zeline kembali, iya menyandarkan kepalanya pada kaca mobil, matanya melihat keluar jalan yang sedang mereka lewati.
Zeline merasa tidak karuan dengan Apa yang dilihatnya tadi pag, kalau itu benar terjadi Iya merasa belum siap untuk menajadi seorang Ibu.
"Kenapa wajahmu terlihat aneh sayang? Apa ada sesuatu yang mengganggu fikiranmu?" Tanya Kevin sambil memeluk Zeine dari samping, Iya menyandarkan kepalanya pada bahu Zeline.
"Ohh, mm Aku baik-baik saja!" Jawab Zeline dengan wajah kebingungan. Zeline termenung, bahkan Iya tak menyadari telfonnya berdering banyak kali sedari tadi.
"Ekhhmm, sayang ada apa dengan mu?" Tanya Kevin, Iya sudah mendengar handphone Zeline berbunyi sedari tadi. Dan tampaknya Zeline tak mendengarnya.
"Oh maaf, Aku akan menjawab telfon sebentar!" Ucap Zeline terkejut, lalu Iya mengambil telfon dalam handbagnya, ternyata Antonio yang menelfon, Iya sudah menelfonnya sebanyak lima kali.
Zeline tiba-tiba teringat, bahwa Iya berjanji akan ke Piazza navona menemui Antonio hari ini.
"Halo, maaf aku lupa memberitahu mu, kalau hari ini Aku sedang berjalan bersama Kevin!" Ucap Zeline dalam telfon.
"Oh baik lah, Aku tadinya sempat khwatir karna tidak biasanya Kau lambat menjawab panggilan, kalau begitu have fun, bisakah kita bertemu lain kali? Masih ada sesuatu yang ingin ku ceritakan!" Jawab Antonio dalam telfon.
"Baiklah, Aku akan menghubungimu nanti!" jawab Zeline sedikit tersenyum lalu mematikan telfon.
"Siapa yang menelfon?" Tanya Kevin yang sedari tadi memerhatikan Zeline dengan wajah dingin nya.
"Seorang teman" jawab zeline .
Kevin hanya terdiam , Sebenarnya iya tau yang menelfon itu adalah Antonio, Iya tak sengaja melihatnya tadi sewaktu Zeline mengangkat telfon dekat ke telinganya.
Kevin mengalihkan pandangannya ke depan.
Iya mengkerutkan alisnya, pertanyaan demi pertanyaan menghampirinya. "Kenapa dia tak memberitauku yang sejujurnya? Untuk apa Antonio menelfonnya banyak kali? Dan kenapa Zeline hari ini sangat aneh?" Batin Kevin, Iya mulai curiga terhadap Zeline, entah apa yang di sembunyikan Zeline darinya apalagi kalau di lihat dari raut muka Zeline seperti seorang yang sedang takut dan kebingungan.
__ADS_1