Posesif love

Posesif love
Episode 50


__ADS_3

Antonio terheran melihat tingkah laku Aurora, ini pertama kalinya Aurora mengabaikan dirinya, iya sekilas memerhati wajah Aurora, dilihatnya mata Aurora yang memerah, sedang menahan tangis dengan kotak kaca yang dipeluknya. Kemudian iya melihat sekeliling, dilihatnya Zeline yang sedang duduk terdiam, kemudian iya melangkahkan kaki, hendak berjalan menuju Zeline, namun iya urungkan, iya lebih memilih masuk kedalam lift untuk menyusul Aurora.


Setelah berada didepan kamar hotel Aurora, iya langsung memilih untuk masuk, karna kunci masih ada padanya. Setelah berada didalam iya menjumpai Aurora yang sedang menangis sambil memeluk kepingan gambar yang berasal dari dalam kotak kaca yang dipegangnya tadi, iya merasa khawatir dengan Aurora kemudian iya menghampirinya, “Apa kau baik-baik saja?” Tanya Antonio pada Aurora.


Aurora yang menyadari kedatangan Antonio dengan spontan menyeka air matanya lalu menjawab pertanyaan Antonio. “Aku baik-baik saja! Siapa yang membenarkanmu masuk begitu saja?” Tanyanya kembali.


“Aku melihatmu dilobby tadi, namun kau hanya mengabaikanku bgitu saja, aku khawatir jadi aku menyusulmu!” Jawab Antonio sambil mengusap rambut Aurora.


“Aku baik-baik saja kau tidak perlu khawatir!” Ucap Aurora kemudian bangkit dari duduknya, kemudian secara tak sengaja iya menjatuhkan beberapa kepingan gambar yang tadi dipeluknya.


Kemudian secara tak sengaja Antonio melihat gambar yang tadi dipeluk oleh Aurora, karna gambar itu terjatuh tepat di depannya. “Apa kau sedang merindukannya?” Tanyanya setelah tau kalau yang ada dalam gambar itu adalah Kevin dengan Aurora semasa mereka masih bersama dulu.


Aurora menghiraukan pertanyaan Antonio, iya kemudian memunguti gambar yang terjatuh olehnya tadi.


“Jawab aku Aurora!” Ucap Antonio sambil menggenggam lengan Aurora yang hendak pergi darinya.


“Bukan urursanmu!” Jawab Aurora sinis.


“Kau tau! Ketika seorang menangis iya menjadi tidak rasional, ceritalah aku siap menjadi pendengar setiamu!”Balas Antonio lembut, iya tidak ingin Aurora memendam kesedihannya sendiri.


“Kalau kau ingin tau ada apa denganku, kenapa tidak kau tanyakan saja pada pujaan hatimu!” Ucap Aurora tanpa memandang wajah Antonio.


Kemudian Antonio memerhati kotak kaca yang dibawa Aurora tadi, iya mencoba mencerna apa yang telah terjadi. “Maksutmu! Apa kotak kaca ini dari Zeline?” Tanyanya memastikan.


Aurora menarik panjang sambil memejamkan mata. “Iya, dia menemukannya didalam ruang kerja Kevin, lalu Kevin menyuruh untuk membuangnya, namun dia merasa tidak enak hati, kemudian menghantarkannya kepadaku!” Jelas Aurora.


“Lalu, apa yang sangat membuatmu sedih hingga menangis seperti ini?” Tanya Antonio keheranan.


Aurora kemudian menghela nafas, “Kau memang tidak akan mengerti, karna bukan dirimu yang ada dalam kenangan ini!” Balas Aurora sambil mengusap gambar yang tadi telah dipungutnya.


“Aku tidak mengerti, jelaskan padaku dan mari duduklah!” Ucap Antonio sambil menekan kedua bahu Aurora supaya ikut duduk bersamaan dengannya, sebenarnya iya mengerti bagaimana perasaan Aurora ketika mendapat kotak kaca itu, namun iya sengaja pura-pura tidak tau, agar Aurora bisa menjelaskan kembali padanya, sekaligus agar mengeluarkan semua kesedihan dalam hati Aurora.


