Posesif love

Posesif love
Rencana 2


__ADS_3

Pagi hari di rumah kevin......


Hidup Kevin kehilangan arah semenjak Zeline pergi dari sisinya, dirinya sangat tidak terurus bahkan semua urusan kantor dia serahkan pada Edward, dia sangat menyesali perbuatannya pada Zeline.


"Andai kau tau betapa hancurnya Aku setelah kepergianmu,”


Selama beberapa bulan belakangan ini Kevin sudah mencari Zeline kemana-mana, namun tetap saja dia masih tidak dapat menemukannya, dia juga sudah memerintahkan orang-orangnya untuk mencari Zeline secara diam-diam ke indonesia tapi masih belum ada kabar.


"Permisi tuan, ada dua orang yang sedang mencari anda!” Kata Abra


"Aku sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa,”


“Tapi tuan, mereka kata itu sangat penting.”


"Siapa mereka?"


"Salah satunya memperkenalkan diri sebagai Antonio!”


Tanpa fikir panjang Kevin bangkit dari duduknya, lalu melangkahkan kaki menuruni anak tangga, sedangkan Abra mengikutinya dari belakang.


“Dimana mereka?” Tanya Kevin sesudah melihat ruang tamu yang terlihat kosong.


“Mereka menunggu diluar, saya tidak berani memperkenankan mereka untuk masuk karena saya takut tuan tidak ingin bertemu mereka.”

__ADS_1


“Suruh mereka masuk!” Kata Kevin sambil duduk di sofa ruang tamu.


“Baiklah tuan, saya permisi dulu!” Kata Abra setengah membungkuk, meminta diri untu menjemput dua orang tadi.


Tak lama kemudian, dua orang yang sedang menunggu di depan rumah tadi pun muncul dihadapan Kevin, Abra lalu meminta diri untuk pergi dari hadapan mereka bertiga.


Kevin mempersilahkan mereka untuk duduk, dia mencoba bersikap tenang, namun hanya tuhan yang tau gemuruh dalam diri dan hatinya saat ini, tiba-tiba saja Antonio datang membawa bayi dan seorang perempuan, untuk apa sebenarnya?


“Kau pasti heran dengan kedatanganku!” Kata Antonio sambil menyerahkan dua sampul surat berwarna putih dan merah. “Aku sarankan kau membuka yang putih terlebih dulu!” Lanjut Antonio.


Kevin mengikuti saran Antonio, ini pertama kalinya dia mengikuti saran orang lain, selain Zeline. Setelah membuka dan membaca surat tadi, Kevin tercengang dengan apa yang dibacanya, ternyata surat bersampul putih itu adalah hasil Dna test dari bayi yang dibawa Antonio. Ini semua seperti mimpi bagi dinya.


“Apa bayi yang kau bawa itu adalah bayiku?” Tanya Kevin untuk memastikan.


“Aku adalah dokternya, jika kau masih ragu-ragu kita bisa melakukan Dna ulang!” Kata Alice, kemudian menyerahkan Alvian ke pangkuan Kevin, secara refleks Kevin mengambilnya. Wajahnya terlihat kebingungan, dia sedang mencerna apa yang baru saja diketahuinya.


Tidak ingin berlama-lama disitu kemudian Antonio meminta diri untuk pergi dari rumah Kevin, dia tidak ingin melihat wajah menyedihkan Kevin lebih lama lagi, dia mengajak Alice untuk kembali pulang. “Aku pergi dulu Kevin, maaf sebelumnya Aku tidak memberitahumu keberadaan Zeline, karna dia sendiri yang memintanya!” Katanya sebelum pergi.


“Dimana dia sekarang?” Tanya Kevin kemudian bangkit dari duduknya, ingin saja rasanya dia tumpahkan rasa kesalnya pada Antonio namun dia kewalahan karena dia sedang menggendong seorang bayi.


“Baca saja dulu surat itu, itu akan menjawab semuanya juga kesalah fahamanmu, Aku harap kau menerima semuanya dengan berlapang dada!” Kata Antonio kemudian pergi.


Setelah kepergian dua orang tadi, Kevin terdiam seribu bahasa, dia merasa itu semua mimpi namun tangisan dari bayi yang dipangkunya seakan memberitahu kalau semuanya benar terjadi. Kemudian dia memanggil Abra untuk menguruskan bayi itu.