Aurora menghela nafas sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa, iya memicit kepalanya sambil berkata. “Aku hanya sedih saat melihatnya, dan kecewa juga dengan Kevin, walaupun aku sudah tau dia sudah tidak mencintaiku lagi, namun aku tidak bisa menolak sakit hati dan sedihku saat melihat barang itu!” ucapnya sambil melihat kotak kaca yang telah iya letakkan pada meja. “Hmm sudahlah! Biarkan aku sendiri dulu.” Lanjut Aurora kemudian hendak bangkit dari duduknya, namun Antonio menarik tangannya hingga membuatnya terduduk kembali.


“Apa kau marah dengan Zeline atas apa yang telah terjadi padamu?” Tanya Antonio serius sambiil memandang wajah Aurora.

__ADS_1


Aurora tertawa sesaat setelah mendengar pertanyaan Antonio, kemudian iya tersenyum. “Tentu saja tidak, semua ini bukan salahnya, salahku karna terlambat muncul! Aku hanya sempat kesal dengannya, namun sekarang sudah tidak lagi!” Ucap Aurora sambil menghela nafas, pandangannya mengarah pada langit-langit kamar hotelnya.


“Bukan salahmu, bukan juga salah Zeline ataupun Kevin, ini semua adalah takdir.” Balas Antonio sambil menepuk lembut bahu Zeline.


Aurora menghela nafas, kemudian mendekapkan kedua tangan pada tubuhnya. “Kalau begitu apa sudah takdirmu mencinta istri orang?” Ucapnya sinis.


Antonio hanya diam terpaku mendengar perkataan Aurora, perkataanya seperti pisau tajam yang menusuk kedalam pita suaranya, membuatkannya tidak dapat berkata apapun.


Aurora kemudian menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya, iya merasa perkataanya tadi sangat keterlaluan. “Maafkan aku, aku sangat sensitive sekarang ini, tolong tinggalkan aku sendiri!” Ucapnya pada Antonio


“Bukannya kita sudah sepakat kemarin akan pulang bersama?” Tanya Antonio pada Aurora, seolah-olah tak mau pergi meninggalkan Aurora sendiri.


“Aku ada janji dengan David usai tengah hari nanti!” Jawab Aurora sambil melihat kearah jam tangannya.


“Baiklah! Aku akan ikut menemanimu!” Ucap Antonio menawarkan diri untuk menemani Aurora, iya tidak ingin berfikiran macam-macam seperti semalam.


“Tidak perlu! Kau pulang lebih dulu saja,” Balas Aurora tersenyum, iya agak bingung dengan tingkah laku Antonio semenjak semalam, tiba-tiba pergi dan masuk begitu saja menuju kamar hotelnya, dan sekarang tiba-tiba seolah-olah ingin mencampuri urusannya dengan David.


“Baiklah! Kalau begitu aku menunggumu disini saja!” Balas Antonio.


“Jika dia mengajakmu menjadi kekasihnya apa kau akan menerimanya?” Tanya Antonio dengan pandangan mengintimidasi.


“Mungkin ya! Aku sudah sangat lama sendiri, aku juga butuh seseorang untuk mendampingiku. Dan kalau itu terjadi, maka kau harus mencari wanita lain untuk tinggal denganmu, karna aku tidak akan mungkin tinggal bersamamu lagi!” Jawab Aurora sambil tertawa, lalu menghadapkan wajahnya kepada Antonio. Aurora yang tadinya tertawa menjadi terdiam sejurus saat melihat ekpresi Antonio yang seakan terlihat seperti seorang kekasih yang sedang cemburu terhadapnya. “Ermm, baiklah kalau begitu aku akan pergi dulu!” Lanjutnya sambil melihat kearah jam, entah mengapa iya merasa canggung dan ingin pergi dari hadapan Antonio secepatnya. Kemudian Aurora mengambil hanbagnya yang berada didekat Antonio, setelah itu melangkah pergi meninggalkan Antonio.


“Apa secepat itu hatimu berubah?” Ucap Antonio ketika Aurora hendak membuka pintu keluar. “Minggu lalu kau bilang kau mencintaiku, namun hari ini kau malah setuju jika ada lelaki lain yang ingin menjalin hubungan kekasih denganmu!” Lanjutnya sambil bangkit dan berjalan mendekat kearah Aurora.


Aurora tertunduk pandanganya mengarah ke lantai yang dipijakinya, iya menghindari kontak mata dengan Antonio, iya bingung kenapa hari ini Antonio seolah-olah seperti bertingkah sangat berbeda pada dirinya.


“Jawab aku Aurora!” Lanjut Antonio sambil mencengkram kedua bahu Aurora. Emosinya seakan meluap-luap.


Aurora menelan salivanya, sejak tinggal bersama dengan Antonio ini baru  pertama kalinya iya melihat sisi Antonio saat sedang marah, kemudian iya menarik nafas panjang lalu menghadapkan wajahnya kehadapan Antonio. “Lalu kau ingin aku bagaimana Antonio? Apa kau ingin aku selalu mencintai tanpa pembalasan darimu? Jangan samakan aku dengan dirimu, aku tidak akan baik-baik saja melihat orang yang kusukai sedang merindukan orang lain.” Jawab Aurora, dalam dirinya sangat kebingungan kenapa Antonio harus bertingkah seperti ini terhadapnya. “Lepaskan aku, aku akan pergi menemui David!” Lanjut Aurora kembali sambil melepaskan kedua tangan Antonio dari bahunya. Kemudian iya membuka pintu dan berjalan menemui David.


Sedangkan Antonio hanya diam terpaku setelah mendengar jawaban Aurora. Tubuhnya takdapat menghentikan langkah Aurora. “Apa dia sudah menyerah?” Tanya Antonio pada diri sendiri, memang dari awal Antonio sudah menyukai Aurora, namun tidak seberapa karna cintanya pada Zeline masih bersemayam dalam hatinya, namun sekarang setelah menyadari sikap Aurora yang berubah terhadapnya, iya menjadi takut kehilangan Aurora.


“Apa ini karna cintaku terhadapmu atau karna telah hilangnya perasaanku terhadap Zeline?” Tanyanya kembali pada dirinya sendiri, iya jadi teringat saat berada didepan lobby tadi, iya juga melihat Zeline, namun iya mengabaikannya, iya memilih untuk menyusul Aurora.

__ADS_1



 Aurora melangkahkan kakinya dengan cepat sambil menyeka air matanya, iya merasa hari ini adalah hari yang buruk bagi dirinya, berawal dari barang yang dibawa Zeline ditambah dengan sifat Antonio yang sangat lain dari pada sebelumnya. Setelah keluar dari lift kemudian Aurora berjalan menuju cafe yang berada tepat di samping dekat hotel tempatnya menginap semalam, kemarin iya dan David sudah bespakat akan bertemu disana pada keesokan harinya.


Setelah hampir sampai menuju cafe, Aurora berhenti sejenak  kemudian mengeluarkan telfon bimbit dari handbag yang iya sedang kenakan, iya sedang mengirimkan massage untuk David bahwa iya telah sampai didepan cafe, setelah mengirim massage tadi, iya kemudian memasukkan kembali telfon bimbitnya kedalam handbag, lalu melangkahkan kaki kembali menuju cafe. Saat hendak menaiki beberapa anak tangga yang berada di depan cafe, Aurora melihat David sedang berdiri menunggunya disamping pintu, iya tersenyum pada Aurora, dan Aurora pun membalas senyumannya. Kemudian mereka berdua sama-sama masuk kedalam cafe.