__ADS_1


“Siapkan kamarnya, carikan dia pengasuh terbaik di kota ini!” Pinta Kevin sambil memberikan Alvian pada Abra, “Satu lagi, panggilkan Aku dokter, Aku ingin anak ini melakukan Dna ulang!” Lanjutnya, walau dia dan bayi itu terlihat mirip tapi dia ingin betul-betul memastikan kalau bayi itu adalah anak kandungnya. Siapa tau Dna itu dipalsukan, fikirnya.


Setelah Abra pergi membawa bayi itu, Kevin pun kembali masuk kekamarnya, dia membawa kedua surat tadi. “Zeline apa sebenarnya yang kau inginkan!” Kata Kevin pada dirinya sendiri, amarahnya kian memuncak, Zeline pergi meninggalkan dirinya kemudian mengirimkan bayi yang katanya itu adalah anaknya. “Dimana Zeline? Kenapa tidak dia sendiri saja yang kemari? Kenapa dia membuat segalanya menjadi rumit? Apa sebenarnya hubungan dia dan Antonio?”


Sesampainya dikamar Kevin menghempaskan surat tadi, kemudian duduk di balkoni kamar memandang langit pagi yang sedang mendung. Dia masih tertanya-tanya, kenapa dan bagaimana? Dia tertawa sendiri, “Apa semua orang sedang mempermainakanku?” Dia tidak mampu berfikir jawaban dari semua. Kemudian dia teringat kata Antonio tadi tentang surat bersampul merah yang belum dibacanya, kemudian dia kembali memungut surat yang tadi sempat dihempasnya, dengan rasa penasaran yang teramat dia membuka sampul surat tadi kemudian membacanya.


"Hai Kevin apa kabar? Aku harap kau baik-baik saja, ketika membaca surat ini mungkin Aku sudah tidak ada lagi didunia ini, hari ini sudah tiga minggu sejak kepergianku, apa kau sedang merindukanku? Bagaimana hubunganmu dengan Jesica? Apa semuanya baik-baik saja? Aku mendengar kabar dari Antonio, kalau kau sedang mencariku, tapi untunglah dia tidak memberitahunya, karna saat itu Aku belum bersedia bertemu denganmu, tolong jangan menyalahkannya, karna dia sudah sangat banyak membantuku. Sebenarnya salah satu alasan terkuatku untuk meninggalkanmu juga karna aku tidak ingin terlihat menyedihkan dihadapanmu.


Aku sangat senang ketika dapat melahirkan anak kita. Dia adalah anugrah yang paling terindah dihidupku, Aku memberinya nama, Alvian accelyno alexander wajahnya terlihat mirip denganmu, Aku jadi iri.


Tapi….. dua minggu setelah melahirkan Aku mengalami komplikasi, Aku kira aku tidak akan bisa selamat karna Aku memiliki penyakit bawaan sedari kecil, dan penyakit itu membuatnya semakin parah. Aku sangat sedih karna tidak bisa bersama dengan anak kita lebih lama. Aku titipkan dia pada Antonio untuk diberi padamu beserta Dna test, kuharap itu semua bisa menjawab sangkaanmu pada diriku dan Antonio, sering kali ku mencoba menjelaskan semuanya padamu, tapi kau tidak pernah memberiku waktu untuk menjelaskan, dan ini terakhir kalinya kukatakan, bahwa Aku tidak pernah tidak mencintaimu, tidak pernah membohongimu dan akan selalu mencintaimu.


Jaga anak kita baik-baik, Aku berharap kau menjaga juga menyayanginya.


Jangan bersedih, Alvian anak kita akan memberimu kehidupan baru.


Berbahagialah, dan jangan pernah menangisi kepergianku, karna pada akhirnya semua orang akan pergi juga. Dan jangan menghukum dirimu sendiri atas apa yang terjadi, harapan terbesarku agar kau dan anak kita bahagia selamanya ..


Love you


Zeline davira.


 Kevin terdiam memaku usai membaca surat dari Zeline, dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi, sangkaan yang dia percaya sebelum ini membuat dirinya bersedih tak kesudahan, Zeline yang teramat dia cintakan pergi karna ego dan cemburunya. “Andai saja, andaikan saja, Aku mendengar penjelasanmu, dan mempercayimu apakah semuanya akan baik-baik saja?” Lirihnya sambil memandang langit yang sedang hujan, air mata kejantanannya jatuh bersamaan dengan turunnya hujan dipagi itu.

__ADS_1


__ADS_2