Setelah sampai kedalam, merekapun duduk dibagian pojok cafe, sesaat kemudian waiters datang untuk menanyakan pesanan. Setelah mereka selesai memesan waiters  itu pun kembali lalu berjalan menuju dapur menyerahkan kepada koki apa yang sudah mereka pesan tadi.


.


David termenung sambil meraih kedua tangan Aurora kemudian menggenggamnya, lalu iya memandangi Aurora yang terlihat sedang memikirkan sesuatu, matanya tak henti-hentinya memandangi wajah cantik Aurora. “Mata yang sangat indah!” Gumam David  dalam hati, iya menjadi semakin gugup untuk mengutarakan perasaanya.


David  kemudian memulai bicaranya, iya berbincang-bincang hal lain dengan Aurora agar tidak terlalu gugup, sesaat ketika hendak mengutarakan perasaanya terhadap Aurora, ucapan David terhenti karena seorang Waiters membawakan pesanan menuju meja mereka. Kemudian iya memilih untuk menyantap makanan yang ada didepan mereka terlebih dahulu.


Sesaat setelah usai makan, Aurora kaget melihat Antonio yang sedang berdiri di depannya dengan nafas tersengal-sengal. Iya lalu bangkit dari duduknya kemudian bertanya apa yang terjadi dengan Antonio.


"Ikut aku!" Ucap Antonio mengabaikan pertanyaan Aurora, kemudian iya menarik lengan Aurora sambil membawanya berjalan keluar, iya menghiraukan David yang terdiam sambil memandang tajam ke arahnya sedari tadi, David sempat menghentikannya namun Aurora mencegahnya.


Aurora sangat kebingungan dengan tingiah laku Antonio sejak minggu lalu, beribu pertanyaan ada dalam fikirannya saat ini, iya mencepatkan langkahnya agar dapat mengimbangi langkah Antonio yang sedang menyeret tangannya.


"Ada apa denganmu?" Tanya Aurora dengan wajah kebingubgan ketika mereka berhenti di pinggir jalan yang tak ramai orang.


Antonio memejamkan mata sambil menarik nafas panjang, iya sedang menyusun kata yang akan diucapkannya pada Aurora. "Maafkan aku, secara tak sengaja aku sudah banyak menyakitimu!" Ucapnya terhenti sambil menggenggam tangan Aurora. Kemudian iya mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi cicin dari dalam sakunya. "Will you marry me?" Lanjutnya sambil tersenyum menatap Aurora.


Aurora membungkam sebagian wajahnya menggunakan telapak tangan, Air matanya mengalir terharu, iya sangat bahagia mendengar perkataan Antonio, perkataan yang ditunggu dan diharapkannya selama ini. Tanpa fikir panjang iya mengiyakan ajakan Antonio, kemudian mereka berdua berpelukan, Aurora tak henti-hentinya menangis haru! Kemuduan Antonio mengusap Air mata Aurora dan mencium keningnya.


....


3 minggu kemudian.


Aurora dan Antonio melangsungkan pernikahannya di area garden tea, mereka mengambil tema nuansa pemandangan alam, dan dihadiri oleh para tetamu-tetamu yang berasal dari segala penjuru, termasuk Zeline dan Kevin, mereka berdua datang bersamaan dengan ketiga anak kembarnya, mereka tadinya sempat berbincang-bincang dengan kedua pengantin.


"Selamat! Aku turut bergembira dengan pernikahanmu!" Ucap David ketika berjabat tangan dengan Aurora, baru saja waktu itu iya ingin mengutarakan perasaanya, namun iya telah kalah satu langkah oleh Antonio.


Pernikahan Aurora dan Antonio berlangsung dengan meriah hingga malam hari. Akhirnya Antonio telah memilih Aurora dan melupakan Zeline, cintanya yang tak terbalas.

__ADS_1


THE END


__ADS_2